
Ingat Lee Yoo Na? Wanita pesolek ini memang tidak pernah berhenti mengejar Ryuu. Debutnya di Jepang sudah mulai bersinar. Dan dia dengan seenak hatinya, hampir setiap hari mampir ke Yukahashi International Resto hanya untuk mengganggu Ryuu. Dia akhirnya mengetahui bahwa Ryuu hanya berpura-pura mencium Tori di dapur waktu itu. Dia yang bertanya langsung dengan Tori.
.
.
"Nee kimi!"(*hei kamu)
Mendengar panggilan itu Tori langsung menoleh kaget begitu di dapatinya wajah wanita tempo hari yang tiba-tiba di dapur dan membuat Ryuu menciumnya.
Tori merasakan kakinya bergetar begitu wanita ini mendekatinya dengan wajah dingin.
"Kamu...apa sebenarnya yang terjadi antara kamu dengan Ryuu?"
"Ti-ti-tidak ada yang pernah terjadi antara sa-saya dengan chef."
"Jadi kenapa waktu itu Ryuu menciummu?"
Tori terhenyak mengingat kejadian itu. Dia tahu jika chef Ryuu hanya akting dan dia bahkan meminta maaf kepadanya secara langsung serta memohon untuk merahasiakan hal ini pada orang lain kecuali Hinamori yang saat itu menemani chef ke rumahnya.
Tidak! Dia tidak mungkin membocorkan hal itu pada Lee Yoo Na sebab chef melakukan itu padanya hanya untuk menjauhkan wanita ini dari hidup chef.
"Yappari, ternyata memang ada yang kalian sembunyikan dari hubungan kalian." Gumam Yoo Na dengan mata menyipit menatap Tori curiga.
"Ti tidak ada yang kami sembunyikan. Ka-kami sa-saling mencintai." Saat itu perut Tori mendadak mulas. Entah karena geli atau harus pura-pura merona ketika ia mengatakan itu.
"Usotsuki!"(*pembohong) Yoo Na menggebrak meja dan mencengkeram kerah baju Tori.
Tori pucat pasi menghadapi Yoo Na. Tidak menyangka aktris cantik ini menjadi seperti hewan buas karena Ryuu.
"Jika kau tidak jujur aku akan membunuhmu." Ancam Yoo Na.
Akhirnya Tori tidak punya pilihan lain.
.
.
Hinamori yang kisah cintanya dengan Ryuu masih dirahasiakan hanya ngelus dada melihat Yoo Na. Cemburu sudah pasti. Namun, demi menjaga privasi Hinamori memilih tutup mulut.
Sudah dua bulan Hinamori dan Ryuu berpacaran dan berhasil menyembunyikan status mereka berdua. Dan hari ini adalah kali kesekian Yoo Na berkunjung ke Yukahashi International Resto untuk memastikan bahwa Ryuu belum punya pacar.
"*Otsukare~" ucap para anggota team koki Jepang bergantian.(*terimakasih atas kerjasamanya hari ini)
"Otsukare..." sahut Hinamori pelan sambil masuk ke dalam loker ganti. Dia tak bersemangat hari itu.
Tak lama Haruka, Orihime dan Junichi menyusul.
"Mimi-chan? Daijoubu desuka oi...?" Tanya Haruka. (*apa kau baik-baik saja)
"Daijoubu~ (*aku baik-baik saja)" jawab Hinamori lesu.
"Daijoubu apanya? Lesu begitu. Kau cacingan?"
Akhirnya Hinamori mendelik ke arah Haruka.
"Aku sedang tidak mood hari ini." Hinamori menutup loker dan bergegas pulang. "Aku duluan."
Ketiga temannya hanya memandang Hinamori cemas. Tidak biasanya gadis itu bersikap seperti itu.
Gontai Hinamori berjalan dari belakang resto. Namun, seseorang telah menunggunya di gerbang belakang.
"......" dia hanya memandang sosok yang tersenyum itu tanpa tersenyum.
Entah kenapa dia enggan bertemu sosok itu hari ini. Hinamori membalikkan badan. Pergi ke pintu gerbang satunya lagi meski akan memakan waktu untuk sampai ke halte.
"Mimi-chan, matte kudasai!(*tunggu sebentar)" Sosok itu mengejar Hinamori. Hinamori berhenti dan sosok itu berhasil mengejarnya.
"Kau ini kenapa?" Tanya nya.
Hinamori tak menjawab. Dia hanya melirik sosok itu sebentar lalu bermaksud melangkah.
"Mimi-chan...." dia berhasil menggenggam pergelangan tangan Hinamori.
"......"
"Hanase...(*lepaskan aku)" kata Hinamori lagi.
"Mimi-chan...apa jangan-jangan kau cemburu?"
Hinamori langsung melepaskan diri dari sosok itu dan berjalan cepat.
Baka! (*bodoh) Masih bertanya lagi dia. Sudah jelas aku seperti ini karena dia. Dasar laki-laki tidak peka!
"Mimi-chan!" Sosok itu kembali berhasil menyusul Hinamori dan kaget saat melihat air mata gadis itu sudah menetes di pipi. Dia lalu membelai rambut gadis itu dan menenggelamkan kepalanya dalam pelukan nya.
"Maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku..." ucapnya dan bahu gadis itu semakin berguncang pelan.
Sementara itu disisi yang lainnya, Yoo Na bersandar sambil mendengarkan mereka. Entah rencana apa yang akan dia lakukan setelah mengetahui hubungan Ryuu dengan anggota kokinya sendiri.
.
.
.
Seminggu, entah kenapa Yoo Na tidak pernah ke Yukahashi International Resto lagi. Ryuu agak curiga meski sedikit lega karena wanita itu tidak mengganggunya lagi hingga Hinamori kembali bekerja dengan senyum. Senyum yang selama ini sangat Ryuu rindukan.
Musim dingin akan berakhir sebulan lagi. Meski daerah Tokyo dan sekitarnya sesekali turun salju tetap saja terkadang dinginnya sampai menusuk tulang.
Hari itu Hinamori yang mood-nya mulai baik, menarik perhatian teman-temannya, tidak terkecuali Miyamura. Diam-diam dia merasa memang ada sesuatu yang terjadi antara Chef Ryuu dengan calon kakak iparnya itu.
"Tadaima~(*aku pulang)" ucap Hinamori ketika sampai di apartemennya.
"Okaerinasai,Nee-san. (Selamat datang kembali, kak)" Sambut Uta yang duduk di Kotatsu sambil menonton siaran televisi.
"Brrrr...samui(*dingin)..." Hinamori menggesek-gesekkan tangannya dan langsung memasukkan kakinya dalam kotatsu. (*meja penghangat)
"Nee-san, kau harus mandi dulu." Nasehat Uta.
"Moo~ dingin. Males ah!" Tolak Hinamori lalu menyeruput coklat panas yang di sajikan Uta.
Hinamori melirik adiknya sekilas yang sedang asik nonton.
"Uta...kau agak pucat hari ini."
"Eh? Hontou desuka?(*benarkah) Ah~ mungkin karena hari ini banyak tugas."
"Sebaiknya kau istirahat saja. Makan malam biar aku yang masak."
"Hmm...aku baik-baik saja kok, nee-san."
"....."
Hinamori tidak merasa Uta baik-baik saja. Ada pucat yang tidak biasa yang terbias di wajah Uta. Ah...semoga Uta baik-baik saja.
.
Esok harinya Hinamori berencana berhibernasi. Ya karena hari ini libur. Di musim dingin ini yang paling enak adalah menghabiskan waktu dikasur sambil mendengarkan lagu-lagu Band One Ok Rock. Jika dia tidak lebih malas lagi, mungkin dia akan membuat ramen.
Uta juga libur tapi dia berencana berbelanja hari itu. Hinamori merasa wajah Uta semakin mengkhawatirkan.
"Uta...kau semakin pucat. Sebaiknya kau dirumah saja. Biar aku yang berbelanja." Kata Hinamori sambil memakan sarapannya. Uta yang sedang mencuci piring di wastafel hanya tersenyum.
"Aku baik-baik saja, nee-san."
"Tidak. Kau sama sekali tidak baik-baik saja. "
"Nee-san...."
"Sekali ini tolong dengarkan aku!" Hinamori berbicara pelan namun tegas membuat Uta sedikit takut. "Biar aku yang pergi belanja."
"H-hai.." sahut Uta pelan.
.