
Tuk!
Hinamori mengelus kepalanya ketika ketukan itu mendarat dikepalanya. Spontan dia langsung menoleh. Konsentrasinya buyar ketika akan memilih bahan makan apa yang harus ia beli.
"Miyamura..." gumam Hinamori setelah melihat orang yang mengetuk kepalanya.
"Ngapain?" Tanya Miyamura dingin seperti biasa.
"Tch!" Hinamori berdecih kesal lantaran pertanyaan Miyamura barusan konyol sekali. Sudah tau kalau ke kombini itu belanja, emang mau ngapain lagi.
"Hey!"
"Kau sama sekali tidak sopan dengan calon kakak iparmu." Sindir Hinamori sambil berjalan dengan trolli nya.
Miyamura tak menjawab dan mengikuti Hinamori.
"Gimana kabar Uta?" Tanya Miyamura.
"Heee~" Hinamori menoleh sambil menatap Miyamura dengan tatapan menyindir. "Memangnya kau tidak pernah menghubunginya lagi?"
"Ada yang aneh dengan Uta." Gumam Miyamura.
"Eh?" Hinamori tidak berniat lagi ketika Miyamura memasang wajah seriusnya. "Maksudmu?"
"Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Waktu tahun baru 2 bulan yang lalu, saat kami kencan; Uta kelihatan tak sehat dan buru-buru ke toilet ketika kami makan di cafe." Cerita Miyamura.
Hinamori jadi teringat wajah pucat Uta yang dipaksakan senyum itu. Sepertinya Uta memang menyembunyikan sesuatu.
"Kami sudah tidak berhubungan sejak seminggu yang lalu. Uta tidak pernah mengaktifkan ponselnya."
Hinamori sedikit kaget mendengar itu. Dia memang tidak tahu menahu soal hubungan Uta dengan Miyamura tapi mengingat mereka dulu pernah akrab dan sekarang tiba-tiba Uta tidak mengaktifkan ponselnya, membuat Hinamori penasaran.
"Aku ingin bertanya kepadamu waktu itu. Tapi sepertinya kau tidak dalam keadaan mood yang bagus karena Yoo Na mendekati Chef. Aku jadi tidak berniat bertanya."
Mendadak wajah Hinamori panas. Tak menduga Miyamura terlalu memperhatikan mereka.
"Sebenarnya....kau punya hubungan apa dengan chef?" Miyamura mencondongkan kepalanya ke arah Hinamori hingga dia mundur.
"Ti-tidak ada! Aku..." Hinamori bersumpah akan memukul Miyamura nanti.
"Apa yang kalian lakukan disini?"
Suara itu membuat Hinamori dan Miyamura menoleh ke arah yang sama. Hinamori langsung menegapkan badan meski canggung dan khawatir. Khawatir jika pria itu mencurigainya berselingkuh dengan Miyamura.
"Ah...Chef rupanya." Kata Miyamura sambil memasukkan tangan ke jaket panjangnya. "Aku hanya sedang menggoda calon kakak iparku."
Ryuu mendekati keduanya. Miyamura tampak santai bahkan tersenyum. Lain hal dengan Hinamori yang sudah kebat kebit.
"A-aku...berbelanja menggantikan adik ku. Dia sedang tidak enak badan." Kata Hinamori.
Miyamura menatap Hinamori. Baginya kata-kata Hinamori barusan adalah info terbaru mengenai Uta.
"Ngg....aku sudah se-selesai berbelanja. Kalau begitu aku duluan."
Hinamori buru-buru membungkuk dan berjalan mendahului keduanya.
"Tunggu!" Ryuu menahan keranjang trolli milik Hinamori. "Kau, Miyamura pergilah duluan."
"Kalau aku tidak mau?"tantang Miyamura.
"Aku akan beri pelajaran padamu besok!"
Miyamura mengangkat tangannya sambil tersenyum lalu berlalu ke kasir.
Setelah Miyamura menjauh, Ryuu menatap Hinamori yang tertunduk.
"Aku tidak tau jika dia pacaran dengan adikmu."
"Ah~ bukannya waktu di Senbon Tori tahun lalu kau sudah menguping?"
Mendadak Ryuu teringat kebodohannya pada musim gugur tahun lalu ketika mereka berlibur ke kuil Fushimi Inari.
"Aku...lupa."
"Memangnya apa yang bisa kau ingat." Sindir Hinamori.
"Anoo...." tiba-tiba Miyamura muncul di balik barisan pajangan. "Hinamori nee-san, aku akan ke rumahmu melihat Uta. Bolehkan?"
Hinamori mendelik. Apa maksudnya 'nee-san' Miyamura barusan. Apa dia sengaja memanggilnya seperti itu untuk membuat Ryuu penasaran.
Tanpa persetujuan dari Hinamori, Miyamura langsung ngeloyor pergi.
"Maa~ ikkah (*yasudahlah). Aku harap mereka baik-baik saja." Gumam Hinamori.
"Kalau begitu aku akan ikut ke rumahmu!" Kata Ryuu.
"EHHHHH????"
.
.
.
"Kau tidak pernah bertegur sapa dengan Yuuta lagi?" Tanya Ryuu ketika mereka melewati apartemen Yuuta.
"Hee...kenapa anak itu tidak memberitahukanku ya." Gumam Ryuu.
"Tadaima~" Hinamori membuka pintu apartemen nya dan kaget mendapati Miyamura tengan memangku kepala Uta di lantai dekat kotatsu.
"Uta...Uta. oi! Sadarlah!" Panggil Miyamura.
Hinamori dan Ryuu langsung mendekati Miyamura dan Uta yang sudah pucat pasi dengan bibir terkena darah.
"Uta!" Teriak Hinamori.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Ryuu.
"Aku baru sampai dan ketika aku hendak mengetuk pintu, ternyata pintunya tidak terkunci. Begitu aku masuk aku sudah melihat Uta tergeletak." Cerita Miyamura.
Hinamori menutup mulutnya sambil menahan tangis.
"Aku menemukan ini juga. Dia menggenggamnya." Miyamura menunjukkan sapu tangan yang penuh darah itu. Tangis Hinamori semakin menjadi.
"Kita harus bawa dia ke rumah sakit segera. Firasatku buruk." Kata Ryuu.
Maka mereka bertiga pun memanggil ambulan dan membawa Uta ke rumah sakit.
.
"Mimi-chan?"
Suara itu membuat Hinamori, Ryuu dan Miyamura menoleh. Minami Urukawa mendekati Hinamori dengan wajah khawatir. Hinamori bangkit.
"Kaa-san(*ibu)..." mendadak pandangan Hinamori berkabut. Serentak dengan itu, tubuh Minami menyambutnya.
"Uta...." isak Hinamori.
"Uta pasti baik-baik saja. Kita harus mendoakannya."hibur Minami sambil membelai rambut Hinamori.
"Ini salah ku, Bu. Aku bahkan tidak pernah tau penyakit Uta. Aku tak tau dia menahannya selama ini."
"Mou ii. (*sudahlah) Jangan menyalahkan dirimu, Sayang. Ibu juga..jadi merasa bersalah karena tidak begitu perhatian kepada kalian."
Kemudian dokter keluar dari ruang perawatan.
"Keluarga Hinamori?"
"Hai.." jawab Minami sambil melepas pelukan Hinamori.
Dokter berjalan ke arahnya dengan gurat wajah khawatir.
"Bagaimana dengan keadaannya, sensei?" Tanya Minami. (*sensei: dokter)
"Dia masih dalam keadaan tidak sadar. Kami tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar mengingat kondisinya saat ini sangat lemah karena jumlah sel darah merahnya terus berkurang."
Minami mengurut dada menahan tangis mendengar itu.
"Anda ikut saya ke ruangan. Ada yang perlu saya sampaikan kepada keluarga Anda."
Pernyataan dokter barusan membuat Minami dan Hinamori terhenyak. Firasat mereka buruk tentang ini.
.
.
Miyamura menghela nafasnya. Rasanya dia seolah telah menahan nafas sejak tadi. Gadis yang sangat ingin dia lihat malah terkapar tak berdaya. Dia sangat mencintai Uta...dan seharusnya dia yang paling sedih saat ini tapi...
"Ada apa?" Tanya Ryuu ketika dia merasa Miyamura meliriknya kesal.
"Gak pa-apa."
"Sejak kapan kau berpacaran dengan adik Hinamori?"
"Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh berpacaran dengan adiknya?"
"Kau ini!" Ryuu memoloti Miyamura.
"Chef...harusnya chef bersyukur yang aku pacari itu bukan Hinamori."
"......"
"Haaah...aku tak menyangka kalau chef dan Hinamori..."
Ryuu langsung menutup mulutnya Miyamura dengan telapak tangannya.
"Miyamura....kau..." bisik Ryuu khawatir jika ada orang lain mendengarnya.
"Padahal aku belum selesai bicara." Kini Miyamura tersenyum miring. "Jadi benar?"
"Jika kau sudah menyadarinya aku harap kau bisa menrahasiakannya dari yang lain." Kata Ryuu.
"Itu sih gampang. Tapi...jika aku lihat Hinamori hancur karena chef, aku tidak akan segan-segan menghancurkan hubungan kalian. Hinamori sudah seperti kakak ku sendiri."
"Hai~ hai... aku berjanji tidak akan menyakitinya. Jika aku menyakitinya aku yang akan mundur lebih dulu."
"Oke..Ucapan lelaki tidak boleh ditarik kembali lho..."
Ryuu menatap Miyamura sedikit kesal. Miyamura sendiri hanya diam menunggu kabar dari Hinamori dan Minami. Baginya Ryuu sudah tidak penting lagi.