Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
The Winner



Kompetisi seminggu lagi. Aku dan Miyamura sudah berhasil membuat mie berwarna warni tersebut. Ternyata tak sesulit yang dibayangkan sebelumnya, meski membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk berulang kali membuatnya. Sekarang masalahnya tinggal isi untuk ramen. Biasanya cumi krispi adalah bahan tambahan yang paling sering digunakan untuk ramen. Dan aku berencana untuk berkreasi dengan tofu. Aku ingin membuat tofu crispy dengan campuran daging ayam. Awalnya sih, memang agak sulit menyatukan tofu dengan daging ayam yang sudah dihaluskan. Aku sedikit memberikan bumbu ke dalam olahan itu. Yatta! Dan aku sudah berhasil membuatnya. Persiapan kami sudah cukup matang, tapi aku tidak bisa cepat puas karena kompetisi belum dimulai. Aku dan Miyamura hanya bisa berdoa.


                Selama percobaan membuat mie untuk ramen, banyak sekali hal menarik yang terjadi. Memang sebagian waktu kami habiskan di dapur resto, bahkan sampai ketiduran. Tapi kami berdua tak selalu berdua. Kadang kami ditemani Tori, dan kadang kami juga membantu Tori. Sesekali aku sering melihat Ryuu memperhatikan kami. Terkadang kami juga berlatih dengan Inari dan koki lainnya. Kompetisi kali ini terasa lebih kompak dan berwarna.


Ini seperti mimpi, para juri legend dari berbagai negara sudah hadir dan menunggu diruang pelanggan. Belum lagi para kritisi makanan dan nutrisi. Juga komentator dari beberapa majalah makanan di Jepang. Aku sedikit gugup hari itu di dapur.


"Daijoubu!" kata Miyamura sambil memegang bahuku. Aku sedikit kaget lalu memaksakan diri untuk tersenyum. Kemudian Chef Ryuu masuk kedapur.


"Semuanya, berkumpul," katanya tegas dan serius. Kami pun berkumpul mengelilinginya. Aku bisa menjelaskan apa yang tersirat dibenaknya. Dia sedikit gugup tapi mencoba percaya diri.


"Kompetisi akan dimulai lima belas menit lagi. Kalian harus benar-benar mempersiapkan diri. Jangan gugup. Yakinlah semua akan baik-baik saja. Aku tahu kalian sudah bekerja keras untuk membuat kreasi selama sebulan. Jadi meskipun kita kalah, aku tetap akan menghargai usaha kalian." Katanya rendah hati. Kami hanya tertegun medengarkan kata-katanya.


"Baiklah, sebelum kita mulai semua kerja keras ini, kita berdoa dahulu."


Semuanya tertunduk hikmat berdoa dalam hati. Aku sangat ingin memenangkan kompetisi ini. Aku ingin membuktikan kemampuanku dalam membuat ramen. Aku harap semuanya, semuanya...teman-temanku...semoga kami menang! Yosh!


Tim peserta mulai menghidangkan makanan pembuka dan dicicipi oleh masing-masing juri. Kali ini pramusaji yang membawakan sajian, selalu didampingi oleh si pembuat masakan ini dan menjelaskannya pada juri yang mencicipi di meja tamu. Sedang para juri sudah disiapkan sebuah catatan penilaian masing-masing untuk memasukkan score yang dirasa cocok untuk nilai makanan itu sendiri.


"Wah, ternyata Miura-san adalah seorang wanita," celoteh Iura sambil masuk ke dapur setelah penyajian makanan pembuka. 'tapi, aku sepertinya tak asing dengan wajahnya. Apa hanya perasaanku saja" lanjutnya sedikit berfikir.


"Kau pernah bertemu dengannya?" tanya Juni.


"Entahlah, tapi wajahnya sangat familiar," kata Iura yang hari itu tidak seagresif biasanya.


Dan kini mulailah penilaian untuk menu utama dari masing-masing negara. Aku dan Miyamura dengan telaten meracik mie pelangi tersebut, menghiasi mangkuk ramen dengan kamaboko (bakso ikan ala jepang yang dibentuk pipih), daun bawang, dan tahu crispy. Kami tak menaruh bayam atau sawi dalam campuran ramen karena mie yang kami buat sudah bernutrisi sayuran. Dan kini kami menyiramnya dengan kaldu ayam harum, kecap jepang dan sedikit menambahkan merica.


Aku, Miyamura dan salah satu pramusajipun mendekati meja juri no. 2 yang salah satunya adalah Miura-san. Yang saat itu aku lihat memakai gaun berwarna hitam. Kelihatan sangat anggun dari belakang. Rambutnya di gelung cantik seperti artis yang mau red carpet di acara-acara penganugerahan.


Akhirnya kamipun sampai di meja No. 2. Dengan perasaan tak menentu kamipun menghidangkan ramen tersebut.


"Waw, mie ramennya unik sekali." Celoteh salah satu juri laki-laki.


"Iya, Pak. Kami mencampurkan ekstrak wortel sebagai pewarna untuk warna oranye, ubi jalar untuk yang warna ungu, bayam untuk yang warna hijau dan buah bit untuk yang warna merah. Kami menamai ramen ini, Ramen Sayur Pelangi. Disini kami tidak menambahkan potongan daun sawi atau bayam lagi karena mie itu sendiri juga sudah sekaligus berisi sayuran." Jelas Miyamura dengan yakin.


"Selain itu saya juga mengganti makanan laut dengan tofu crispy yang saya campur dengan ayam dan bumbu rahasia." Lanjutku mencoba tenang.


"Wah, menarik sekali. Baiklah akan kami coba." Kata seorang wanita yang terkenal dengan julukan The Legend of Ramen nya sambil mendongak ke arahku. Aku yang sedari tadi menunduk dan tak melihat wajahnya sangat kaget begitu melihatnya.


Ibu? Miura-san adalah ibu? Ibu??? Jadi, Miura itu singkatan dari Minami Urukawa?? Jadi, kenapa dia menyembunyikan julukannya selama ini dariku? Hey, apa aku bermimpi? Aku menghidangkan ramen kreasiku untuk ibuku sendiri?


"Kau sudah banyak kemajuan," gumam Miura sambil menunduk kembali.


Aku terpaku. Entah apa yang ada dibenakku. Antara gugup, senang, terkejut? Ah entahlah. Well, pantas saja Iura tadi bilang dia seperti pernah melihat Miura-san. Tentu saja. Pada saat dirumah sakit itu, ibuku memakai pakaian kerja dengan rok span nya dan kacamatanya. Tapi disini dia memakai gaun dan kelihatan lebih muda dari umurnya sendiri. Ah, ibu...


Sore sudah menjelang, tujuh team dari tujuh negara ditemani oleh kepala koki masing-masing, telah berbaris di ruangan penjurian. Aku lihat Chef Ryuu sangat tegang. Para Juri mulai memberikan hasil dari kesimpulan keseluruhannya pada yang akan mengumumkan dan menjelaskan komentar para juri mengenai makanan yang para juri cicipi tadi siang.


"Penilaian untuk Team Dari Sub Resto Italy! Penyajian: baik. Kebersihan: baik. Nutrisi: baik. Apetizer: sedang. Main course: sangat baik. Dessert: baik." Kata pembawa acara itu dengan antusias. Team dari italy pun bersorak senang menanggapi penilaian tersebut. Hingga seterusnya sampai team terakhir yang disebutkan dalah Jepang.


"Penilaian untuk team Dari Sub Resto Jepang! Penyajian: baik. Nutrisi: Sangat baik. Kebersihan: baik. Apetizer: baik. Main course: luar biasa. Dessert; sangat baik."


Kami masih belum bisa langsung berbangga hati dengan penilaian itu. team koki Korea dan Indonesia yang diumumkan terlebih dahulu dari kami juga memiliki point yang hampir sama. Bahkan Korea rata dengan predikat 'sangat baik'.


"Baiklah, kita akan mengumumkan siapa pemenang dalam kompetisi tahun ini." Kata pembawa acara, "pemenang ke tiga untuk kompetisi memasak di Yukahashi International Resto adalah.........."Semua hening menunggu kata selanjutnya dari pembawa acara. "Team dari Korea!"


Semua bertepuk tangan, tapi team korea sedikit terkejut keran posisi mereka turun dari tahun semalam. Aku melirik Ryuu yang mematung di depan. Ah, dia tampak tenang sekali menghadapi ini. Salah seorang kritikus makanan yang saat itu menjadi juri berkomentar mengapa Korea menjadi peringkat ketiga.


"Semuanya baik, tapi hanya sedikit kurang kreatif," katanya singkat.


"Baiklah, pemenang kedua dari kompetisi ini, adalah team dari Indonesia dengan main course Nasi Goreng Rendang!"


Team dari Indonesia bersorak senang. Ini kali pertama mereka menduduki peringkat tiga besar di kompetisi ini. Seorang kritikus berkomentar lagi.


"Kreatif sekali, agak aneh memang pada awalnya tapi rasanya enak."


"Baiklah bersiap semuanya untuk pemenang pertama tahun ini."


Jantung kami berdegup kencang menunggu pengumuman selanjutnya. Aku dan Haruka berpegangan tangan sambil berdoa.


"Pemenang pertama untuk kompetisi tahun ini adalah...team... dari...." Aku terus memejamkan mata. Aku takut, aku gugup, aku...khawatir. Chef Ryuu, maaf jika team kita bahkan tidak masuk ke tiga besar. Aku minta maaf....


"Jepang!"


Sejenak semua koki di team kami hening. Seolah tak mendengar suara itu.


"Hey ,kenapa kalian tak bersorak?" tanya pembawa acara dengan raut wajah heran. Juri juga sedikit heran.


Benarkah? Benarkah itu kami? Hey, ini seperti mimpi saja. Dan kemudian, dalam sekejab aku merasakan sebuah pelukan beramai-ramai menimpaku.


"Tak ada yang bisa aku ungkapkan saat mencicipi ramen pelangi ini. Saat memakannya, aku seperti di bawa ke masa lalu. Rasanya seperti warnanya. Indah sekali. Sampai tak ada kata yang bisa aku lakukan untuk menilainya. Sangat sederhana memang kelihatannya, tapi aku merasakan ada cinta di dalam sini."kata seorang komentator dari sebuah majalah makanan.


Semua mendengarkan itu dengan hikmat. Aku menunduk malu. Lalu melirik ibuku yang tersenyum sedikit ke arahku.


"Dan untuk Miura-san sebagai legenda ramen, apa ada yang ingin anda sampaikan untuk ramen pelangi ini?' Miura-san alias Minami Urukawa itu bangkit. Semua mata tertuju padanya.


"Semua yang dimasak dengan cinta dan kesungguhan hati pasti akan membawa kebahagiaan bagi orang lain, apapun itu. bukan hanya ramen, ini berlaku untuk semua makanan yang kita masak. Bayangkan jika kita memasaknya penuh rasa dendam, yang ada hanya rasa pahit yang akan tertinggal diujung tenggorokan ini. Jika kita memasak dengan bahagia, pasti orang-orang yang mencicipi masakan kita pasti juga akan bahagia". Ucapnya dengan anggun setelah itu meliriku sambil menempelkan jari telunjuknya ke bibirnya lalu tersenyum. Ah, aku mengerti. Aku harus menahan emosi ini. Aku harus menahan air mata ini. Ini sebuah berkat buatku. Terima kasih, Bu.!