
Nauren yang baru saja tiba di kossannya mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur. Masih terbayang kejadian dimana perdebatannya bersama ibunya.
" Kenapa ibu seperti itu ? Apa ibu tidak menyayangiku " Nauren yang masih sibuk dengan pikirannya hingga membuatnya tertidur.
Di kediaman Gwinith
Sepulang dari australia Edrik langsung mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda. Dia bahkan tak sempat untuk memegang ponselnya dan tak sempat menghubungi Nauren . Cukup lama Edrik kerkutak-katik di depan leptopnya.
" Akhirnya selesai juga" ucap Edrik yang mulai mengistirahatkan tubunya di kasur empuknya. " Apa yang dia lakukan ? apa dia sudah tertidur ? apa aku aku telpon saja, tapi gimana jika aku dia sudah tidur dan aku mengganggu tidurnya." ucap Edrik pada dirinya sendiri. Edrik yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia tak sadar Willona sudah duduk di sebelahnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? " tanya Willona menatap putranya yang sedari tadi diam. termenung.
" Mah, apa Nauren akan menerima jika aku berkata jujur di hadapannya. Aku lelah di pandang sebelah mata oleh keluarganya mah" Edrik berkata dengan menatap Willona dengan sendu.
" Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti ini? " Willona menjawab ucapan Edrik sambil mengusap pelan kepala Edrik yang berada di pangkuannya.
" Kami baru saja bertemu dengan keluarganya Nauren , tapi ibu Nauren tak menyukaiku karena aku mengaku sebagai orang biasa dan dia tak menyukainya." ucap Edrik menjelaskan apa yang terjadi di sana
" Ohh, begitu . Apapun pilihanmu mamah mendukungmu hanya kamu harus memilih wanita yang baik , bisa menjagamu dan keluargamu dalam suka maupun duka. Mau dia miskin ataupun kaya tapi attitude yang nomor satu. Mama tidak seperti orang tua kaya yang lainnya harus mendapatkan besan yang setara dengan kita. Biarpun monyet tapi kalo kamu suka yang mama oke oke saja." ucap Willona menahan senyumnya.
" Yah gak monyet juga kali mah, aku mah sukanya masih sama manusia mah bukan hewan." Edrik menjawab ucapan Willona dengan sedikit nada tinggi
" Yah, emang benarkan . Terus kamu kapan mau membawa calon menantu mama ke sini? "tanya Willona
" Aku belum bisa membawa dia ke rumah karena dia belum tahu aku mah. Aku belum jujur dengannya " Edrik menjawab pertanyaan Willona.
" Kalo dia belum tahu yah kenalan gampang kan " Willona membalas perkataan anaknya dengan asal " Lagian kamu pake acara nyamar-nyamar segala . Tinggal jujur aja susah amat, amat saja tidak susah tapi kamu yang kesusahan" Willona menatap kesal kearah Edrik.
" Mamah darimana belajar kata-kata seperti itu?
" Mama itu iri sama teman-teman mama yang anaknya sudah punya pasangan . Nyalon bareng , masak bareng , jalan bareng bahkan kami kumpul saja menantunya di bawa. Lah mama boro-boro menantu , kamu saja tak mau mengenalkannya pada kami . Jadi kalo mama kumpul bareng teman mama yah mama diam saja, mama tidak bisa menjawab mereka kan mama belum punya menantu. " ucap Willona kesal.
" Bukan belum punya mah, sudah ada hanya belum dikenalkan saja" jawab Edrik
" Yah makanya cepat-cepat kenalkan pada kami. Lagian kamu mau nunggu sampai kapan ? sampai kami sudah tak ada di dunia ini gitu " Willona yng kesal dengan pergerakan Edrik yang begitu lambat.
" Mah , kenapa bicaranya seperti itu. Gak baik berkata seperti itu mah." ucap Edrik
" Makanya cepat bawa ke rumah atau mama yang akan datangin dia" ancam Willona
Β°
Β°
Β°
Di sisi lain , Prisia yang berada di ruang kerja pak Bram.
" Pah, aku suka sama Edrik . Apa papa bisa membuat Edrik menikah denganku " ucap Prisia menatap Bram.
" Pah, dia bukan orang miskin. Dia itu pria kaya pah, apa papah tau keluarga Gwinith.? " tanya Prisia membuat Bram berpikir " Dia putra Austin Gwinith pah" ucap Prisia lagi hingga membuat Bram terkejut.
" Apa kamu tak berbohong? Apa benar dia putra Austin . Yang sekarang sudah mengambil ahli perusahaan Austin dan kakek di pihak ibunya." ucap Bram yang begitu antusiasnya menjelaskan di putrinya. " Apa kamu tahu sangat susah mengajukan kerja sama dengannya dan jika kita mengundangnya yang hadir hanya asistennya. Papah dengar keluarga Gwinith sangat baik dan ramah . Bahkan pembantu saja mereka memperlakukan dengan sopan"
" Sungguh pah, keluarga seperti itu yang aku inginkan. Tidak seperti keluarga kaya lainnya yang memandang status mereka. Semakin tinggi statusnya semakin besar juga rasa hormatnya . Jika keluarganya bangkrut perlakuannya juga langsung berubah drastis." ucap Prisia membayangkan betapa beruntungnya jika dia berhasil masuk di dalam keluarga Edrik.
" Iyah, jika yang kamu ucapkan itu benar. Papah akan membantumu untuk menikah dengan Edrik. " ucap Bram tersenyum menatap putrinya.
"Aku takkan membiarkan putri Angel yang mendapatkan batu loncatanku. Aku harus membuatnya menikah dengan Prisia agar aku bisa menikmati kejayaanku yang tak ada habisnya" gumam Bram dalam hati memikirkan langkah apa yang harus di ambilnya.
π₯π₯π₯π₯
Keesokan harinya seperti biasa Nauren sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Hari ini Nauren memakai atasan blues bewarna biru muda dan rok hitam di atas lutut dengan sepatu yang senada dengan roknya . Tidak lupa blezer berwarna hitam dan wajah yang di poles menambah kecantikannya. Nauren sudah siap untuk berangkat ke kantor.
" Pagi " sapa Nauren pada resepsionis
" Wah, Nauren . Kamu hari ini sangat berbeda terkesan wanita dewasa yang seksi dan sangat cantik" puji Yani menatap Nauren dengan kagum.
" Terima kasih bestie" balas Nauren tersenyum
" Ada apa ? Biasanya kamu memakai rok di bawah lutut kenapa sekarang memakai rok di atas lutut" ucap Yani menatap bingung sahabat sekantornya itu.
" Tidak ada apa-apa aku hanya ingin melakukan perubahan dalam diriku. Memakai rok di bawah lutut seperti anak sma saja" tawa Nauren yang ikutin Yani.
" Benar , seharusnya kamu melakukan perubahan dari awal kenapa baru sekarang? " ucap Yani membenarkan perkataan Nauren.
" Ohh, iya hari ini kita ada rapat dengan seluruh dapartemen . Namun setiap dapartemen akan memilih dua orang staff sebagi perwakilan dan dapartemen kita memilihmu dan aku tentunya. " ucap Yani begitu antusiasnya.
" Kenapa, memilihku kenapa tak yang lainnya. Masih ada Adit dan senior yang lain kenapa memilihku yang masih karyawan baru" ucap Nauren bingung .
" Yah , karena pendataan bulan ini kita yang kerjain . Jadi kita yang di tunjuk ikut dalam rapat. Apa kamu tahu nanti ada pemilik perusahaan yang akan memimpin rapat. Jadi kita harus memperhatikan penampilan dan tutur kata kita. Jika atasan kita menyukai kita itu nilai plus buat kita . Yah, sapa tau bisa jadi nyonya" ucap Yani mendapat pukulan tepat di kepalanya.
" Isshh , sakit tau" ringgis Yani mengusap kepalanya yang dipukul oleh Nauren.
" Abisnya kamu menghayal ketinggian. Emang kamu mau bertengkar dengan istrinya atasan . Aku mah ogah di cap sebagi pelakor" ucap Nauren membalas perkataan Yani.
" Astaga, Nauren kamu tinggal dimana sih kamu tidak tau kalo CEO kita masih muda dan setahuku dia belum memiliki kekasih jadi masih banyak peluang buat kita masuk " ucap Yani menjelaskan
" Kamu saja Yan, aku sudah memiliki kekasih dan pacarku sangat baik jadi aku tak tertarik. Lagian aku hanya ingin bekerja dengan baik saja tanpa ada embel-embel lainnya" ucap Nauren mulai menyiapkan dokumen yang akan di bawa di ruang rapat.
Dua jam telah berlalu sudah waktunya para staff mengikuti rapat. Seluruh dapartemen mulai mengisi kursi yang kosong hingga penuh. Para staff menunggu dalam diam hingga sosok yang di tunggu mulai masuk . Seluruh staff berdiri menyambut kedatangan CEO muda namun Nauren yang berdiri tak memperhatikannya hingga dia duduk. Saat rapat dimulai betapa terkejutnya dia melihat sosok yang di kenalnya duduk di kursi CEO yang juga sedang menatapnya.
β£β£β£β£ Bersambung β£β£β£β£
Nantikan kelanjutannya , π€π€
Jangan lupa ; Vote, Like, komentar & Subcribed