Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Cinta atau Fakta (2)



Malampun tiba, Miyamura dan Uta sudah keluar sejak sejam yang lalu. aku sendiri masih tidak karuan memaksakan diri untuk menunggu Yuuta keluar dari apartemen dan mengikutinya. Haaa, kenap tiba-tiba aku jadi stalker begini, trus apa bedanya aku dengan chef brengsek itu? ah, beda! Tentu saja beda! Aku hanya penasaran! udah begitu saja!


Kemudian terdengar suara pintu terbuka dan kemudian tertutup dari sebelah. Well, ini waktuku untuk mengikutinya. Dengan berhati-hati aku melangkah agar tak kedengaran Yuuta. Aku memakai masker malam itu dengan topi rajut, syal warna ungu dan jeket panjang warna biru tua serta jeans dan sepatu boat coklat. Benar-benar dandanan ala stalker yah...


Aku terus mengikuti Yuuta hingga ke jalan besar. Yuuta sepertinya tidak manyadari bahwa dia sedang diikuti oleh stalker dadakan seperti aku. Kemudian, aku melihat seseorang baru keluar dari kombini dan menyapa Yuuta. Astaga, Ryuu! Aku dengan cepat bersembunyi di balik sisi gedung di dekatku sebelum dia melihatku dengan keadaan seperti ini.


"Ah, Ryuu? Membeli sesuatu di kombini?" kata Yuuta.


"Yup, untuk membuat osechi besok. Aku akan antar ke apartemenmu kalau kau mau."


"Ah,tak usah, lagipula besok aku ada acara sendiri kok."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau berjalan sendirian?" tanya Ryuu.


"Ya, ada yang mau aku temui di Yoyogi Park, seorang teman lama."


"Sou ka? Baiklah kalau begitu. Bye," kata Ryuu.


"Bye,"


Begitulah percakapan yang ku dengar saat aku bersembunyi tadi. Yoyogi Park? Baiklah aku kan kesana, tapi, lihat situasi dulu. Akupun mengeluarkan kepalaku dari persembunyian untuk memastikan bahwa Ryuu sudah pergi. Yatta! Ryuu sudah pergi. Oke, waktu kita melanjutkan kegiatan memalukan ini.


Akupun segera memasuki Yoyogi Park bersama orang-orang lainnya yang memang ingin masuk ke Yoyogi Park. Setelah masuk, aku baru sadar bahwa aku kehilangan jejak Yuuta. Ah, yabai! Selalu saja begini. Ah, sudahlah, apapun itu aku harus mencari Yuuta.


Hingga akhirnya aku melihat Yuuta di bawah sebuah pohon momiji bersama seseorang. Aku bersembunyi cepat di balik pohon lain yang tidak terlalu jauh dari mereka. Aku menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas siapa yang tengah berdiri di hadapan Yuuta itu. meski agak cemas dicurigai, tapi, toh di bagian sini memang agak sunyi. Hmm, hey, orang itu.....? lelaki yang tempo hari Yuuta kenalkan padaku sewaktu di Akihabara? Arai-san? Jadi, orang spesial itu adalah Arai-san. Diam-diam aku lega. Ya spesial karena kata Yuuta, Arai-san adalah teman kuliahnya. Namun, tiba-tiba aku melihat ada situasi aneh. Arai-san memeluk Yuuta? Kemudian, memegang tangan Yuuta lalu......menciumnya? aaaaaaakkkk....!!! Aku terbelalak kaget melihat itu. aku tak tahu perasaan apa yang menjalari hatiku melihat itu. Jadi, jaadi, orang spesial itu adalah Arai-san dan Yuuta ternyata menyukai Arai-san. Tidak-tidak, kenapa semua ini terjadi? Aku memegangi kepalaku. Aku hampir gila, ingin menangis bahkan tak bisa. Hey, aku harus berteriak kepada Yuuta bahwa masih ada wanita yang sangat mencintainya yaitu aku. Aku harus menyampaikan hal ini. Yuuta!


"Yu --,"mendadak suaraku tercekat ditenggorokan dan seseorang mendekap mulutku rapat lalu membawaku pergi dari situ. Perlahan sepasang sosok itu terlihat menjauh dan semakin jauh dari pandangan mataku.


Aku terus meronta kepada seseorang yang mendekap mulutku ini. Dia bahkan bisa berjalan mundur membawaku menjauh dari tempat Yuuta tadi. Kemudian, dia melepaskanku dengan sedikit menghempaskanku hingga aku berbalik dan dapat melihat sosoknya.


"Ryuu?" gumamku dengan suara sedikit tertahan ditenggorokanku. Aku menatapnya yang mematung di hadapanku. Wajahnya..itu...langsung membawaku pada sosok Yuuta yang aku lihat bersama Arai-san tadi, melihat betapa mesranya mereka, aku langsung menutup mulutku untuk menahan isakku dan terngiang kembali kata-kata Ryuu waktu itu. Sekuat tenaga aku mencoba untuk tidak mengeluarkan bulir bening yang sudah mengambang dipelupuk mataku. Aku takut Ryuu melihatnya dan itu artinya dia benar tentang waktu itu. tapi --, aku tak bisa menahannya lagi. Aku langsung berbalik membelakangi Ryuu dan mencoba kabur bersamaan dengan jatuhnya bulir bening itu dipipiku. Well, aku kalah. Namun, tiba-tiba, Ryuu menarik pergelangan tanganku dan serentak dengan itu aku merasakan dekapan. Ya, dekapan, bahkan membuatku terkejut sampai aku berhenti menangis.


"Menangislah sepuasmu jika kau ingin menangis," bisiknya. Hey, suara Ryuu terdengar lebih menentramkan dari sebelumnya. "gomen na," lanjutnya. Sedetik kemudian akupun menangis. Menangis sebagai ungkapan segala perasaanku saat itu. Ungkapan kekesalan, kesedihan, kemarahan, dan sebuah kekalahan. Aku kalah, dan Ryuu benar. Aku harus mengakhiri perasaanku dengan Yuuta. Aku sudah terluka dan menangis sekarang. Tak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Jelas sudah, bahwa Yuuta memang tidak memiliki perasaan apapun kepadaku. Terbukti sudah ketidakenakan perasaanku sewaktu bertemu Arai-san di stasiun Akihabara tempo hari. Jelas sudah kenapa aku merasa ada sesuatu yang berbeda ketika Yuuta menggenggam tanganku sewaktu aku tersesat di Chuo Dori, loveless. Dan Ryuu, Ryuu selalu ada bahkan saat aku tak membutuhkannya. Saat pertama kali ia menahan tubuhku ketika aku hampir jatuh saat membuang sampah, saat dia terlihat panik dan memegang keningku ketika aku sakit, saat dia menulis surat dengan kata-kata aneh itu, saat dia bertingkah aneh hanya untuk memberi hadiah ulang tahunku, saat dia tiba-tiba muncul ketika aku tersesat di Jidai Matsuri...mendadak semua tentang Ryuu berhamburan dimataku. Aku---bukankah waktu aku tersesat di Chuo Dori aku berharap Ryuu yang datang dan aku merasa agak kecewa ketika Yuuta yang menemukanku? Well, mataku baru terbuka sekarang, bahwa Ryuu ternyata sangat dekat denganku. Dekat, bahkan semua teriakannya di dapur menggema ditelingaku. Ryuu, gomennasai...


"Oy, Hinamori-san!" panggil Ryuu. Aku membuka mata dan menyadari bahwa aku sudah berhenti menangis dan sedang berada dipelukan Ryuu. Spontan aku melepaskan diri dari Ryuu. Aku masih tertunduk, tak berani menatapnya, sejenak hening. Damn! Bahkan untuk mengucapkan sepatah katapun aku tak mampu rasanya. Namun, tiba-tiba aku merasakan tepukan lembut di kepalaku. Setelah itu ku dengar Ryuu menghela nafas.


"Ayo!" ajaknya kemudian sambil berbalik dan berjalan mendahuluiku. Aku hanya terpaku memandangi punggungnya, dan refleks kakiku ikut melangkah mengikuti  jejaknya. Aku...aku tak tahu harus bicara apa saat itu. Dekapannya tadi rasanya masih melekat ditubuhku. Aku sangat nyaman disana...Tiba-tiba Ryuu berhenti tepat di depanku. Astaga! Aku bahkan tanpa sadar sudah menarik jeketnya.


"Apa?" tanyanya tanpa berbalik. Aku langsung cepat-cepat melepaskan tanganku dari jeketnya. Apa-apaan kau ini. Kenapa tanganku bisa tanpa sadar memegang jeketnya barusan. Memalukan!