
Rasanya masih seperti mimpi ketika kakiku dan Yuuta bersamaan keluar dari shinkansen menuju Akihabara. Aku harus menguasai diriku dan meyakinkan hati bahwa ini bukan mimpi.
"Yosh!" katanya sambil memegang bahuku dan membuatku terkejut. Menoleh ke arahnya yang kemudian berjalan keluar dari Stasiun Akihabara. Aku melangkah gugup mengikutinya. Aku memegang dadaku sebelah kiri. Detaknya lebih keras dari sebelumnya. Ah syukurlah, aku fikir jantungku berhenti tadi.
Hari itu Yuuta memakai kaos abu-abu lengan panjang dengan jaket warna coklat tua serta celana panjang warna coklat susu. Mirip sekali dengan Ryuu hanya saja Yuuta memakai kacamata. Aku sendiri memakai blezer warna hitam dengan dalaman kemeja coklat serta celana panjang warna hitam serta tas selempang warna coklat. Itupun yang memilihkan Uta. Sempat dia mengerekomendasikanku untuk memakai gaun. Aku tentu saja menolaknya dan mengatakan ini bukan kencan. Ah entahlah, aku tak tahu ini bisa disebut kencan atau tidak.
Dengan berjalan kaki, aku dan Yuuta akhirnya sampai di jalan terpadat di jepang, Chuo Dori yang merupakan persimpangan yang sangat ramai. Disekelilingnya berdiri megah bangunan-bangunan yang menjual berbagai barang elektronik dan kebutuhan otaku. Ya, Akihabara dikenal sebagai kotanya para otaku dan penggemar anime atau manga juga barang-barang elektroniknya.
Aku sampai tak ingat diri ketika berada di tengah kepadatan itu hanya demi melihat gedung-gedung yang selalu menarik perhatianku itu. Wajar saja sangat padat karena memang setiap minggu dari jam 1 sampai jam 5 sore Chuo Dori ditutup untuk kegiatan lalu lintas mobil selama Oktober sampai Maret.
Aku baru menyadari ketika aku kehilangan Yutaa ditengah kepadatan orang-orang yang lalu lalang di sekitar Chuo Dori. Lagi-lagi, aku tersesat. Ah, kenapa ini selalu terjadi padaku dan entah kenapa tiba-tiba bayangan Ryuu waktu di Kyoto melintas. Teringat kata-kata Haruka waktu itu, bahwa Ryuu spontan berlari mencariku dalam waktu aku 'terselip' diantar kerumunan orang-orang yang melihat perayaan Jidai Matsuri. Ah, apa-apaan aku kenapa malah mengingat Ryuu? Hey, aku tersesat sekarang. Seseorang tolong aku....
"Syukurlah, kau disini rupanya Mimi-chan. Aku tadi sudah sampai diujung tapi aku sadar kau tak ada, jadi aku kembali kemari mencarimu. Gomen na, tadi aku meninggalkanmu." Sebuah suara di iringi sebuah genggaman hangat ditangan kananku membuatku otomatis menoleh dan menatap wajah polos berkacamata yang tengah tersenyum bersalah. Ada rasa aneh yang mendadak mendesak dalam dadaku. Aku senang itu Yuuta tapi aku sedikit kecewa bahwa itu bukan Ryuu...
"Eh? Mimi-chan? Kau tak apa?" tanya Yuuta menyadarkanku. Aku tersentak malu lalu tertunduk. Masih bertanya-tanya dalam hati, ada apa ini sebenarnya?
"A-aku tak apa." Jawabku gugup.
"Syukurlah. Ayo!"
Yuuta masih memegang pergelangan tanganku dan mengajakku menuju Akihabara Crossfield. Genggaman tangan ini, sangat jauh berbeda dengan genggaman tangan Ryuu waktu itu. genggaman tangan ini sangat lembut dan hangat tapi ada sesuatu yang lain, sesuatu...yang berbeda. Ah, sudahlah. Aku tak perlu menganalisis hal seperti ini. Jika ku lanjutkan aku akan semakin bertanya-tanya dalam hati dan itu akan membuatku tak nyaman sendiri. Yang penting sekarang, Yuuta sudah bersamaku dan menggenggam tanganku.
Hari itu kami benar-benar menikmati waktu. Kami ke Akibahara Crossfield dan ke Tokyo Anime Center untuk membeli beberapa asesoris yang akan dibeli Yuuta. Sejenak kami berhenti di manga kissaten untuk membaca manga sekaligus beristirahat. Dan tempat perhentian terakhir kami adalah Maid Cafe yang terkenal dengan para pelayannya yang memakai pakaian pelayan ala prancis, seperti di Rozen Maiden.
"Okaerinasaimase, Gosujin-sama, Ojou-sama." Begitulah sambutan para waitress yang berpakaian ala maid ketika kami masuk. well, menakjubkan sekali, batinku senang. Terlebih lagi mereka semua...kawaii!
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Yuuta setelah kami duduk dan memesan makanan juga minuman.
"Umm, senang." Jawabku. "Ini pertama kalinya aku pergi bersama seseorang. Ini seperti..."
"Kencan?" tebaknya sambil memotong kalimatku dan membuatku terkejut lalu merona. "Hehe, aku juga berfikir begitu tadi. Yah, apapun itu, aku juga senang bisa bersamamu hari ini. Terima kasih sudah menemaniku." Lanjutnya.
"Ah, kau ngomong apa sih. Aku justru yang berterima kasih karena kau mengajakku kemari."
Tiba-tiba handphone Yuuta berbunyi. Dia mengambil itu terburu dari kantong jaketnya. Aku melihat gantungan kunci itu telah terpasang. Aku senang melihatnya.
"Ayo, Mimi-chan. Temanku sudah menunggu distasiun."
"Oke baiklah,"
Kamipun segera keluar dan menuju stasiun. Selama berjalan, Yuuta tak lagi menggenggam tanganku ketika aku tersesat di Chuo Dori. Ah,tak apa. Aku bahkan sudah sangat senang berada disisinya sepanjang hari ini.
"Itu Arai-san!" gumam Yuuta sambil berjalan cepat menuju kearah seorang lelaki yang memakai jaket abu-abu panjang, rambutnya coklat tua sedikit panjang, senada dengan warna matanya. Tampan sekali dan tingginya juga lebih tinggi 10 centi dari Yuuta. Lelaki itu kemudian tersenyum ke arah Yuuta.
"Gomen na, agak lama."kata Yuuta.
"Ah tak apa, aku baru saja sampai kok." Sambut orang yang disebut Arai itu.
"Hey, kenalkan, ini temanku Mimi Hinamori. Dia tetangga di sebelah apartemen ku." Ucap Yuuta memperkenalkan aku.
"Yoroshiku onegaitashimasu," ucapku sopan sedikit membungkuk.
"Yoroshiku, Hinamori-san. Aku Arai Komaki, tapi kau bisa memanggilku Arai kok." Balas Arai sopan.
"Arai-san adalah teman kuliah ku, Mimi-chan." Kata Yuuta.
"Ah, sou ka? Berarti sudah lama tidak bertemu ya kan?"
"Hmm, ya bisa dibilang begitu. Jadi, Arai-san, apa kau tak sekalian ikut bersama kami ke Shibuya.?" Tanya Yuuta.
"Aku harus menemui Onii-chan dahulu, setelah itu ke Shibuya. Kau duluan sajalah." Jawab Yuuta.
"oh, baiklah. Kami pamit duluan ya, Arai-san. Sampai ketemu di Shibuya" Kata Yuuta.
"Ya...semoga selamat sampai tujuan." Balas Arai.
Aku dan Yuuta pun memesan tiket lalu masuk ke kereta meninggalkan Arai yang mulai beranjak meninggalkan stasiun Akihabara. Entah perasaanku saja atau tidak, tapi aku sedikit merasa ada atmosfir yang berbeda saat aku melihat Arai. Ada sesuatu yang tak bisa aku jelas kan disana...