
Sudah seminggu sejak aku mengetahui bahwa Yuuta benar-benar saudara kembar Ryuu. Dan Ryuu juga bersikap seperti biasa padaku di dapur. Jadi aku tak terlalu mengkhawatirkan apapun. Meski kadang aku bisa membaca tatapan aneh Ryuu kepadaku. Selain itu, aku juga bertambah dekat dengan Yuuta. Dia menyenangkan dan membuat tentram, jauh sekali dengan Ryuu yang selalu membuatku kesal!
"Otanjoubi Omedetou, Hinamori-san!" kata rekan kerja ku serentak ketika aku baru saja melangkahkan kaki ke dapur. Aku kaget bercampur bahagia. Tak menyangka mereka ingat ini hari ulang tahunku.
"berapa umurmu sekarang, Hinamori?" tanya Inari.
"25, hihi." Jawabku malu.
"Diumur segini seharusnya kau sudah mulai berkencan, bukan?" tambah Haruka.
"Eh? Kencan?" ulangku.
"Iya, Mimi-chan." Timpal Orihime sambil merangkulku,"Makan malam romantis atau berjalan -jalan dengan orang yang kau sukai," lanjutnya lagi.
"Dengan orang yang ku sukai?' tanyaku.
"Ha? Kau bahkan belum pernah jatuh cinta ya?" terka Juni. Aku kaget, merona tak tahu mau membuang pandangan kemana. Gugup.
"Ti-ti-tidak," ucapku terbata karena gugup.
"Jadi, apakah ada seseorang yang kau sukai sekarang?" tanya Miyamura, penasaran.
"Eh?" Fikiranku langsung tertuju pada Yuuta. Ah, tidak-tidak tidak..
"Huwaaa, wajah Hinamori, merona. Dia kelihatan makin kawaii, " seru Iura, di sambut yang lain.
"Hey, sudah selesai?" sebuah suara mengagetkan kami dari belakangku. Ryuu sudah berdiri di depan pintu sambil melipat tangan ke dada. Ciri khasnya!
"Sudah Chef," jawab yang lainnya.
"Baiklah mulai bekerja." Seru chef.
Aku cukup bahagia pagi itu meski dengan sambutan sederhana, tapi setidaknya teman-temanku mengingat hari ulang tahunku. Bahkan Chef gila ini tak marah ketika temanku membuat sedikit kekacauan di dapur. What a good day!
Jam delapan malam, mendadak Ryuu pamit. Ada urusan sih katanya. Tapi tak masalah. Toh Team ini masih bisa berjalan tanpa mandor darinya. Sedikit heran sih dengan tatapan anehnya sebelum dia pamit. Entah apa yang dia fikirkan ketika menatapku. Menyebalkan, tapi baguslah, dia duluan pergi dari dapur ini.
Jam pulang telah tiba. Aku mengingatkan Tori tentang tugas asisten dapur. Dia mengangguk mengerti. Anak ini kelihatan rajin dan baik. Tidak salah jika Ryuu memilih Tori menjadi asisten dapur, hanya saja dia masih butuh bimbingan dariku.
Akupun mulai masuk ke ruang ganti dan aku menemukan setumpuk kado di bawah lokerku dan semuanya dari teman sedapurku. Hey, aku bahkan tak menyangka mereka memberikanku kado. Apapun itu, aku besyukur sekali hari ini. Hanya saja aku agak bingung bagaimana membawa kado-kado ini. Hadeeeeh....
"Otanjoubi omedetou," sekali lagi kejutan itu datang dari apartemenku. Yuuta dan Uta menyambutku ketika aku masuk keruangan yang sudah di gelapkan mereka.
Lampu kembali benderang. Aku digandeng Uta menuju ruang tengah. Di sana sudah ada sebuah tart ulang tahun berwarna cantik bergambar salah satu personil One Ok Rock: Taka! Diatas tart itu berdiri lilin berbentuk angka dua dan angka lima. Well, itu umurku sekarang. Sedikit malu untuk mengakuinya.
"Are? Kau kenapa Onee-chan?" tanya Uta bingung.
"Hinamori pasti terharu," tambah Yuuta, dan perkiraan mereka semua meleset! Aku sedih karena aku harus memotong wajah Taka yang dilukis mirip di atas tart ini. Hiks! Tapi, tak apalah. Akhirnya akupun memotong tart itu dengan ikhlas. Aku menyuapi Uta, dan kemudian memotong tart lagi untuk Yuuta. Aku keceplosan dan hampir menyuapi Yuuta.
"Makan sendiri," ucapku ketus, menahan rona merah dipipi dan tak jadi menyuapi Yuuta. Yuuta cemberut menggemaskan, Uta menggoda.
"Ne, onee-chan, ini kiriman dari ibu." Kata Uta sambil memberikan sebuah bungkusan besar. Aku membukanya. Hwaaah, ini peninggalan bersejarah Ibu. Satu set perlengkapan memasak Mie Ramen. Aku senang, ternyata ibuku mengingat hari ini.
"Ini dariku," kata Yuuta sambil memberikan sebuah bungkusan.
"Arigato, Hiroshi-san!"Aku membukanya dan ternyata DVD Album One Ok Rock yang terbaru! Yatta! Aku gak perlu repot membeli lagi.
"Dan ini dariku," kata Uta sambil memberikan sebuah kado tepat dipangkuanku.
"Wahhh, apa ini ya...?' fikirku menerka-nerka. Akupun membukanya. Aku terpaku sesaat menatap apa yang ada didalam kado ini. Sebuah smartphone.
"Uta-chan, ini....mahal," kataku pelan seolah tak percaya.
"Ah tidak. " kata Uta.
"Kau pasti tidak tahu bahwa Uta selama ini pergi pagi sekali untuk bekerja. Dia bekerja untuk membelikan mu hadiah ulang tahun." Cerita Yuuta.
Aku menutup mulutku menahan isak. Ya ampun, bahkan Yuuta lebih tahu dari pada aku. Jadi, selama ini Uta pergi pagi sekali dan pulang sangat telat, dia...bekerja untuk membelikanku kado. Itu pasti melelahkan sekali. Setelah pergi kerja dia harus melanjutkan kuliah tanpa pulang terlebih dahulu. Perlahan air mataku menetes.
"Onee-chan? Kau tak apa?" tanya Uta. Aku memeluknya erat. Aku beruntung punya adik seperti Uta. Dia sangat menyayangiku bahkan setelah apa yang ku lakukan padanya bertahun-tahun.
"Sudah-sudah..tak apa....aku bahagia onee-chan bahagia seperti ini. Aku harap onee-chan selalu tersenyum kepadaku."
"Ah, aku baru ingat!" kata Uta seperti mengingat sesuatu. Lalu bangkit mengambil sebuah kotak kecil di atas meja dapur. "aku menemukan ini di depan pintu apartemen kita," lanjutnya.
Aku menerima sebuah kotak berukuran sedang yang terbungkus kertas kado ditanganku dan memperhatikanya.
"Hanya ada inisial saja. Aku tak tahu itu dari siapa?" kata Uta, sementara Yuuta sibuk memakan tart.
Aku membolak balik kado untuk menemukan inisial yang dimaksud Uta. Dan eh ini dia... R.H?
"R.H?" bisikku bingung. Siapa orang yang bernama R.H ini, fikirku. Aku memandangi inisial itu sambil terus mencari kepanjangannya. R? Eh? Jangan bilang ini...?? Ryuuta Hiroshi? Chef gila itu?
"Kau tahu onee-chan?" tanya Uta yang penasaran melihat ekspresiku.
"E-eto...umm..sepertinya belum." Jawabku bohong sambil teringat kenapa Ryuu mendadak pulang lebih awal dan menatap aneh ke arahku. Jadi ini yang dilakukannya? Dasar manusia aneh! Tapi, dugaanku meleset dari awal sih. Meskipun dia tidak mengucapkan ulang tahun kepadaku tapi, dia memberikanku kado meski kadonya agak sedikit aneh sih. Sebuah boneka koki, lengkap dengan serbet merah dilehernya dan topi khas kokinya dan....setiap melihat boneka ini aku jadi teringat Ryuu. Mendokusei na~ (menyebalkan)