Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Rainbow of Summer



Haaah, panasnya minta ampun diluar...” kata Iura dengan keringatan bercucuran.


“Huufft, ingin buka baju aja rasanya,” tambah Orihime yang juga kepanasan. Kei dan Teguchi langsung mendelik ketika Orihime mulai memegang kancing pakaian kokinya.


“Dasar mesum, mana mungkin aku membuka bajuku di hadapan kalian” kata Orihime jutek sambil menahan panas.


Ya, hari itu memang sangat panas. Musim panas yang benar-benar panas hari ini. Beruntung hari itu pelanggan sedikit berkurang, mungkin tidak ada yang berani keluar  karena panasnya ini. Miyamura juga membuka kancing bagian atas bajunya dan itu membuatnya sangat seksi. Kei sendiri dengan tingkah anehnya berpura-pura ke ruangan pendingin. Haruka,Inari, dan Juni  tak bersuara, mereka tak mampu bicara apa-apa sangking panasnya. Aku sendiri duduk menyudutkan diri di bawah kipas. Astaga, bahkan kipas anginpun sudah tak mempan.


Sudah seminggu sejak kejadian malam itu berlalu dan sejak itu, aku jarang melihat Uta. Dia pergi pagi sekali dan saat aku pulang dia sudah tidur. Namun, sarapan pagi selalu saja terhidang di meja. Aku tak pernah memakannya, bahkan sering aku biarkan sampai malam dan paginya berganti dengan yang baru. Aku juga jadi sering sakit perut karena jarang sarapan pagi. Mungkin maag ku sedikit kambuh tapi aku yakin ini pasti baik-baik saja.


Aku bangkit hendak mengambil minum, tapi tiba-tiba aku kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke lantai. Semua di dapur sedikit kaget melihatku.


“Mimi-chan? Kau baik-baik saja?” tanya Haruka khawatir sambil membantuku berdiri diikuti Orihime.


“Pengaruh cuaca panas mungkin ini,” ujar orihime.


“Mungkin,” sahutku pelan sambil mencoba bangkit menahan pusing.


“Ada apa ini?” Sebuah suara yang amat ku kenal mendekat.


“Hinamori-san, tadi terjatuh chef,” kata Haruka belum melepas rangkulannya. Aku hanya tertunduk. Monster itu memegang keningku dan membuat aku kaget, tidak terkecuali Haruka dan lainnya diruangan itu.


“Kau sebaiknya pulang, jangan sampai karena kau sakit disini dan menyusahkan lainnya.” Kata monster itu tanpa ampun, “Kei!” teriak chef. Kei pun keluar dari ruangan pendingin.


“Ya, Chef.”


“Kau menggantikan Hinamori hari ini karena dia sakit.”


“Ba-baik, chef,” sahut Kei.


Chef monster itu berlalu.


“Eng... Chef,” panggil miyamura. Chef berhenti.


“Gin, tolong jaga Mimi-chan ya.” Kata Orihime.


“Apa maksudmu dijaga? Aku bukan patung museum,” responku sedikit kesal.


Sebuah tekanan kecil dikepalaku mendarat tiba-tiba, “Udah sakit masih juga bisa ngomel”. Ya siapa lagi kalau bukan Miyamura. Tak ada sendok sayur tangannya langsung pun jadi. Aku jadi tambah pusing.


Haruka kemudian membawaku keruang ganti. Sementara Miyamura berganti baju. Setelah itu Haruka menyerahkan aku kepada Miyamura. Miyamura merangkulku sepanjang jalan menuju halte. Agak risih dengan perhatian orang-orang disekitar yang berbisik-bisik melihat kami.


“Hey-hey lihat, cowoknya romantis sekali ya, bla-bla-bla....”


Kupingku panas jadinya, wajahku tambah merah. Malu bercampur demam. Aku mencoba melepaskan diri dari rangkulan Miyamura. Miyamura sedikit heran.


“kau tak perlu merangkulku seperti itu. aku masih bisa berdiri tegak kok,” kataku pelan sambil tertunduk. Miyamura tak berbuat apa-apa. Dia tetap diam. Tak lama bus datang. Semua yang di halte itu masuk, termasuk aku dan Miyamura. Aku duduk dekat jendela, Miyamura di sampingku. Kami tak bicara sepatah katapun. Aku memandang kosong ke arah luar jendela bus. Matahari sudah mulai turun dari atas kepala. Dan panas bumi sedikit menurun. Sebentar lagi sore rupanya, fikirku. Perlahan aku mulai menutup mataku menahan sakit kepala dan perutku yang terasa begah. Aku harus bertahan sampai rumah.


 ***


“Onee-chan....Onee-chan?” sebuah suara menggaung ditelingaku semakin dekat. Aku membuka mataku dan mendapati Uta sudah dihadapanku, duduk dipinggiran tempat tidurku dengan berurai air mata. Aku mencoba duduk tapi kepalaku pusing sekali.


“Onee-chan jangan bangkit dulu,”pesan Uta lembut sambil memegang kedua pundakku. Spontan aku menangkis tangannya, lalu kembali berbaring, tapi kali ini membelakanginya. Aku tak peduli perasaan Uta saat itu. Aku tak peduli perhatian apa yang dia berikan kepadaku. Uta tak bicara lagi. Aku merasa dia bangkit.


“Aku khawatir dengan keadaanmu, onee-chan. Aku berterima kasih pada Miyamura-san yang mengantarkanmu kemari. Dia juga kelihatan khawatir. Tapi aku sudah menyuruhnya pulang.” Celotehnya dan langsung mengingatkanku pada Miyamura. Ah ya benar, ini bahkan sudah malam. Terakhir kali ku ingat aku bersama Miyamura di bus setelah itu aku terbangun dan sudah berada dalam kamarku.


“Maaf, mengganggu istirahat Onee-chan. “ ucap Uta lembut. Aku tak bergeming. Ku dengar suara pintu tertutup. Aku mulai mencoba bangkit. Aku haus sekali sebenarnya tapi meminta tolong pada Uta adalah hal yang paling haram buatku. Aku mencoba berdiri tapi tiba-tiba perutku mual sekali. Aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan asam lambung. Tak ada sisa makanan lagi dalam lambungku. Bahkan tadi siang aku tak makan sama sekali. Perih sekali dan kepala sampai tengkuk ku sangat sakit.


Dengan tubuh yang lemas kemudian aku perlahan keluar menuju dapur untuk mengambil air. Aku harus bertahan. Ini semua akan baik-baik saja. Ya, ini semua pasti baik-baik saja. Aku mengambil gelas dan kemudian tengkukku seperti tersengat listrik. Sakit sekali rasanya bersamaan dengan perihnya perutku. Aku tak sanggup lagi berdiri. Gelas yang ditanganku pun terhempas. Aku meringkuk di lantai menahan sakit ini.


“Onee-chan....onee-chan..oneee-chaaan” Suara teriakan Uta seperti semakin jauh ditelingaku. Namun, aku bisa merasakan saat air matanya jatuh mengenai pipiku. Well, it seems I’m going to die...


 ***