
Hari ini kami akan ke Kuil Fishimi Inari di selatan Kyoto dengan bus. Tak sabar rasanya ingin langsung kesana dan melihat sendiri betapa luasnya kuil Fushimi Inari itu karena selama ini aku mengetahui kuil Fushimi Inari hanya melalui siaran televisi dan sebuah anime; Inari, Konkon,Koi Iroha.
Dari semua teman-temanku, mungkin bisa dibilang aku yang agak jarang berjalan-jalan ke tempat bersejarah. Wajar memang, semenjak SMA aku hanya menghabiskan waktuku di tempat kerja, sekolah dan perpustakaan. Waktu kuliah juga tak ada yang berubah,bahkan untuk sekedar karaokean bareng saja susah sekali. Setelah tamat kuliah dan mulai bekerja di Yukahashi International Resto sedikit-sedikit aku mulai ada waktu untuk sekedar membeli DVD atau manga.
Lagi, aku mengambil tempat duduk dekat jendela agar aku bisa menikmati perjalanan dan lagi-lagi, Ryuu duduk di sampingku. Tch! Aku tak bisa berbuat apa-apa meski sedikit heran dengan sikapnya.
"Kenapa dengan tatapan mu itu?" tanyanya dengan wajahnya yang mengesalkan. Aku tak menjawab,malah memalingkan wajah kembali keluar jendela bus.
"Tak apa, hanya sedikit heran saja." Gumamku.
"Apa yang harus kau herankan? Aku hanya ingin duduk disini, sudah begitu saja,kenapa mesti protes!" ujarnya sedikit kesal.
"Terserahlah." Balasku cuek.
.
Sejam kemudian kamipun sampai di kuil Fushimi Inari. Aku mendongak takjub melihat gerbang Romon yang besar sebagai pintu masuk utama ke kuil Fushimi Inari.
"Whoaaah, sugee (luar biasa)..." seru Tori. Diikuti lainnya yang berseru kagum melihat itu semua.
Kamipun masuk bersamaan. Sebahagian dari kami memilih berfoto dan sebahagian lagi berdoa. Aku melihat Tori dengan seriusnya berdoa. Tori adalah lelaki polos yang sedang beranjak dewasa. Diusianya yang ke 20 sekarang, mungkin semenjak di resto dia banyak mendapatkan pelajaran. Dia bekerja paruh waktu untuk kuliahnya. Dia sangat tekun, lembut dan suka membantu dan juga sangat manis. sebenarnya aku kasihan melihatnya, apalagi semenjak kejadian malam itu. pfftt! Aku menutup mulutku, mencoba menahan tawa.
"Apa yang senpai tertawakan?" tanya Tori yang sudah selesai berdoa.
"A-ah, tak apa. Tak apa? Kau sudah selesai berdoa?" tanya ku.
"Sudah..."
"Ngomong-ngomong, kau sudah punya pacarkah?" tanyaku asal saja.
"Pacar?" dia bertanya ulang kemudian sedikit kaget dengan pertanyaanku,"Eh? Kenapa senpai bertanya seperti itu?" lanjutnya sadikit malu. Tergambar jelas dipipinya yang mendadak merona.
"Tchahah, tak apa. hanya ingin tahu saja. Maaf jika pertanyaan itu sedikit mengganggumu."kataku sedikit merasa bersalah.
"Hey, Tori-kun. Ayo kemari..kita berjalan-jalan sebentar!" teriak Iura ke arah kami. Tori mengalihkan pandangannya, kemudian.
"Aku pamit, senpai." Katanya sambil berlari kecil dan bergabung bersama Iura, Kei dan Teguchi. Kelihatan sekali, dari keempat lelaki ini, Tori yang paling kecil. Hmm..yasudahlah, akupun melanjutkan doaku.
Usai berdoa, aku bertubruk pandang dengan Miyamura yang hendak berdoa juga. Aku sedikit berfikir kenapa Miyamura tak bergabung dengan Kei, Iura, Teguchi dan Tori. Tapi, ah kenapa aku harus heran. Miyamura kan memang tipe penyendiri. Well, aku sudah selesai. Tapi, kemudian...
"Tunggu!" kata Miyamura sambil mencengkram pergelangan tanganku. Aku sontak berhenti.
"Ada apa?" tanyaku bingung.
"Boleh kita ngobrol sebentar?" aku tercenung. Hmmm..itu permintaan atau perintah?
"O-okay" akhirnya ku jawab juga.
"Ayo!" Katanya kemudian sambil menarik tanganku. Entah kemana, tapi sepertinya agak jauh.
Sampai akhirnya tibalah kami di Senbon Torii. Barisan gerbang torii yang sangat banyak melingkupi jalan mendaki menuju bukit Inari. Aku berdecak kagum. Well, ini persis seperti anime Inari, Konkon. Miyamurapun mulai berjalan masuk, aku mengikuti.
"Kau punya hubungan apa dengan chef?" tanyanya dan itu membuatku heran.
"Ha?" tanyaku bingung.
"Kau sangat dekat dengannya sekarang. Mulanya aku sempat tak menghiraukannya, tapi Haruka dan Orihime sering ku dengar membahasnya dan itu sedikit menggangguku." Katanya. Well, I have no idea about what this man's thinking about.
"Umhh - " aku mencoba menjawabnya berfikir sejenak," hanya sebatas antara koki dan kepala koki saja, sepertinya."
"Sepertinya?" tanyanya menyelidik dengan memasang wajah mengintimidasinya.
"Miyamura-san, jangan menatapku seperti itu!" kataku sedikit kesal.
"Aku hanya sedikit heran saja. Beberapa kali aku mendengarmu memanggilnya tanpa embel-embel chef di depan namanya, padahal sebelumnya ku dengar kau memanggilnya dengan sebutan 'monster'". Aku sedikit kaget dengan pernyataan Miyamura. Apa benar aku sering kecelposan memanggil Ryuu dengan nama nya sendiri tanpa embel-embel 'chef' didepan namanya. Yare-yare, aku bahkan tidak sadar akan hal itu.
"Lalu kenapa kau peduli?" tanyaku mencoba memancing.
"Aku tak terlalu peduli sih, hanya saja itu sedikit menggangguku."
"Mengganggu bagaimana maksudmu?."
'Miyamura-san! Pikiranmu sudah terlalu jauh dan sangat negatif. Kenapa kau harus memikirkan hal-hal seperti ini dengan menduga-duga hal yang tak mungkin terjadi. Haahhh!" ujarku kesal sambil menghela nafas.
"E-etoo.. sumimasen."
"kalau kau memang menyukai Uta, kenapa kalian tidak mulai berkencan saja?" ucapku. Miyamura sedikit kaget menatapku dan kemudian dia mengalihkan pandangannya.
"Jika kau tak keberatan'gumamnya. Aku menatapnya. Astaga, jadi selama ini dia belum mengajak Uta sekedar jalan atau kencan itu, karena dia segan kepadaku?
"Ya, ya..terserah...lah." kataku mencoba menghiburnya. "hadehhh" keluhku pelan sambil memegangi kepalaku. Pusing dengan semua ini.
Tiba-tiba Miyamura berhenti. Aku juga. Miyamura menoleh kebelakang sambil menyapu pandangan ke sekeliling jalan yang dibaluti senbon tori itu.
"Kenapa?" tanyaku.
"AH, tidak, mungkin hanya perasaanku saja. Seperti ada yang mengikuti kita. Tapi ah sudahlah..." jawab Miyamura datar dan tak ingin meneruskan kecurigaannya sambil melanjutkan langkah.
Hari sudah sore, dan kini saatnya rombongan kami beranjak pulang dan kembali ke hotel. Puas rasanya sudah mengelilingi kuil Fushimi Inari dan berwisata kuliner disekitarnya. Hanya saja suasana di bus ketika pulang ini agak sedikit berbeda. Ryuu...tidak duduk disampingku. Dia memilih menyendiri di sisi lainnya. Hey, kenapa tiba-tiba aku merasa sedikit kesepian ya?
Dua hari lagi...kami akan pulang. Selama beberapa hari ini begitu banyak waktu yang kami habiskan untuk bersenang-senang. Kami juga bukan hanya sekedar berwisata atau berkunjung ke kuil-kuil, istana, taman tradisional atau ketempat pemandian onsen tapi kami juga berwisata kuliner. Kami juga sempat mengunjungi sebuah restoran tradisional yang cukup bonafit di Kyoto dan belajar memasak disana. Semuanya sangat menyenangkan.
Hingga tibalah perayaan musim gugur terbesar; Jidai Matsuri yang selalu diadakan di tanggal 22 oktober. Jidai Matsuri merupakan sebuah perayaan tahunan setelah dibangunnya kuil Heian Jingu yang merupakan tiruan dari istana Heian. Pada perayaan ini diadakan parade yang menampilkan perjalanan sejarah kota Kyoto sejak periode Heian hingga periode Meiji.
Parade ini biasanya menampilkan orang-orang yang mengenakan berbagai kostum yang mewakili periode sejarah di Kyoto. Prosesinya melibatkan enam barisan yang mewakili enam periode, yaitu, era Restorasi Meiji, periode Edo, periode Azuchi-Momoyama, periode Muromachi, periode Kamakura dan periode Heian.
Parade ini sendiri dimulai dari Istana Kekaisaran (Imperial Palace) dan berakhir di kuil Heian. Arak-arakan yang paling akhir adalah yang paling penting dalam prosesi ini adalah membawa mikoshi (kuil portable) yang membawa arwah Kaisar Kammu dan Kaisar Komei, kaisar pertama dan terakhir di periode Heian. Dan yang terpenting dari itu semua, kami hari ini sudah berangkat ke kuil Heian Jingu untuk melihat festival menakjubkan ini. Menakjubkan jika melihat parade ini secara langsung. Melihat orang-orang dengan pakaian atau kostum zaman dulu. Yosh! Kameraku sudah siap untuk mengambil gambar!
Ya ampun, ramainya! Fikirku sambil mencoba mengambil gambar di antara kerumunan orang-orang yang juga berebut untuk mengambil gambar. Aih,susahnya! Haruka juga sudah kelihatan pusing. Sementara teman-temanku yang lainnya sudah berpencar entah kemana. Para lelaki juga tak ada di dekat kami. Entah disisi mana mereka.
Akhirnya aku berhasil mendekat ke barisan depan dan bisa mengambil gambar dengan jelas. Aku terus saja mengambil gambar sambil berdecak kagum melihat perayaan ini.
"Ne~ Haruka-san..." aku mencoba memperlihatkan gambar itu pada Haruka tapi, eh....? Haruka tak disisiku lagi, tidak juga dibelakangku. Mungkin kami terpisah ketika aku mencoba memaksa menembus kerumunan ini. Ah, yabai! Aku bisa tersesat atau ketinggalan bus sekiranya aku tak kembali ke spot yang dijanjikan. Haduh bagaimana ini??? Mendadak tubuhku lemas.
"Perhatikan langkahmu!" ujar seseorang dengan tegas sambil membawaku keluar dari kerumunan. Aku bahkan belum sempat menyadari ketika seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tanganku. Tapi, siapa?
"Ryuu?" gumamku ketika aku menoleh untuk memastikan siapa yang membawaku.
"Damare! (diam!)" ucapnya dingin. Yappari, bahkan aku baru menyebut namanya dia sudah marah begitu. Kasar sekali!
Dengan bersusah payah akhirnya kami keluar dari kerumunan, tapi tetap saja Ryuu tak melepaskan tanganku malah terus menarikku dan membawaku ke bawah sebuah pohon bunga sakura yang daunnya sudah memerah. Situasinya tidak ramai, tapi juga tidak sunyi. Ryuu kemudian melepas tanganku sambil mendorongku hingga aku hampir terjatuh.
"Sakit..." keluhku sambil tertunduk dan memegangi pergelangan tanganku yang sedari tadi di genggamnya erat, benar-benar sakit, tampak sekali kemerahan bekas genggamannya. Ryuu tak bersuara sejenak.
"Go-gomen" gumamnya sangat halus. Aku menatapnya tertunduk dalam. Astaga, entah kenapa tiba-tiba aku jadi merasa bersalah. Oh my God, bukankah seharusnya aku diposisi yang tersakiti?
"A - tak apa. Tapi...terimakasih - Ryuu," ucapku serba salah.
"Mimi-chan! Yokatta! (Syukurlah!)" sebuah teriakan kelegaan kemudian datang dari sisi kananku diikuti sebuah pelukan. Haruka? "Aku kira kau hilang tadi dikerumunan. Aku sangat khawatir tadi. Aku panik jadi aku memberitahukan chef bahwa kau hilang. Maaf ya, aku tak mengikutimu tadi." Ucap Haruka sambil melepas pelukan.
"Ah, tidak, akulah yang harus meminta maaf karena terlalu memaksakan diri masuk kerumunan. Maaf, jadinya ngerepotin semuanya." Balasku mencoba menghibur Haruka. Jadi, dia datang mencariku karena Haruka yang melapor?
"Memang! Kau memang selalu merepotkan!" ujar Ryuu ketus dengan gaya bahasanya yang cool. Menyebalkan.!
"Chef terima kasih karena sudah mencari Mimi," ucap Haruka sambil membungkuk.
"Ya, tak apa. Lain kali jaga diri kalian dan jangan merepotkan orang lain!" balas Ryuu sambil berlalu. Setelah menjauh, Haruka kembali memelukku.
"Andai tidak ada Chef aku tidak tau harus melapor dengan siapa tadi. Dia satu-satunya orang yang aku lihat disekitar parade tadi." Cerita Haruka sambil melepas pelukan. 'Ne, Mimi-chan, kau tahu, ketika aku memberitahu chef bahwa kau hilang di antara kerumunan, dia langsung berlari tanpa aba-aba. Wajahnya sangat menyiratkan kekhawatiran yang dalam."lanjutnya.
"Sou ka?"(masa sih) diam-diam aku juga merasa kaget mendengar itu.
"Mungkin dia menyukaimu, Mimi." Kata Haruka.
"Ah, tidak...itu tidak mungkin." Responku mencoba menangkis pendapatnya.
"Hmm, jadi, seandainya dia benar-benar menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?"
Aku sedikit terganggu dengan pertanyaan Haruka barusan. Aku terdiam dan berfikir. Ya, apa yang akan ku lakukan jika Ryuu benar-benar menyukaiku?
"Shiranai yo (ya gak tau sih)," hanya itulah yang keluar dari bibirku saat itu.