Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Musim Semi yang Sepi (2)



[Back to Author's PoV]


Uta sudah kembali ke rumah setelah hampir sebulan di rumah sakit. Meski agak masih pucat, ia terlihat bersemangat.


"Nee-san..."


Hinamori menoleh lagi ketika dia hendak keluar dari kamar Uta. Dia baru saja menyuapi Uta.


"Sebentar lagi....musim semi bukan?"


"Iya, ada apa, Uta?"


"Aku ingin...kita bertiga, aku, kakak dan ibu merayakan hanami bersama."


"Oh...kau tidak perlu memikirkan itu. Aku dan ibu memang sudah merencanakan hal itu." Hinamori tersenyum ringan.


"Hontou desuka?" Uta berubah ceria.


"Uhmm..." Hinamori mengangguk. "Jadi kau harus banyak makan dan minum obat yang teratur, ok?"


"Hai!"


Dan musim semipun tiba.  Ribuan kelopak bunga sakurapun bermekaran. Uta tampak bersemangat melihat kelopak bunga yang bertebaran disepanjang jalan menuju taman tempat untuk hanami. Hinamori yang memperhatikan Uta juga tersenyum melihatnya. Ini...untuk pertamakalinya ia merayakan hanami bersama dengan Uta dan ibunya. Terakhir kali ia merayakan hanami adalah ketika ia berumur 5 tahun, sebelum kejadian menyedihkan dan perpisahan orangtuanya. Dan Hinamori berharap ini jangan jadi hanami terakhir bagi dia dan Uta. Dia ingin setiap tahun berhanami dengan Uta. Ya, tidak ada yang lebih baik selain melihat Uta bahagia.


Akhirnya merekapun sampai di taman Yoyogi. Hinamori menggelar tikar  piknik dan menyiapkan hidangan yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Ada sashimi, sushi, onigiri, dll. Ada beer untuk Minami dan teh hijau untuk Uta dan Hinamori.


Ditikar itu Minami dan Uta sudah duduk manis. Tiba-tiba Hinamori berdiri untuk memastikan semuanya sudah sempurna atau belum.


"Hmmpph! Kanpeki!(*sempurna)" Gumamnya lalu disambut dengan ketukan kecil dari belakang kepalanya.


"Kau!" Hinamori sedikit kaget.


"Ah, Gin-san!" Sapa Uta. "Akhirnya kamu datang."


"Eh?" Gumam Hinamori bingung. "Apa maksudmu, Uta?? Kenapa kau tidak memberitahukanku sebelumnya?"


"Hehehe, gomen ne, Nee-san." Uta cengengesan.


"Tidak sopan sekali kau ini! Bukannya negur baik-baik malah memukul kepalaku. Sudah begitu malah langsung duduk. Enak sekali hidupmu!" Omel Hinamori kepada Miyamura yang tengah tersenyum duduk disebelah Uta.


"Mou~ Mimi-chan. Jangan begitu. Dia tamu kita." Bela Minami sambil meminum beernya. "Anggap saja Miyamura sedang diplonco untuk menjadi menantuku."


Hinamori langsung memasang wajah menjijikan, "Aku tidak sudi punya adik ipar sepertinya."


"Oiii....Mimi-chaaaaan!"


Hinamori segera berbalik mendengar teriakan itu. Haruka dan teman-teman lainnya dari Yukahashi Internastional Resto tengan mendekatinya beramai-ramai. Hinamori segera membelalakkan matanya.


"Ini diluar rencana!"gumam Hinamori.


"Bukankah lebih baik merayakan hanami bersama-sama? Nee-san harusnya bahagia." Kata Uta.


Hinamori menghela nafas dan menatap adiknya.


"Baiklah. Karena kau yang merencanakan ini aku takkan marah. Aku bahagia kok." Hinamori tersenyum. Namun, perlahan senyumnya sedikit memudar ketika pria yang sangat ia rindukan tak ada. Ryuu mana mungkin suka dengan acara yang ramai begini, fikirnya.


Memang sudah lama mereka tak bertemu sejak Uta masuk rumah sakit. Ryuu juga sangat jarang memberi kabar. Dan karena Uta dirawat dirumah, Hinamori selalu permisi lebih awal.


"Kenapa calon kakak iparku memasang wajah seperti itu? Apa karena dia tak datang ya~" sindir Miyamura.


Hinamori melototi Miyamura. Baginya suara Miyamura terdengar mencolok. Dan benar saja teman-teman dari YIR pun menyerbunya dengan pertanyaan. Tak mau kalah, Minami juga menggoda putrinya itu.


"Mimi-chan, kenapa kau tak pernah cerita kalau kau sudah punya pacar." Goda Minami.


"Awas hilang lho." Tambah Miyamura.


"Miyamura, sekali lagi kau membahas ini, aku pecat kau jadi adik iparku. Dasar menyebalkan!" Omel Hinamori sambil merona-rona tapi hanya dibalas tawa oleh yang lainnya.


Teman-teman Hinamori dari YIR tampak asik berfoto-foto. Tiba-tiba ada pesan masuk di ponselnya.


"Kudengar seluruh karyawanku diundang hanami."


Hinamori mengerutkan alisnya. Itu chat dari Ryuu.


"Ya, begitulah." Balas Hinamori.


"Aku tak diundang" lalu Ryuu mengirim gambar kucing yang sedang duduk dipojokan dengan aura suram.


"Bodoh. Jika kau datang maka akan jadi kehebohan besar. Bisa-bisa masuk infotainment."


Ryuu tak menanggapinya dengan serius. Ia malah mengirimkan gambar kucing yang sedang terbahak. Hinamori tersenyum sendiri. Setelahnya Hinamori tak melanjutkan chatting tersebut. Begitu ia menutup ponsel, ia melihat wajah ibunya tengah tersenyum menggoda disebelahnya.


"Aku tak tahu jika ponsel bisa membuat wanita tersenyum sendiri seperti orang kasmaran." Bisiknya.


"Buuu~" Hinamori menggembungkan pipinya.


Uta tersenyum melihat kakaknya & ibunya sedang bersendau gurau. Juga teman-teman kakaknya yang sangat berisik. Sesekali mereka tampak menggoda Miyamura. Baginya ini adalah hanami terindah yang pernah ia nikmati. Ia bersyukur bertemu Miyamura Gin. Lelaki ini telah membuatnya merasakan jatuh cinta. Dia memandang Miyamura yang sedang berguaru dengan teman-teman YIR, tapi tiba-tiba pandangannya mengabur dan kepalanya terasa berat.


"Uta!" Seru Miyamura begitu kepala Uta jatuh dipangkuannya.


.


.


.


Aku turut berduka atas kepergian adikmu."


Ucapan itu sama sekali tidak mampu membuat Hinamori merasa lebih baik meski Ryuu yang mengucapkannya.


Hinamori sepert mayat hidup sejak kejadian hanami kemarin, saat dokter mengatakan Uta tidak bisa ditolong lagi.


Dan hari ini adalah hari pemakaman Uta setelah proses kremasi. Seluruh tetangga, dan teman-teman YIR datang mengucapkan belasungkawa.


Miyamura melirik ekspresi Hinamori ketika Ryuu mendekati gadis itu. Entah mengapa firasatnya mengatakan ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka terutama dengan Ryuu.


Dia sungguh tak akan memaafkan Ryuu jika setelah Hinamori mendapat kemalangan seperti ini, Ryuu menyakiti Hinamori.


"Kau kuizinkan libur sampai kau siap kembali bekerja. Jangan paksakan dirimu ok."


Ryuu menepuk kedua pundak Hinamori, mencoba memotivasi gadis itu. Hinamori mengangguk lemah. Setelah itu, Ryuu mem-pukpuk kepala Hinamori dan pergi.


Bersamaan itu entah kenapa dada Hinamori terasa perih. Saat ini dia sangat ingin menangis keras dipelukan pria yang dicintainya.


Uta yang tlah pergi hanya menyisakan sedikit kenangan indah dikehidupan Hinamori. Dia menyesal karena tak berbuat banyak untuk menjadi kakak yang baik untuk Uta. Musim semi ini dan musim semi selanjutnya, hanya akan menyisakan kesepian yang tiada ujungnya.


Hinamori memegangi dadanya, berusaha sekuat tenaga menahan airmata dan teriakannya. Namun tiba-tiba, wajahnya tenggelam dalam sebuh dada bidang.


"Menangislah sesuka hatimu."


Suara itu milik Miyamura. Tangisnya tak tertahankan lagi, saat Hinamori teringat bahwa Miyamura juga kehilangan Uta.


.


*berrrrrrsambung*