
Keesokan harinya aku ke resto seperti biasa dengan pakaian biasa, hanya saja situasi di dapur agak sedikit berbeda. Sedikit heran karena hari itu, teman-temanku menatapku aneh. Mereka juga menatap Ryuu dengan pandangan aneh. Aku bisa merasakan ketidaknyamanan Ryuu saat itu. Tapi dia bisa berpura-pura cuek dan berakting sekejam monster seperti biasa. Parahnya hari itu akulah orang yang paling sering dia teriaki karena sedikit kesalahan.
"Hinamori-san! Kau menambahkan merica lebih banyak hari ini! Kau bisa membuat tamu sakit perut. Pakai otakmu!" maki si Chef Monster. Astaga, sakit kepalaku mendengar omelannya sepanjang hari ini. Kemudian aku melihat Iura disampingku yang rupanya diam-diam serius memperhatikanku.
"Aku masih sedikit bingung..." gumamnya. Aku menoleh ke arahnya. Dia kaget.
"Apa?" tanyaku.
"Ah tak apa.." jawab Iura gugup sambil mengalihkan konsentrasinya pada masakannya. Aku mengernyitkan alis. Bingung....
Keesokan harinya juga masih sama, saat masuk dapur aku terkejut mereka sudah berkumpul seperti membahas sesuatu dan begitu aku masuk semuanya bubar sambil sesekali melirikku. Tatapan aneh itu sedikit menggangguku dari semalam. Tatapan itu bukan sinis, tapi tatapan penasaran, hanya saja mereka sedikit takut ingin bertanya kepadaku. Aku bahkan sempat ingin bertanya pada Haruka, tapi Haruka dengan gugupnya menghindari pertanyaanku kemudian berkata, "Selamat ya," Hah? Aku bahkan tak tahu dia mengucapkan kata itu dalam rangka apa? Hah, aku semakin bingung di buat mereka.
Hari itu aku sengaja pulang agak lama. Mencoba mendekati Tori untuk mencari jawaban dengan berpura-pura membantunya mengelap piring.
Sejam, tak ada sepatah katapun yang keluar saat aku bersama Tori. Dia menghindari pandanganku ketika aku melihatnya. Aneh sekali situasi didapur ini jadinya. Aku benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.
"Hey, Tori." Panggilku sudah tak tahan lagi. Tori sedikit kaget ditandai dengan gerakan yang sedikit mempercepat aktifitasnya.
"Ha-hai, senpai."jawabnya kaku.
"kau kenapa?"
"Ah, tak apa - tak apa.... senpai, aku sudah selasai. Aku pamit duluan ya." Katanya gugup berpura-pura, mencoba kabur.
Grrr....beneran deh aku sudah gak tahan lagi ingin segera mengetahui ada apa sebenarnya! Aku pun tak membiarkan Tori kabur begitu saja. Ketika ia akan meninggalkan piringnya, aku langsung menarik kerah bajunya dari belakang dan memaksanya bicara.
Aku hanya memegangi kepalaku begitu mendengar Tori bercerita tentang keanehan yang terjadi didapur sejak kemarin.
"Mi-miyamura juga sudah meyakinkan bahwa itu bukan chef tapi tetap saja Iura yakin dengan pendapatnya sendiri bahwa orang yang bersama senpai ketika hari minggu di Akihabara adalah chef." Cerita Tori takut sambil memegangi ujung bajunya, tertunduk takut melihatku. Ah, ya Miyamuralah satu-satunya orang yang tak terpengaruh dengan gosip itu. Tetapi, kenapa dia tak memberitahuku soal ini ya? Fikirku. Dasar Miyamura!
"Jadi, senpai, apakah benar bahwa kau berkencan dengan chef di Akihabara hari minggu lalu,?" tanya Tori. Aku memukul meja dapur dengan kesal. Tori kaget.
"Tidak! Itu bukan Chef. Lelaki yang bersamaku itu hanyalah seseorang yang mirip chef. Percayalah padaku. Lagipula mana mungkin aku berkencan dengan chef, bukankah chef menyukaimu!" kataku sambil menggoda Tori.
"Senpai! Tolonglah jangan bicara seperti itu..."pelas Tori. Hehe, kasihan juga Tori jadinya. Sepertinya dia memang benar-benar trauma dengan kejadian itu.
"Ya, ya baiklah, baiklah, aku minta maaf." Ucapku sambil terkikik geli.
Jadi, Iura lah yang menyebar gosip itu ke semua koki di dapur. Pantas saja Haruka mengucapkan selamat padaku, dan waktu itu Iura juga bingung katanya kan? Wah, aku jadi tahu bahwa berjalan dengan Yuuta bisa mengakibatkan kesalahpahaman seperti ini. Iura melihatku sewaktu di Akihabara rupanya. Mattaku, aku bahkan sampai tidak sadar bahwa dunia ini begitu sempit untuk berkencan dengan aman dengan orang yang kita sukai. Aku tak mawas diri, aku tak menyadari bisa saja temanku yang lain melihat kami. Sedang mereka tak tahu bahwa yang bersamaku waktu itu adalah Yuuta, saudara kembar Ryuu. Kalau Ryuu sampai tahu akan hal ini, bisa jadi masalah yang rumit. Hmm..sepertinya aku harus memberi pelajaran pada Iura dan memaksanya untuk menjelaskan bahwa yang dia lihat itu bukan Ryuu! Awas kau Iura!
Akhirnya hari ini datang juga. Aku mencegat Iura yang saat itu sedang bergurau dengan Teguchi dan Kei di parkiran dekat dapur. Iura sedikit kaget dan takut bahkan mencoba kabur. Tapi aku mengejarnya dan berhasil menariknya ke parkiran meski Teguchi dan Kei berhasil kabur.
"Ampun, Hinamori-san. Aku tak bermaksud...aku hanya mengatakan apa yang aku lihat!" teriak Iura.
"Ah, diam kau!" bentakku kesal.
"ta-tapi Hinamori-san...."
Aku menghela nafas kesal, mencoba menenangkan diri.
"yang kau lihat itu bukan chef." Kataku.
"Masa'? tapi, dia mirip sekali dengan chef hanya saja dia memakai kacamata waktu itu, kan?"
"Mattaku~" aku memegangi kepalaku lagi, tak tau harus bagaimana menjelaskannya ke Iura. "Well, baiklah. Ini rahasia dan kau jangan mengatakan pada siapapun."
"Ha? Jadi benar kau berkencan dengan chef????"
"Bukan! Bukan itu yang mau aku katakan, Iura!"
"Orang yang bersamaku sewaktu di Akihabara adalah Yuuta, dan dia adalah saudara kembar Ryuu yang apartemennya tepat bersebelahan dengan apertemenku. Lagipula, aku dengan Yuuta saat itu bukan dalam rangka kencan, aku hanya menemaninya untuk bertemu dengan seseorang. Dan soal dia menggenggam tanganku, itu karena sebelumnya aku tersesat di Chuo Dori..sudah jelaskan sekarang...?"ceritaku sambil menahan nafas. Akhirnya kau cerita juga ke Iura. Iura melongo sesaat.
"Oh..jadi begitu. Itu saudara kembar chef, pantas garis wajahnya sedikit berbeda." Gumam Iura sambil sedikit berfikir. "Oke, baiklah aku akan menjelaskan itu pada yang lainnya besok," lanjutnya tanpa merasa bersalah.
"Ha tidak-tidak-tidak. Kau tidak bisa mengatakan itu pada yang lain. Itu cukup rahasia antara aku, kau dan Miyamura. Kalau chef sampai tahu tentang ini aku bisa dibunuhnya! Dan kalau besok aku mendengar bahwa kau mengatakan pada yang lain bahwa chef punya kembaran, aku akan membunuhmu..." ancamku dengan wajah mengintimidasi.
"Huwaah..Hinamori-san, kau sadis sekali! Jadi bagaimana aku harus menjelaskannya pada mereka....?" teriak Iura, galau.
"ya, itu kau yang harus menjelaskan sendiri dengan caramu tapi jangan membuka rahasia. Kan kau yang mulai menyebar gosip ini sampai aku merasa tak nyaman di dapur bahkan chef.!" Omelku.
"Ya, ya...baiklah-baiklah, Hinamori-san. Maa~ mendokusei na," keluhnya.
Setelah itu, Iura pulang dengan wajah lesu dan sudah ditinggal jauh oleh Teguchi dan Kei. Bahkan mungkin mereka sudah sampai rumah masing-masing. Aku menghela nafas lega. Yokatta~ semuanya sudah selesai. Aku harap besok kembali normal.
Akupun mulai berjalan menuju gerbang keluar dari belakang resto yang tak jauh dari parkiran tempat aku mengintimidasi Iura.
"Baru pulang?" sesosok pria berpakaian putih tiba-tiba sudah berdiri bersandar diluar pagar.
"Huwaaaah.." aku kaget bukan main melihat itu.
"Apa-apaan kau sampai terkejut begitu. Aku bukan hantu!" katanya dengan cool. Aku mengatur nafas, mencoba menenangkan diri. Ternyata hanya Ryuu. Lagipula ngapain juga dia malam-malam begini belum pulang dan malah bersandar di pagar belakang. Menakuti saja! Dasar menyebalkan!
"Jadi....seperti yang ku dengar...apa benar kau berkencan dengan Yuuta?" tanyanya datar.
Aku kaget mendengar pentanyaan itu. Astaga, ternyata dia mendengarkan semua pembicaraan aku dan Iura! Gawat itu artinya dia mendengar bahwa Iura dan Miyamura sudah mengetahui tentang bahwa Ryuu punya saudara kembar. Gawat, aku bisa dibunuh sama chef monster gila ini!
"Ah, iya..aku berkencan dengan Yuuta waktu hari minggu itu, ah, bukan berkencan sih sebenarnya, hanya menemani dia membeli asesoris anime dan bertemu dengan seseorang," ceritaku sambil menunduk takut.
"Sedikit mengejutkan!" katanya dengan datar tanpa beranjak dari pagar itu, "dari awal, aku kira kau dan Miyamura ada hubungan spesial, tapi setelah aku mendengar pembicaraan kalian ketika di Senbon Torii aku sedikit lega, tapi ternyata aku malah sangat terkejut ketika tadi aku dengar bahwa kau bersama Yuuta di Akihabara." Lanjutnya lagi.
Hah? Apakah ini sebuah pengakuan bahwa dia mengikuti aku dan Miyamura ketika ngobrol di sepanjang Senbon Torii waktu itu? Pantas saja waktu itu Miyamura merasa ada yang mengikuti kami, ternyata Ryuu rupanya. Wah, sedikit mengejutkan jika Ryuu punya tabiat menjadi stalker begitu.
"Aku tak peduli pertanyaanmu mengapa aku mengikuti kalian ketika di Senbon Torii, dan aku tak peduli apa kau berkencan dengan Yuuta atau tidak," kata Ryuu lagi yang selalu tahu isi kepalaku, "Tapi..." Ryuu mendekatiku dengan wajah menyebalkan itu, tapi ah, mendadak kakiku tak bisa bergerak. "aku ada satu pertanyaan, seberapa besar rasa sukamu pada Yuuta?" lanjutnya sambil berhenti tepat di hadapanku.
Mendadak aku gemetar. Bukan karena takut pada Ryuu tapi pertanyaannya barusan itu.... Dia bertanya seberapa besar rasa sukaku pada Yuuta bukan bertanya apakah aku menyukai Yuuta. Bukankah itu artinya dia sudah menyadari perasaanku pada Yuuta? God, aku harus jawab apa?
"Kau tidak dengar pertanyaanku?" suara kali ini lebih tegas. Aku mencoba menenangkan diriku. Ah, tidak-tidak! Ini bukan urusan Ryuu. Memangnya kenapa jika aku menyukai Yuuta. Apa pedulinya. Kenapa aku harus takut pada Ryuu. Ini hak ku untuk menyukai Yuuta!
"Aku sangat menyukai Yuuta!" jawabku sambil mengangkat wajah menatap ke arah matanya, mencoba tegas sambil menahan sakit di dadaku. Tapi, oh my god, aku ingin menangis rasanya mengatakan hal ini.
Kulihat sedikit ekspresi terkejut di dalam matanya yang tajam. Lalu dia memegang puncak kepalaku dan mendekatkan wajahnya ke samping wajahku.
"Dengar, tidak peduli sebesar apa perasaanmu pada Yuuta, kau harus segera mengakhiri perasaanmu sebelum kau terluka lebih jauh." Bisiknya dengan ekspresi dingin.
"Hah?" aku bahkan tak bisa berkata apa-apa. Well, wangi parfumnya...membuat jantungku berdetak lebih kencang. Tapi, kenapa?kenapa Ryuu mengatakan bahwa aku harus mengakhiri perasaanku pada Yuuta? Kenapa? Apa Yuuta playboy? Apa Yuuta sudah bertunangan dan segera menikah? Well, aku tak tau pasti. Ryuu benar-benar menyebalkan sekali. Pernyataannya barusan malah semakin membuatku kesal. Siapa rupanya Ryuu sehingga dia bisa melarangku untuk menyukai Yuuta. Aku bahagia dengat Yuuta, dan aku kesal dengan segala omongan Ryuu. Keh! Kusso!
"Akhiri perasaanmu dengan Yuuta atau kau akan terluka dan menangis. Aku tak suka melihat orang menangis, kau mengerti kan, Hinamori!"
"Damare!" teriakku lantang sambil mendorong bahu Ryuu sampai dia menjauh dariku. Dia sedikit kaget dengan tindakanku barusan. Spontan saja aku bergerak mendengar kata-katanya barusan dan tanpa sadar aku menangis.
"Hey, hinamori!" panggilnya bingung. Aku terus berusaha menahan airmata ini dengan terus menghapus air mataku dengan punggung tanganku.
"Memangnya kau siapa berani menghalangiku untuk menyukai seseorang.? Kau bilang kau tak suka melihat orang lain menangis, kau bilang aku harus menjauhi Yuuta agar aku tidak terluka. Tapi kenyataannya berbanding terbalik. Sebenarnya kau adalah orang yang selalu membuat aku menangis dan terluka. Kau orangnya! Bukan Yuuta! Justru saat bersama Yuuta aku merasakan kenyamanan. Aku bisa merasakan kebahagiaan. Jadi jangan salahkan aku jika perasaanku semakin hari semakin tumbuh lebih besar untuknya.! Kau menyebalkan, Ryuu! Kau menyebalkan!" ujarku sambil menahan sakit didadaku. Kemudian aku berlari pulang, menjauh darinya. Aku tak ingin melihat nya lagi, aku tak ingin bertemu dengannya lagi! Bahkan saat dia memanggilku berulang kali, aku tak berhenti. Aku berlari pulang..dan terus saja menangis malam itu.
...
NB: What happen Aya naooon?