
Masih terbesit dalam kejadian tadi, Nauren menatap langit-langit kamarnya . Perputaran ingatan-ingatan tentang kenangan indahnya bersama Edrik tercetak jelas kebahagian yang mereka rasakan . Namun, Nauren masih ragu setelah mengetahui identitas asli Edrik bukan orang biasa.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku biasa bertahan dengannya jika aku mencoba dengannya lagi? Bahkan belum mencobanya saja rasanya aku tak sanggup” batin Nauren berbicara
“ Aiisshhh, apasih yang kupikirkan. Sebaiknya aku serahkan sama tuhan saja. Toh kalo jodoh juga tak akan kemana. Mending aku tidur saja. Besok masih banyak pekerjaan yang menantiku. Daripada mataku tambah menghitam mending aku bobo cantik’’ ucap Nauren yang bersiap tidur.
Tak memerlukan waktu lama Nauren pun sudah pergi ke alam mimpi.
*
*
*
Disisi lain, Edrik yang baru saja tiba menghentikan langkahnya. Saat Willona memanggil namanya.
‘’ Kenapa mamah belum tidur?’’ Tanya Edrik pada Willona yang duduk di ruang tamu.
‘’ Apa kamu sudah mengantar Prisia sayang?’’ Tanya Willona menatap putranya. Edrik berjalan duduk disamping Willona
‘’Sudah mah’’ jawab Edrik singkat
‘’ Apa kamu bertemu dengan ayahnya sayang?
‘’ Mah, untuk apa aku bertemu dengan pak Bram mah? Tanya Edrik binggung
‘’ Tentu saja harus kamu akan bertunangan dengan anaknya. Apa seorang ayah tak berhak bertemu dengan calon mantunya?’’
‘’Mah Edrik mohon jangan bahas ini lagi. Mamah tau sendiri kan jika Edrik menyukai Nauren mah, bukan Prisia.’’ Edrik menatap Willona memohon agar mamahnya mengerti perasaan Edrik.
Austin yang mendengar percakapan istrinya dengan putranya membela sang putra.
‘’Mah, kenpa kamu sangat kekeh dengan Prisia sih mah. Apa kamu tak bias melihatnya dengan jelas jika Prisia hanya menginginkan harta kita saja. “ ucap Austin memberi pengertian kepada istrinya
‘’Apa maksudmu, jika Prisia hanya menginginkan harta kita. Apa kamu memiliki buktinya pah. Jika tak memiliki bukti sebaiknya jangan berbicara macam-macam tentang calon menatu kita pah?’’ ucap Willona yang tak terima.
Austin yang mendengar pembelaan sang istri hanya menggelengkan kepala saja.
‘’Apa yang Prisia lakukan hingga kamu begitu mengangunggkan nya. Sampai kamu begitu butanya tak bisa membedakan yang baik dan ular?’’ ucap Austin yang tak suka dengan Prisia . ia meninggalkan istrinya yang masih duduk di ruang tamu bersama putranya.
‘’ Apa sih yang Nauren pake. Hingga putraku begitu cinta mati dengannya. Dan sekarang suamiku pun ikut membelanya. Aku tak bisa membiarkan Nauren mendekati keluargaku lagi. Pokoknya tidak akan lagi, aku harus membuat Edrik bertunangan dengan Prisia secepat mungkin’’
...----------------...
Pagi ini, cuaca Jakarta sangat cerah. Seperti sang surya tersenyum pada kota Jakarta.
Seperti biasa Willona membuat sarapan untuk keluarganya. Walau dia memiliki begitu banyak pelayan dirumahnya dalam hal memasak Willona selalu melakukannya sendiri. Ia tak pernah melewatkannya. Kecuali jika ada acara atau dirinya sakit. Barulah para pelayan yang melakukannya.
Setelah, selesai memasak Willona menata makanannya di meja di bantu oleh pelayan dan Prisia.
‘’Pagi ssayang. Ayok duduk kita sarapan bersama?’’ ucap Willona menarik lengan putranya yang ingin melewati meja makan.
‘’ Mah, kenapa sih harus ada dia. Apa rumah kita sudah menjadi tempat penampungan. Hingga seseorang begitu gampangnya keluar masuk ke dalam rumah kita’’ ucap Edrik menatap sinis pada Prisia.
‘’ Edrik, jaga bicara kamu apa mamah mengajarkanmu berkata kasar pada orang. Apa lagi orang itu akan menjadi tunanganmu tentunya. ‘’ ucap Willona menekankan kata tunangan.
‘’ Tak apa tan. Tante jangan memarahi Edrik, aku yang salah tante. Kenapa datang kesini, jika kehadiranku tak di harapkan’’ ucap Prisia pura-pura sedih.
‘’Maafkan Edrik yah Pris. Harusnya putra tante tak berkata seperti tadi. Atas nama Edrik tante minta maaf yah’’ ucap Willona yang tak enak pada Prisia.
‘’Tan, aku mohon tante jangan minta maaf yah. Aku gak suka jika tante memohon maaf padaku . yang harusnya minta maaf itu Prisia tan. Bukan tante.’’ ucap Prisia membuat Willona tambah kagum dengan sikap lembut yang Prisia perlihatkan.
Edrik dan Austin yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia percakapan Willona dengan Prisia membuat mereka muak. Austin lebih memilih meninggalkan makanan yang belum tersentuh.
‘’ Pah, papah mau kemana? Makanannya belum di makan ‘’ tegur Willona pada suaminya.
‘’ Papah keyang mah, mama saja dan calon menantu kesayanganmu itu yang habiskan makanan itu. ‘’ ucap Austin meninggalkan meja makan.
‘’ Edrik juga mau ke kantor mah, Edrik ada rapat pagi jadi gak bisa telat.’’ucap Edriik meninggalkan Willona dan Prisia di meja makan.
‘’ Kenapa mereka meninggalkan meja makan tanpa makan dan minum kopi‘’ ucap Willona menatap sedih kepergian orang-orang yang di sayangnya.
♣♣♣♣ **To be continued ♣♣♣♣**
Jangan lupa :
**Vote, like, komen & subcribed** 🤗🤗