
Pagi-pagi sekali Edrik sudah rapi dengan pakaian kasualnya.
"Pagi mah" sapa Edrik mencium pipi wilona.
"Pagi juga sayang. tumben pagi-pagi sudah rapi? tapi kok style mu bukan seperti ke kantor." ucap Wilona memperhatikan Edrik dari bawah sampai atas
"Yah, Edrik emang bukan mau ke kantor mah. jawab Edrik
"Kerja , kamu kerja apa dengan pakaian seperti ini" sahut Austin bergabung di meja makan
"Kerrja mencari calon mantu untuk kalian" ucap Edrik santai membuat wilona bingung.
"Mah, anakmu masih sehatkan mah. "ucap Austin melihat Wilona yang hanya mengangkat bahunya.
"Aku tidak tau, aku rasa kita perlu memeriksakan dirinya. Dari kemarin dia sudah bertingkah aneh." Willona menatap Austin meminta penjelasan.
"Paman apa Edrik ada?" tanya Kelvin yang baru saja masuk.
"Dia baru saja pergi Kelvin. Kamu telat 20 menit" ucap Austin kepada Kelvin.
"Yah sudah kelvin ke kantor dulu paman" ucap Kelvin meninggalkan rumah gwinith.
"Mengapa semua orang meninggalkan rumah begitu cepat." bingung Willona menatap suaminya.
Di mini market.
Saat Edrik memarkirkan motornya, Edrik merasa ponselnya bergetar melihat siapa yang menelponnya.
📞Ya, kenapa menelpon" ucap Edrik kepada orang yang di sebrang sana.
📞 Boss , pemilik crop company meminta bertemu denganmu?" ucap Kellvin dipanggilan teleponan.
📞 Tolak saja" ucap Edrik siingkat.
📞 Sudah saya tolak , tapi group crop ingin bertemu dengan boss" jawab Kelvin.
📞 Yah pokoknya tolak saja. Bagaimana caramu sajalah." ucap Edrik mematikan telpon sepihak membuat Kelvin semakin kesal
"Dasar boss kamfret, urusan disini saja belum kelar . Ini di suruh berurusan dengan wanita penyihir , tuhan kapan penderitaan ini selesai mengapa kau mengujiku begitu berat" doa Kelvin yang penuh dramatis.
kembali ke mini market.
"Sampai kapan kamu akan duduk di situ. " tanya Nauren yang baru saja datang.
"Sampai besok. ".jawab Edrik malas
"Duduk saja disitu tidak usah berdiri. sampai kudisan juga duduk saja terus. " ucap Nauren malas
"Sekalipun aku ingin masuk jika kamu belum membuka pintunya. Gimana aku mau masuk ." ucap Edrik kesal
"Yahh,,, siapa tau kamu tembus tembok atau menghilang gitu ".ujar Nauren
"Kamu kira aku setan yang bisa menghilang dan menembus tembok tanpa harus lewat pintu gitu" jawab Edrik geram kepada Nauren.
"Yah, mungkin saja kamu mahkluk goib yang tiba-tiba nongol dan tiba-tiba hilang. " ujar Nauren meninggalkan Edrik.
"Sabar Edrik, ini ujian aku harus terbiasa dengan mahluk abstak itu" gumam Edrik dalam hati melangkah masuk kedalam mengikuti Nauren.
Matahari yang begitu terik membuat Edrik kepanasan.
"Apakah ac nya mati, mengapa begitu panas".gumam Edrik kepasan.
"Apa kamu kepanasan" tanya Nauren
"Gak, aku kedinginin . " jawab Edrik ketus. "kamu bodoh atau gimana sih sudah tau cuaca sangat panas tapi masih bertanya?" ucap Edrik semakin kesal dengan pertanyaan konyolnya Nauren.
"Kamu mengataiku bodoh" geram Nauren marah menatap Edrik.
"Yah,, emang benerkan . Tak perlu ditanyakan lagi." jawab Edrik santai.
•••••
Saat mereka sedang bertengkar tiba-tiba masuklah pelanggan dan membuat mereka berhenti bertengkar.
"Halo kak , selamat berbelanja " ucap Edrik tersenyum menatap pembeli muda itu. Sedangkan Nauren hanya tersenyum menatap pelanggan.
Perempuan remaja yang ditatap hanya tersipu malu . " Pria ini tampan sekali , baru tau penjaga kasirnya seganteng ini. Kesempatan emas gak boleh di lewatkan" gumam perempuan itu dalam hati.
Setelah remaja itu selesai memilih barang yang akan di belinya . Remaja itu pun bergegas ke meja kasir.
"Total semuanya 200 yah kak . Apa kakak mau nambah lagi" ucap Edrik bertanya pada perempuan di depannya yang terlihat bengong.
" Iyah kak, ada apa" tanya perempuan itu yang baru saja tersadar dari lamunannya
Hedehhh, ditanya malah bengong" gumam Edrik dalam hati.
"Totlal belanjaan kaka semua 200. Apakah ada yang mau kaka tambah? " tanya Edrik kepada perempuan di depannya.
"Apa boleh kak." Tanya pelanggan remaja itu.
"Tentu saja boleh. Silahkan kak ambil barang yang ingin kaka tambah" ujar Edrik kepada remaja itu.
"Tambah nomor kontak kaka di watsapku boleh." ujar perempuan itu menyodorkan ponselnya.
"Maaf kak, tapi saya tidak memiliki ponsel." jawab edrik membuat remaja itu mengerucutkan bibirnya.
"Ini kak. makasih" remaja itu membayar belanjaannya kemudian pergi dengan kesal.
Nauren yang hanya menyimak mulai mengejek Edrik.
"Hay kak apa ada yang mau di tambah. Apa boleh tentu kenapa tidak. Kalo nambah kontak watsapku boleh" ucap Nauren mengejek menirukan omongan remaja tadi yang membuat Edrik marah.
"Apa kamu cemburu?" ujar Edrik mendekatkan wajahnya ke Nauren .
Nauren yang ditatap dalam seperti itu memundurkan tubuhnya kebelakang namun Edrik semakin memajukan wajahnya hingga Nauren bisa merasakan nafas Edrik di wajahnya.
"Tentu saja tidak" ucap Nauren dengan gugupnya
"Apa yang ingin kamu lakukan " ucap Nauren terbata-bata melebarkan matanya menatap Edrik.
"Kamu kan suka mengoceh, jadi aku ingin menutup mulutmu itu agar tak selalu mengoceh dan mengejekku" ucap Edrik yang semakin memajukan tubuhnya membuat Nauren menyilangkan tangannya di depan dadanya. Melihat Nauren yang semakin waspada membuat Edrik semakin ingin mengerjainnya. Tubuh Edrik yang semakin maju dan Nauren yang mulai menutup matanya namun dia tidak merasakan apapun karena Edrik sudah menjauhkan tubuhnya.
Nauren yang membuka mata menatap edrik dengan kesal.
"Apakah kamu berharap aku menciummu . " ucap Edrik tanpa melihat Nauren.
" Tidak ,aku juga tak berharap dan satu lagi kamu sama sekali bukan tipeku" jawab Nauren kesal melihat Edrik tak melihatnya saat mengobrol.
"Perkataanmu dan hatimu tidak selaras. Mulutmu bilang tidak tapi hati mengatakan yah" ucap Edrik menatap Nauren
"Ckkk, desis Naure
"Jikaa kamu menyukaiku aku harap kamu membuang perasaan itu karna aku sama sekali tidak tertarik denganmu." Ucap Edrik melanjutkan menyusun barang yang berantakan.
"Apakah di matamu aku berharap sama kamu. Salah besar Edrik karena aku sama sekali tak ter tarik denganmu aku juga sudah memiliki kekasih. Aku harap kamu tau diri." ucap Nauren.
"Kekasih, apa kekasih sungguhan atau sewaan " ejek Edrik.
Melihat Edrik yang menatap meremehkan membuat Nauren semakin kesal.
"Sewaan apa sungguhan , bukan urusanmu" ucap Nauren.
Saat Edrik masih merapikan barang-barang yang ada di rak tiba-tiba ponselnya bergetar.
" Sayang, kamu lagi dimana? " ucap penelpon di seberang sana.
"Aku masih kerja, ada apa?". jawab Edrik singkat
" Aku sudah di bandara . Apa kamu tidak berniat menjemputku" ucap penelpon disana membuat matanya Edrik berbinar.
"Sungguh kamu sudah di bandara apa kamu tidak berbohong" ucap Edrik memastikan
"Yah aku beneran sudah di bandara . Jika kamu tidak percaya nyalakan vidiocall nya" ucap wanita di seberang sana.
"Oke, " vidiocall pun tersambung. Edrik yang melihat wanita diseberang sana membuat matanya berbinar.
"Tunggu.di situ oke, aku akan memjemputmu" ucap Edriik menatap menatap wanita di seberang sana.
"Oke , tapi jangan kelamaan . "Ucap wanita di sana kepadavEdrik
Edrik menatap Nauren yang sedari tadi memperhatikan saat dia menelpon .
"Umm,, Nauren apa aku boleh pergi sekarang?" ucap Edrik menatap Nauren.
"Pergilah, kembalilah sebelum jam tiga. Soalnya pihak pemilik minimarket akan datang mengecek.
Mendengar jawaban Nauren Edrik yang kegirangan mencium pipi Nauren membuat Nauren diam membeku.
¤¤¤ Bersambung ¤¤¤