
Setelah kejadian malam itu, aku kembali menjadi asisten dapur karena Tori tak masuk kembali sejak hari itu. Astaga, kenapa semuanya jadi begini. Chef gila ini memang benar-benar gila. Jika memang dia melakukan itu supaya Yoo Na menjauhinya, seharusnya dia minta maaf pada Tori setelah itu. Ini bahkan dia tidak bertanya kenapa Tori tidak masuk. mengesalkan sekali manusia satu ini! Gara-gara dia aku menjadi asisten dapur. Arghh, kusso! Aku meremas spons ditanganku sampai kering sebagai tanda kekesalanku mengingat semua kejadian ini. What a pain!
"Hey!" sebuah suara lengkap dengan sebuah pukulan kecil dikepalaku menyapaku. Aku menoleh kesal. Anak ini, apa dia tidak takut jika aku tak mengizinkannya lagi mendekati Uta?
"Huh?" responku bingung.
"Huh apa? Apa huh mu itu?" Yabai! Aku kira dia Miyamura. Hah, yasudahlah. Ignore saja. Akupun berbalik lagi menghadapi tumpukan piringku. Aku kesal melihat mukanya.
"Kau marah?" terkanya.
"Aku tidak marah, aku hanya kesal."
"Ow...begitu" Ryuu mendekatiku dan menyandarkan dirinya di lemari dekat tempat cucian piringku sambil memegang sendok sayur pengaduk kaldu. Apa-apaan dia menggunakan sendok itu untuk memukulku?
"Aku mencoba apa yang Miyamura lakukan kepadamu, ternyata menyenangkan juga!" lanjutnya seolah tahu apa yang ada di benakku.
"Menyebalkan!" umpatku menahan emosi. "Kau bukannya meminta maaf pada Tori setelah kejadian semalam, malah pergi ke dapur dan menggangguku. Ini semua kan karena mu. Jika kau tidak melakukan hal menjijikkan itu pada Tori aku pasti tidak akan berada diposisi menyedihkan ini!" omelku tanpa ampun. Ryuu sedikit terkejut mendengar omelanku. Hening sejenak.
"Well, kenapa kau tak coba membantuku?" ujar Ryuu. Aku menatap Ryuu heran. Dia lalu mendekatiku. "Tolong bantu aku. Aku hanya sedikit tertekan." Lanjutnya dengan datar.
"Hey, itu perintah atau permohonan?" tangkisku.
"Permohonan," Ryuu tak menatap mataku. Huh, dasar gengsian.!
"Okay, besok aku akan kerumah Tori. Kau juga ikut, Chef." Ryuu tak menjawab, hanya mengekspresikan tanda mau tak mau tapi mau.
"Tadaima,"ucapku lemas ketika memasuki apartemen.
"Ha...okaerinasai, Onee-chan." Sambut Uta
"Okaerinasai, Hinamori," timpal satunya. Ah, aku baru sadar ternyata ada Yuuta juga. Dia pasti menemani Uta sejak tadi. Sedikit agak trauma sih melihat wajah Yuuta karena mirip dengan Ryuu.
"Onee-chan, daijoubu desuka?"tanya Uta khawatir melihat wajahku yang kusut.
"Tak apa, Uta. Aku hanya sedikit kelelahan." Jawabku sambil berjalan.
"Memangnya apa yang di lakukan Ryuu padamu sampai kau kelelahan?" timpal Yuuta ingin tahu.
"Ah, yokatta," responnya sambil tersenyum. Astaga, aku tak tahan melihat senyum menggemaskan itu. Ya setidaknya menenangkanku karena aku memang tak pernah melihat Ryuu tersenyum, jadi melihat senyum Yuuta seolah seperti berkat yang tak ternilai.
"Kami menunggu onee-chan untuk makan bareng." Kata Uta.
"Ini bahkan sudah malam sekali. Seharusnya kalian makan lebih dahulu." Kataku.
"Ah, kami juga baru pulang kok." Tambah Yuuta.
"Itadakimasu!" ucap Uta. Mattaku~ aku bahkan tak dikasih kesempatan menjelaskan. Tapi yasudahlah. Itadakimasu!
Usai makan, sejenak kami bertiga berbincang tentang pekerjaan hari ini. Sejenak terlupakan semua kejadian di dapur melihat kebersamaan ini. Aku beruntung memiliki tetangga seperti Yuuta. Dia sangat perhatian dengan kami. Mungkin Uta sudah cerita pada Yuuta tentang kenapa dulu aku bersikap ketus kepadanya. Bahkan Uta bekerja di sebuah toko manga untuk membelikan ku sebuah smartphone sebagai hadiah ulang tahunku , Yuuta lebih dahulu tau. Well, Yuuta seperti sudah seperti keluarga. Dia sangat hangat. Itu yang membuatku nyaman bersamanya.
Keesokan harinya, aku pergi ke resto seperti biasa. Ryuu sangat pendiam hari itu. Wajahnya galau tapi, dia masih bisa berteriak lantang jika seorang koki melakukan kesalahan. Benar-benar berwibawa sekali lelaki satu ini. Tapi tiba-tiba aku teringat kejadian malam itu, waktu dia mencium Tori. Ah, tidak-tidak-tidak. Berwibawa dari mana sih? Jangan-jangan sikap kerasnya yang ditunjukkan selama ini hanya untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dia gay. Ih, benar-benar trauma sekali aku dibuatnya malam itu. Tori pasti lebih parah. Aku akan menemui Tori setelah selesai semua pekerjaan ini.
Malam hari pun tiba. Aku sudah selesai mencuci piring dan mengganti baju. ini waktunya aku ke rumah Tori, tapi eh? Chef sialan itu kemana.? Aku melangkah keluar, dan mendengar sebuah deheman di dekat parkiran. Ah, dia disitu rupanya. Kemudian dia mendekatiku.
"Sudah tidak ada siapa-siapakan?" tanyanya waspada.
"Sudahlah, chef tenang saja, tidak akan ada yang mengikuti. Mesti pakai topi segala lagi," kataku sambil mengejeknya karena penampilannya. Dia memakai jeans, jeket dan topi. Malah kelihatan makin mencurigakan menurutku.
Tak lama, kami sampai di rumah Tori. Ibunya yang membukakan pintu, dan beliau memanggilkan Tori. Kami menunggu diluar. Semenit kemudian, Tori datang dan melihat kami, tapi...Tori menjerit seperti melihat hantu ketika melihat Ryuu. Dia ingin masuk ke dalam tapi, aku langsung menarik bajunya dan menutup mulutnya.
"SShhhh!" kataku sambil menekankan jari telunjukku di bibirnya sambil meremas kerah bajunya. Kami membawa Tori ke samping. Tori sangat ketakutan. Bisa ku rasakan tubuhnya gemetaran ketika melihat Ryuu tapi wajahnya merona. Ah entahlah. Aku tak mengerti.
"Ryuuta Hiroshi, aku tak bisa menahannya lagi. Aku harap kau segera minta maaf. Dan menjelaskan semuanya." Kataku sambil menekan setiap kata-kataku juga terus meremas keraa baju Tori dan menahan gerakannya. Ryuu tertunduk mendekati Tori.
"Sebagai Chef, aku sangat menyesal melakukan itu hanya untuk menakuti Yoo Na. Aku...hanya tidak bisa berfikir saat itu. maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu jadi trauma. Dan satu hal, aku ingin kau tetap bekerja di resto dan membantu Hinamori. Tak apa jika kau mengabaikanku karena tidak nyaman. Aku sangat berharap kau besok kembali bekerja. Tolong..." kata Ryuu serius sambil membungkuk. Aku tersenyum. Hmm, lelaki ini...benar-benar memukau. Dia benar-benar meminta maaf.
"Ba-baiklah, Chef," kata Tori pelan sambil tertunduk dan tak ada lagi perlawanan. Aku melepaskan tanganku darinya. "Aku juga minta maaf, karena tidak masuk hari ini. " lanjutnya.
"Dan aku harap ini tetap jadi rahasia kita bertiga! Yosh!" kata Ryuu sambil menepuk kepala aku dan Tori bersamaan. Hmm...akhirnya semua kembali seperti semula. Yokatta! Ya, dan ini akan tetap menjadi rahasia. Tapi jujur saja, aku juga tidak sanggup jika disuruh menceritakannya ke orang lain. Lebih baik dilupakan!
😊😊😊