
Tadi malam aku benar-benar mengatur waktuku. Aku berusaha untuk tidur lebih awal dari sebelumnya. Aktifitas membaca manga benar-benar ku hentikan tadi malam, bahkan untuk mendengar sepotong lagu One Ok Rock pun aku jadi mengurungkan niat. Yokatta, pagi ini aku bisa bangun lebih cepat itupun karena aku bermimpi Chef baru itu melempariku dengan panci, centong dan sendok garpu karena terlambat. Anehnya, dalam mimpiku dia ke kamarku dan membangunkan ku tapi ya itu tadi, pakai panci, kuali, dan perkakas dapur lain. Mengerikan sekali. -_-
Jam tujuh aku sudah berangkat dengan sarapan sandwich dan susu buatan Uta yang mau tak mau harus aku makan juga. Aku melintas di depan apartemen Chizuru yang sudah tertutup rapat dan gelap. Entah siapa lagi yang akan menjadi tetanggaku selanjutnya, fikirku.
Jam setengah delapan aku sampai di resto. Semua teman kokiku yang biasa datang jam delapan lewat juga sudah berkumpul di dapur. Aku benar-benar gugup hari itu. juga masih sedkit masih kesal, ah bukan kesal sih tapi sedikit trauma dengan kejadian semalam. Tak lama kepala koki mengerikan itu masuk. Kami berbaris rapi di posisi kami masing-masing. Dia mulai memandangi kami satu persatu kemudian tersenyum sinis. Kusso! Ingin rasanya aku lemparkan panci dihadapanku ini ke wajahnya yang menyebalkan itu, tapi, tapi..tahan Mimi sabar sabaaaarrrr, batinku mencoba menahan emosiku.
“Ohayou!” sapanya dengan tegas sambil memegang sebuah kertas yang sekilas aku lihat seperti sebuah skema posisi koki di dapur.
“Ohayoi gozaimasu, Chef!” jawab kami serentak.
“Terima kasih sudah menepati janji. Baiklah saya akan memperkenalkan diri. Nama saya Ryuu, kepala koki kalian yang baru. Saya masih berkebangsaan Jepang dan bukan warga Korea. Mulai hari ini, kalian harus menyesuaikan diri dengan peraturan saya. Saya sudah melihat bagaimana kerja kalian semalam dan kalian –“ dia menghentikan ucapannya yang membosankan itu sambil melirik kertas ditangannya, “kalian benar-benar payah, seperti sampah!” lanjutnya semakin membuat kami geram. Aku melirik Miyamura di depanku yang menatap geram kepada Ryuu. Tapi apalah daya kami.
“Bersiaplah untuk perubahan! Paham kalian semua?!” teriaknya lagi.
“Paham, Chef” jawab kami.
“Perkenalkan diri kalian satu persatu,”
Sepuluh orang di meja masing-masing mulai memperkenalkan diri, dimulai dari Iura.
“Iura Takahashi – bagian Tempura.”
“Junichi Mochi – bagian Sashimi,”
“Kei Yamamura – Okonomiyaki,”
“Inari Hiyashi – bagian Takoyaki,”
Eh, eh, giliranku sekarang! Tapi,...
“Next!” teriak Chef Ryuu cuek seolah tidak melihatku. Eh? Aku dikacangin lagi?
“Jadi tidak ada yang bagian Ramen?” tanya Chef Ryuu.
“Hi-Hinamori-san bagian Ramen, Chef.” Lapor Teguchi yang memasak di bagian Sushi. Aku menyadari Chef Ryuu mengarahkan pandangannya ke aku meski aku hanya tertunduk lemas karena merasa tak dianggap.
“Hinamori-san!” panggil Chef Ryuu tegas. Aku kaget,mengangkat wajah.
“Ha-hai!” jawabku mencoba tegar.
“Mulai hari ini kau jadi assisten para koki untuk sementara sebelum pekerja yang baru datang. “kata Ryuu semakin membuatku lemas, “Gin Miyamura!” panggil, Chef Ryuu dengan lantang setelah melihat kertas yang masih ditangannya.
“Ha-hai!” sahut Miyamura.
“Kau dibagian Ramen sekarang, Orihime Seito, kau dibagian Miso soup dan Haruka Okazaki, kau memegang bagian makanan pembuka dan penutup!”
“Ba-baik, chef!” sahut Miyamura, Orihime dan Harauka dengan perasaan tak menentu.
“Baiklah, kita selesai, kerjakan tugas kalian dengan baik! Masak dengan sepenuh hati untuk pelanggan. Ingat, restoran ini juga tidak hanya menyediakan masakan dari Jepang saja. Ada masakan dari enam negara lainnya. Aku tidak mau, jika suatu saat ku dengar masakan Jepang di sini adalah masakan paling buruk! Mengerti, semua!”
“Mengerti, chef!” sahut semua dengan suara lantang, kecuali aku.
Teman-temanku pun mulai memasak di bagian mereka masing-masing. Chef Ryuupun mulai berkeliling menilai pekerjaan mereka. Aku hanya terdiam, mematung seolah tidak ada lagi harapan disekelilingku. Menyakitkan! Keahlianku di bidang ramen seolah diremehkan oleh manusia satu ini. Aku penasaran bagaimana Miyamura harus memulainya, tapi Miyamura bukanlah orang bodoh, dari semua koki disini, Miyamura adalah koki cerdas yang cepat belajar. Tak heran waktu Izumi-san masih disini, dia menjadi koki kesayangan, tapi kali ini Miyamura seperti di tekan habis-habisan. Kasihan, batinku. Tapi yang lebih kasihan itu AKU!!!
Tukk!! Aku merasakan sebuah ketukan kecil dikepalaku. Aku membuka mata dan Miyamura sudah mendaratkan sendok untuk mengaduk kaldu ke kepalaku.
“Ambilkan aku mangkuk!” katanya pelan. Menjengkelkan sekali, batinku pedih.
“Hai,” jawabku lemas lalu berjalan menuju peralatan penyajian dan mengambil mangkuk yang di maksud Miyamura. Setelah itu aku menyerahkan mangkuk itu dengan perasaan pilu.
Jujur saja, nyawaku seolah terlepas dari ragaku saat Chef Ryuu mengatakan bahwa aku di bagian asisten dapur di karenakan asisten dapur yang lama berhenti bekerja karena kejadian semalam. Terlebih ketika chef menunjuk Miyamura menjadi koki di bagian ramen. Aku memang tak menyalahkan Miyamura hanya saja, aku sulit menerima itu. sia-sia rasanya ketika kita sudah merasa ahli di bidang kita tiba-tiba menjadi tak berguna sama sekali. Aku pun paham Haruka dan Orihime cemas melihat keadaanku tapi hari ini, aku tidak ingin bicara pada siapapun. Siapapun! Aku hanya ingin pulang, mandi, tidur dan memimpikan Taka lagi malam ini.
****
Akhirnya aku sampai juga di lantai dua, apartemen nomor 4 tempat tinggalku dan Uta. Dengan gontai akupun berjalan menuju apartemenku melewati apartemen nomor 3 tempat Chizuru tinggal dahulu. Aku lihat sudah ada yang menempati, tapi ah, besok saja lah. Besok juga pasti ketemu sama penyewa yang baru ini.
Sejenak aku mematung di depan pintu, melamun memikirkan kehidupanku selanjutnya bagaimana. Sesak rasanya dadaku mengingat kejadian tadi. Besok entah apalagi yang terjadi. Si Ryuu brengsek itu juga makin mengesalkan. Aku tidak tau kenapa dia kesal sekali melihatku. Arrrghh!
“Konbanwa, aku penghuni baru disini, namaku Yuuta Hiroshi, yoroshiku.” Ucap suara dengan lembut. Aku menoleh ke asal suara dan ku dapati seseorang tengah membungkuk dan kemudian menatapku sambil tersenyum ramah.
Aku terpaku sejenak memandang ke arahnya. Lelaki ini? Mendadak wajahku pucat, tanpa sepatah katapun aku langsung meninggalkannya, masuk ke dalam apartemen ku! Aku ngos-ngosan di balik pintu. Chef Ryuu? Fikirku bertanya-tanya. Apa aku hanya bermimpi, atau karena terlalu tertekan dibuat Ryuu sehingga semua wajah orang ku lihat seperti wajahnya.??? Batinku lagi. Arggghh! Fikiranku kacau sekali hari ini.
“Onee-chan daijoubu desuka?” sapa suara lembut di depanku. Aku mengangkat wajah. Uta sudah berdiri tak jauh dariku.
“Daijoubu desu,” ucapku dingin tanpa menatap ke arah matanya yang berbinar sendu.
“Yokatta~, aku sudah menyiapkan makan malam untuk onee-chan. Kita makan berdua ya.?’ Ajaknya senang dengan senyumnya yang indah namun tidak buatku.
“Aku sudah makan diluar,” balasku cuek sambil berjalan melewatinya.
Aku tak tahu apa yang fikirkan Uta sekarang, mungkin dia terluka, tapi ah bodo amat. Sakit yang dia rasa sekarang tidak sebanding sakitnya hati ibuku ketika diceraikan oleh ayah karena ibunya sendiri! Air mata ibuku waktu itu, aku tak bisa membayangkan betapa hancur hatinya pada saat itu.
Jujur saja, aku memang sering mengabaikan Uta meski kami berdua hidup di atap yang sama karena hanya inilah sisa peninggalan ayah kami. Ibu kandung Uta sudah meninggal sejak ia di lahirkan dan sejak kecil Uta juga sering sakit-sakitan. Entahlah, kadang aku bertanya-tanya kenapa anak ini masih bertahan ditubuh penyakitan seperti itu. Ayah kami meninggal saat aku SMA, sementara ibu kandungku sendiri memilih ke luar kota dan bekerja sebagai pimpinan di sebuah penerbit. Ibuku berhenti menjadi koki semenjak ayah meninggal. Namun, sisa ilmunya masih bisa ia titipkan kepadaku. Selama ini, kami hanya sesekali bertemu dan bertanya kabar. Satu hal yang sering ibuku pesan ketika kami bertelepon atau bertemu bahwa aku harus memaafkan masa lalu.
Aku tak mengerti maksud ibuku. Apa dia sudah merasa bisa memaafkan masa lalunya sehingga dia menyuruhku untuk memaafkan masa lalu juga? Dia bahkan juga sering bertanya kabar Uta sih. Tapi, jika dia memang sudah memaafkan masa lalu kenapa dia tak tinggal bersama kami, atau setidaknya kembali menjadi ibuku, ibuku yang selalu ada disisiku? Apa dia masih tidak suka dengan Uta? Ah entahlah, semuanya terasa menyakitkan buatku!
Aku mengunci diri di kamar. Terpaku sejenak di depan pintu kemudian merosot turun menekuk lutut dan memeluknya. Perlahan air mataku mengalir. Ayah, andai kau tidak mencampakkan ibu karena wanita itu, pasti hidupku, hidup kita tak akan seperti ini, isak ku perih. Kini aku harus tinggal satu atap dengan anak dari wanita yang paling ku benci. Jika bukan karena permintaan terakhir ayah, aku pasti sudah mencampakkannya dan membiarkannya mati! Bagaimana mungkin aku bisa menerima semua sakitku di masa lalu dengan lapang?
****
“Ohayou gozaimasu! Aku Yuuta Hiroshi, tetangga baru. Yoroshiku,” sapa sebuah suara ramah tepat ketika aku menutup pintu untuk berangkat kerja. Aku langsung menoleh cepat. Lagi, aku bertubruk pandang dengan sosok tadi malam. Wajahnya seperti Ryuu! Eh tunggu dulu apa ini mimpi. Ya, ini pasti mimpi, ahaha ahaha! Mattaku~ lama-lama aku gila dibuat semua ini!
“Maaf, apa kau baik-baik saja?” tanyanya lagi. Sejenak aku terpaku melihat penampilannya. Dia merasa juga aku memperhatikan penampilannya. “Ke-kenapa? Apa aku kelihatan aneh?’
Aku berfikir sekali lagi, memperhatikan lelaki ini. Wajahnya memang seperti Ryuu tapi, kacamata itu, pakaian kantoran itu, tas kerja itu? dan sepatu mengkilap itu?? Eh??? Apa Ryuu salah kostum hari ini? Atau Ryuu sedang mencoba mengalihkan perasaanku?
“Maaf, ngomong-ngomong tadi malam kamu kenapa? kok ketakutan begitu melihat saya?” tanyanya lagi meski aku belum berbicara sepatah katapun. Ah, iya tadi malam, tiba-tiba aku menutup pintu seperti melihat hantu karena melihat wajahnya.
Aku memandang sekali lagi ke arahnya. Dia menatapku heran. Apa dia memang bukan Ryuu? Atau memang hanya wajahnya saja mirip dengan Ryuu? Kusso! Setelah apa yang dilakukan Ryuu kemarin, kini aku harus bertetangga dengan seorang yang wajahnya mirip dengan Ryuu! Ah~ mendokusei na~ (merepotkan sekali)
“Yo-yoroshiku,” ujarku pelan dan reaksinya benar-benar menakjubkan. Lelaki ini tersenyum seperti orang jatuh cinta.
“Yokatta, akhirnya aku mendengar suaramu, aku kira kau bisu atau tuli, hehehe,” lanjutnya lagi dengan ekspresi konyol. Aku hanya bisa ngasih ekspresi (-_-)
“Jadi namamu siapa?”tanyanya. ah, ya aku lupa menyebutkan nama.
‘Mimi Hinamori,” jawabku pelan.
“Ahaa, Mimi-chan?”
“Memangnya kamu siapa berani memanggilku Mimi-chan sementara kita baru pertama kali bertemu!” tangkisku garang.
“Su-sumimasen,” ujarnya memelas.”Aku hanya ingin merasa bisa lebih dekat,”
“No!” aku mengarahkan telapak tanganku ke arahnya. “Wajahmu ngeselin! Bye~” lanjutku sambil berlalu dari hadapannya. Segera aku berjalan cepat untuk turun sambil meracau kesal. Dia kira dia siapa berani memanggil aku Mimi? Lelaki idiot itu, meskipun dia mirip dengan Ryuu, tidak mungkin dia kembaran Ryuu, jauh jelas sekali perbedaannya!
Setelah cukup kesal karena pagiku diusik oleh wajah negeselin itu, akhirnya akupun sampai juga di resto dan bergegas ganti baju lalu ke dapur. Dengan menarik nafas panjang akupun mulai menjalankan tugasku sebagai asisten dapur untuk team koki Jepang. Nyesek rasanya ketika melihat rekan kerjaku sesama koki bisa berkreasi dengan keahlian masing-masing. Memegang ***, kuali, pemanggang , sendok sayur, sumpit...aaarghh...mengesalkan sekali!