
Tepat pukul 10:00, Nauren menjemput Tino yang sudah menunggunya di depan pagar sekolahnya.
‘’ Hay, adik kecilku? Apa kamu sudah lama menunggu kakak?’ tanya Nauren pada Tino
‘’ Belum terlalu lama kak, sekitar 10 menit lalu kak” ucap Tino menjawab pertanyaan Nauren
‘’Ayo kita pulang’’ ajak Nauren menggandeng tangan kecil Tino menuju ke motor metiknya.
‘’Apa kita langsung pulang kak? Tino mau jalan-jalan dan beli eskrim kak’’ ucap Tino setelah naik di atas motor Nauren
‘’ Baiklah, tapi kakak tidak bisa lama yah? Karena pekerjaan kakak masih sangat banyak’’
‘’Baiklah kak? ‘’
‘’ Sekarang adik kakak mau kemana?’’ tanya Nauren
‘’ Taman bermain kak? Aku mau mencoba semua wahana permainan disana’’ucap Tino yang begitu antusias.
‘’ Baiklah sesuai perkataanmu adik kecilku.’’
Nauren pun melajukan motornya, Sekitar 30 menit akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Nauren membantu menurunkan Tino dan memakirkan motornya di tempat perkiran.
Setelah memakirkan motor Nauren menggandeng tangan Tino membeli dua tiket masuk. Saat Nauren dan Tino masuk ia melihat Edrik yang sedang menggantri membeli permen kapas karakter.
‘’ Kak bukankah itu kak Edrik’’ Tino menunjuk tempat Edrik berada.
‘’Aahhh, iyah itu kak Edrik” ucap Nauren yang masih menatap ke arah Edrik
‘’ Sama siapa dia disini? Apa dia bersama Prisia atau pacar lainnya.’’ Batin Nauren bergumam
Setelah membeli permen kapas, Edrik pun pergi ke tempat Nauren dan Tino berada.
‘’ Nih, untukmu permen bentuk beruang’’ Edrik memberikan permen kapas itu pada Tino. Dengan senang hati Tino menerimanya dengan senyum yang mengembul.
‘’ Wahhh,, terima kasih kak” ucap tino kesenangan.
‘’Nih, untukmu’’ Edrik menyodorkan permen kapas berbentuk kelinci. Namun bukannya menerima Nauren menatap dengan menautkan alisnya.
‘’ Ada apa? Ini untukmu. Ayok ambil, jangan di pelototin gitu. ‘’ ucap Edrik menarik tangan Nauren dan memberikan permen kapas yang ada di tangannya ke tangan Nauren.
‘’ Bukannya ini untuk pacarmu? Tapi, mengapa kamu memberikannya padaku? Apa pacarmu tak akan marah jika ia tahhu pacarnya memberikan perempuan lain yang harusnya untuknya’’ ucap Nauren dengan sinisnya
‘’ Apa kamu cemburu? Aku senang mengetahui kamu masih begitu peduli padaku.’’ Ucap Edrik tersenyum lebar.
‘’ Oh, iyah pacarku hanya kamu ? tidak ada yang bisa menggantikan dirimu dihatiku’’ ucap Edrik berbisik di telinga Nauren. ‘’ Ayo Tino kita main itu’’ ajak Edrik membawa Tino ke komidi putar.
‘’ Kak ayok, kenapa malah bengong disitu. Ayok kak’’ teriak Tino yang menyadarkan Nauren dari pikirannya.
‘’ Iyah, kaka ke sana’’ jawab Nauren berjalan ke tempat dimana Tino dan Edrik menunggunya.
Mereka bertiga pun naik ke komedi putar. Tercetak jelas senyum bahagia di wajah Tino ia sangat senang di ajak ke taman bermain.
“ Apa kamu senang’’ tanya Edrik pada Tino. Tanpa Tino menjawab Edrik mengetahui jika Tino sangat senang.
‘’ Bagaimana denganmu? Apa kamu juga senang?’’ tanya Edrik menatap manik mata Nauren ‘’ Kita seperti keluarga kecil yang bahagia dan aku sangat senang” ucap Edrik lagi.
Nauren pengalihkan pandangannya. Jantungnya berdegup dengan cepat. Ia sangat senang dengan perkataan Edrik barusan. Sebenarnya Nauren sudah menerima Edrik kembali, namun karena egonya yang terlalu tinggi ia tak mau mengatakannya secara langsung.
30 menit telah berlalu, selama itu pula Edrik dan Nauren bersama menemani Tino bermain. Dari menaiki wahana komidi putar, kora-kora, istana boneka dan gajah beledug. Betapa senangnya Tino keluar dari Disneyland.
Setelah mereka keluar dari tempat bermain, mereka menuju ke cefe yang tak jauh dari tempat bermain tadi. Karena memang sudah waktunya makan siang, mereka memesan Stiek daging, pasta, dan beberapa menu special yang ada di dalam menu. Tidak lupa beberapa cemilan, dan es krim vanilla tentunya. Waitres mencatat semua pesanan mereka dan kembali 25 menit dengan semua pesanan yang di pesan oleh Edrik.
Mereka makan dengan diam dan mensantap semua menu hingga habis. Setelah selesai makan Edrik ingin mengantar Nauren pulang namun Nauren menolaknya. Karena dia membawa motornya sendiri dan jarak rumah ke kantornya berbeda arah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kantor, Edrik yang dengan wajah sumringah masuk ke dalam ruangannya yang sudah ada Prisia yang sedari tadi menunggunya. Dengan wajah yang full senyum Edrik duduk di kursi kebesarannya, ia tak memperhatikan Prisia yang sedari tadi menatapnya.
‘’ Ehemmm, Prisia berdehem. Edrik yang menyadari keberadaan Prisia menatapnya dengan tanda tanya?
‘’ Ada apa kamu kemari? Apa kamu tidak ada kerjaan di kantor ayahmu hingga kau dengan santainya datang kekantorku ?’’ ucap Edrik dengan ketusnya.
‘’ Apa aku tidak bisa mengunjungi kantor calon tunanganku? Apa kamu lupa kita akan tunangan sebentar lagi.’’ Ucap Prisia menekankan kata tunangan
Prisia berdiri dan mendekati Edrik, Ia menatap Edrik lalu duduk di hadapan Edrik. ‘’ Tapi apa yang membuatmu tersenyum begitu bahagia? Kamu habis darimana? Apa kamu tahu aku sudah sejam menunggumu disini? Apa yang kamu lakukan hingga sekertaris dan asistenmu saja tak mengetahui keberadaanmu?’’ Tanya Prisia bertubi-tubi.
‘’ Apa aku harus memberitahumu apa saja yang aku lakukan? Dan memberitahu dimana pun keberadaanku?’’
‘’ Iyah, jika kamu melakukannya aku sangat senang dan bahagia “ ucap Prisia tersenyum
‘’ Apa kamu ibuku, hingga kamu harus mengetahui dimanapun aku berada? Bahkan ibuku saja tak menanyakan dimana pun aku berada. Lantas mengapa aku harus memberitahumu” ucap Edrik dengan ketusnya.
‘’ Edrik aku ini calon tunanganmu, istrimu di masa depan. Tentu saja aku berhak mengetahui apa yang dilakukan calon tunanganku” jawab Prisia membalas perkataan Edrik
‘’ Baru calon kan, bukan istri. Ahh, iyah kamu baru mendapat pengkuan dari mamahku, bukan aku. Jadi, jangan terlalu berbangga diri. Aku juga tak pernah mengakuin kamu sebagai calon tunangan. Apalagi istri, jadi jangan berharap ketinggian’’ ucap Edrik meninggalkan Prisia sendiri
Prisia tak terima mendapat penolakan mutlak dari Edrik. Ia meninggalkan kantor Edrik dan mulai melancarkan rencananya dengan mendatangi Willona.
♣♣♣♣ To be continuad. ♣♣♣♣