Cuisine, Love and Secret

Cuisine, Love and Secret
Everyone is Unique



"Mimi-chan, ambilkan piring saji!" perintah Haruka.


"Hai," jawabku sambil berlari cepat mengambil piring saji.


"Hinamori-san, ambilkan mangkuk itu!" tambah Iura.


"Hai," jawabku sambil mengambil mangkuk saji.


"Mimi-chan, aku butuh pengaduk!" lapor Orihime.


"Ha-hai," balasku sambil bergegas mengambil pengaduk.


"Hinamori-san, bisa kau membantuku mengaduk ini sebentar," kata Miyamura.


"Eh?" responku sedikit bingung, tapi dia terus menatapku,"ha-hai" lanjutku sambil berjalan menujunya dan mengaduk kuah ramen.


"Oke sankyuu," ujarnya kemudian, setelah dia selesai mengisi mangkuk dengan mie dan bahan lainnya. Akupun menyingkir.


Ah, semua pesanan ini seolah tak ada habisnya. Para pramusaji bolak balik ke dapur mengantar daftar pesanan dan Chef monster itu pasti selalu meneriakkan daftar nya. Aku mencoba bersandar di dekat pencuci piring. Tanpa sengaja aku menatap chef monster. Hmm, hari ini dia kelihatan lebih kalem, tapi baguslah, fikirku.


Tukk! Lagi, Miyamura menepuk kepala ku dengan sendok sayur kebanggaannya. Aku memegang kepalaku. Astaga ini bahkan seperti dalam mimpiku.


"Mangkuk!" katanya.


"Ha-hai," jawabku pelan sambil mengambil mangkuk.


Malam pun tiba, satu persatu para koki, dan pramusaji mulai pulang dan aku seperti biasa dengan sampah dan piring-piring kotor. Namun, hari itu Miyamura juga agak telat pulang. Dia masih di dapur ketika aku kembali dari membuang sampah.


"Are? Miyamura-san? Tumben pulang agak lama," sapaku ketika melihatnya masih di meja memasaknya.


"Ah, iya....agak sengaja hari ini. Aku sedikit kasihan melihatmu,' katanya datar.


"Kasihan? Memangnya kenapa? Oh, karena aku di depak jadi asisten? Ah..tak usah sungkan mungkin ini sudah takdir. Uhmm, aku mau mencuci piring, kau pulanglah, lagipula jika monster itu datang, kau akan kena tegur.'kataku sambil menuju tumpukan piring di tempat cucian piring.


"Monster?" tanyanya heran.


"Eheheh, maksudku Ryuu eh, maksudku, Chef Ryuu," aku mulai menghidupkan keran. Miyamura mendekatiku dan mengambil piring.


"Ah, sudah ku bilang jangan." Kataku sambil mengambil piring itu. Miyamura senyap.


"Kau ini aneh," komentarnya.


"Ha? Apa yang aneh? Kalau aku boleh bilang kau juga aneh," balasku.


"Hah?"


"Ya, aneh, karena seringkali kau memukul kepalaku dengan sendok sayur mu itu. kalau dari segi usia, kau itu kurang ajar, karena aku lebih tua darimu 2 tahun."


"Oh benarkah, aku kira kau masih berumur 20 tahun." Katanya sedikit merubah bahasanya menjadi lebih sopan. Sejenak kami terdiam, aku terus saja mencuci piring.


"Tapi, setiap orang itu unik kok. " kataku pelan.


"Unik?"


"Ya, misalnya kau. Kau dengan sendok sayurmu itu. menepuk kepalaku dengan benda itu sesering itu, membuatku paham, bahkan tanpa melihat pun aku sudah tahu itu pasti kau. Lagipula, dengan sendok pengaduk kaldu itu kau kelihatan keren. Itu seolah jadi ciri khasmu." Celotehku.


Miyamura tak menjawab. Dia hanya menatapku yang sibuk dengan piring-piringku.


"Kau juga unik, setelah sekian lama bekerja sedapur denganmu, baru kali ini kita punya waktu ngobrol lebih banyak." Katanya.


Aku sedikit terpikir. Ah, ya memang benar, sejak dua tahun yang lalu aku bekerja disini, aku tak pernah sedekat ini dengan Miyamura. Hanya sekedar mengucap salam selamat pagi ketika bertemu di dapur. Itupun hanya sebatas di dapur. Ditempat lain aku tak pernah bertemu dengannya. Dia juga tidak pernah terlalu banyak omong ketika memasak. Dia terlalu serius.


Aku sampai di apartemen dan langsung disambut dengan sebuah sapaan.


"Ah, konbanwa Hinamori-san!" sapa Yuuta dengan ramahnya sambil bersandar di tembok balkon. Aku tak menjawab, malah memperhatikan penampilannya. Lengan kemeja biru pucatnya sudah tergulung, kancing atas juga sedikit terbuka, dasi juga sudah meler, dan dia tidak memakai kacamata.


"Aku baru pulang kerja, masih malas mandi. Tadi aku sempat berbincang dengan adikmu. Dia baik sekali." Ceritanya seolah mengerti atas tatapan mataku.


"Eh?" responku sedikit kaget.


"Kau juga suka One Ok Rock rupanya ya?" terkanya. Aku kaget, dan ini pasti Uta yang cerita. Sedikit memalukan memang tapi, dengan begini pada akhirnya aku juga punya teman yang sama, bukan?


"I-iya, aku suka One Ok Rock," jawabku sambil mendekati dinding balkon disamping Yuuta.


"Lagu apa yang kau suka?"


"C.h.a.o.s.m.y.t.h? kau?"


"Be the light, semua lagu OOR enak di dengar kok."


"Ngomong-ngomong kau bekerja dimana?" tanyaku sedikit penasaran.


"Aku bekerja di Owari Publisher, sebuah penerbit manga."


"Waw, berarti kau sudah membaca semua manga yang belum diterbitkan ya?enak sekali..."


"Gak juga sih, tapi kau juga suka baca manga kah?"


"Iya, aku suka. Aku suka anime juga,"


"Waw, aku juga. Ya, bisa di bilang sih...aku ini otaku, te-he," katanya malu-malu sambil memasang wajah idiotnya yang menurutku semakin menggemaskan. Aku seperti melihat si monster dari sisi lain. 'tapi aku bukan hikikimori," lanjutnya.


"Syukurlah, aku punya tetangga yang rupanya memiliki hobi yang sama denganku, diusiaku yang hampir ke 25 ini, aku khawatir kalau aku masih di sebut aneh karena menyukai anime, manga dan koleksi asesoris anime lainnya." gumamku senang.


"Ah, siapa bilang itu aneh. Aku juga aneh dong kalau begitu. Ini justru menjadi keunikan tersendiri."


"Ya, everybody is unique! Sama sepertimu, aku kira kau pekerja yang serius, sopan dan kaku, ternyata kau memiliki hoby yang sama sepertiku, hehe"


Selanjutnya kami berbincang tentang anime yang kami tonton dan manga yang kami baca selama ini dan yang sedang kami ikuti. Dia juga menjelaskan pekerjaannya di penerbit manga tempatnya bekerja. Lucu sekali ketika Yuuta bercerita tentang teman-temannya ketika deadline. Ah, tak ku sangka ternyata percakapan kami nyambung. Yuuta ternyata sangat hangat dan menenangkan. Dia juga jadi kelihatan tampan dengan penampilan acak-acakan ini, jadi kelihatan sangat mirip dengan Ryuu. Aku jadi penasaran. Aku ingin bertanya tapi, ah apa mungkin iya. Ah sudahlah nanti saja.


"Kau boleh ke apartemenku kapan-kapan, aku punya banyak koleksi anime dan miniatur chara anime." Tawarnya.


"Benarkah?? Wahh..terima kasih Hiroshi-san dan aku...minta maaf atas sikapku saat pertama kali kita berjumpa."


"Ah, kau masih mengingatnya? Astaga aku bahkan sudah lupa. Tak apa kok."


"Umm, ja ne, oyasumi!" pamitku sambil melangkah masuk ke apartemenku.


"Oyasumi~" balasnya sambil tersenyum.


Aku merasa ini hari yang cukup baik. Hah, yokatta! Pikiran ku sedikit ringan. Namun, aku tak menemukan Uta. Mungkin dia sudah tidur. Ah, kenapa aku harus mengkhawatirkan dia? Biar sajalah. Yang terpenting sekarang adalah tidur nyenyak.


Keesokan paginya, aku menemukan sandwich dan segelas susu lagi di meja makan. Uta sudah tidak ada. Sejak kemarin, dipagi hari dia sudah tidak ada. Apa dia ada kuliah pagi? Ah entahlah. Atau jangan-jangan dia sengaja pergi agar masakannya ini aku makan seperti kemarin? Aku tidak akan tertipu dengan modus murahan ini. Uta bodoh!


Aku membawa sandwich itu dengan plastik dan membuang susu itu ke toilet. Kau tidak bisa menyogokku dengan hal yang seperti ini Uta. Bagaimanapun kau itu adalah orang yang paling tidak aku sukai. Meskipun kita lahir dari darah yang sama, tapi tidak dengan ibu kita. Andai kau tidak ada, andai ibumu tidak menggoda ayahku pasti aku tidak akan hidup seperti ini! Semua ini karena mu!


Aku membawa plastik berisi sandwich itu dan memberikannya pada kucing di dekat tangga apartemen. Setidaknya berguna untuk seekor kucing, fikirku. Setelah itu aku pergi ke resto seperti biasa.


*bersambung*