
Author's PoV
Seorang pemuda mirip Ryuu tampak memijit dahi dimeja kerjanya. Dia menghela nafas sejenak sambil menyandarkan punggungnya dikursi. Kemudian ia melepaskan kacamatanya dan beranjak dari sana setelah menyimpan rekapan manga yang ia edit.
Ia mengambil sekaleng kopi dari showcase dan melangkah ke balkon gedung. Ia melonggarkan dasinya dan mulai menikmati kopinya sambil memandangi kota Shinjuku dari sana.
.
"Kita berpisah saja. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini." Lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu tampak dingin.
"...." sementara lelaki berkacamata itu hanya diam menahan sesak dihatinya.
"Aku tidak akan menemuimu lagi." Lelaki itu berbalik hendak meninggalkannya.
"ARAI!" Akhirnya lelaki berkacamata itu berteriak dan lelaki yang bernama Arai itu berhenti.
"Jika kau kesepian, dan...tidak ada tempat untuk kembali, k-kau --- silakan kembali padaku." Kata lelaki berkacamata itu.
"Kau menyedihkan sekali,Yuuta."
.
.
.
Aku rasa aku memang begitu menyedihkan. Batin Yuuta lalu membuang kaleng kopi yang telah kosong ke tempat sampah.
Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menatap gantungan kuncinya secara naluriah. Ia langsung tersenyum melihat ganci itu dan ingatannya tertuju pada Hinamori, tetangga disebelah apartemennya dahulu.
Sesaat ia merasa rindu pada Hinamori dan Uta. Dia juga terbayang wajah Ryuu dan merasa bersalah karena tidak memberitahunya bahwa ia pindah apartemen. Sepertinya ia akan mengunjungi Hinamori besok. Kebetulan ia libur. Yuuta tak sabar menantikan pertemuan itu.
.
.
.
Yuuta akhirnya sampai ke apartemen Hinamori dan menekan bel. Namun, ia agak terkejut karena yang membuka pintu bukanlah Hinamori atau Uta.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Kata si pembuka pintu seorang ibu berumur 30an.
"Maaf, Hinamorinya ada?" Tanya Yuuta.
"Ah maaf, Hinamori-san tidak tinggal disini lagi sejak adiknya meninggal. Dia menyewakan tempat ini pada saya." Jelas si ibu.
"A-a-apa? U-uta sudah meninggal?" Yuuta menatap si ibu tak percaya.
"Sudah tiga bulan yang lalu. Saya dengar Hinamori dipecat dari tempatnya bekerja setelah itu ia menyewakan tempat ini pada saya."
"Apa anda tau Hinamori ada dimana sekarang?"
Si ibu menggeleng. "Hinamori tidak memberitahu saya. Tapi jika anda ingin tau, mungkin ibunya mengetahuinya."
"Ba-baik, Nyonya. Terima kasih sudah memberitahu saya."
Yuuta beranjak dari apartemen itu dan menghela nafas. Yuuta tak percaya jika selama ia tak disini banyak kejadian yang tak terduga. Hinamori, Yuuta tak menyangka kau mengalami hal yang sulit saat ini. Dan Ryuu...apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Hinamori...?? Namun, yang paling penting sekarang ialah bagaimana menemukan Hinamori. Sepertinya Yuuta memang harus menemui ibu Hinamori.
.
.
.
Keesokan harinya, sebelum pergi menemui Nyonya Urukawa, Yuuta mampir sebentar ke daerah Akihabara. Ia mampir ke Manga Kissaten untuk melepas gugupnya.
***
Kei, Iura, Teguchi dan juga Tori sudah berencana mejeng ke AKIHABARA hari Minggu ini. Mereka memilih Manga Kissaten untuk beristirahat. Kan lumayan bisa baca manga sambil ngemil.
Yuuta menoleh ke arah pintu ketika melihat keempat lelaki keren memasuki manga Kissaten. Mereka duduk di meja di belakang Yuuta. Yuuta melanjutkan aktifitasnya. Minum latte sambil membaca manga.
"Haaah...memikirkan hari esok saja rasanya sakit sekali." Salah seorang dari mereka tampak mengeluh. Ia Iura.
"Melihat dapur tanpa Miyamura dan Hinamori rasanya sangat tidak menyenangkan." Tambah seorang lagu, Teguchi.
"Mana lagi Chef Ryuu moodnya buruk terus. Kita terus jadi korban amarahnya." Celoteh Kei.
"Mungkin Chef tertekan karena Lee Yoo Na dan ibu direktur kita yang baru." Timpal Tori.
"Ah ya... Direktur baru kita itukan ibu kandungnya Chef..." Sambut Kei.
Yuuta yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka kaget. Ia berbalik sambil menarik kursinya untuk bergabung bersama para lelaki yang duduk di belakangnya.
"Maaf...boleh aku bergabung?"
Kei, Iura, Teguchi dan Tori tak kalah kaget melihat wajah pria yang tiba-tiba ingin bergabung bersama mereka itu. Secara naluriah mereka langsung berdiri.
"Chef!!" Pekik mereka hampir serentak.
"Maaf kan kami,kami tidak bermaksud--"
"Chotto matte." Potong Yuuta. Mereka berempat terdiam saling pandang. "Namaku Yuuta, dan pekerjaanku editor manga. Bukan Chef."
"Tapi kau mirip sekali dengan Chef Ryuu." Kata Kei.
"Ryuu? Ah.... itu adik kembarku."
"Itu artinya kau yang waktu itu ku lihat bersama Hinamori di Akiba?" Iura menambahi. "Aku tak percaya ternyata Hinamori tak berbohong soal kembaran Chef."
Yuuta tersenyum mengiyakan.
"Ngomong-ngomong, kalian koki karyawan Ryuu ya?" Tanya Yuuta.
"Iya." Jawab ke empat laki-laki itu.
"Maafkan aku tiba-tiba mengagetkan kalian. Aku ingin bergabung karena aku mendengar kalian membicarakan tentang Hinamori dan ibu direktur. Boleh aku mendengarnya langsung dari kalian apa yang terjadi sebenarnya? Ngomong-ngomong, kenapa kalian masih berdiri?"
Keempat lelaki yang mengaku-ngaku tampan itu duduk kembali dan menceritakan apa yang terjadi. Tentang kematian Uta, tentang Lee Yoo Na, kedatangan direktur yang baru dan pemecatan Hinamori.
Yuuta menyadari sesuatu tentang Hinamori dan Ryuu. Ada yang janggal jika tiba-tiba Ryuu memecat Hinamori. Bisa ditebak nya jika ini adalah dari tekanan ibunya. Tapi apa yang membuat ibunya memaksa Ryuu? Apa ada hubungan khusus yang terjadi antara Ryuu dan Hinamori hingga ibunya tidak menyukainya?
Aaargh, sepertinya Yuuta harus menemui Ryuu! Tapi sebelumnya ia harus menemui Minami Urukawa.
.
.
.
Yuuta's PoV
Ryuu tampak kaget saat membuka pintu apartemennya dan menemukan ku di depan pintu. Aku juga tak kalah kaget melihat dirinya yang amburadul.
"Ah, kau rupanya? Masuklah." Ujar Ryuu datar. Aku masuk ke apartemennya dan melihat betapa berantakannya ruangan ini.
"Duduklah, akan ku buatkan teh."
"Terimakasih. Tapi sepertinya aku harus bersih-bersih sebentar. Aku tak bisa duduk santai sambil melihat ruangan yang berantakan seperti ini." Tolakku.
"Hmmm...lakukan sesukamu." Ryuu mengabaikan ku dan pergi ke dapur. Aku mengambil sapu dan kemoceng dan mulai membersihkan ruangan ini.
.
.
.
"Soal itu maaf. Karena aku pikir aku telah menemukan cinta sejati ku, aku pikir tidak terlalu penting untuk memberitahumu."
"Penting tidak penting harusnya kau beritahu aku. Aku ini saudaramu."
"Tapi apa tidak apa-apa aku memberitahumu? Apa kau tidak takut ibumu mengetahui kau masih berhubungan dengan ku? Aku dengar dia jadi direktur diresto tempatmu bekerja."
Ryuu menatapku sedikit kaget tapi kemudian dia ngeles.
"Dia juga ibumu."
"Tapi dia sudah membuangku lho."
"Ck kau ini." Ryuu memutar bola matanya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau memecat Hinamori?"
"Ah...aku tak menyangka kabar ini bisa sampai ke telingamu." Keluh Ryuu tanpa memberikan jawaban.
"Ryuu...kau belum menjawab pertanyaan ku." Protes ku.
"Kau sudah tau jawabannya. Aku yakin itu."
Aku tersenyum mengiyakan. "Jadi benar karena ibu direktur mu yang baru itu?"
Ryuu hanya mengangkat kedua alisnya. "Kau Taulah sifatnya."
"Kenapa beliau memaksamu memecat Hinamori?"
"Karena Lee Yoo Na."
"Si artis dari Korea itu? Apa hubungannya??" Aku memancingnya, dan sepertinya ia mulai terpancing. "Apa kau...."
"Aku berpacaran dengan Hinamori."
Aku bersiul menggodanya. Dugaanku benar sih tapi aku ingin dengar sendiri dari mulutnya.
"Jadi Lee Yoo Na adalah dalang dari hancurnya hubunganmu dengan Hinamori?"
"Bukan hanya tentang Hinamori. Wanita ****** itu sudah menghancurkan kehidupanku."
Aku menghela nafas. Ryuu pasti merasa sangat tertekan. Namun, selain itu aku juga penasaran sejak kapan Hinamori dan Ryuu berpacaran.
"Aku penasaran sejak kapan kalian berpacaran?" Tanya ku.
Ryuu tersenyum penuh arti. Ia menatapku.
"Sejak ia memergoki mu berciuman dengan teman pria mu di Yoyogi Park pada malam tahun baru." Jawabnya acuh.
"APA????" Aku tak kalah terkejutnya. Aku tak tahu Hinamori juga pergi ke Yoyogi Park waktu itu.
"Bagaimana bisa..."
"Bukan kebetulan ia berada di sana. Hinamori mengikutimu." Jelas Ryuu.
"...."
"Dia menyukaimu."
"...."
"Padahal sudah aku peringatkan bahwa jatuh cinta padamu hanya akan menyakiti hatinya. Tapi ia tak percaya. Ya sudah aku biarkan saja. Aku cukup beruntung karena kelakuan bodohnya mengikuti mu, akhirnya aku mendapat kesempatan untuk mengungkapkan perasaanku."
"Aku benar-benar tak tahu jika Hinamori menyukaiku."sesalku.
"Jika kau menyadarinya, memangnya kau akan membalas perasaannya??"
"Jika itu Hinamori mungkin aku akan berusaha." Aku menyeringai dan mendapat lemparan bantal sofa dari Ryuu. "Tapi itu tidak mungkin, kau sudah lebih dulu mendapatkannya."
"Tapi ia sudah lepas dari genggaman ku."
"Belum."sergahku.
"Aku bahkan tidak tahu dimana ia sekarang."
"Aku tahu." Ryuu menatapku dengan mata menyipit.
"Jangan bercanda."
"Kau benar-benar tidak ingin bertemu dengannya lagi?" Ancamku.
"Aku ingin. Tapi bagaimana bisa aku lepas dari pengawasan Lee Yoo Na dan ibu? Lalu bagaimana dengan pekerjaan ku sebagai kepala Chef. Aku tidak bisa meninggalkan nya begitu saja, Yuu." Ryuu benar-benar terlihat putus asa.
"Bagaimana jika kita bertukar identitas? Aku jadi kau, dan kau jadi aku. Bukankah kita hampir tidak bisa dibedakan?" Usulku. Ide ini memang sudah terpikirkan olehku.
"....kau...bagaimana bisa kau punya ide segila itu. Apa kau siap menanggung beban ku? Jika ibu tahu kau yang menyamar jadi aku, kau tahu apa akibatnya kan?"
Aku menghela nafas. "Kau tidak usah memikirkan aku. Urusi saja hubunganmu dengan Hinamori atau lelaki yang bernama Miyamura itu yang akan menggantikan posisi mu dihatinya. Aku dengar dari ibunya jika lelaki yang bernama Miyamura itu juga meminta alamat Hinamori."
Ryuu terdiam beberapa saat sambil menatapku ragu.
"Kau yakin tidak apa-apa, Yuu?"
"Tidak apa-apa."aku tersenyum ringan. "Aku juga agak merindukan ibumu. Lagipula aku penasaran dengan Yoo Na. Sedikit bermain-main dengan wanita itu sepertinya tidak masalah kan?"
"Tapi apa kau tahu bagaimana menjadi Chef?"
"Aku bisa langsung tahu bagaimana kau memperlakukan anak buahmu dari sifatmu. Sifat kerasmu menurun dari beliau. Hihi."
"Kau ingin membantuku atau mengolok-olok ku?"
"Hahahaha...jangan terlalu kau pikirkan. Aku siap menjadi Chef kejam sepertimu. Aku juga jago memasak. Tolong jangan meragukan kakakmu ini, Ryuu~".
Ryuu menghela nafas. "Baiklah aku setuju dengan ide gila mu ini. Hubungi aku jika kau butuh bantuan. Ini kunci apartemen, ponsel dan dompetku. Didalamnya ada kartu identitas, atm danĀ kartu kredit ku. Aku akan beritahu pin nya."
"Okay..." Aku merogoh kantong dan mengambil dompetku. "Ini punyaku, kunci apartemen ku. Dan ini...."aku melepas kacamata ku. "Pakailah."
Kami bertukar dompet dan kunci apartemen. Ryuu memakai kacamata ku.
"Oh iya, satu pesan ku. Jangan menggoda anak buah laki-laki ku." Pesan Ryuu.
"Baik. Aku juga punya pesan. Jika ada laki-laki bernama Arai datang menemui mu, jangan izinkan ia masuk. Jika kau mengizinkan nya, aku tidak akan bertanggungjawab atas sakit di bokong mu."
"Sialan..." Umpat Ryuu. "Lebih baik aku pindah apartemen lagi."
"Hahahaha."
Setelah memberitahukan alamat Hinamori di Fukui, Ryuu pamit pergi ke apartemen ku.
Ah, aku tak tahu jika Hinamori pernah menyukaiku. Bahkan ia sampai mengikutiku untuk mengetahui dengan siapa aku bertemu di Yoyogi Park ketika malam tahun baru itu.
Itu artinya Hinamori tahu bahwa aku adalah gay. Setahuku meski Hinamori adalah seorang otaku, ia bukan lah fujoshi. Namun, ia masih terlihat baik-baik saja saat melihat atau berbicara kepadaku. Ia tidak terlihat jijik meskipun ia tahu aku penyuka sesama jenis yang sudah mematahkan hatinya meski sesaat. Ya , sesaat. Karena bukankah tadi Ryuu bilang ia sudah berpacaran dengan Hinamori di malam tahun baru. Aku ikut bahagia jika Ryuu akhirnya menemukan cintanya dan itu adalah Hinamori. Sebagai seorang kakak, setidaknya aku harus berkorban untuknya kali ini, meski ibu tidak lagi menganggap ku anaknya, tapi Ryuu tetaplah saudara kandungku.
Semoga berhasil, Ryuu!
*Bersambung*