Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Cinta atau Fakta? (1)



Semenjak kejadian malam itu, aku mulai menjaga jarak dengan Ryuu. Aku bahkan tak menganggapnya ada di dapur itu meski dia dihadapan mataku. Menyakitkan memang jika harus berpura-pura tidak tahu bahwa dia tidak ada di dapur meski teriakannya seringkali mengganggu telingaku. Aku masih marah padanya. Lagipula dia juga tidak meminta maaf padaku setelah kejadian malam itu. Menyebalkan sekali bukan?


Tapi dibalik itu, semua gosip yang beredar tentang kencanku mulai memudar. Suasana dapur sudah mulai normal seperti biasa bahkan Haruka dan lainnya dengan segan meminta maaf karena membuatku tak nyaman. Hanya saja, setelah itu, aku tak pernah lagi berbicara pada Ryuu sepatah katapun.


Miyamura memang sempat menyadari keanehan antara aku dan Ryuu tapi aku menjawab tak ada apa-apa, dan hubungan kami masih seperti biasa. Itu saja, selebihnya aku tak ingin membahas lebih jauh tentang itu. Aku sangat tidak menyukai Ryuu dan segala sifat kasarnya itu. bahkan sampai hari ini, ketika salju tipis sudah turun  di kota Shibuya dan para penduduk mempersiapkan diri untuk menyambut tahun baru. Berarti sudah dua bulan aku mempertahankan untuk berpura-pura tidak melihat Ryuu. Just what I said, I hate him!


Ryuu memang sangat jauh berbeda dengan Yuuta meski mereka kembar dengan wajah yang sangat mirip. Ryuu sangat kasar,suka berteriak, kaku, dingin, tidak pernah tersenyum dan menyebalkan. Sedangkan Yuuta sangat ramah, mudah senyum, lembut, lucu, hangat,konyol dan sangat pengertian. Wajar rasanya jika aku jatuh cinta pada Yuuta, apalagi semenjak aku mengetahui bahwa kami memiliki hoby yang sama, sejalan uniknya.


Memang sih, semenjak malam itu, aku sedikit takut menemui Yuuta. Tapi Yuuta selalu menyapaku dengan senyumnya dan kembali mengakrabiku seperti biasa. Dia tak kaku seperti Ryuu. Dan perasaanku pun tumbuh lebih besar dari sebelumnya terhadap Yuuta. Aku harus menyampaikan perasaanku padanya di malam tahun baru ini. Aku harap, perasaan ini sampai.


Hari ini adalah hari terakhir kami bekerja sebelum esoknya libur selama tiga hari karena perayaan tahun baru. Setelah pengumuman yang diumumkan oleh Ryuu, malam itu, kamipun mulai bersiap untuk pulang.


"Hey, Mimi-chan, besok malam kau ada rencana kemana?" tanya Haruka sambil menghampiriku yang baru saja mau membuka apron (celemek).


"Mungkin aku akan mengajak tetangga sebelahku untuk berjalan-jalan di Yoyogi Park." Jawabku yang memang berencana mengajak Yuuta keluar besok malam. Aku melihat Ryuu yang hendak keluar mendadak berhenti di depan pintu dapur. Dia menoleh dan tak sengaja kami bertubruk pandang. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah lain.


"Wah, sayang ya, padahal aku ingin mengajak kau. Aku, Inari, Orihime dan Juni mau jalan-jalan juga. Hah, yasudahlah. Ayo kita pulang dan bersiap-siap untuk besok!" kata Haruka.


Aku mengikuti langkah Haruka menuju ruang ganti, sejenak aku berhenti, penasaran dan menoleh ke arah pintu dapur dan Ryuu sudah tak ada. Aku yakin dia pasti mendengar apa yang aku katakan. Ya, biar saja, biar dia semakin kesal. Memangnya dia siapa berani melarang-larangku. Keh!


Keesokan harinya aku sengaja bangun agak siang. Malas sekali untuk beranjak turun dari tempat tidur hari itu tapi tak apalah, kan hari ini libur jadi aku bisa tidur sepanjang aku mau. Hoaaam....


"Onee-chan, asa gohan dekita yo (sarapan sudah siap). Nanti asam lambungmu kumat lagi," kata Uta sambil mengetuk pintu. Ah,Uta bahkan sudah membuat sarapan buatku. Hmm..


"Hai-hai.." ucapku sambil berjalan membuka pintu.


"Astaga onee-chan. Cepat sana mandi dan sikat gigi. Aku menunggumu dimeja makan."


"Umm" jawabku singkat.


Sesuai dengan permintaan Uta, akupun mandi. Setelah mandi aku ke meja makan dan sarapan bersama Uta.


"Entahlah," jawabku malas. Ya memang agak sedikit kurang mood hari itu.


"Ha? Apa onee-chan akan menghabiskan malam tahun baru sendirian dirumah saja seperti tahun lalu?" protes Uta.


"Nah, kau sendiri?"


"Well - umm," Uta mendadak gugup, "Nanti malam aku keluar bersama Miyamura, bolehkan onee-chan?"


"Iya, tentu saja..." jawabku sambil menyembunyikan perasaan cemburuku. Bukan cemburu karena apa, hanya saja, aku cemburu karena tidak ada yang mengajakku keluar. Uhm, ada sih  Haruka, tapi aku sudah terlanjur bilang bahwa aku akan mengajak Yuuta, tetanggaku tapi aku takut dia tak punya waktu. Eh, tapi apa salahnya mencoba dulu.


Sore itu aku hanya menghabiskan waktu tiduran ditempat tidur sambil nge-galau dengerin lagu Notes'n'words nya One Oke Rock. Uta juga sedang pergi ke kombini. Aku gugup harus memulai bagaimana seandainya Yuuta setuju untuk menemaniku malam ini walau hanya sekedar berjalan ke Koen Dori atau berdoa di kuil terdekat. Aku harus mengatakan perasaanku padanya, tapi bagaimana aku harus memulainya. Dan bagaimana responnya nanti jika aku mengatakan hal memalukan ini. Terkejutkah atau biasa saja? Huaaah....hazukashii...


Aku kemudian bangkit. Yosh! Aku tak akan tahu jika tak mencoba. Apapun itu, aku harus menghadapinya. Akupun keluar dan bertepatan itu pula Yuuta keluar. Kami bertubruk pandang sesaat sebelum akhirnya tertawa bersamaan karena kebetulan ini.


"Wah, kebetulan sekali ya." Katanya dengan sisa tawanya.


"Ahah, iya..." sahutku. Kami berdua berdiri di balkon.


"Ngomong-ngomong, nanti malam kau akan kemana, Mimi-chan?" tanya Yuuta sedikit membuatku terkejut.


"Emmm, belum tahu sih, tapi, sebenarnya aku ingin mengajakmu, tapi - takutnya kau sibuk," jawabku malu-malu tapi di dalam hati berharap banyak.


"Well, maaf, Mimi-chan. Aku akan bertemu seseorang yang spesial malam ini." Kata Yuuta sambil menatap kosong ke arah jalanan. Mendadak ada rasa perih yang menusuk relung batinku saat dia mengatakan hal itu. seseorang yang spesial katanya tadi. Well, Aku hampir limbung mendengarnya. Bukankah itu berarti aku ditolak?


"Oh, begitu ya, maaf ya." Responku mencoba tegar.


"Tapi lain kali akan aku usahakan lah, well, aku mau mandi dulu." Katanya sambil masuk ke dalam. Aku memandangi punggungnya hingga hilang dibalik pintu. Aku menghela nafas, mencoba menenangkan diri. Tapi tetap saja, aku tak bisa menahan air mata ini.


"Akhiri perasaanmu dengan Yuuta atau kau akan terluka dan menangis..." mendadak suara Ryuu menggema ditelingaku. Ah, kusso! Disaat seperti ini kenapa tiba-tiba suara dia yang terlintas di benakku. Aku cepat-cepat menghapus air mataku. Benar, memang, tapi aku sulit mengakui kekalahanku karena aku membencinya. Toh, akukan juga belum tau siapa orang yang spesial itu. Diam-diam aku jadi penasaran. pacar Yuuta kah yang nanti malam akan ditemuinya? Atau teman masa kecil? Cinta pertama? Hmm, aku tak bisa menduga-duga. Aku akan mengikutinya nanti malam!