Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Somewhere Else



[Ryuu's PoV]


Sial! Sial! Sial!


Hidupku menjadi kacau sejak Lee Yoo Na kembali. Ibuku menjadi direktur, aku dibenci pegawaiku dan Hinamori menghilang. Segala kebahagiaan yang ku inginkan seolah menguap begitu saja. Tak tersisa sedikitpun kenangan. Seolah aku memang ditakdirkan untuk tidak bisa memilih selain pilihan yang diberikan ibuku.


Ibuku terkenal dengan sifat tegas dan angkuhnya. Wibawanya besar dan gengsinya tinggi. Sekali saja ada yang mencemari nama baiknya, langsung ia buang tak peduli itu anaknya sendiri. Dan itulah yang terjadi pada Yuuta, saudara kembarku.


Sudah seminggu sejak Hinamori menghilang dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Aku sangat merasa bersalah. Aku sangat merindukannya saat ini.


"Selamat pagi, Sayang." Yoo Na masuk keruanganku tanpa babibu dan langsung mengecup pipiku. Membuatku jengah. "Dingin sekali pagi ini ya" sindirnya.


"Kalau kau merasa dingin lebih baik pakai mantel yang lebih tebal." Balasku cepat.


"Ryuu sayang, kau ini kenapa sih?" Yoo Na memelukku. "Ah~ apa karena pegawai yang sudah kau pecat itu? Kau merindukannya?"


"Tentu saja" aku bangkit dari kursi dan berhasil melepaskan tangannya dari leherku. "Diakan pacarku."


"Oh pacar? Bukannya kau sudah diputusnya?!"


"......"


"Oh ayolah Ryuu. Lupakan saja dia. Atau kau mau ibumu membuangmu dan kau jadi pengangguran?"


"Yoo Na, aku ingin kau segera pergi dari ruanganku."


"Hai hai, kebetulan sekali aku hanya ingin menyapa kok. Tujuanku sebenarnya hanya ingin menemui ibumu. Bye~"


Yoo Na melenggang ke luar. Kepalaku rasanya hendak meledak! Hinamori kau dimana sekarang?


.


.


.


Malam menjelang. Aku pun pulang ke Shinjuku dengan mobil. Begitu sampai di kotanya, aku melihat Miyamura baru saja keluar dari sebuah kombini. Akupun langsung memberhentikan mobilku di depan kombini tersebut. Miyamura memperhatikanku dan rahangnya mengeras ketika aku keluar dari mobil.


"Konban--"


Duk!


Aku jatuh disisi jalan setelah Miyamura memukul rahang kiriku.


"Setelah apa yang kau lakukan terhadap Hinamori, kau masih berani muncul di depanku?? Berani sekali kau!" Kata Miyamura menarik kerah jaketku.


"Miyamura, tu-tunggu dulu!"


"Aku tau kau hanya ingin bertanya kemana Hinamori padaku kan? Sekalipun aku tau, aku tak akan memberitahumu. Kau mengerti?"


"Jadi kau masih belum tahu keberadaannya juga?"


"Itu semua karena kau!"


Miyamura menghempaskan tubuh ku di sisi mobil.


"Hei apa kau ingat percakapan kita di rumah sakit tempo hari?" Tanya Miyamura. Aku menatapnya dan berusaha mengingatnya.


...


"Itu sih gampang. Tapi...jika aku lihat Hinamori hancur karena chef, aku tidak akan segan-segan menghancurkan hubungan kalian. Hinamori sudah seperti kakak ku sendiri."


"Hai~ hai... aku berjanji tidak akan menyakitinya. Jika aku menyakitinya aku yang akan mundur lebih dulu."


"Oke..Ucapan lelaki tidak boleh ditarik kembali lho..."


...


Aku tertunduk. Ya aku telah menyakiti Hinamori dan itu artinya aku harus berhenti mencarinya. Tapi...aku...


"Aku tidak bisa." Kataku.


"Ha?"


"Maaf, aku tau Hinamori terluka karena aku, tapi aku tidak akan mundur. Aku pasti akan lebih dahulu menemukannya dari kau."


"Kau menyatakan perang denganku? Oke, aku terima. Buang-buang waktu saja bicara dengan orang tidak konsisten sepertimu. Tch!" Miyamura meninggalkanku dalam kesunyian. Aku memijit pelipisku. Mendadak dadaku terasa sangat sesak.


.


.


"Ojou-chan! Ramennya tambah lagi."


Teriak salah satu pengunjung di sebuah resto kecil khusus ramen di Fukui.


"Hai!" Sahut seorang wanita berambut ikal yang mulai panjang.


"Nee-chan. Pesananku belum datang." Seorang remaja laki-laki di dekatnya protes dengan sopan.


"Go-gomen. Akan aku buatkan segera."


Wanita itu melangkah ke dapur membuat ramen. Dia hanya memiliki 2 orang anak buah dan semuanya adalah pekerja paruh waktu. Hanya mahasiswi yang kerja sambilan.


"Akane-chan, tolong antar ini ke meja nomor 9, 10, dan 11"


"Hai!" Sahut gadis berambut lurus sebahu.


"Tama-chan, tolong yang ini. Ke meja nomor 2, dan 5."


"Hai!" Sahut gadis berkacamata.


Resto kecil itu baru saja ia kelola selama beberapa minggu dan tak menyangka banyak pengunjung yang menyukai resep ramennya. Ini...ramen pelangi. Ramen yang pernah ia buat ketika kompetisi bersama Miyamura.


Mendadak wajah wanita itu berkabut. Pandangannya berembun. Yabai, dia tak boleh menangis ketika membuat ramen. Ramen harus dibuat dengan penuh cinta. Kata-kata ibunyalah yang membuat ia bertahan sampai saat ini meski sebenarnya ia sangat merindukan tempat dimana ia memulai karir dan Ry--


"Hinamori-san?"


Akane membuat wanita itu tersadar.


"Maaf, aku sedikit melamun."


"Hinamori-san jika tidak enak badan istirahat dulu. Lagipula, pelanggan kita hanya tinggal beberapa orang lagi."


"Ah kalau begitu kalian pulanglah."


"Eh?"


"Tidak apa-apa. Aku bisa menanganinya."


Tama dan Akane saling pandang. Mereka masih berat hati meninggalkan Hinamori.


"Sebenarnya, ada pengunjung yang ingin bertemu dengan anda, Hinamori-san." Kata Tama.


"Hai..hai...kalian pulanglah. Aku akan menemuinya."


"Tapi ini hampir tengah malam kami takut--"


"Tak apa..." ucapan Akane dipotong Hinamori.


"Baiklah. Sampai ketemu besok, Hinamori-san."


Setelah Akane dan Tama pulang, pengunjung yang tersisapun pulang setelah menikmati ramen. Namun, hanya satu pengunjung yang belum pulang.


Hinamori melihat dari balik gorden dapurnya. Mungkin ini yang dikatakan Tama tadi. Dari sini, ia hanya bisa melihat punggungnya yang memakai kemeja abu-abu. Hinamoripun memberanikan diri menyapa.


"Maaf, pak. Resto kami sudah mau tutup. " Hinamori membungkuk pelan & tertunduk.


Hinamori yang berada dibelakangnya merasakan jika pria itu bergeming dan menoleh ke arahnya.


Tuk!


"Konbanwa, Hinamori!"


Ah~ sudah lama sekali rasanya tidak ada yang mengetuk kepalanya seperti itu. Perlahan matanya berembun. Tidak jelas wajah si pengunjung tapi dia tahu jika itu...


"Mi-miyamura...."


.


.


.


*bersambung*