Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Cinta?!



Hari itu resto sedang libur karena pimpinan memerintahkan kami untuk beristirahat selama beberapa hari sampai bahan makanan yang dipesan besok sampai. Ya, sakingkan banyaknya pelanggan yang memesan masakan Jepang, bahan didapur mulai menipis tanpa sadar. Tori juga tidak menyadarinya, padahal memantau kondisi  bahan makanan adalah tugas asisten dapur sebenarnya. Dan anehnya Ryuu tidak marah. Hah, syukurlah.


Pagi sekali, Uta sudah berangkat. Aku bangun agak siang hari ini. Sudah lama rasanya tidak telat bangun sejak kejadian pertama kali aku hampir mati dibuat Chef Gila itu. Keh, bahkan sampai sekarang aku masih ingat detailnya.


"Hoaaamm," aku menguap sambil meregangkan ototku. Kemudian aku bangkit dan memutar lagu One Ok Rock : Deeper Deeper. Kamarku seakan penuh dengan distorsi pagi itu. Aku semangat lagi. Setelah menyetel lagu milik OOR aku menuju kamar mandi dan mencuci muka juga sikat gigi. Setelah itu aku keluar menuju meja makan. Pintu kamarku sengaja ku buka agar suara lagu terdengar sampai keluar. Aku melahap dengan semangat sarapan yang disediakan Uta pagi itu. Hah, aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya.


Lagu berganti, sekarang lagu Clock Strikes menggema. Aku ikut menyanyi meski belum hafal. Tiba-tiba aku teringat tetangga di samping apartemenku ini; Yuuta. Sudah lama sekali tidak melihatnya sejak dia menjengukku di rumah sakit tempo hari. Aku penasaran apa kabarnya. Aku melangkah keluar. Berjalan menuju balkon dan memperhatikan jalanan.


"Achoo!" hey, aku mendengar suara bersin dari balik pintu apartemen Yuuta. Dan sejurus kemudian dia keluar dengan tisu di hidungnya dan bersin sekali lagi. Kami terpaku beberapa saat, saling menatap. Yuuta memakai kaos dan celana pendek, rambutnya sedikit acak-acakan dan hidungnya merah.


"Ah, Hinamori-san, lama tidak melihatmu. Bagaimana keadaanmu,?" sapanya dengan suara pilek.


"Aku baik-baik saja. Aku juga sudah lama tidak melihatmu."


"Iya, ada deadline beberapa hari ini dan membuatku pulang jam dua malam. Aku kurang istirahat dan akhirnya aku begini. Achoo!" celotehnya lagi disusul bersin.


"Oh...kau harus makan bubur."saranku.


"Aku tidak pandai memasak bubur, hehe. Kau mau membuatkannya untukku?" tanyanya.


Aku sedikit kaget dengan permintaan itu. Aku tau mungkin Yuuta hanya bercanda. Tapi,..


"Ahaha, aku hanya bercanda, jangan difikirkan." Lanjutnya.


"Ah tidak, baiklah aku akan - membuatkan...bubur..untukmu," jawabku malu-malu.


"Eh? Benarkah???"


"Iya,"


"Te-he, aku jadi ngerepotin," katanya malu-malu. Hey,lugu sekali lelaki ini. Wajah idiotnya itu malah semakin menggemaskan.


Akhirnya aku masuk ke dalam apartemennya. Kesan pertamaku? Waw, bersih sekali dan semua kelihatan artistik. Di rak dekat jendela, banyak sekali miniatur chara anime, gak hanya chara cewek tapi cowok juga ada. Ada Naruto, Yato dari anime Noragami, Luffy, Kakashi, Conan. Well, dia memang benar-benar Otaku, fikirku.


Yuuta tiduran di sofa, aku pun mulai menuju dapur dan memasak bubur. Terdengar suara musik One Ok Rock. Yuuta memutarnya kuat-kuat. Aku tersenyum.


Tak lama buburku siap. Aku meletakkannya di mangkuk dan membawanya dengan nampan. Tiba-tiba aku jadi merasa seperti istrinya Yuuta. Membuatkan bubur untuk seorang lelaki menurutku sedikit memalukan. Ah, apa sih yang aku fikirkan sebenarnya. Yuuta hanya tetanggaku.


"Oh, sudah selesai. Wah kelihatannya enak." Kata yuuta sambil bangkit begitu aku mendekatinya. Aku meletakkan nampan di meja dekat sofanya.


"Aaa," kata Yuuta kemudian sambil membuka mulut. Anak ini? Apa maksudnya bilang 'aaa' begitu? fikirku.


"Ahaha, gomen gomen, aku kira kau akan menyuapiku juga," katanya dengan wajah konyol. Aku mengernyitkan alis. Aha,,,dia berfikir begitu rupanya.


"Baiklah-baiklah...," kataku kemudian sambil menyendokkan bubur dan membawanya ke mulut Yuuta. Yuuta sedikit kaget tapi diapun segera membuka mulutnya. Astaga, benar. Aku seolah seperti istrinya sekarang. Ah tidak...bukan! Jantungku sedikit berdetak lebih keras dari biasanya. Dan wajahku juga sedikit panas. Kenapa aku ini?


"Eh? Kau demam?" tanya Yuuta sambil menatapku dan memegang keningku. Astaga, wajahku makin merah!


"Kau tidak demam, tapi kenapa wajahmu merah, apa kau kepanasan?" tanyanya lagi penasaran.


"Ah tidak, tidak...aku tidak apa-apa Hiroshi-san. Daijoubu,"


"Ah, syukurlah."


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak menikah? Kalau kau menikah, istrimu kan bisa merawatmu ketika kau sakit seperti ini." Tanyaku menyarankan.


"Ah, istri? Sudah ada Hinamori kok," jawabnya sambil tersenyum. Ini membuat jantungku mau copot. Apa maksudnya sudah ada aku? Apa dia menganggapku sebagai istrinya? Hey...aku merona lagi mendengarnya!


"Wah, sudah habis." Kata Yuuta mengaburkan lamunanku.


"Ah, ya. Kau istirahatlah. Aku akan cuci mangkuk ini dulu." Kataku sambil bangkit membawa nampan.


"Hai, arigatou, Hinamori" sahut Yuuta sambil merebahkan diri. Aku masuk ke dapur. Jantungku benar-benar berdetak dan ingin copot rasanya. Aku bahkan tak mampu menjawab ucapan terima kasihnya. Ngghhh...!


Setelah mencuci piring, aku kembali ke ruang tengah dan mendapati Yuuta tertidur pulas diiringi lagu Wherever You Are-nya One Ok Rock. Aku memandangi Yuuta. Wajahnya sangat mirip dengan Ryuu tapi apa mereka memang kembar. Jika iya, aku tak pernah melihat mereka jalan bersama, atau setidaknya bercerita apapun tentang keluarganya. Ah, bahkan sifat mereka berdua jelas berbeda. Aku dulu juga di katakan mirip dengan seorang kakak kelas ketika SMA. Tak heran jika didunia ini ada seseorang yang mirip dengan kita. Sedangkan orang yang mirip Barack Obama juga ada. Jadi, kenapa aku harus pusing-pusing berfikir. Mereka hanya mirip. Udah gitu aja.


Aku kemudian duduk di bawah. Bersandar di kaki sofa tempat Yuuta berbaring dan membaca komik yang tergeletak di dekat sofa. Ah, bahkan membawa komikpun aku sudah tidak konsentrasi. Berdua dengan lawan jenis di sebuah apartemen menurutku sedikit memalukan dan mengganggu fikiranku. Aku dan Yuuta bahkan bukan sepasang kekasih. Well, Yuuta hanya tetangga. Dan ini hanya hubungan baik dengan tetangga, dan aku tak harus melebih-lebihkannya.


"Huh? Kau masih disini, Hinamori?" suara Yuuta benar-benar membuatku terkejut. Aku tak menyangka dia sudah bangun dan berbicara tepat di belakang tengkuk ku. Ngghh, salahku juga yang mengambil posisi dekat kepalanya.


"Ahahah,lucu sekali kau terkejut seperti itu!" lanjutnya lagi melihat ekspresi jengkelku.


"Gomen ne..gomen ne.." Yuuta bangkit dan mengambil air minum. Dia kelihatan lebih segar meski suaranya belum berubah normal. Aku sendiri melanjutkan bacaanku tapi tak konsen. Berulang kali ku lirik Yuuta dari bawah ke atas.


Tubuh anak ini lumayan tegap jika tanpa pakaian kantorannya. Dan macho sekali. Otot bisep di lengan atasnya terlihat jelas ketika dia mengangkat gelas untuk minum. Berbeda sekali ketika kerja. Dia begini tampak macho dan ketika kerja tampak culun. Ah, sekali lagi, aku mungkin selalu menilai seseorang dari penampilan saja. Padahal sejak awal aku sudah bilang bahwa setiap orang itu unik!


"Aaah," Yuuta menghela nafas sambil duduk di sofa. Aku masih terpaku dengan manga yang ku baca tapi tidak dengan fikiranku dan jantungku. "Aku sudah mendingan sekarang. Makasih ya, Hinamori." Lanjutnya sambil mendekatkan kepalanya ke samping kepalaku. Aku tak berkutik sekali lagi. Aku bisa merasakan hembusan nafas Yuuta. Jantungku? Aih, kalau dia dengar bagaimana?


"Are? Kau membaca manga Chihayafuru?" katanya sambil menatap manga yang ku baca lebih dekat. Kepalanya tepat di sampingku sekarang. Andai saat ini dia menoleh ke arahku bisa dipastikan wajahku dan wajahnya hanya akan berjarak lima senti.


"A-aku... mau minum," kataku sambil bangkit  mencoba menghindari kedekatan itu.


"Huh?" respon Yuuta heran. Tapi yang namanya gugup tetap saja gugup. Saking gugupnya aku bahkan tak bisa melangkahkan kaki. Aku roboh.


"Hinamori, kau tak apa?" kata Yuuta.


Kini posisiku roboh di Sofa. Yuuta berada di atasku. Sementara manga yang ku baca masih terpegang erat didadaku. Aku diam tak bersuara. Kami saling menatap. Waktu seolah berhenti saat itu. wajahku merona. Momen ini, momen yang seperti dalam drama Korea berakhir dengan sebuah ciuman. Hey, apa yang kufikirkan sebenarnya??? Sadar Mimi! Waktu, tolong bergeraklah! Rontaku dalam hati.


Ding! Dong! Bel apartemen berbunyi. "Yuu, ini aku." Kata sebuah suara dari luar. Yuuta menoleh ke arah pintu. "Gomenna," katanya padaku kemudian bangkit menuju pintu. Aku duduk dengan cepat, mengatur nafas yang seolah tercekat di paru-paruku. Syukurlah, seseorang datang. Aku selamat! Yokatta~ batinku lega.


"Ah, ada seorang wanita di apartemenmu?' sebuah suara mengagetkan aku dari belakang.


"Tidak, dia hanya tetanggaku. Apartemennya tepat disebelah." Jelas Yuuta.


"Oh begitu."


Aku menoleh, penasaran dengan siapa yang datang, dan orang itu juga menatap ke arahku. Aaaaakkkkk!! Aku mau pingsan begitu melihat orang itu.


"Hah? Hinamori?" katanya seakan tak percaya. Aku sendiri bahkan tak bisa ngomong.


"Are? Kau sudah kenal?" tanya Yuuta.


"Tentu saja, dia salah satu koki tempat ku bekerja" jawab Ryuu sambil melipat tangan dan gaya menyebalkannya.


"Benarkah? Jadi Hinamori adalah salah satu staf kokimu? Hinamori tak pernah cerita dia bekerja di resto yang sama denganmu. Tapi syukurlah kalian sudah saling mengenal." Komentar Yuuta.


Sialan! Aku bahkan belum bisa berkata apa-apa. Hey, tapi ngomong-ngomong kenapa Ryuu kemari?


"Oh ya Hinamori. Bosmu ini saudara kembarku. Mungkin kau bertanya-tanya ya.?" Kata Yuuta yang jawabanya sedikit agak meleset dari pertanyaan di fikiranku. Tapi, akhirnya...


"Kembar!?" ulangku. Aku menatap Yuuta dan Ryuu berkali-kali. Ryuu tampak tak menikmati pembicaraan ini. Ternyata mereka kembar. Dugaanku sejak pertama kali melihat Yuuta benar.


"Iya, Ryuuta ini adikku," serobot Yuuta.


"Hey, kau tak bisa bilang begitu mentang-mentang kau lahir lima menit lebih awal dariku!" potong Ryuu dengan kesal.


"Lima menit?" gumamku. Baiklah, ini semakin membuatku gila. Ryuu yang gagah dan garang ternyata adik Yuuta yang kalem dan ramah. Benar-benar perbedaan karakter yang sangat jauh berbeda. Dan tadi Yuuta menyebutkan nama Ryuu? Ryuuta? Ryuuta Hiroshi dan Yuuta Hiroshi?? Astaga kenapa aku tak menyadarinya dari awal. Itu pasti karena perkenalan itu, Ryuu tidak menyebutkan nama keluarganya.


"Hey, kau membawakan ku bubur?" tanya Yuuta sambil melirik yang di bawa Ryuu.


"Ya, kau bilang kau sakit." Sahut Ryuu sambil berjalan ke meja makan.


"Astaga, aku lupa mengatakan bahwa Hinamori sudah memasakkan bubur untukku." Aku Yuuta, membuatku kaget sekaligus malu.


"Haaaah?" tanya Ryuu seakan tak percaya. Dia menatapku. Aku membuang muka dengan wajah merona. "Dia tidak meracunimu kan, Yuuta?" goda Ryuu.


"Ah, kau ini!" kata Yuuta sambil tertawa.


Kusso, wajahnya itu menyebalkan sekali. Wajah Ryuu maksudku. Apa maksudnya dengan kata meracuni itu? Ah sebaiknya aku segera pulang dari sini.


"Baiklah aku pamit pulang. Ryuu kan sudah ada." Kataku.


"Hmm, baiklah. Terimakasih ya Hinamori." Kata Yuuta sambil tersenyum.


"Ya, sama-sama," balasku mencoba tenang di bawah tekanan ekspresi aneh Ryuu.


Akupun keluar dan kembali ke apartemen ku. Sound system ku masih bergema lagu One Ok Rock. Aku bahkan lupa mematikannya. Aku menuju kamarku dan mematikan lagu. Aku rebahan di tempat tidur,memandangi langit kamar dengan perasaan mengambang. Aku mencoba mengumpulkan serpihan memori sewaktu di apartemen Yuuta tadi, dan ngghh...aku mendadak merona mengingat saat Yuuta menindih tubuhku tadi. Memalukan! Saat itu aku benar-benar merasakan nafas Yuuta. Jantungku berdegub kencang. Matanya menancap tajam tepat di jantungku.


Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Ada perasaan aneh menjalari hatiku. Selalu saja aku merona ketika mengingat Yuuta. Dia memang aneh, unik dan tak bisa di duga. Apalagi kesamaan kami sama. Sejak aku tahu dia penggemar OOR, sejak itu pula aku merasa nyambung saat bicara dengannya. Apakah ini yang dinamakan 'cinta?'. Ah entahlah....