
Seperti biasa pulang kerja dengan segudang sampah dan segunung piring dan peralatan memasak, tapi kali ini makin banyak. Chef itu penipu rupanya. Ya penipu, ini bahkan sudah sebulan. Toh tak ada yang namanya pergantian asisten. Mana janjinya itu. asisten pengganti juga belum ada yang berani melamar karena persyaratannya harus laki-laki sementara pelamar kebanyakan perempuan, itupun karena ingin melihat si monster meskipun ada juga yang nge-fans sama Miyamura , Teguchi , Iura dan Kei. Memang sih para koki laki-laki di team koki jepang memang tampan-tampan, tapi hanya Miyamura yang mirip model.
Yukahashi International Resto ini, sangat besar sebenarnya. Resto ini menyediakan masakan dari 7 negara yaitu, Jepang, Korea, India, Itali, meksiko, Turki dan masakan Indonesia. Tidak heran jika setiap harinya banyak pelancong dari luar negeri yang kangen dengan masakan dinegaranya berkunjung kemari. Selain itu, koki dari Team koki masing-masing negara juga bukan koki asal Jepang. Mereka didatangkan langsung dari negaranya masing-masing.
Baiklah kembali ke dapur masakan Jepang. Well, aku rindu memasak ramen sebenarnya. Aku rindu dengan menyiram soba ramen dan segala bahan di dalam mangkuk dengan kuah ramen yang harum itu. Sudah lama sekali sejak aku ditugaskan menjadi asisten dapur oleh si monster itu. Kusso! Tanpa sadar aku memukul meja dapur sangking kesalnya.
“Kau kenapa?” sebuah suara benar-benar mengagetkanku. Aku mengangkat wajah.
“Miyamura?” gumamku heran melihat Miyamura sudah berdiri di depan pintu. Dia mendekatiku, aku jadi canggung.
“Kau ingin memasak ramen?” tebaknya dan itu benar.tapi...
“Ah, tidak. Hey, kenapa kau tak pulang, aku baru mau mencuci piring,” kataku mencoba mengalihkan membicaran dan berjalan santai menuju tempat pencucian piring.
“Tak apa, kau masaklah. Aku tau kau rindu memasak ramen.” Kata Miyamura yang sepertinya tak terpengaruh dengan pengalihanku.
“Tapi, piring-piring ini harus segera dicuci. “kataku.
“Kau tenanglah. Aku akan bantu.”
Kata-kata Miyamura barusan benar-benar membuatku seperti terbang. Aku langsung berbalik.
“Benarkah? Tapi kau janji, jangan bilang si monster ehm maksudku Ryuu,”
“Janji!” katanya sambil terenyum. Eh, tersenyum.? Baru kali ini aku melihatnya tersenyum, sepertinya.
Akupun mulai mencoba memasak ramen. Melatih tanganku untuk meracik masakan ini. Ah, harum kaldu ini, pisau dapur yang mengkilap ini, mangkuk keramik dan mie khas ramen yang lentur ini, well, aku merindukannya. Dan satu hal yang selalu ibuku ingatkan jika memasak adalah, memasaklah dengan cinta. Cinta terhadap rasa, dan perasaan pelanggan yang akan memakan ramen yang dibuat. Bukan hanya ramen, memasak apapun kita harus dengan cinta, sepenuh hati, jangan setengah-setengah. Kebahagiaan dan kepuasan pelanggan adalah hal yang paling membahagiakan. Bukankah ketika kita membuat orang lain bahagia maka dihati kita juga akan terbit kebahagiaan?
Ya, cinta...kecintaanku terhadap ramen inilah yang membuatku ingin terus bertahan sebagai koki pembuat ramen. Terlebih ketika aku melihat anime Naruto yang naruto sendiri adalah penggila Ramen.
“Yatta!” teriakku setelah ramen itu selesai. Dua mangkuk ramen terhidang dimeja. Miyamura juga sudah selesai mencuci piring. Dia lalu mendekatiku.
“Dua?”tanyanya
“Untukmu.”
“Ah, benarkah? terima kasih, Hinamori”
Aku memberikan sumpit dan kamipun mulai memakan ramen itu.
“Oishii, Hinamori. Setelah sekian lama rasanya baru kali ini aku mencicipi ramen buatanmu. Aku tak pernah menyangka jika seenak ini. “
“Terima kasih, tapi kau juga hebat. Waktu pertama kali kau di tempatkan diposisiku kau juga langsung bisa.”
“Iya, itu karena aku memperhatikan Hinamori selama ini,” katanya pelan. Aku berhneti makan. Anak ini, memperhatikanku selama ini? Diam- diam dia mencuri ilmu berarti? Astaga...
“Gochisousamadeshita,”ucap Miyamura pelan setelah itu mengambil mangkukku dan membawanya ketempat pencucian piring. Sedikit curiga dengan Miyamura yang mendadak agak ramah padaku belakangan ini. Apa dia memang berencana menjadikanku asisten dapur selamanya sementara dia menempati posisiku sebagai koki ahli ramen, dan dia belajar membuat ramen karena memperhatikanku selama ini? Ah, menyebalkan sekali tadi aku mendengar pengakuannya. Jangan-jangan dia ingin mencuri ilmuku. Anak ini...aku, harus lebih waspada.!
“Kalian masih disini?’ sapa sebuah suara dari pintu masuk. Aku berdiri, Miyamura menoleh ke arah yang sama.
“Chef Ryuu? Anda be-belum pulang?”tanyaku.
“Memangnya kenapa kalau saya belum pulang? Lalu membiarkan kalian bercinta di dapur?” kata Ryuu sambil melipatkan tangan ke dada perlahan berjalan ke depanku.
“Ha? Siapa yang anda maksud?” tanyaku mencoba tenang.
“Jika anda menganggap kami pacaran, anda salah!” sambung Miyamura yang sudah selesai mencuci piring.
“Keh! Kau bahkan membantunya mencuci piring yang sebenarnya adalah pekerja asisten dapur, apalagi ini namanya kalau bukan karena kau mencintai Hinamori?”tantang Ryuu.
“Chigaimasu!” kataku tegas. “Kenapa sih anda selalu menilai seseorang hanya dari penampilan luar saja. Kenapa anda tiba-tiba langsung beranggapan bahwa Miyamura membantu saya karena dia menyukai saya???” lanjutku.
“Astaga, mudah sekali tersulut emosi. Padahal aku sudah mengingatkanmu sebelumnya. Kau belum lulus!’ kata Ryuu dengan tenang sambil berlalu santai.
Seketika aku teringat kata-katanya sebulan yang lalu. ya ampun, dia masih mengujiku? Itu artinya penderitaan ini akan diperpanjang lagi.?? Yamete kudasaiiiiii!!!
“Tch! Apa sih maksudnya tadi. Menyebalkan sekali melihat cara dia bicara seperti itu!” kata Miyamura dengan kesal. “Oi, Hinamori-San!”
“Eh?” aku menoleh ke arahnya dengan sigap.
“Pulang yuk, pusing kepalaku karena mendengar omongannya tadi,”
“Ha-hai,” jawabku lemas.
Aku dan Miyamura pun pulang. Tak ada kata lagi setelah itu. kami berpisah dipersimpangan. Bahkan saat Miyamura pamitpun aku tak menyahutinya. Aku tak peduli dia heran atau apalah. Lututku lemas. Hendak berjalanpun aku malas. Monster sialan itu kembali mempermainkan perasaanku. Sebenarnya apa sih maunya? Kusso!
“Okaerinasai, onee-chan,” sambut Uta dengan wajah polosnya yang bahagia begitu aku masuk. Tch! Aku sedikit terganggu dengan sambutannya. Benar-benar membuatku kesal!
“Minggir!” teriakku kasar sambil menahan air mata.
Uta kaget, matanya terbelalak kecewa. Aku tak tahan dengan wajah itu. aku segera melewatinya dan sedikit menyenggol bahunya, lalu berlari ke kamarku dengan perasaan kesal. Kesal dengan semua yang terjadi hari ini!
****
Gochisousamadeshita\= frasa yang diucapkan setelah makan
Chigaimasu\= Bukan begitu!
Yamete kudasai \= tolong hentikan!