Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Be The Light



Tiga hari aku berbaring di rumah sakit, selama tiga hari pula ibu menemaniku. Uta tak pernah datang sejak hari itu. Aku sedikit mengkhawatirkannya. Teman-teman sedapurku juga sudah menjengukku, kecuali Ryuu. Dia hanya menitip salam dengan surat yang dititipkannya pada Miyamura.


"Jangan manja, cepat sembuh dan kembali bekerja. Dapur merindukan belaianmu. Semoga cepat sembuh!"


Tch! Benar-benar kata-kata yang sama sekali tidak menghibur, fikirku kesal tapi tak bisa berbuat banyak. Chef Monster ini benar-benar monster. Tapi, setidaknya dia mengkhawatirkanku juga kan? Hanya saja mungkin dengan cara aneh seperti ini.


Sore ini, aku pulang ke apartemen dengan ibu. Aku sudah membaik, tidak muntah lagi. Perutku juga tidak perih lagi. Sampai di apartemen, kami langsung di sambut Uta yang saat itu sedang di rumah. Dia sedikit takut melihatku dan menjaga jarak ketika aku masuk, tapi dia tetap tersenyum. Aku merasa tidak enak melihatnya seperti itu.


Dia mengikutiku dibelakang saat ibu menuntun ku menuju kamarku. Aku kemudian berbaring dengan punggung bersandar pada bantal di kepala tempat tidur. Aku melihat Uta masih tertunduk takut di belakang ibu.


"Uta, kau tak ingin mengucapkan apa-apa pada kakakmu?" tanya ibu. Aku sedikit kaget, Uta juga. Aku lihat dia sangat tertekan. Ada yang ingin disampaikannya tapi dia menahannya semua di dalam dadanya. Hey, aku sudah bisa membaca hatinya sekarang.


"Aku-" katanya pelan dan terbata, "A-aku, aku bahagia, onee-chan kembali ke rumah. Aku...sangat merindukan onee-chan," lanjutnya sambil terisak. Maa~ bahkan untuk menangis saja dia masih menahannya dengan rasa takut.


"Terima kasih, Uta," jawabku parau, "Aku - aku juga senang bisa melihatmu lagi," lanjutku sambil mencoba menatap ke dalam matanya. Uta berbinar. Matanya seolah berpendar tujuh warna pelangi. Bahkan mendengar kataku barusan dia bisa sangat bahagia seperti ini. Uta memang benar-benar polos. Dia sudah banyak terluka karena sikapku.


"Jadi, apa yang sudah kau masak untuk menyambut kami, Uta-chan?" tanya Ibu kemudian. Uta kaget, dia kelihatan gugup.


"A-ano, aku sudah menyiapkan bubur untuk onee-chan, dan spagheti untuk Minami-san" jawabnya malu.


"Ah, benarkah? Jadi kenapa kau tak membawa bubur itu kemari dan menyuapi kakakmu?" pancing ibu, membuatku malu. Tapi, Uta berbinar.


"Ah, ba-baik," dia lalu keluar dengan tergesa.


"Lihatkan? Betapa dia mengkhawatirkanmu dan sangat bahagia melihatmu? Kau sudah bisa mendengarkan lagu di dalam hatinya sekarang?" kata ibu sambil tersenyum. Aku tertunduk. Ya, ibu benar, Uta sangat bahagia bahkan ketika aku merespon ucapannya tadi. Ada rasa lega di hatiku melihat binar matanya.


"Iya, " jawabku kemudian sambil mengangguk.


Tak lama, Uta datang membawakan semangkuk bubur dalam nampan. Dia tampak gugup.


"Tak apa, Uta. " kata ibu memberi semangat sambil tersenyum. "Ja, aku akan makan spagheti di meja makan." Lanjutnya sambil keluar dari kamarku.


Kini tinggal aku berdua dengan Uta yang masih mematung memegang nampan sambil menatapku takut. Aku paham, dia pasti takut.


"Ehm, aku lapar," gumamku lirih sambil menutup mulutku dengan punggung tanganku. Uta kaget, dia mendekat dengan takut.


"Maaf, jika bubur ini tak seenak buatan Minami-san," katanya lembut dengan tertunduk. Perlahan dia duduk di pinggiran tempat tidur. Aku sedikit grogi. Ini sedikit mengejutkan buatku. Aku harus mengikis keegoisanku terhadap Uta. Uta mulai menyendok bubur dan dengan takut mengarahkannya ke mulutku. Aku membuka mulutku dengan rasa malu sekaligus sedikit jaim. Diluar dugaan, itu membuat Uta sedikit kaget.


"Well, lumayan,"komentarku. "aaa" aku membuka mulutku lagi. Uta dengan semangat menyuapiku sekali lagi. Sampai tak terasa bubur itu habis.


"Arigatou, Uta-chan," ucapku kemudian dan tanpa sadar tersenyum kepadanya. Sekali lagi, matanya berbinar menyiratkan tujuh warna pelangi itu. Namun, kali ini dia menangis terisak. Aku sedikit bingung. Berulang dia menghapus air matanya dengan punggung tangannya yang kurus.


"Yokatta," isaknya kemudian,"yokatta, Onee-chan mau tersenyum untukku, aku sudah lama merindukan hal ini. Aku rindu dengan senyuman Onee-chan," lanjutnya dengan isakan yang...ah, aku bahkan tak bisa menjelaskannya. Dia terharu sekali sepertinya. Aku menatapnya sendu sekaligus kasihan dan merasa bersalah. Aku menepuk kepalanya pelan, isakannya mendadak berhenti.


"Ne, Uta-chan. Gomennasai," ucapku parau, "aku tau kau selama ini menahan semuanya. Terima kasih sudah bertahan untuk ku," lanjutku sambil meneteskan air mata. Uta menghapus air mataku, dan membuatku sedikit kaget.


"Tidak, aku yang berterima kasih karena Onee-chan masih tetap tinggal untuk ku selama ini. Maafkan aku karena selalu menempatkanmu dalam masalah."


Aku memeluknya. Terisak, karena tak sanggup berkata apa-apa lagi. Uta adalah malaikat selama ini. Malaikat yang selalu setia meski aku selalu menyakitinya. Gomennasai, Uta, gomennasai....


What did it leave behind?


What did it take from us and wash away?


It may be long


But with our hearts start a new


And keep it up and not give up


With our heads held high


― Apa itu tertinggal di belakang?


― Ini mungkin lama


― Tetapi dengan hati kita memulai yang baru


― Dan menjaganya dan jangan menyerah


― Dengan kepala kita menengadah


You have seen hell and made it back again


How to forget? We can't forget


The lives that were lost along the way


And then you realize that wherever you go


There you are


Time won't stop


So we keep moving on


― Kau telah melihat neraka dan membuatnya kembali lagi


― Bagaimana tuk melupakan? Kita tak bisa melupakan


― Kehidupan yang hilang sepanjang jalan


― Dan kemudian kau sadari bahwa kemana pun kau pergi


― Disanalah dirimu


― Waktu tak akan berhenti


― Jadi kita tetap melangkah


Yesterday's night turns to light


Tomorrow's night returns to light


O... Be the light


― Kemarin malam berubah menjadi cahaya


― Esok malam kembali ke cahaya


― Jadilah cahaya


Lagu One Ok Rock ini mengalun sendu di telingaku malam ini. Ya, aku harus memaafkan masa lalu dan memulai kehidupan yang lebih baik bersama Uta. Waktu tak akan berhenti, jadi aku harus tetap melangkah. Aku juga tak ingin jika masa lalu ini mencuri masa depanku. Aku harus memaafkan masa lalu, dan menerimanya dengan hati yang lapang, meski pelan-pelan, tapi harus bertahan. Dan Uta, jadilah cahaya itu, cahaya yang selalu mengawalku ketika aku mulai masuk dalam kegelapan masa lalu.


"Ibu pamit ya, lain kali jaga kesehatanmu dan jangan sampai kau seperti ini lagi." Kata ibu sambil berdiri di dekatku dan membelai kepalaku lembut.


"Iya, Bu. " sahutku pelan. Ibu kemudian keluar kamar dan diikuti Uta. Aku mendengar pembicaraan mereka dari sini.


"Minami-san, terima kasih karena anda sudah berada disisi onee-chan selama di rumah sakit. Aku tahu dia sangat merindukan kehadiranmu dan membutuhkan perhatianmu," ucap Uta dengan lembut.


"Tidak, akulah yang berterima kasih karena kau telah bersama Mimi-chan selama ini. Kau anak yang baik.". Sejenak semuanya hening.


"Aku boleh memanggilmu 'ibu'?' Suara Uta terdengar halus tapi masih bisa ke dengar. Aku sedikit kaget mendengar itu. sedetik tak ada jawaban dari ibu. Tapi, kemudian...


"Ya, kau boleh memanggilku ibu. " jawab ibu dengan tenang dan entah kenapa aku merasa lega mendengar itu. Aku tersenyum...