Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Cinta Di Penghujung Tahun



Malam itu Yoyogi Park lumayan ramai dengan pengunjung yang ingin menyaksikan kembang api tahun baru. Mereka datang bersama keluarga, teman ataupun pasangan mereka masing-masing. Banyak couple yang lalu lalang disekitarku dan itu membuatku sedikit risih. Sementara aku dan Ryuu masih diam dengan fikiran masing-masing. Tak ada sepatah katapun yang keluar sejak setengah jam yang lalu, bahkan kami duduk di bangku taman yang sama, berdampingan.


"hahh.." aku mendengar helaan nafas Ryuu sejenak setelah dia meminum kopi kalengan yang dibelinya tadi. Aku bergeming menunggunya berbicara. Argh, tidak, seharusnya akulah yang memulai pembicaraan. Tapi...situasi ini benar-benar membingungkan.


"Maaf..." akhirnya aku mendengar suaranya, fikirku lega. Aku menoleh ke arahnya yang tertunduk. Matanya sendu memandang kosong ke arah bumi. "aku...minta maaf atas sifat kasarku waktu itu."lanjutnya tanpa bergeming. Sejenak aku teringat kejadian malam itu ketika Ryuu menyuruhku untuk berhenti menyukai Yuuta.


"Tidak, kau tak perlu minta maaf. Akulah yang salah karena tak mendengar kata-katamu." Balasku datar. "Kau benar tentang kenapa aku harus mengakhiri perasaanku terhadap Yuuta. Mungkin aku yang terlalu terbawa suasana tentang keakraban kami. Aku...yang melebih-lebihkan perasaan." Lanjutku. Dan pada saat itu aku bisa merasakan Ryuu menoleh padaku.


"Aku sangat senang ketika mengetahui bahwa Yuuta memiliki keunikan yang sama denganku, itu sebabnya kami nyambung. Ditambah lagi sikap Yuuta yang lembut dan ramah pada siapa saja, juga terkadang tingkah konyolnya, membuatku sering tertawa." Ceritaku sambil tersenyum mengingat kenangan aku dan Yuuta. "Terlebih dia juga tetanggaku, dan seringkali ke apartemenku, menemani adikku atau aku yang ke apartemennya untuk membaca manga. One Ok Rock, anime, manga, adalah hal yang membuat kami nyambung satu sama lain dan tanpa sadar aku terlalu mendramatisir perasaanku sendiri."lanjutku.


"Dasar wanita!" katanya ketus. Aku menatap ke arahnya dan ku dapati sebuah ekspresi kekesalan disana. "Selalu melebih-lebihkan sebuah kebetulan.!" Lanjutnya.


"Ya, kau harus maklum, seperti itulah wanita. Selalu didominasi oleh perasaan dan jarang menggunakan logikanya." Balasku santai.


"Kalau kau sendiri bahkan bukan hanya logikamu yang tidak kau pakai, tapi matamu juga!" katanya ketus dan kali ini benar-benar membuatku kesal. Padahal baru saja kami berbaikan dan mulai berbicara. Keh! Memang benar-beanr menyebalkan! Ah, aku tak ingin cari gara-gara malam ini, tapi...


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tak memberitahukanku dari awal tentang Yuuta.?" Tanyaku.


"Aku juga serba salah waktu itu. Mau jujur padamu tapi aku tau kau akan terluka, jadi, ya sudahlah, biar kau sendiri saja yang melihat dan membuktikannya sendiri, dengan begitu kau akan mengerti dan tahu bagaimana dan apa yang seharusnya kau lakukan." Katanya menjelaskan.


"Well, kau kan juga gay." Kataku langsung-langsung saja. Ryuu langsung melemparku dengan kaleng kosong bekas kopinya dengan kesal. Aku dengan cepat mengelak. "Wah,kenapa kau marah? memang benarkan? Kau kan menyukai Tori," godaku.


Ryuu menggaruk-garuk kepalanya dengan ekspresi kesal sekaligus malu lalu menghela nafas, "Itu bahkan ciuman pertamaku dengan seorang laki-laki. Astaga, aku bahkan tak habis fikir kenapa aku bisa melakukan hal memalukan seperti itu. " ocehnya. "Aku benar-benar menyesal melakukan hal itu pada Tori. Aku tahu dia pasti trauma, tapi apa kalian juga berfikir bahwa aku juga trauma?" lanjutnya lagi. Aku tertawa spontan melihat ekspresi Ryuu ketika mengatakan itu.


"Apa yang kau tertawakan?" gerutunya garang.


"Ah, tak apa, tak apa. Jadi, sejak kapan kau sudah mengetahui penyimpangan orientasi seksual Yuuta?"tanyaku penasaran.


"Sejak SMA, saat dia tiba-tiba mengatakan padaku bahwa dia menyukai seorang kakak kelasnya yang ternyata seorang laki-laki. Saat itu aku sedikit takut dengan Yuuta, dan aku juga tak berani membicarakannya dengan orangtuaku. Hingga akhirnya, ketika kami acara kelulusan SMA aku melihat seorang wanita menyatakan cinta pada Yuuta dan Yuuta menolaknya bahwa dia tidak menyukai perempuan dan membuat wanita itu menangis meninggalkannya. Yuuta sendiri juga yang akhirnya mengakui pada ibu kami bahwa dia gay dan akhirnya dia diusir dari rumah." Cerita Ryuu.


"Oh, begitu. Jadi kau tidak ketularan Yuuta kan?" tanyaku sedikit bercanda karena apapun yang dikatakan Ryuu tentang Yuuta sudah tak berdampak apa-apa lagi padaku karena aku sudah menerima kenyataan dan memaafkan diriku sendiri atas kesalahan perasaan yang aku letakkan pada Yuuta.


"Sudah ku bilang aku bukan gay!" teriaknya dan membuat perhatian dari orang-orang sekitar taman. Serentak dengan itu Ryuu memegangi kepalanya dan merona malu. Hey, aku dapat melihat ekspresi bodohnya sekarang. Tanpa sadar aku tertawa kecil.


"Tidak ada yang lucu." Ryuu merajuk dan itu membuatnya semakin menggemaskan.


"Gomen ne, gomen ne," kataku menahan tawa.


"Jadi....setelah kau mengetahui kenyataan tentang Yuuta, apakah kau akan berhenti untuk menyukai seseorang?" tanyanya kemudian. Aku menatapnya yang tak menatapku. Apa maksud pertanyaannya itu?


"Entahlah..." jawabku bingung. Sejenak kami terdiam, larut dalam fikiran dalam hati masing-masing.


"I wanna dance the night away with you,


I wanna love because you taught me to,


I wanna laugh all your tears away,


I wanna sing 'cause every single note and word it's just for you, hope it's enough.


I wanna tell you and this is the only way, I know


and hope one day you'll learn the words and say that you finally see how I feel....


Another song for you about your love, 'cause you love the me that's full of faults.


I wish you could see it from this view 'cause everything around you is a little bit brighter from your love..."


Aku tertegun mendengar setiap kalimat yang dinyanyikan Ryuu dengan sangat halus. Itu salah satu potongan lagu Notes'n'Words nya One Ok Rock! Apa Ryuu sedang mencoba mengungkapkan perasaannya melalui lagu itu? Dan ini pertama kalinya aku melihat Ryuu seperti ini. Sekelebat pertanyaan Haruka ketika di Kyoto tiba-tiba melintas.


"Hmm, jadi, seandainya dia benar-benar menyukaimu, apa yang akan kau lakukan?"


"Hey, Hinamori!" panggil Ryuu. Aku tersentak dari lamunanku dan menatapnya. "Maaf jika suaraku tidak terlalu bagus." Lanjutnya malu.


"Ah.., tidak buruk kok. Well, thanks. " ucapku gugup mencoba menghiburnya.


Kemudian kami terdiam lagi. Ryuu tertunduk lagi. Aku memperhatikan sekeliling taman melihat pengunjung yang sudah bersiap denganĀ  kembang api mereka masing-masing.


"Hinamori-san!" panggil Ryuu sambil menatapku serius. Aku menoleh ke arahnya dan menatap matanya. Tapi kemudian, aku mendengar letupan kembang api yang langsung meredamkan suara Ryuu yang mencoba menyampaikan sesuatu. Aku hanya dapat membaca gerakan bibirnya bukan suaranya. Hey, tadi dia ngomong apa?


"Hey, kau kenapa?" tanyaku.


"Tak apa!" Jawabnya ketus.


"Apa yang kau katakan tadi?"


"Tak ada, tak ada yang penting. Sudah berlalu." Katanya lagi. Aku mengernyitkan alis.


"Oh ya sudah,"responku.


Kemudian Ryuu bangkit dari bangku lalu berjalan. Aku mengikutinya.


"Hey, kau mau kemana?" tanyaku.


"Pulanglah. Memangnya mau apa lagi aku disini!" jawabnya ketus sambil terus berjalan. Keh! Benar-benar menyebalkan sekali manusia satu ini! Batinku kesal sambil mengikuti langkahnya.


Kami keluar dari Yoyogi Park. Ryuu sudah kelihatan sudah tidak mood lagi. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Dia bahkan mengabaikanku terus. Astaga, manusia satu ini memang benar-benar aneh!


"Kau kenapa sih?" tanyaku disampingnya ketika kami sudah diluar Yoyogi Park.


"Tak kenapa-kenapa." Jawabnya datar.


"Jadi, kenapa sikapmu begitu?"


Ryuu diam saja. Matanya terus dialihkannya dariku. Aku sudah tak tahan dengan sikap anehnya ini. Baiklah!


"Sebenarnya aku tau apa yang kau ucapkan tadi," kataku. Ryuu refleks berhenti dan menatapku terkejut, "Emmm, sebenarnya aku hanya ingin mendengarnya lagi, makanya aku bertanya terus, tapi kau terus bersikap begitu jadi aku tak tahu harus bagaimana. Ya sudahlah, kita pulang saja." Lanjutku.


"Kau bohong," katanya serius. Aku justru malah ingin tertawa melihat Ryuu. "Hey, kenapa kau malah tertawa.?" Lanjutnya kesal.


"Dasar keras kepala!" ujarku. Dia menatapku terkejut. "Jadi sekali lagi, aku bertanya, apa yang coba kau katakan ketika di Yoyogi Park tadi?" tanyaku. Sontak Ryuu mengalihkan pandangannya dari ku. Pipinya merona.


"Hinamori koto ga Suki desu (aku menyukai Hinamori)," katanya seperti bergumam. Aku mendengarnya tapi pura-pura tak mendengarnya.


"Ha?" kataku berpura-pura tidak dengar sambil mendekatkan telingaku ke arahnya. Ryuu kelihatan sangat kesal, jaim, dan malu bercampur jadi satu disana. Jelas sekali tergambar diwajahnya dan itu sangat menggemaskan dan membuatku ingin terus menggodanya. Lalu dia mengambil nafas, dan mencoba mengatakannya lagi tapi langsung ku potong.


"Hai-hai, wakatteru, wakatteru..." kataku santai. Ryuu menatapku. "aku hanya ingin memastikan apakah aku salah dengar atau tidak," godaku. Aku menatap Ryuu yang sudah kelihatan sangat kesal.


"Kau menyebalkan! Pantas saja aku ingin membuatmu sengsara ketika pertama kali aku bertemu denganmu.!" Katanya kesal.


"Pfffttt.."aku menahan tawa.


"Malah tertawa lagi!" umpatnya.


"Ryuu-san, kau tahu, semakin kau kesal begitu aku semakin suka menggodamu. Kau benar-benar menggemaskan! " kataku. Ryuu membuang pandangannya dariku. Dia terdiam. Kemudian, tiba-tiba dia menggenggam tanganku dan mengajakku berjalan tanpa aba-aba sepatah katapun. Benar-benar tak bisa diprediksi manusia aneh ini.


"Wah, aneh sekali. Padahal kau pernah hampir membuatku ketakutan," sindirku.


"Urusee!" katanya kesal.


"Hahah." Godaku.


"Berhentilah membuatku kesal Hinamori."


"Kau kesal atau bahagia?"


"Ha? Jelas saja aku kesal. Dari awal berjumpa denganmu saja aku sudah kesal. Sudah terlambat, ceroboh, suka ngerepotin, tch!"balasnya dengan ekspresi kesal.


"Aku tahu, aku tau, tapi kau bahagia'kan?"


Ryuu diam meneruskan langkahnya, dan mengalihkan pandangan matanya dari ku yang terus saja melihatnya. Aku merasakan genggamannya semakin erat di sertai suara, "Umh," dan sebuah anggukan tanpa sedikitpun menoleh kepadaku. Astaga, jaim sekali manusia satu ini, batinku kesal, tapi,....


"Yokatta," gumamku sambil membalas genggaman tangannya erat.


Salju tipis mulai turun lagi malam itu. Genggaman tangan yang kurasakan disepanjang jalan menuju apartemenku juga semakin menentramkanku meski tak satu katapun yang keluar dari mulut kami masing-masing. Hanya hati yang bicara. Aku dapat melihat jelas ke dalam mata Ryuu saat ini bahwa dia benar-benar menyukaiku. Dan apa yang harus aku lakukan jika Ryuu benar-benar menyukaiku? Hmm, mungkin aku akan mencoba menyukainya. Ah tidak, aku mungkin bahkan sudah menyukainya hanya saja aku meletakkannya pada Yuuta yang memang memiliki wajah yang sama dengan Ryuu. Ah, entahlah. Cinta di penghujung tahun ini memang sedikit membingungkan. Hmm.. yare yare~