
Sudah tiga hari sejak kepergian Uta, Hinamori mulai memikirkan nasibnya di YIR. Dia tak enak jika kebanyakan libur meski Ryuu mngizinkannya. Namun, tinggal lebih lama sendirian di apartemen itu hanya membuatnya terus teringat akan Uta dan itu selalu berujung airmata. Meski sang Ibu menawarkan diri untuk menemaninya di apartemen itu, Hinamori menolakĀ merepotkan ibunya.
Hari ini dia memaksakan diri untuk kembali bekerja. Dia mengumpulkan semangat hari itu.
"Ohayou~" sapanya ketika sampai diruang ganti dimana Haruka, Inari dan Junichi telah hadir. Tak lama Orihime menyusul.
"Ohayou Mimi-chan." Sapa yang lainnya sambil mendekati Hinamori.
"Apa kau sudah tidak apa-apa?" Tanya Haruka khawatir.
"Aku akan baik-baik saja."jawab Hinamori.
"Kalau kau masih sedih sebaiknya tidak usah memaksakan diri, Mimi." Tambah Inari.
"Lebih baik aku bekerja. Suasana disini dan bertemu dengan kalian pasti bisa menghibur diriku" sahut Hinamori.
Merekapun mulai memakai pakaian masak mereka dan berjalan menuju dapur dimana Iura, Kei, Teguchi, Tori dan Miyamura sudah mulai menyiapkan peralatan dapur. Dan tak lama Ryuu masuk.
Sesaat Ryuu dan Hinamori saling menatap tapi Hinamori langsung memalingkan wajah karena akan menimbulkan kecurigaan bagi lainnya.
Seperti biasa, Ryuu akan memimpin doa dan memberi wejangan sebelum mulai memasak.
"Hinamori-san. Tolong ikut ke ruangan saya sebentar." Kata Ryuu saat Hinamori baru saja hendak mengambil panci.
Dia dan teman-temannya saling pandang heran saat Ryuu sudah meninggalkan dapur. Namun, Hinamori sadar dia harus cepat menyusul Ryuu.
"Aku pergi dulu." Ucapnya.
Hinamori membuka pintu dan masuk. Ryuu tampak duduk di kursi kerjanya dengan wajah gelisah.
"Ada apa, Chef?" Tanya Hinamori gugup sambil tertunduk.
Ryuu menghela nafas berat lalu mengeluarkan amplop.
"Maaf, Hinamori-san." Hinamori mengangkat wajah menatap Ryuu. "Kau dipecat!" Lanjut Ryuu membuat Hinamori bagaikan terkena serangan jantung. Dadanya mendadak terasa sesak.
"Ta-tapi, Chef."
"Ini pesangon, dan gajimu bulan ini. Ambillah."
"Chef!" Hinamori sedikit berteriak sambil menahan airmata.
Ryuu memejamkan mata & memijit pelipisnya.
"Direktur yang menyuruhku untuk memecatmu. Aku tidak punya kuasa menolak permintaannya. Maafkan aku, Mimi-chan"
"Kalau begitu aku ingin bicara dengan direktur!" Kata Hinamori sambil melangkahkan kakinya keluar ruangan namun cepat-cepat ditahan Ryuu.
"Jangan, Aku mohon jangan menemuinya. Aku tidak ingin kau menderita."
"Chef sudah lebih dulu membuat ku menderita!"
"Mimi-chan, aku tidak punya pilihan lain. Karena direktur kita adalah....ibuku."
Hinamori menatap Ryuu kaget. Matanya sangat tersirat kekhawatiran. Hinamori berhenti memberontak.
"Ibuku sudah tau hubungan kita. Lee yoo Na yang memberitahu. Dia memberi pilihan kepadaku. Memutuskan hubungan denganmu, atau memecatmu. Atau kau akan terus dalam bahaya, kau akan terus diancamnya jika aku tak segera memberikan salah satu keputusan itu padamu."
Hinamori akhirnya paham, paham jika Ryuu tak benar-benar berjuang untuknya. Baru saja ia kehilangan Uta, kini ia harus kehilangan pekerjaannya. Dan mungkin....
"Baiklah aku mengerti. Kalau begitu aku menerima kedua pilihan itu. Pecat aku dan hubungan kita selesai. Kau tak perlu menemuiku lagi. Tak perlu meminta maaf." Ujar Hinamori tegas. Ryuu menatap Hinamori tak percaya.
"Arigatou...Otsukare." Hinamori membungkuk lalu pergi tanpa bisa ditahan Ryuu.
Dijalan menuju dapur, dia berpapasan dengan Lee Yoo Na yang tersenyum mengejek ke arahnya. Namun, dia mengabaikannya.
Begitu masuk dapur, Hinamori tak langsung memasak. Dia menuju loker dan mengemasi barang-barangnya. Teman-temannya yang sedang sibuk memasak menatapnya heran.
Setelah selesai berganti baju. Hinamori ke dapur.
"Are Hinamori-senpai?" Tori menatapnya heran.
"Mimi-chan?" Gumam Haruka.
Hinamori tersenyum memaksa meski airmatanya hampir tumpah. Dia menatap temannya satu per satu. Sungguh dia masih ingin memasak dengan mereka.
"Otsukare, minna. Arigatou." Ucapnya sambil membungkuk sebentar lalu berlalu.
"Hinamori!" Panggil Miyamura tapi ditahan Ryuu yang tiba-tiba muncul.
"Jika kalian ikut-ikutan, aku juga akan memecat kalian." Ancamnya perih.
.
.
[Miyamura's PoV]
Aku kehilangan jejak Hinamori selama seminggu sejak kejadian hari itu. Aku tak menyangka jika Ryuu tega memecat Hinamori. Yappari, hubungan mereka pasti ada masalah tapi bukan dari salah satu dari mereka melainkan dari pihak ketiga. Aku yakin ini ada hubungannya dengan Lee Yoo Na.
Saat ini, setelah memberhentikan diri dari Yukahashi International Resto, aku bekerja sebagai kasir disalah satu kombini di Shinjuku.
"Terima kasih sudah berbelanja." Ucapku ramah setelah memberikan kembalian uang kepada pembeli terakhir sebelum aku pulang dan berganti shift.
Tak berapa lama Takiya, datang tergopoh-gopoh dengan sudah memakai seragamnya.
"Maaf aku telat." Ujarnya.
"Tak apa. Baiklah aku pulang dulu."
"Hai, otsukare."
"Otsukare~"
Aku menuju loker ganti lalu ke stasiun agar mendapat kereta menuju Shibuya.
Handphone ku berdenting menandakan ada pesan masuk. Aku mengecek LINE ku.
Haruka : Kau dimana? Aku ingin bicara.
Dengan cepat aku membalas : "Sedang distasiun menunggu kereta ke Shibuya."
Haruka : Oke, aku tunggu di maidcafe Nyan-nyan.
Aku pun mengirim stiker yang menandakan setuju. Tak lama kemudian keretapun datang.
Aku menuju cafe yang disebutkan Haruka. Ternyata dia sudah disana sejak 1 jam yang lalu.
"Irasshaimase~" dua wanita berpakaian maid dengan bando telinga kucing menyambutku tepat di depan pintu masuk cafe.
"Gimana? Sudah dapat kabar tentang Hinamori?" Tanyaku setelah duduk.
"Selamat datang, gosujin-sama. Mau pesan apa?" Tanya seorang pelayan berpakaian yang sama dengan yang menyambutku di depan.
"Pesan Capuccino saja."
"Baik, gosujin-sama" Pelayan itu pergi. Aku menatap Haruka lagi.
Haruka menggeleng lesu. "Bahkan kami juga belum bisa menemukan jejaknya. Handphonenya tak pernah bisa dihubungi lagi." Katanya.
"Lalu bos kalian?"
"Seperti biasa, suka marah-marah. Apalagi ketika Yoo Na datang." Haruka menyeruput latte-nya. "Ah...ternyata direktur baru kita itu, ibunya chef."
Aku tersedak kaget saat meminum capuccino ku.
"Darimana kau tau?"
"Teguchi yang bilang."
"Lalu Teguchi?"
"Dia pernah mendengar obrolan mereka ketika chef dipanggil direktur. Begitu katanya."
Oke, jadi ternyata direktur baru itu adalah ibunya Hiroshi-san. Apakah mungkin dia mengetahui hubungan anaknya dengan Hinamori? Apa aku harus bertanya pada Haruka soal ini? Tapi apa dia tau hubungan Hinamori dengan Hiroshi?
"Miyamura-kun?"
Aku terhenyak dari lamunan monolog ku.
"Ah maaf aku sedikit melamun."
"Sejak kau dan Mimi-chan keluar dari restoran, rasanya suasana dapur terasa suram." Air muka Haruka mendadak berkabut.
"Aku mohon, bawa kembali Mimi-chan. Tolong temukan jejaknya."
"Akan aku usahakan."
.
.