CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE

CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE
Bab 29



Tepat pukul 20;00, Prisia masih berada di rumah keluarga Gwinit. Dengan kehadiran Prisia yang selalu berada di dekatnya membuat Edrik risih.


" Apa kamu tidak pulang " tanya Edrik pada Prisia. Ia tak suka jika Prisia sok dekat padanya dan keluarganya.


" Kenapa kamu menginginkanku cepat pulang?" ucap Prisia yang pura pura sedih. " Niatku hanya ingin membantumu jika kamu memerlukan bantuan aku bisa membantumu" ucap Prisia lembut. Ia menampilkan wajah yang tulus, namun Edrik tahu di balik sikap yang terlihat tulus ada niat yang tersembunyi.


" Ini sudah malam apa kamu tidak di cari oleh orang tuamu"tanya Edrik tanpa menatap Prisia.


" Aku sudah izin di papah jika aku berada di rumahmu dan dia mengijinkannya" jawab Prisia santai


Edrik maju mendekatkan tubuhnya kedepan Prisia. Ia menatap tajam lalu berbisik di telinga Prisia. " Ayolah, Pris tak perlu berpura pura seperti ini. Kamu bisa membohongi mamahku tapi tidak denganku. "


"Aku tak berbohong dan mengapa aku harus berbohong. Apa kamu menganggap aku seburuk itu hingga kamu menuduhku seperti ini."ucap Prisia pura pura sedih.


"Tak perlu bersikap seperti itu padaku Pris aku tau niatmu. Jadi jangan harap jika rencanamu berhasil." ucap Edrik dengan ketusnya.


'Apa dia tau apa yang aku pikirkan, benar kata temanku dia orang yang sangat susah di dekati tapi kenapa dia sangat mudah dekat dengan Nauren. Apa yang kurang dariku aku cantik dan kaya. Tidak ada yang kurang tapi kenapa dia seperti jaga jarak padaku. Tak apa jika kamu jaga jarak aku akan membuat kamu dekat denganku hingga kamu tak mau jauh jauh dari ku" batin Prisia menyemangati dirinya.


Willona masuk membawa semangkuk bubur untuk Edrik.


Ehem" Edrik meenjauhkan tubuhnya dari Prisia.


"Sayang ayok, makan dulu mamah bawakan bubur untukmu. " Willona


" Iyah mah, taruh saja di atas meja nanti Edrik makan


"Pris tolong yah jaga Edrik untuk tante


" Iyah, tante akan saya pastikan Edrik akan menghabiskan buburnya" ucap Prisia tersenyum. Ia berhasil membuat Willona menyukainya.


" Mah, aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku gak perlu bantuan darinya." Edrik tak suka dengan ucapan Willona. Menyerahkannya pada Prisia


" Sudahlah Drik kali ini kamu harus mendengarkan ucapan mama. Tidak ada penolakan, lagian Prisia gadis yang baik" mendengar pujian Willona membuat senyum merekah di wajah Prisia





Di sisi lain, Nauren yang sudah kembali ke rumah ibu dan ayah tirinya. Karena paksaan ibunya Nauren tinggal bersama keluarga ibunya di rumah baru ibunya.


"Nauren ini kamar kamu sayang. Maaf yah rumah ini tak sebesar dengan yang ada di ausi.


" Gak bu, rumah ini besar kok. Aku senang bisa kumpul bareng ibu dan adik adik aku." ucap Nauren dengan tersenyum.


"Baiklah, ibu senang dengarnya. Kamu bersihkan dirimu, setelah itu kita makan malam bersama. Ibu tunggu kamu di bawah sayang" Angel mengusap kepala Nauren sebelum dia meninggalkan kamar Nauren.


Setelah ibunya keluar dari kamarnya Nauren mulai mengeluarkan baju yang ada di tasnya. Dia berjalan menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Lima belas menit dia membersihkan diri, karena dia tak suka jika keluarganya menunggunya terlalu lama. Setelah seleai merapikan dirinya dia turun ke meja makan yang sudah ada keluarganya. Namun tidak dengan Prisia karena dia sedang di rumah Edrik.


" Maaf, karena aku kalian harus menungguku" ucap Nauren tertunduk merasa bersalah.


" Tidak apa apa Nauren. Kamu tak perlu merasa bersalah kami senang menunggumu. Jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri" ucap Bram ayah tirinya


" Iyah kak, aku senang kok jika makan bersama kakak. Ayo sekarang kita makan aku sudah sangat lapar" ucap tino kecil. Melihat tinggah Tino membuat Nauren gemas. Ia mengusap kepala adiknya dengan sayang .


Selama makan berlangsung tak ada yang bersuara. Mereka makan dalam diam. Setelah makan malam selesai mereka duduk diruang keluarga.


" Nauren, ayah dengar kamu sudah tak bekerja. Apa itu benar" tanya Bram yang pura pura tak tahu.


" Iyah, ayah aku sudah tak bekerja.


" Jika kamu tidak bekerja lagi. Gimana jika kamu bekerja di perusahaan ayah. " tawar Bram


" Apa itu tak mengganggu ayah.


" Kenapa mengganggu, kamu bisa membantu ayah sangat merasa senang.


" Benar sayang kamu kerja saja di kantor ayahmu. Gak perlu cari kerja dimana mana . Kamu cukup kerja disana bersama ayahmu


Saat mereka sedang ngobrol Prisia berjalan melewati mereka.


" Pris, kamu habis darimana. Kenapa baru pulang" tanya Angel


"Aku dari rumah teman mah. Tadi aku sudah izin dengan papah jika aku pulang malam


" Teman kamu baru tiba di negara ini. Bagaimana kamu memiliki teman" tanya Angel dengan menatap meneyelidik.


" Tentu saja aku memiliki teman. Aku kenal dengannya saat dia ke ausi . Ketika dia tau aku ke indo dia mengajakku jalan mah" ucap Prisia menjelaskan.


" Baikklah, kamu masih baru disini. Jadi jangan keluar sendirian. Jika kamu ingin keluar kamu bisa meminta Nauren menemanimu


" Iyah mah. Jika Nauren menemaniku bagaimana aku bisa mendekati Edrik" gumam Prisia dalam hati. Dia meninggalkan keluarganya yang masih duduk di ruang keluarga menuju ke atas dimana letak kamarnya.


Tepat pukul 21:30. Angel menyuruh anaknya untuk ke kamar masing masing. Sudah malam dan waktunya mereka tidur.


Namun, saat Angel ingin menidurkan anak bungsunya. Di tolak oleh tino, dia tak ingin ibunya masuk kedalam kamarnya.


" Mah, Tino sudah besar. Tidak perlu menidurkanku lagi aku bisa tidur sendiri.." ucap Tino dengan tatapan yang dibuat semenggemaskan mungkin hingga Angel tak bisa menolak permintaan anaknya.


" Baiklah sayang. Selamat tidur, jika butuh apa apa bilang di mamah atau kak Naura yah.


"Baik mah" balas Tino dan langsung menutu pintu kamarnya.


Setelah sudah memastikan jika kamarnya terkunci. Tino mengeluarkan kotak mainannya yang berada di bawah kasurnya. Ia mengeluarkan mainan satu persatu hingga tak ada satu pun mainan yang tersisa.


Semua mainan dikeluarkan tinggallah hanya sebuah kotak. Namun bagi orang yang tak tahu hanya melihatnya kotak kosong. Tino mulai menekan tombol di sisi bawah keluarlah kotak berukuran kecil dimana dia meletakkan ponsel pintarnya. Ia mengeluarkan ponsel itu dari dalam kotak tersebut.


Oh, iya gaes kotak ini rancangan dan buatan Edrik sendiri jadi yang mengetahuinya hanya dirinya dan Tino.


Kembali ke cerita.


Setelah Tino mengeluarkan ponsel yang tak terlalu kecil dan tak terlalu besar itu. Ia mulai menghubungi Edrik.


Edrik yang merasa ponselnya bergetar namun panggilan ini dari ponsel yang dia rancang sendiri langsung mengangkat panggilan tersebut.


" Hallo adik kecil. Apa sedang terjadi sesuatu" tanya Edrik pada penelpon di sebrang sana


" Tidak kak, aku hanya mau mengabari jika kak Nauren tinggal di rumah dan akan bekerja di kantor papah.


" Terima kasih adik kecil. Kabari kakak terus yah. Apapun yang kamu mau akan kakak turutin. " ucap Edrik yang membuat Tino merasa senang.


" Oke , ingat janji kakak


Ke esokan harinya, Nauren yang sudah tiba di kantor ayah tirinya. Merasa sangat senang.


" Hari baru, kantor baru semangat Nauren


" Hai, kamu orang baru yah. Kenalin namaku Rara puspita. Panggil saja rara" ucap Rara mengulurkann tangan dan disambut hangat oleh Nauren.


" Nauren kumala sari, panggil saja Nauren " jawab Nauren.


Setelah selesai perkenalan diri Nauren mulai akrab dan mengobrol dengan teman barunya. Saat mereka sedang asik mengobrol masuklah kurir.


" Maaf siapa disini yang bernama Nauren" tanya sang kurir


" Saya mas,, ada apa ya


" Ini bunganya mba . Dan tanda tangan disini" ucap kurir kepada Nauren. Nauren bingung ia bertanya tanya bunga pemberian siapa ini.


"Ahem, baru masuk sudah dapat bunga aja. Siapa yang memberikan kamu bunga " ucap Rara yang mulai meledek Nauren.


" Jika kamu mau tahu ini ambil bunganya. Aku tak suka bunga " Nauren menyerahkan bunga itu pada Rara dan meninggalkan Rara yang sibuk mencari kartu pengirim.


♣♣♣♣ **To be continued** ♣♣♣♣