
"Itta!"(*aww) Tangan Hinamori langsung terangkat dari telenan dan segera ia pergi ke wastafel untuk mencuci jarinya yang terkena pisau ketika memotong kamaboko (*bakso ikan).
Miyamura melirik ke arah Hinamori yang masih berekspresi kesakitan dan kekhawatiran.
"Kabar itu pasti membuatnya tidak bisa tenang." Fikir Miyamura.
"Mimi-chan, daijoubu desuka?" Haruka ikutan khawatir sambil mendekati Hinamori.
"Heki desu (*aku baik-baik saja). Mungkin karena aku kurang tidur tadi malam." Kata Hinamori, lalu mematikan kran.
"Jangan bohong. Miyamura sudah cerita padaku, mengenai adikmu."
Hinamori mematung. Dia tak bisa marah pada Miyamura. Memang inilah kenyataannya.
"Semua akan baik-baik saja. Adikmu...pasti baik-baik saja." Hibur Haruka. "Ah...aku ada plester. Aku ambil dulu." Haruka pun pamit.
Kata-kata penghibur dari Haruka barusan malah membuat Hinamori teringat kabar tidak enak dari dokter waktu itu.
.
.
.
"Kami telah mengambil sampel darahnya dan kami menemukan jumlah sel darah putihnya lebih banyak. Kami juga menemukan sel kanker pada sel darah putihnya meningkat. Setelah kami cek lagi...sepertinya putri Ibu, hanya bertahan sekitar 2 minggu lagi." Dokter berumur 40-an itu tampak cemas memberi informasi agar Hinamori dan Minami tidak tersinggung.
Hinamori yang tak bisa membayangkan hal itu terjadi memilih ke luar dari ruangan dokter.
"Tapi, semua berpulang kembali pada putri ibu dan Tuhan. Kami akan usahakan yang terbaik." Lanjut sang dokter.
.
.
.
Dua minggu sudah berlalu dan Uta masih bernafas. Sedikit lega karena masa kritis Uta telah berakhir. Namun, Hinamori masih belum bernafas lapang. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Dia hanya berharap, musim semi tahun ini yang tinggal seminggu lagi tiba, bisa dia nikmati bersama dengan Uta. Dia...akan mengajak Uta ber-Hanami bersama ibunya.
"Ini." Kata Haruka sambil menyodorkan plester.
"Arigatou."(*terimakasih) Balas Hinamori menerima plester itu dan memakainya.
Hinamori kembali melanjutkan aktifitasnya. Miyamura yang tadi agak cemas sedikit lega karena Haruka sepertinya bisa menghibur Hinamori.
"Nee minna (*guys), kalian sudah dengar gosipnya belum?" Teguchi berbisik agar suaranya tidak kedengaran sampai luar.
"Tch, kau ini!" Desis Orihime.
"Ini serius. Ketika aku pulang kerja kemarin malam, aku melihat Chef dipanggil ke ruangan Direktur. "
"Hee~ direktur baru kita itu agak serem ya."tambah Inari.
"Ee~ tapi bukan itu masalahnya. Ternyata chef..."
Tiba-tiba Ryuu masuk ke ruangan. Semuanya terdiam. Teguchi tak bisa melanjutkan.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanyanya.
Semua serentak menggeleng dan melanjutkan aktifitasnya.
Hinamori yang mendengar perkataan Teguchi yang gantung tadi akhirnya menoleh ke Ryuu yang memang tampak tak begitu semangat sejak direktur baru itu mengambil alih resto seminggu yang lalu.
.
.
"Sore~" Hinamori masuk ke ruangan Uta sambil membawa ramen.
"Nee-san..." Uta tersenyum lembut.
"Genki desuka kyouwa (*apa kau sehat hari ini)?" Lanjut suara dibelakang Hinamori.
"Gin-san..." senyum Uta semakin lebar. "Genki desu~"(*aku sehat)
Hinamori mempoutkan bibirnya melirik Miyamura dibelakang.
"Tumben barengan?" Tanya Minami.
"Si kampret ini ngikutin terus dari tadi." Gerutu Hinamori.
"Sumimasen..(*maaf)" Miyamura membungkuk rendah ke arah Minami.
"Tidak apa-apa. Aku senang jika Uta ternyata memiliki teman. Mou~ Mimi-chan kau tidak boleh begitu padanya."
"Huh...ibu malah membelanya." Gerutu Hinamori.
Uta terkikik geli melihat Hinamori. Ditambah lagi saat itu Miyamura kembali usil menjitak pelan kening Hinamori dengan siku-siku jari telunjuknya.
"Itu sakit! Kampret!" Omel Hinamori sambil menggosok-gosok jidatnya.
Hinamori dan Miyamura menatap Uta.
"Nggh...Uta, apa yang lucu? Kelihatannya kau bahagia sekali melihat kakakmu di jitak terus sama dia." Protes Hinamori cemberut.
"Iie, iie, aku..hanya berfikir kalau kalian terlihat cocok sebagai pasangan."
Hinamori dan Miyamura sedikit kaget dengan pernyataan polos Uta barusan. Sejenak mereka hening dan saling memandang.
"Uta..." gumam Miyamura.
"Huh, kalau kami pacaran dunia bisa kiamat Uta..." potong Hinamori mencoba mencairkan suasana.
"Hihi...nee-san kau kelihatan sangat membenci Gin-san."
"Tentu saja. Sebagai calon adik ipar, dia sangat tidak sopan!"
"Hai~ hai~ gomennasai (*maaf), nee-san." Ujar Miyamura sambil menangkupkan tangannya di depan Hinamori dan tersenyum.
"Nani-tten no? Kimochi warui!"(*apa-apaan kau ini. Menjijikkan). Sergah Hinamori dan itu membuat Uta semakin tertawa.
.
.
.
[Ryuu's PoV]
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Pilihan yang diberikan ibuku sungguh sulit dan aku tak bisa memilih salah satunya.
Aku tidak mengerti kenapa ibu bisa mengambil alih restoran ini. Aku juga terkejut ketika ibu mengetahui bahwa aku memiliki hubungan dengan salah satu anak buahku. Tidak mungkin Tori yang membocorkan hal itu. Jika bukan dia jadi siapa? Sepertinya aku memang harus bertanya padanya.
"Tori...." sapaku ketika Tori sedang mencuci piring kotor sendirian di dapur. Tori menoleh dan tersenyum canggung.
"Chef...."
Aku mendekatinya dan dia sedikit kaku dan khawatir.
"Ano... saya mau bertanya sesuatu..." sebisa mungkin aku berbicara lembut agar dia tidak tersinggung atau traumanya kembali. Namun, belum selesai aku berbicara dia sudah memegangi kakiku.
"Maafkan saya, Chef. Tolong jangan pecat saya." Hibanya.
"Oi...Tori, apa yang kau lakukan?" Tanyaku bingung.
"Maaf Chef waktu itu Lee Yoo Na --"
"Yoo Na? T-tunggu dulu. Apa maksudmu?"
"Yoo Na memaksa saya untuk jujur bahwa kita tidak ada hubungan apa-apa - soal ciuman waktu itu."
Aku kaget jika Yoo Na masih penasaran dengan apa yang ku lakukan pada Tori tahu lalu. Aku tak menyangka sampai sejauh itu dia menyelidikinya...malah jangan-jangan...
"Tori...sudah tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Bangunlah." Kataku.
"Chef tidak marah?"
"Tidak. Sama sekali." Aku berusaha tersenyum.
Perlahan Tori bangkit dan menyeka air matanya.
"Terima kasih kau sudah jujur." Ucapku. Tori mengangguk, akupun keluar dari dapur.
Lee Yoo Na...ternyata dia dalangnya. Ternyata benar dugaanku, ketidakdatangannya selama beberapa minggu ini membuahkan hasil. Ternyata ini bagian dari rencananya.
"Halo...Ryuu sayang? Apa kau rindu padaku?"
Begitulah suara menyebalkan Yoo Na ketika nomornya baru saja tersambung.
"Cukup aktingmu. Apa yang kau lakukan pada ibuku?"
"Ibumu? Ah~ Ny. Hiroshi memang sangat penurut. Tidak seperti anaknya. Dia bahkan sangat pintar dalam mengambil alih sebuah restoran."
"Bagaimana kau bisa tau hubunganku dengan Hinamori.?"
"Ah~ wanita kampungan itu? Aku hanya tidak mau orang yang ku kejar mati-matian di rebut oleh wanita tak berkelas sepertinya."
"Kau...memang wanita yang tidak punya harga diri!"
"Mou~ jangan marah-marah. Jadi, pilihan apa yang diberikan ibumu?"
Aku langsung menutup telepon dan menghela nafas. Kepalaku rasanya sakit.
"Mimi-chan...apa yang harus aku lakukan?" Batinku, galau.
~~