
" Kamu dari mana saja" tanya Wilona melihat yang melihat Edrik masuk rumah.
"Dari luar mah" jawab Edrik singkat
"Mama juga tau kamu dari luar. Tapi, yang mama maksud kamu habis dari mana?" tanya Willona yang kedua kalinya.
"Ehemmm, kok muka kaka sumringah begitu sih" tanya Freya menatap curiga pada Edrik.
" Mengapa kamu menatapku begitu . " jawab Edrik dengan membalas tatapan adiknya
" Aku curiga dengan kegiatan kaka akhir-akhir ini ?, apa jangan-jangan kaka melakukan hal yang tidak-tidak" Freya menatap Edrik mencari jawaban kejujuran dari tatapan Edrik
"Tak,, suara jentikan jari di kening Freya
"Kak apa-apaan sih , sakit tau" ucap Freya mengusap keninggnya yang terlihat memerah akibat ketekan jari Edrik di kening Freya.
" Dari pada kamu asal bicara mending kamu makan ini " ucap Edrik menyodorkan bakso yang sempat di bungkusnya tadi.
" Ini bukan bekas sisa kaka kan" tanya Freya memperhatikan bungkusan itu
"Apakah kamu ayam, yang harus makan sisa makanan orang lain" ucap Edrik datar membuat Freya kesal dengan jawaban kakaknya
"Gak usah bilang ayam juga kali kak . Bisa kan jawabnya santai saja" Kesal Freya
Edrik yang malas meladeni adiknya melangkah ke kamarnya. Jika dia masih meladeni perrdebatan Freya yang ada tak ada habis-habisnya.
"Mah , tuh makanan yang di bawa kakak" Freya memberikan bungkusan bakso yang Edrik bawa.
" Tumben kakakmu makan makanan seperti ini ? " bingung Willona menatap Putrinya yang dibalas mengangkat bahu tak tahu.
Sedari kecil Edrik yang hidup seperti pangeran tak pernah makan-makanan di pinggir jalan. Makanan sehari-harinya di atur oleh kakeknya sesuai dengan anjuran dokter gizi. Karena Edrik cucu satu-satunya pria di keluarga pihak ayah dan ibunya itu yang membuatnya tidak bebas makan apapun yang di inginkan. Berbeda dengan Freya yang bebas makan apapun yang di inginkan walau masih dalam pantauan kakeknya tapi tidak seketat Edrik.
"Aku juga gak tau mah, aku pun bingung kakak pungut makanan ini dari mana?" ucap Freya yang mulai menaruh bakso di mangkok dan mulai mensantapnya.
" Makannya pelan-pelan gak akan ada yang ambil makananmu Frey" ujar Willona menatap anaknya yang tak ada kesan putri jika sedang makan bersama keluarganya.
"Biarlah mah, aku lelah menjadi perempuan yang anggun di luar sana. Biarkan aku bebas di rumah aku sendiri" ucap Freya seenaknya.
"Yah, terserah kamu sajalah yang penting kamu senang" ucap Wilona yang di balas cengiran Freya.
Di dalam kamar Edrik yang mengingat kejadian di warung makan membuatnya tersenyum.
Flas back on
" Aku tidak percaya jika kamu tidak pernah memakannya?" tanya Nauren menatap Edrik
"Sungguh jika kamu tidak percaya lihat saja wajahku . Apakah aku terlihat seorang pembohong" tanya Edrik yang memajukan wajahnya ke depan Nauren
"Emang tidak terlihat seperti pembohong tapi seperti pisikopat berdarah dingin ." jawab Nauren mengalihkan pandangannya
Mendengar ucapan Nauren membuat Edrik ingin murka hanya saja di tahannya.
"Apa kamu ingin melihat gimana aksi pisikopat berdarah dingin ini beraksi." Edrik menatap tajam ke Nauren membuat nyali Nauren menciut seketika.
" Hehehehehe,, santai bro aku cuman bercanda" ucap Nauren mengalihkan topik.
" Jika tatapannya terus-terusan seperti ini seperti pisikopat sungguhan" gumaam Nauren dalam hati
Nauren yang tidak ingin membuat Edrik tambah kesal mulai memberikan saus tomat , kecap dan perasan jeruk nipis .Tidak lupa Nauren menanyakan apa Edrik ingin pakai sambel atau tidak. Setelah Nauren selesai melayani , Edrik yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak-gerik Nauren saja.
"Sudah selesai, coba sekarang kamu makan. Dijamin pasti bakal ketagihan. " ucap Nauren yang begitu antusianya.
Edrik mulai mencicipi dengan ragu, namun saat suapan pertama masuk di mulutnya membuatnya terpaku ternyata makanan orang biasa tidak seburuk perkiraannya.
Nauren yang sedari tadi menatap Edrik , ingin tahu apa Edrik menyukai tempat rekomendasinya atau tidak.
"Gimana rasanya, apa enak? " tanya Nauren begitu antusiasnya menatap Edriik.
"Ehmm lumayan , seenggaknya bisa dimakan" ucap Edriik yang makan begitu lahapnya.
"Lumayan katanya, bahkan cara makannya saja seperti orang yang tak makan berhari-hari dan sekarang bahkan dia sudah habis 2 mangkok." gumam Nauren dalam hati.
"Kamu tidak makan makananmu" tanya Edrik dengan mulut yang tak berhenti mengunya makanan.
" Aku lihat cara makanmu saja membuatku yang tadinya sangat lapar menjadi kenyang seketika. " ucap Nauren menatap Edrik
"Jika kau tak ingin memakannya biar aku saja yang makan?" ucap Edrik yang mengambil bakso milik Nauren.
"Apakah kamu tak makan selama sebulan, sudah 3 mangkok yang kamu habiskan tapi masih ingin makan makananku" Nauren yang kesal melihat Edrik. Tadinya di berniat makan 2 mangkok. namun makan semamgkok pun tidak.
"Kamu sendiri yang tak ingin memakannya. Tapi kamu malah menyalahkanku , mamahku selalu berkata tidak boleh membuang makanan nanti mubazir." ucap Edrik seperti anak berusia 7 tahun yang selalu mengikuti perkataan ibunya.
"Tapi gak makananku juga yang kamu embat" kesal Nauren
Setelah Edrik selesai makan edrik berjalan menuju meja kasir membayar makanannya dan memesan beberapa bungkus untuk di bawa pulang.
Flash back off
β¦β¦β¦β¦
Disisi lain Nauren yang tak sempat makan berjalan menuju dapurnya memakan bakso yang dibungkus oleh Edrii untuknya.
"Ckkk,, untung saja dia ingat jika aku belum makan. Bisa-bisanya dia makan begitu banyak. padahal tadi dia bilang rasanya lumayan" omel Nauren mengingat kejadian di warung tadi.
Apa dia lebih miskin hingga tak pernah makan bakso. Aku heran deh biasanya orang-orang seperti kita itu sudah menjadi hal biasa. Tapi mengapa dia tidak pernah makan bakso. Yah udah lah daripada mikirin dia mending aku menikmati makan ini" ucap Nauren melanjutkan makan yang sempat tertunda karna pikirin Edrik
Sudah beberapa hari berlalu kini Edrik dan Nauren semakin akrab. Tak jarang mereka kadang berangkat dan pulang bersama.
" Sudah selesai, jika sudah ayo kita pulang. " ucap Edrik menatap Nauren yang sedang mengunci mini marke.
Belum Edrik menyalakan motornya tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan ada telpon masuk
Ddrrttt ddrrtt ddrrtt suara gerataran ponsel
"Sebentar aku angkat telpon dulu" ucao Edrik kepada Nauren
πYah ada apa" ucap Edrik kepada sang penelpon
π Boss gawaat boss, perusahaan kita di serang " ucap kelvin yang. panik
πApa maksudmu, jelaskan secara detail " tanya Edrik merasa khawatir
π Ada seorang hacker handal dan dia sedang mencoba membobol rahasia perusahaan kita.
π Apakah tim IT kita tidak bisa bekerja dengan benar. Satu orang hecker lawan lima orang tapi yang limanya ini sudah mau kalah. Aku tak menggaji mereka untuk bersenang-senang" marah Edrik mengetahui keadaan perusahaannya.
π Boss jangan dulu mengomel mending bos sekarang kesini sebelum masalah kita semakin runyam." ucap kelvin mengingatkan bertindak lebih dahulu baru marah.
Nauren yang bingung melihat ekspresi Edrik membuatnya khawatir.
"Kenapa , apa terjadi sesuatu?" tanya Nauren yang melihat Edrik begitu khawatir.
"Apa kamu tau dimana warnet yang kualitas internet dan komputernya kualitas tinggi. " tanya Edrik tak bertele-tele
" Aku tau dimana tempat yang kamu inginkan.." jawab Nauren menunjukkan arah warnet yang tak jauh dari mini market.
" Bray, minjem kantormu dong . Temanku memiliki sedikit urusan dan itu perlu menggunakaan komputermu " ucap Nauren kepada sahabatnya.
" Baiklah, ayo ikut aku " Hans membawa Edrik dan Nauren ke kantornya yag berada di balik pintu sudut sana
" Pinjam sebentar yah." Edrik yang langsung duduk mulai berkutak katik dengan keyboard tidak lupa dia memasukan sandi perusahaannya melalui kartu card yang selalu di bawanya jika terjadi sesuatu seperti sekarang.
" Apakah temanmu seorang hacker? " tanya Hans yang berdiri di belakang Edrik
" Aku tidak tau. Ini pertama kalinya bagiku melihatnya seperti ini. Emang sih dia jago komputer tapi aku tak tau dia semahir ini" jawab Nauren menatap Edrik yang masih begitu seriusnya.
" Cckk,, sial mereka menambah orang " geram Edrik melihat dirinya hampir kalah.
"Tak bisa aku biarkan jika saja disini ada Freya pasti semuanya sudah selesai" gumam Edrik dalam hati
Seratus hecker lawan satu . Yah pasti yang satu kewalahan jika hanya lima puluh atau tujuh puluh masih bisa Edrik tangani. Namun orag ini seperti tak membiarkan Edrik bernafas sedikit pun.
Hans yang melihat Edrik sedikit kualahan menawarkan diri untuk membantunya.
"Apa perlu bantuanku." tanya Hans kepada Edrik
" Apa kamu bisa? " jawab Edrik malah bertanya balik ke Hans
" Cckk, desis Hans. Jika aku tidak bisa mengapa komputerku. begitu canggih. " ucap Hans kesal menatap Edrik. Padahal niatnya ingin membantu tapi malah dapat pertanyaan seperti itu
" Maaf bukan seperti itu maksudku . Tapi ini melawan seratus orang apa kamu bisa " tanya Edrik melihat sebentar ke arah Hans
" Kamu akan tau sendiri" jawab Hans yang sudah duduk di samping Edrik.
" Mana IP nya , tidak mumgkin kan aku harus mencari sendiri dan itu memerlukan waktu sekitar 15 menit . Mungkin di waktu selama itu kamu sudah di kalahkan oleh mereka jika mereka selalu menambah orang." ucap Hans yang langsug di berikan chip oleh Edrik
Hans langsung memasukkannya di leptop rancangannya sendiri dan mulai membantu Edrik.
"Nauren apa kamu bisa membuatkan kami kopi? " tanya Edrik kepada Nauren
" Baiklah aku akan kedapur dan kembali membawa kopi kalian" ucap Nauren yang ingin melangkah keluar namun terhenti akibat panggilan Edrik
" Tolong yah airnya yang baru di didihkan dengan kompor" ucap Edrik
" Yah kopimu akan segera datang tuan" ucap Nauren pergi menuju dapur
"Aku rasa banyak hal yang kamu sembunyikan bro. hingga kamu mengusirnya" ucap Hans tanpa menoleh ke arah Edrik
"Kamu akan tau jika kita sudah selesai" jawab Edrik tak menjelaskan apapun.
*** Bersambung ***