
[Ryuu's PoV]
Aku akui ide Yuuta sedikit gila. Namun, jika tidak seperti itu aku tidak akan bisa pergi kemana-mana.
Dan akhirnya akupun pergi dengan shinkansen menuju Fukui dari apartemen Yuuta. Sempat kepikiran apa yang sedang dilakukan Yuuta di dapur saat ini. Bagaimana dia menghadapi Lee Yoo Na ya? Ah, seharusnya aku percaya Yuuta bisa menangani itu agar aku bisa fokus untuk menghadapi Hinamori.
Sesampainya di Fukui akupun segera mencari warung ramen yang dimaksud Yuuta. Meski hari sudah cukup larut, sepertinya tidak lama lagi aku akan bertemu Hinamori. Dan benar saja, akhirnya aku menemukan warung ramen milik Hinamori. Sialnya, saat itu Hinamori sedang bersama Miyamura. Miyamura sialan!
"Ryuu?"
Suara Hinamori terdengar kaget melihatku. Tiba-tiba Miyamura melangkah, menghalangi tubuh Hinamori dari pandanganku.
"Pria brengsek sepertimu tidak pantas melihat Hinamori." Ujarnya santai.
"Hey, yang memutuskan hal itu adalah Hinamori, kau ini memangnya siapanya Hinamori ha?" Tantangku
Miyamura terdiam dan perlahan membiarkan Hinamori melihatku. Ah...sudah lama sekali tak melihat dirinya. Aku sangat merindukannya. Namun, tak sedikitpun senyum mengembang di bibirnya. Mungkin aku yang menghapus senyum itu sejak hari itu.
"Hi-hiroshi-san," Hinamori memanggil pelan nama keluargaku. "Hari sudah larut, sebaiknya anda pulang. Jika Lee Yoo Na atau Ibu anda mengetahui hal ini, mereka akan marah padaku."
"Mimi-chan, kau bicara apa? Aku jauh-jauh kemari untuk melihatmu dan kau malah menyuruhku pulang???"
"Anda sudah melihat saya bukan?"
Ya, aku sudah melihatnya. Bodohnya aku ini.
"Aku juga ingin memperbaiki hubungan kita. Aku minta maaf karena memecatmu."
"Yang lalu biarlah berlalu, Hiroshi-san. Aku tidak ingin kembali ke Shibuya. Aku masih butuh waktu. aku hanya...ingin membuka lembaran baru hidupku di sini. Bersama Mi-Miyamura."
Hatiku bagai dihantam ribuan volt listrik saat itu. Apa maksudnya membuka lembaran baru bersama Miyamura.
"Kau dengar itu kan?" Suara Miyamura membuatku sadar.
"Hinamori..."
Hinamori kembali ke belakang Miyamura. Menyembunyikan diri.
"Dia bahkan tidak ingin melihatmu lagi. Sebaiknya kau pulang." Tambah Miyamura.
Aku mengepalkan tanganku. Rahangku mengeras. Rasanya saat ini aku ingin memukul Miyamura. Dia...dia telah merebut Hinamori. Namun,....ku sadari dari awal semua salahku. Dan aku tak menepati janjiku sebagai laki-laki.
Akupun pergi tanpa mengatakan apapun lagi pada mereka. Ya Tuhan...beginikah akhirnya?
.
.
[Author's PoV]
Miyamura memandangi punggung Ryuu yang kian menjauh, lalu berbalik melihat Hinamori. Buru-buru Hinamori menghapus airmatanya.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam." Ujarnya tanpa melihat Miyamura sedikitpun sambil berlalu.
Miyamura menyadari bahwa apa yang ia katakan pada Ryuu hanyalah kebohongan. Nyatanya Hinamori masih sangat mencintai Ryuu. Diam-diam Miyamura merasa bersalah. Hati tetaplah hati, cinta tetaplah cinta. Tak ada yang bisa dipaksakan.
Keesokan harinya, Miyamura pergi tanpa sepengetahuan Hinamori. Lagipun mungkin Hinamori tak akan mencarinya. Begitu pikirnya.
"Are? Miyamura-san kenapa tidak ada disini, Hinamori-san?" Tanya Akane begitu masuk ke warung.
"Ha? Benarkah? Aku kira dia sedang membereskan meja tamu."
Jawab Hinamori.
"Jadi, Hinamori-san tidak tau Miyamura-san pergi kemana?" Tanya Tama.
Hinamori menggeleng. Firasatnya mengatakan jika Miyamura akan meninggalkannya.
.
.
"Sudah ku duga kau belum kembali ke Shibuya." Sapa Miyamura pada Ryuu disalah satu cafe di pusat kota Fukui.
"Mau apa kau menemuiku? Bukankah kau sudah merebut Hinamori?" Sinis Ryuu menatap Miyamura yang tersenyum remeh dan duduk di hadapannya.
"Kenapa kau bisa ke tempat ini? Apa kau tidak takut jika ibumu & Yoo Na mencarimu?"
"Peduli apa kau ini?"
"Jangan keras kepala jika kau ingin Hinamori kembali padamu." Rahang Miyamura mengeras.
"....."
"Dia tidak benar-benar serius mengatakan hal itu padamu tadi malam. Hinamori masih mengharapkanmu."
Ryuu menatap Miyamura takjub.
"Hanya saja dia masih takut jika berhubungan lagi denganmu."
Sejenak mereka saling diam, hanyut dalam fikiran masing-masing.
"Aku bertukar identitas dengan saudara kembarku. Sehingga aku bisa kemari tanpa dicurigai Ibu & Yoo Na." Cerita Ryuu.
"Yappari..." gumam Miyamura. "Apa kalian sudah tau resikonya jika ibumu menyadari bahwa yang mengontrol dapur adalah Yuuta?"
"Aku tidak bisa membayangkannya jika hal itu terjadi. Hey...dari mana kau kenal Yuuta?"
"Aku bertemu dengannya ketika menjemput Uta sewaktu malam tahun baru. Hey, apa Lee Yoo Na tahu bahwa kau memiliki kembaran?"
Ryuu menggeleng. "Sebelum aku ke Jepang aku sudah cukup lama tinggal di Korea dengan ibuku. Lagipula Yuuta tidak pernah dianggap lagi oleh ibuku."
"Kenapa begitu?"
"Dia gay. Dan ibuku homophobic."
"Ah, sou~ maaf"
"Jika memang seperti itu...baiklah."
"?" Ryuu menatap Miyamura heran. Miyamura bangkit.
"Pergilah temui Hinamori sekali lagi. Jika ia menerimamu kembali, aku harap jangan pernah kau lepas lagi atau aku benar-benar merebutnya dari kau. Mengerti?"
"Miyamura..." Ryuu ikut berdiri.
"Aku tidak akan bisa memaksakan hati seseorang dengan siapa dia harus mencintai. Hinamori masih mencintaimu." Miyamura tersenyum simpul. " Aku akan kembali ke Shibuya."
"Tu-tunggu dulu. Kau ini..."
"Tidak ada yang perlu ditunggu. Temui Hinamori sekarang sebelum aku berubah pikiran."
Ryuu terdiam dan akhirnya mengangguk lalu pergi.
.
.
Miyamura meng-online-kan kembali ponselnya setelah dia off kan selama setengah bulan sejak ia tinggal di Fukui. Berpuluh-puluh email dan pesan pun masuk. Yang paling banyak adalah dari Haruka. Dia tersenyum.
"Aku ingin bertemu besok malam setelah kau pulang kerja."
Haruka yang menerima pesan itu langsung melebarkan matanya. Secepat kilat dia menggerakkan jari-jarinya mengetik pesan untuk Miyamura.
"Baiklah. Setelah bertemu denganmu aku benar-benar ingin meninjumu."
Miyamura tertawa kecil membaca pesan Haruka.
.
Haruka menatap garang Miyamura yang saat ini sedang duduk di depannya. Miyamura berusaha berakting se-cool mungkin agar Haruka menghentikan tatapan mautnya.
"Baiklah. Aku minta maaf karena menghilang." Akhirnya Miyamura meminta maaf.
"Yokatta. Akhirnya kau minta maaf. Kalau tidak..." Haruka tersenyum meski masih jengkel.
Miyamura menghela nafas lalu menyeruput latte yang ia pesan.
"Aku sudah bertemu Hinamori. Dia di Fukui, menjadi pemilik warung ramen kecil disana. Sebenarnya itu punya ibunya. Dia...tidak ingin kembali ke Shibuya. Aku rasa tidak akan."
"Hmmm...dia sepertinya masih marah dengan chef Ryuu."
"Aku rasa sudah tidak."
"?" Haruka mengernyitkan alisnya.
"Ryuu...sepertinya sudah berhasil membujuknya. Toh Hinamori memang maih cinta dengan Ryuu."
"Eh? Maksudmu? Ryuu dan Hinamori..."
"Yappari (sudah ku duga), mereka memang merahasiakan hubungan mereka. Kau saja tidak tahu."
"Demo...itsu kara (Tapi sejak kapan?)?"
"Malam tahun baru. Dan Ryuu saat ini dengan Hinamori telah hidup bahagia di Fukui."
"Jangan ngaco. Chef Ryuu kan masih bekerja di......." Mata Haruka melebar. Serpihan-serpihan kejadian ganjil belakangan ini mulai berseliweran di kepalanya dan menemukan titik temu. "Chotto mate (Tunggu dulu). Jadi yang sekarang di Yukahashi bukan chef?"
"Ya...itu kembarannya. Yuuta Hiroshi."
"Aaargh mou~ aku mulai bingung." Haruka mengacak-acak rambutnya.
"Kalau kau bisa merahasiakan nya, aku akan menceritakan semuanya padamu. Apa kau bisa dipercaya.?"
Miyamura menatap Haruka serius.
"Ba-baiklah." Haruka pun mulai mendengarkan cerita Miyamura.
.
.
.
Yuuta tersenyum mendapat kabar dari Ryuu bahwa Hinamori telah memaafkannya.
"Ryuu?" Suara Yoo Na mengagetkannya sedikit. Sesegera mungkin ia menyembunyikan ponselnya.
"A-aah~ Yoo Na, kau? Ada apa?" Sapa Yuuta yang sudah mirip Ryuu dengan senyum ramah.
Yoo Na mengernyitkan alis. "Kau sedikit berbeda akhir-akhir ini Ryuu. Kenapa kau sering tersenyum padaku padahal sebelumnya kau sangat ketus denganku?"
"Eh? Memangnya tidak boleh seperti itu.??" Yuuta balik tanya.
"Bo-boleh sih. Tidak masalah. Hanya saja jadi aneh?"
"Aneh? Saat aku berubah sedikit saja kau mengatakan aku aneh?! Baiklah...."
"?"
"Keluar dari ruangan ku!" Tiba-tiba suara Yuuta meninggi dan membuat Yoo Na kaget. Dengan perasaan tak menentu Yoo Na pun keluar sesaat setelah menatap Yuuta curiga.
Setelah Yoo Na pergi, Yuuta menghela nafas.
"Fuh. Menjadi Ryuu berat juga." Gumamnya.
Yuuta kembali ke dapur dan memeriksa karyawannya. Dia tak menyangka jika Ryuu memiliki karyawan laki-laki yang cukup tampan-tampan. Mungkin itu yang membuatnya betah. Dan dia juga tertarik dengan salah satu lelaki di situ. Tori. Karyawan yang paling muda diantara mereka.
Haruka yang telah mengetahui kebenaran dari Miyamura tak lepas memandangi Yuuta yang berkeliling disekitar karyawan laki-laki. Merasa diperhatikan, Ryuu palsu menatap balik Haruka.
"Apa yang kau lihat?" Seru Ryuu palsu membuat Haruka cepat-cepat menundukkan kepala lalu tersenyum diam-diam. Baginya Chef Ryuu saat ini sangat manis.
#bersambung