
Aku menyandarkan kepalaku di jendela bus yang akan membawa kami ke sebuah hotel di Kyoto. Aku mencoba mengumpulkan kenangan seminggu yang lalu ketika kami memenangkan kompetisi memasak sebagai Team terbaik dengan Main course terbaik. Aku sedikit tersenyum mengingat itu semua. Berkat itu juga akhirnya kami berlibur ke Kyoto selama seminggu. Ini akan jadi liburan musim gugur menyenangkan buat kami.
"Aku disini." Sebuah suara tiba-tiba mengaburkan lamunanku. Aku menoleh ke sampingku. Chef Ryuu sudah duduk disampingku. Aku terpaku sejenak mencoba menyadarkan diriku sendiri. Hey, bukankah masih ada tempat duduk lain yang masih kosong? Kenapa justru dia malah memilih duduk disampingku?
"Aku tak punya pilihan, aku hanya ingin duduk didekatmu." Lanjutnya lagi seolah tahu isi kepalaku dengan wajah jaimnya. Menyebalkan! Apa maksudnya ingin duduk didekatku?
Aku menghela nafas, lalu kembali mengalihkan pandanganku ke jalanan. Semua teman-teman sedapurku sudah menaiki bus. Mereka tampak bahagia sekali. Sesekali terdengar suara ocehan Iura dan Orihime yang sedikit berkelahi. Lalu suara Tori dan Miyamura yang duduk berdampingan di belakang tempat duduk ku. Tak lama bus pun bergerak dari stasiun Kyoto. Tiba-tiba, aku merasakan bahuku seperti tertimpa sesuatu. Aku segera menoleh dan mendapati Ryuu tertidur di bahuku. Aku hanya dapat melihat puncak kepalanya dan sejenak tercium wangi parfumnya. Wangi ini....mengingatkan ku waktu pertama kali aku berseteru dengannya, saat dia mengatakan bahwa dia hanya mengujiku. Hmm...dia sudah sangat berubah sekarang. Mungkin ada seseorang yang disukainya. Eh? Orang yang disukai Ryuu? Pfffftttt....!!! Langsung saja bayangan menjijikkan sewaktu didapur malam itu terlintas. Aku bahkan masih ingat detail bagaimana dia mengatakan bahwa dia menyukai Tori. That's enough for me!
***
Bus sudah sampai di sebuah hotel dengan kesan khas Kyoto yang masih kental dengan ketradisionalannya. Aku segera membangunkan Ryuu. Ryuu mengangkat kepalanya dan menatapku dengan wajah mengantuknya.
"Kita sudah sampai, Chef" kataku.
"Ah, sou ka?"
Aku kemudian bangkit mengambil tas ku dan bergabung dengan Haruka, Inari dan lainnya.
"Wah, kau dan chef terlihat akrab sekali tadi!" seru Orihime. Yabai! Mereka memperhatikan kami? Ahh..mendokusei na~
"Ah, tidak, dia hanya menumpang duduk saja." Balasku mencoba tenang, mencoba mengabaikan pembicaraan itu.
"Hey, sepertinya chef menyukaimu," goda Haruka disebelahku.
"Ah, tidak! Mana mungkin dia menyukaiku, dia itu menyebalkan! Dan yang paling penting dia itu adalah seorang..." Aku langsung menghentikan ucapanku. Crap! Hampir saja keceplosan, dan bertepatan itu pula Ryuu melewati kami. Dia langsung menghentikan langkahnya dan menatap kami serius, terutama aku. Ah, yabai! Apakah dia tadi dengar itu semua??
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya dengan wajah mengintimidasi.
"Ah, su-sumimasen, chef. Kami hanya membahas orang yang disukai Mimi-chan." Kata orihime sambil menyikut perutku. "ya kan Mimi-chan?"
"Ha? Iya..." jawabku sambil menunduk mengalihkan pandanganku dari wajah Ryuu yang menyebalkan itu.
"Benarkah? Oh ya terserahlah." Katanya sambil berlalu dari hadapan kami. Haruka dan Orihimepun menghela nafas bersamaan.
"Jadi?" ulang Haruka sambil menatapku penasaran.
"Apanya?" tanyaku pura-pura tidak tahu.
"Tadi kau mau ngomong apa?"
"Ngomong apaan sih? Ah, kalian ini...ayo-ayo masuk. punggung ku sudah tegang sekali rasanya." Ocehku sambil berlalu dan berjalan masuk ke hotel, tapi dasar Haruka dan Orihime masih saja ingin tahu aku akan ngomong apa tadi. Te-he!
*
Kami menginap di hotel Yakamura, kebetulan pemilik hotel ini adalah teman dari Ryuu yang juga seorang koki di Kyoto. Namanya Hiro Yakamura. Sambutannya cukup hangat ketika kami datang. Dan mantapnya, kami menginap dengan satu kamar terdiri dari dua orang. Jadi kami menyewa 6 kamar. Selain itu, malam ini kami juga disambut dengan makan malam khas traditional Jepang. Duduk lesehan dengan tikar Tatami dan beragam hidangan menakjubkan di atas meja panjang.
"Huwaaah...aku bingung mau makan yang mana dulu.." seru Kei, di sambut oleh Teguchi,
"Ah... bakalan gemukan nih kayaknya, tapi tak apalah. Nanti diet lagi," gumam Haruka yang memang selalu memperhatikan berat badannya.
"Hinamori-san?" panggil Miyamura yang rupanya sudah duduk di sampingku. Aku menoleh dan langsung disodorkan sesumpit sushi. "aaaa" katanya.
"Apa maksudnya ini?" seruku.
"Oi, Mimi-chan. Cepat makan dan nanti lanjutkan kepadaku!" kata Haruka di sebelah sisiku yang lain. Well, aku masih belum mengerti.
"Kita sedang mencoba bermain suap-suapan." Kata Kei. 'Idenya Iura." Lanjutnya sambil menyikut Iura yang duduk di sampingnya. Ah...permainan macam apa ini? Tapi eh..sepertinya menarik juga. Di meja lesehan ini sudah duduk sebelas orang termasuk Chef yang sedari tadi duduk diam menikmati teh hijau. Start di mulai dari Miyamura lalu ke aku - Haruka -Inari - Orihime - Junichi -Kei - Iura - Teguchi - Tori dan terakhir Tori harus menyuapi Chef? Pftttt!
"Hey," Miyamura mengagetkan aku. Aku langsung mengambil suapan itu dengan mulutku. Lalu aku mengambil sushi selanjutnya dan menyuapkannya pada Haruka dan seterusnya. Hingga tiba Tori menyuapkan sushi ke Ryuu. Tori benar-benar gemetaran ketika mengarahkan sumpitnya ke mulut chef. Aku hanya terkikik geli melihat itu.
"Ganbatte kudasai, Tori-san!" ejekku sambil terkikik geli.
"Argh! Jangan begitu, Senpai!" kata Tori memelas. Ryuu menatapku dengan tatapan dinginnya, tapi aku masih bisa melihat kejengkelan dan kegugupan dimatanya.
"Urusee! (berisik!)" ucap Ryuu sambil melempar potongan timun ke arahku. Bertepatan pula timun itu masuk kemulutku. Spontan semua di ruang makan itu tertawa melihat ku. Aku bahkan tidak bisa marah. Aku tertawa, aku tertawa lepas membayangkan diriku sendiri.!
.
.
"Ne~ Mimi-chan?" panggil Haruka ketika kami hendak beranjak tidur. Aku yang baru saja naik ketempat tidur langsung menoleh.
"Ada apa?"
"Mungkin aku sedikit salah lihat tadi." Celotehnya semakin membuatku bingung.
"Apa sebenarnya yang mau kau bicarakan?" tanyaku.
"Aku melihat Chef tersenyum tadi saat kau tertawa dengan timun dimulutmu." Jawabnya, diikuti dengan menguap.
"Lalu apa pentingnya buatku?" responku cuek sambil mematikan lampu lalu rebahan.
"Bukankah dia tidak pernah tersenyum selama ini? Tapi tadi .....meski ia sembunyikan di balik punggung tangannya, dia benar-benar tersenyum ke arahmu."
"Huh? Mungkin kau salah lihat. Ah, sudahlah..ini sudah larut malam. Kita tidur saja."
"Wakatte.." jawab Haruka dengan suara berat, tak lama nafasnya mulai teratur naik turun. Astaga, cepat sekali dia tertidur. Pasti karena kelelahan.
Well, benarkah Ryuu tersenyum tadi? Aku jadi penasaran, tapi hey, kenapa aku penasaran? Hanya saja, memang benar, Ryuu memang tidak pernah tersenyum selama ia menjadi Kepala Koki kami. Tapi, walaupun dia tidak pernah tersenyum tapi setidaknya ada Yuuta, saudara kembarnya yang menjadi tetangga sebelah apartemenku. Bisa dibilang, jika ingin melihat senyum Ryuu, lihatlah Yuuta. Ahh Yuuta, sedang apa dia sekarang ya.? Dan Uta? Hmm...Aku khawatir dengan Uta. Tapi tak apa, Yuuta selalu menjaga Uta kok. Toh aku tak cemburu pada Uta dikarenakan Yuuta selalu menemaninya ketika sendirian, sebab dia menyukai Miyamura. Ya Tuhan...kapankah perasaan ini bisa tersampaikan kepadanya. Baru sehari meninggalkan Shibuya, rasanya sudah kangen pengen balik kesana. Kangen sama kebersamaan di rumah dengan Yuuta dan Uta. Tapi, tenanglah, aku harus bertahan seminggu lagi.
Aku tertegun memandangi ke arah luar jendela pagi itu. Aku seperti masih bermimpi bahwa aku sedang berada di Kyoto untuk liburan. Daun pohon sakura dan momiji yang tumbuh di sekitar hotel bergaya tradisional itu sudah berwarna warni menandakan musim gugur. Sebahagian daunnya sudah jatuh ketanah. Indah sekali melihatnya.
"Mimi-chan, aku sudah selesai. Kau bisa mandi sekarang." Ujar Haruka menyadarkan lamunanku. Aku lihat dia sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya.
"Iya," sahutku sambil mengambil handuk dan kemudian mandi.
***