CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE

CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE
Bab 20



πŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“Œ


Di kediaman gwinith.


Kelvin yang baru saja tiba di kediaman gwinith mencari keberadaan Edrik yang tak keliatan walau hanya bayangannya saja.


" Assalamualaikum tante. " sapa Kelvin memberi salam kepada Willona.


" Waalaikumsalam Kelvin , ada apa tumben kamu pagi-pagi sekali ke sini ? " tanya Willona kepada Kelvin.


" Apa ada Edrik tante. Ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani dan ada beberapa berkas juga yang harus saya ambil tante." Kelvin menjawab pertanyaan Willona mengapa dia ke rumah gwinith


" Tapi kamu telat sayang, Edrik sudah pergi dari tadi " ucap Willona menjawab pertanyaan Kelvin.


" Yah sudah tante jika pak Edrik tak ada , saya pamit permisi dulu " ucap Kelvin pamit pergi dari kediaman gwinith


Dasar boss sarap, cepat amat perginya . Padahal aku sudah berusaha secepat mungkin namun aku masih kalah cepat dari Edrik . Dasar boss bucin urusannya cinta mulu gak ada yang lain apa? " kesal Kelvin


.


.


Di dalam mobil Edrik yang menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Kita mau kemana bep" tanya Nauren yang mulai membenarkan posisi duduknya.


" Ke tempat terindah. " jawab Edrik asal


"Aku serius ,kita mau pergi kemana? " tanya Nauren lagi.


Kali ini Edrik tak menjawab pertanyaan Nauren dan dia mulai melajukan kecepatan mobilnya hingga Edrik berhenti tepat di parkiran pantai.


" Kan tinggal bilang kalo kita ke pantai gitu kan beres. Bukannya di tanya malah di jawab kita ke tempat terindah ke syurga saja sekalian bep." kesal Nauren dengan Edrik.


" Sayangku, imut banget sih" Edrik mencubit pipi Nauren membuat Nauren memajukan bibirnya.


" Sakit tau bep. Bisa gak sih jangan cubit pipiku" kesal Nauren menghempas tangan Edrik dari pipinya.


" Gak bisa, habis kamu imut sih. Kalo kamu masih memajukan bibir ini aku akan menciummu" ucap Edrik memajukan wajahnya hingga hembusan nafas Edrik dapat di rasakan Nauren. Nauren yang tersadar langsung mendorong tubuh Edrik dan lari keluar dari mobil Edrik.


" Dasar mesum" teriak Nauren dari luar mobil.


" Mesum sama pacar sendiri kan gak papa yang" ucap Edrik menyusul Nauren.


" No, belum muhrim. Awas saja jika macamm-macam" ancam Nauren menatap Edrik tajam.


" Kalo satu macam saja gak papa kan " ucap Edrik mengedipkan sebelah matanya


" Gak boleh, halalin aku dulu. Baru boleh macam-macam" ucap Nauren meninggalkan Edrik.


" Wah, kode nih . Gaskan kuy." ucap Edrik tersenyum.


Edrik yang menghampiri Nauren mulai mensejajarkan jalannya. Saat Edrik ingin membawa Nauren ke tepi pantai tiba-tiba terdengar suara perut Nauren berbunyi.


kruukkkh" suara perut Nauren yang kosong minta di isi.


" Kamu lapar? " tanya Edrik dengan bodohnya.


" Tidak, aku sangat sangat keyang. Dasar pria tak peka orang lapar bukannya di belikan makan . Tapi malah bertanya" ujar Nauren meninggalkan Edrik.


" Oh, astaga sayang . Kenapa aku malah di tinggal sih" teriak Edrik menyusul Nauren yang sudah duduk manis di kafe tepi pantai.


" Permisi mba mau pesan apa? " tanya pelayan kafe menyodorkan menu makanan di hadapan Nauren dan Edrik.


" Sop buntut saja mas , minumnya es kelapa muda. Enak kan pagi-pagi gini makan yang berkuah minumnya kelapa muda" ucap Nauren yang sudah tak sabar menunggu pesanannya.


" Kalau masnya pesan apa mba ? " tanya pelayan kafe kepada Nauren.


" Tanya sendiri saja mas, tuh orangnya disana jadi tanya saja sendiri" ucap Nauren kepada pelayan kafe itu.


" Saya samakan saja dengan pacar saya mas" Edrik menjawab sebelum di tanya oleh pelayan kafe itu.


" Baik mas apa masih ada yang ingin di pesan lagi " tanya pelayan kafe itu.


" Tidak mas ,itu saja sudah cukup." jawab Nauren yang sudah tak sabar dengan pesanannya.


Setelah mencatat pesanan Edrik dan Nauren pelayan itu pun pergi. Dan kembali setelah dua puluh menit mengantarkan pesanan yang sesuai dengan pesanannya mwreka. Setelah mengantarkan pesanan Nauren pelayan itu pun pergi meninggalkan Nauren dan Edrik.


" Wah, harum sekali sepertinya enak." ucap Nauren mencium aroma sob buntut yang di pesannya.


Nauren yang sudah kelapan dengan cepat dia mensantap makanan yang di pesannya. Edrik yang melihat Nauren begitu lahap menyodorkan sopnya di hadapan Nauren.


" Kamu tak makan " tanya Nauren


" Makannlah, ku rasa kamu yang lebih lapar daripada aku " jawab Edrik singkat.


" Yah, terserah kamu saja . Kalo kamu tidak mau yah sudah , sayang kan makanan di buang mubazir" ucap Nauren mengambil mangkok Edrik dan dia mulai menuangkannya ke dalam mangkoknya.


" Pelan-pelan makanannya, seperti tidak makan dalam satu minggu saja " ucap Edrik mengingatkan Nauren.


" Iyah, aku akan pelan " jawab Nauren namun masih dalam kecepatan yang sama


Setelah mereka selesai makan Edrik mengajak Nauren ke pesisir pantai. Edrik dan Nauren berjalan menyusuri tepi pantai sambil berpegangan tangan.


" Tidak apa-apa , aku tau kamu sedang sibuk . Aku akan lebih memahami kesibukanmu " jawab Nauren tersenyum menatap Edrik.


" Terima kasih sudah mengerti" ucap Edrik


" Sama-sama. Oh iya, kemarin aku sempat menanyakanmu pada resepsionis tapi tidak ada namamu di bagian IT . Mereka juga bilang ada namamu di bagian ob , tapi pas aku cek kesana aku tak menemukanmu" Edrik yang mendengar pertanyaan Nauren bingung harus menjawab apa ? Apa harus jujur atau berbohong.


" Iyalah dibagian IT tidak ada kan aku bukan kerja di situ apalagi menjadi ob. Apa yang harus aku jawab apa aku harus berkata jujur jika aku adalah pemilik perusahaan itu. Tapi, apa kamu akan menerimaku aku takut jika aku berkata jujur sekarang kamu tidak akan menerimaku dan lebih memilih. Pergi. Jujur aku sudah terlalu sayang hingga aku tidak bisa jauh darimu. Tapi aku akan tetap memberi tahu kamu kebenarannya disaat waktu yang tepat." gumam Edrik dalam hati.


" Kenapa tidak menjawabku." tanya Nauren


" Aku kan sudah pernah bilang jika aku hanya pekerja panggilan. Jadi, tentu saja jika mereka tak mengenaliku . Lagian aku bekerja langsung dengan boss bukan dengan mereka. Jadi mereka tak tahu" jawab Edrik berbohong.


" Apa kamu tak berbohong" tanya Nauren yang menatap mata Edrik mencari kebenaran disana apa perkataan Edrik jujur atau bohong. Namun seperti biasa ia tak menemukan apapun.


" Iyah, aku tak berbohong. Tapi suatu saat kamu akan mengerti " jawab Edrik dengan ambigunya membuat Nauren bingung dengan perkataan Edrik.


" Maksudnya apa, kalo ngomong itu yang jelas dong jangan jawabnya dengan kata ambigu begitu siapa yang ngerti? " tanya Nauren kesal bukannya di jawab malah Edrik tak menjawabnya.


" Apa kamu ingin naik kapal spit. " tanya Edrik


" Jawab dulu pertanyaanku. Kebiasaan banget sih selalu saja lari kalo di tanya tentang dirinya. " Nauren yang marah namun tetap mendekati Edrik yang sudah siap dengan spitnya.


" Pegangan nannti jatuh lagi. " ucap Edrik menarik tangan Nauren dan menaruhnya di perut Edrik. Saat Nauren ingun melepaskan tangannya dengan cepat Edrik menjalankan spitnya. Nauren yang kaget bukannya melepaskan namun semakin mengeratkan pelukannya. Melihat Nauren memeluknya begitu erat membuat Edrik tersenyum senang.


" Jangan ngebut-ngebut bahaya nanti kita jatuh" ucap Nauren menepuk pundak Edrik.


" Iyah sayang , aku tak akan terlalu cepat" jawab Edrik menurunkan kecepatannya.


" Apa kamu senang" tanya Edrik lagi


" sangat senang , makasih sudah membawaku jalan-jalan. " jawab Nauren dengan senyum yang masih mengembang di wajah cantiknya.


" Apa kamu ingin keluar negeri? Negara apa yang paling ingin kamu kunjungi? "tanya Edrik lagi


" Untuk sekarang aku ingin pergi dimana ibuku berada. Aku tak memikirkan negara manapun selain ibuku. " jawab Nauren simgkat.


" Sungguh, gimana kalo kita berangkatnya sore dan besok sore baru kita pulang " tanya Edrik


" Tiket kesana pasti sangat mahal dan aku juga tak memiliki pasport. Aku tak memiliki uang sebanyak itu walau kita hanya menginap dalam sehari" ucap Nauren lesu, ia sangat ingin pergi namun ia sadar dia tak memiliki uang sebanyak itu hingga Nauren menurunkan ke inginannya.


" Ayolah, aku sudah mempersiapkannya. Pasportmu sudah jadi , jadi tak ada masalahkan. Dan aku memiliki cukup uang untuk tiket kesana. Soal tempat tinggal yang kita tinggali kita akan menginap di apartement temanku jadi kita tak perlu membayarnya. " ucap Edrik menjawab kekhwatiran Nauren.


" Tetap saja sangat mahal " ucap Nauren lesu


" Aku hanya perlu persetujuanmu. Jika kamu setuju aku akan memesan tiket sekarang. Gimana apa kamu mau?" tanya Edrik lagi.


" Umn, jika kamu tak keberatan dan tak merasa terbebani boleh deh " jawab Nauren malu-malu


" Yah sudah, ini baru jam satu . Ayok kita makan dulu aku juga perlu memesan tiket " ucap Edrik yang mulai menepikan spitnya


" Kamu ingin makan apa , biar aku pesankan sekalian " tanya Nauren yang sudah turun dari motor spit


" Apa saja yang kamu pesan pasti aku makan kok" ucap Edrik menjauh dari Nauren


Saat Edrik melihat Nauren tak mengikutinya Edrik mulai mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


πŸ“ž Hallo Vin, sapa Edrik kepada Kelvin disana


πŸ“žIya bos ada apa? "tanya Kelvin


πŸ“ž Pesankan dua tiket ke australi dan belikan apartement yang tak terlalu mewah dan memiliki dua kamar . Oh iya apa pasport Nauren sudah jadi " tanya Edrik.


πŸ“ž Kalo pasport sudah jadi sudah ada sama saya boss. Tapi untuk pembelian apartemen apa sekarang boss." tanya Kelvin


πŸ“ž Besok, yah sekaranglah . Pokoknya apartemen itu sudah ada saat aku sudah tiba di australi dan satu unit mobil juga tapi jangan terlalu mewah juga . Aku akan pulang jadi kita bertemu di rumahku saja" ucap Edrik memutuskan telpon secara sepihak.


"Kebiasaan banget sih main dimatikan di kira gampang apa cari aparteman dalam waktu dua jam malah permintaannya aneh-aneh lagi. Meski kelas menengah tapi tetap saja harus yang berkualitas dan keamanannya terjamin. Boss boss cinta sih cinta tapi jangan merepotkan orang kali boss" ucap Kelvin kesal , ia pergi menjalankan tugas pemberian dari Edrik.


♣♣♣ **Bersambung**. ♣♣♣


Jangan lupa **tinggalkan :


Like πŸ‘



Komentar. πŸ’¬



Subcribed. ❣️❣️



&



Vote. πŸ₯€πŸ₯€**