Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Deai (Pertemuan)



Wanita itu hanya memandangi lelaki yang tengah sibuk melayani pengunjung dengan ramahnya itu dengan perasaan serba salah. Dia masih belum menerima ajakan Miyamura untuk kembali ke Shibuya meski Miyamura memintanya berkali-kali. Bahkan sampai tidak pulang dan malah bekerja di warung ramen milik ibunya yang ia kelola.


"Aku akan bekerja disini sampai kau mau kembali lagi ke Shibuya."


Begitulah ucapan yang membuat Hinamori galau. Dia sudah bersumpah tak akan kembali kesana. Kembali ke Shibuya hanya akan membuka luka hatinya.


"Hinamori-san?" Suara Akane membuyarkan lamunannya.


"Maaf..."ucap Hinamori malu.


"Iie," Akane menggeleng. "Anda sepertinya sangat memperhatikan Miyamura-san belakangan hari ini. Dia begitu baik, bukan. Sangat serasi dengan anda."


"Eh?" Hinamori terkesiap, mendadak wajahnya panas.


"Tidak ada salahnya jika Hinamori-san mulai memikirkan pernikahan." Tama mulai ikut menggoda Hinamori.


"Mou~ kalian ini."


"Ada apa?" Suara Miyamura membuat ketiganya serentak menoleh ke arah pintu dapur.


"Ta-tama-chan! Akane-chan! Cepat antarkan pesanannya." Gugup Hinamori jadinya.


"Hehe. Hai hai."


Akane & Tama pun mengantar pesanan ke meja pengunjung. Setelah mereka pergi, Miyamura mendekat.


"Apa kau sudah memikirkannya lagi?"


"Sudah aku katakan berapa kali aku tidak mau ke Shibuya lagi. Aku sudah cukup tenang memulai semuanya dari awal disini. Kembali ke Shibuya hanya akan membuka lukaku."


"Kau belum bisa melupakan Ryuu?"


"....." Hinamori tertunduk.


"Jika kau tidak bisa melupakan Ryuu, apakah aku boleh menggantikan Ryuu di hatimu dan membuatmu melupakannya?"


"Ha?" Hinamori menatap Miyamura yang berdiri di depannya. Matanya yang tajam menghujam mata Hinamori.


"Nante ne yo~ (bercanda~)" kata Miyamura tersenyum simpul sambil berlalu setelah mengetuk jidat Hinamori dengan siku-siku telunjuknya.


.


.


Sudah awal bulan, Hinamori berencana berbelanja untuk resep ramennya. Rencananya ia akan mengajak Akane dan Tama tapi sepertinya tidak bisa karena mereka mengatakan bahwa mereka ada kencan dengan pacar mereka masing-masing.


"Biarkanlah mereka libur sekali ini. Kalau untuk berbelanja saja kau bisa mengandalkanku." Ucap Miyamura.


"Hai, hai." Hinamori menyerah. Satu-satunya cara agar Miyamura segera pergi dari sini hanyalah mengikuti apa katanya kecuali kembali ke Shibuya.


Merekapun pergi ke mini market dan berbelanja. Selama berbelanja Miyamura-lah yang mengontrol semuanya. Hinamori hanya mengikutinya dari belakang sambil mendorong troli. Diam-diam dia memperhatikan Miyamura.


Menurutnya Miyamura adalah pria yang menyenangkan. Sejak ia berada di Fukui, Hinamori merasa terbantu. Dia juga pernah dekat dengan Miyamura ketika mereka membuat ramen pelangi. Miyamura seolah memiliki magnet untuk menarik perhatian semua orang.


Deg! Deg! Entah kenapa memikirkan Miyamura saja jantung Hinamori memompa lebih cepat. Ia memegang dada kirinya. Namun, tiba-tiba bayangan Ryuu melintas ketika ia melihat punggung Miyamura.


"Lho? Hinamori?" Miyamura menoleh ke belakang. Hinamori berhenti sambil tertunduk agak jauh dibelakangnya. Miyamurapun mendekati Hinamori. Hinamori mendongak ketika Miyamura mendekat.


"Kenapa tiba-tiba berhenti? Kau memikirkan sesuatu?"


Hinamori menggeleng lemah.


"Tidak. Maaf karena melamun. Ayo lanjut lagi." Hinamori mendorong trolinya.


"Mungkin kau lelah. Sini biar aku saja yang bawa trolinya."


Sesaat tangan mereka bersentuhan ketika Miyamura mengambil troli dari Hinamori. Suasanya kembali canggung saat itu.


"A-aku akan ke sebelah sana." Hinamori bermaksud melarikan diri. Namun tangan Miyamura akhirnya menahannya.


"Hinamori."


"Y-ya?"


"Tolong biarkan aku tinggal disisimu lebih lama."


Darah Hinamori berdesir. Perkataan itu seolah menyiratkan keinginan Miyamura untuk mendampingi dirinya. Tapi, bukankah dia sangat mencintai Uta? Apa Miyamura semudah itu melupakan Uta? Eh? Asumsi macam apa ini.


"Na-nani attenda kimi. Wakarani yo." Ucap Hinamori melepas tangan Miyamura dari pergelangan tangannya. "Terserah apa katamu." Lanjutnya lalu melangkah.


Miyamura tersenyum dan mengikuti Hinamori sambil mendorong troli.


Usai belanja Miyamura mengajak Hinamori makan dan jalan-jalan sebentar di daerah pusat perbelanjaan di Fukui.


Bunga sakura masih bersemi di Fukui saat itu. Mereka berdua berjalan bersisian di antara bunga sakura yang tumbuh disisi kiri dan kanan sebuah jalan kecil menuju warung ramen milik Hinamori.


"Wah menyenangkan sekali hari ini. Aku tak menyangka ternyata kau orang yang sangat menyenangkan. Aku pikir kau taunya hanya memukul jidatku dengan siku-siku jarimu." Hinamori memasang cengiran lebar membuat Miyamura tersenyum.


"Aku merasa bersyukur jika kau merasa bahagia. Sudah lama sekali tidak melihat kau berekspresi yang sama ketika di Shibuya."


Hinamori tersenyum lebar. Bungkusan besar di tangan kanan & kirinya mereka seolah menjadi ringan saat itu.


"Miyamura-kun?" Panggil Hinamori pelan sambil menoleh ke belakang. Yang dipanggil sedikit kaget. Segala lamunan tentang Hinamori menguap begitu saja.


"Maaf." Ucap Miyamura lalu melanjutkan langkahnya.


Tiba-tiba sebuah mobil melintas. Posisi Hinamori yang agak ke tengah membuat Miyamura melepaskan bungkusan ditangannya dan menarik Hinamori ke sisi jalan tepat di bawah pohon bunga sakura.


"Kau ini harus lebih hati-hati. Dasar ceroboh!" Omel Miyamura tepat di hadapan Hinamori. Dia hanya berjarak 30cm dari Hinamori. Hinamori memanyunkan bibirnya.


"Hai, hai. Gomenasai." Kata Hinamori pelan.


Angin berhembus sedikit kencang dan mengibarkan rambut Hinamori dan menggugurkan bunga sakura di atas kepalanya.


"Ada bunga sakura di atas kepalamu." Kata Miyamura.


"Eh?" Hinamori mencoba membersihkan kepalanya.


"Disini lho." Miyamurapun mengambil beberapa kelopak bunga sakura dari kepala Hinamori.


Hinamori mendongak. Beberapa saat mereka saling bertatapan ketika tangan Miyamura masih diatas kepala Hinamori. Perlahan tangan kanan Miyamura bergerak memegang pipi kiri Hinamori.


"Hinamori...."


Bungkusan yang dibawa Hinamori di tangan kirnya terlepas ketika bibir Miyamura menyentuh bibirnya. Hinamori sendiri masih terbelalak karena Miyamura. Itu...ciuman pertamanya. Ia bahkan tidak pernah berciuman dengan Ryuu!


Miyamura melepas ciumannya dan menatap Hinamori yang kini pipinya merona sempurna.


"Maaf, aku tak bisa menahan diri."


"......" Hinamori tertunduk.


"Hinamori....aku menyukaimu."


"......" Hinamori terkejut dalam diam.


"Hinamori...?"


"Ki-kita harus cepat pulang dan menyiapkan resep untuk besok." Hinamori mengambil bungkusan yang lepas dari tangannya dan berjalan meninggalkan Miyamura.


.


.


Sudah tiga hari sejak Miyamura mencium Hinamori. Hinamori tampak membatasi setiap pembicaraan dengan Miyamura. Dia masih shock atas perlakuan Miyamura waktu itu.


Miyamura paham dan sudah berulangkali minta maaf pada Hinamori tapi tetap saja Hinamori masih menjaga jarak dengannya dan tentu saja ini membuatnya tak tenang.


"Terima kasih sudah berkunjung ke warung ramen kami." Ucap Hinamori pada pelanggan terakhir yang akan keluar.


Setelah itu Hinamori pun masuk. Dia sedikit kaget karena Miyamura sudah berada dibelakangnya.


"Kau ini...." Hinamori hendak mengomel tapi dia menahan diri dan malah pergi melewati Miyamura.


"Hinamori." Miyamura berhasil menangkap pergelangan tangan Hinamori.


"Aku ingin kita bicara."


"Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku sudah memaafkanmu kok." Hinamori tersenyum paksa.


"Tapi kenapa kau terus menghindariku?"


"A-aku hanya.....tidak bisa membiarkan Uta melihat kita seperti ini."


"Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Uta."


"Tentu saja ada! Mana mungkin secepat itu kau melupakan Uta dan malah menyukaiku. Apa kau hanya menjadikanku pelarianku saja?"


Akhirnya Hinamori menumpahkan emosinya. Airmatanya pun jatuh. Miyamura sedikit terpaku. Dia lalu memegang bahu Hinamori dan menghadapkan Hinamori ke arahnya.


"Nee Hinamori. Apa kau tahu bahwa aku sudah lebih dahulu menyukaimu jauh sebelum aku mengenal Uta, jauh sebelum chef brengsek itu jadi bos kita? Aku sudah lebih dahulu mengagumimu sejak kita pertama kali bekerja di YIR."


Hinamori kaget mendengar itu. Sontak ia mendongakkan kepalanya menatap Miyamura.


"Dan apa kau tau apa pesan Uta ketika ia memanggilku secara pribadi di ruang ICU? Dia memintaku untuk menjagamu dan tidak membiarkan kau disakiti siapapun. Jadi tolong, aku ingin kau menjadi dirimu yang dulu. Lupakan Ryuu dan mulai hidup baru bersamaku. Kita tak perlu mengemis untuk kembali ke restoran itu. Kita bisa membuat usaha sendiri. Baiklah jika kau tidak ingin kembali ke Shibuya, tapi aku ingin selalu disisimu."


"Miyamura...." gumam Hinamori tak percaya apa yang dikatakan Miyamura padanya. Dia hanya berpikir kenapa Miyamura menjadi out of character seperti ini. Apa cinta memang begini?


"Hinamori, apa kah kau mau melupakan Ryuu dan membuka lembaran baru bersamaku?"


Hinamori tertunduk. Pernyataan itu seperti lamaran saja. Namun, entah kenapa hatinya masih dingin. Dia masih belum ingin menjalin hubungan dengan laki-laki. Tapi dalam hatinya dia ingin berusaha mencintai. Apa Miyamura adalah orang yang tepat? Tapi dia masih takut jika ia menerima Miyamura, dia hanya akan menganggap Miyamura sebagai pelarian dari Ryuu. Bagaimana ini?


"Mimi Hinamori!"


Suara itu membuat keduanya menoleh serentak ke arah seseorang berjaket yang tengah berdiri di luar warung tak jauh dari mereka.


"Ryuu??"


*bersambung*