CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE

CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE
Bab 19



πŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“ŒπŸ“Œ


Dua hari telah berlalu, sudah dua hari pula Edrik tak menghubungi Nauren . Nauren yang gelisah karena tak mendapat kabar dari Edrik mencoba menghubungi Edrik kembali.


" Kenapa sih nomornya masih tak aktif, apa aku harus ke ruangannya saja yah. Tapi aku tak tau dimama letak ruangannya dia, mungkin aku harus bertanya pada informasi saja. " ucap Nauren pada dirinya sendiri.


Nauren yang masih sibuk dengan pikirannya sendiri mulai bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Setelah sampai di kantor dia mulai bertanya di bagian informasi.


" Permisi mba, apa pak Edrik dapartemen IT ada " tanya Nauren kepada perempuan cantik berbaju hijau itu.


" Maaf mba, di bagian IT tidak ada yang namanya Edrik. Dikantor kita yang namanya Edrik hanya di bagian clenning service mba dan pemilik bangunan ini tentunya." jawab perempuan itu


" Apa dia sedang membohongiku yah. Apa jangan-jangan dia hanya seorang clenning service , tapi kenapa dia membohongiku jika dia berkata jujur aku akan menerimanya. Lagian ob juga kan tidak buruk selama pekerjaan itu halal aku tak masalah kok. Tapi kenapa harus di tutupin sih" gumam Nauren dalam hati.


" Mba mba, resepsionis melambaikan tangannya kekiri dan kekanan untuk menyadarkan Nauren dari lamunannya.


" Ehh, iya mba ada apa" tanya Nauren yang sudah sadar dari lamunannya.


" Apa ada yang ingin mba tanyakan lagi. Tadi aku melihat mba seperti orang bingung? " tanya resepsionis itu lagi


" Tidak mba, oh iyah mba dimana yah tempat biasanya Edrik bersihkan? " tanya Nauren kembali.


" Di lantai tiga mba, tapi mba cari saja di pantry lantai dasar jam segini ku rasa dia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dan untuk ob yang sudah selesai biasanya duduk didapur lantai dasar mba" ucap resepsionis itu menjelaskan.


" Terima kasih mba atas infonya." ucap Nauren yang bertrima kasih kemuadian dia berjalan menuju pantry lantai satu.


Saat Nauren sudah sampai di pantry lantai dasar ia mulai celingak celinguk memcari sosok Edrik namun orang di carinya tidak di temukan


" Mba, tadi saya perhatikan mba seperti mencari sesuatu? siapa yang mba cari siapa tahu saya bisa membantu?" tanya pria itu yang sedari tadi memperhatikan gerak gerik Nauren seperti sedang mencari seseorang.


" Apa disini ada yang namanya Edrik ? " tanya Nauren


" Ada apa mba mencari saya, saya Edrik mba ada apa yah mba mencari saya"tanya pria itu yang kebetulan namanya Edrik namun bukan dia yang dicari Nauren.


" Oh, ini namanya Edrik yah. Tapi bukan dia yang aku cari" gumam Nauren pelan hingga gumamannnya tak di dengar oleh Edrik ob itu.


" Tidak mas, tidak apa-apa" ucap Nauren meninggalkan pantry itu. Edrik ob yang melihat tingkah Nauren merasa bingung.


" Ada apa, siapa dia ?" tanya teman sesama ob nya


" Aku tidak tahu, tapi dia sedang mencari orang yang namanya Edrik" jawab Edrik ob itu.


" Dasar bodoh, kan namamu Edrik. Mungkin dia salah satu fans mu kali. Ku rasa dia sama-sama pekerja disini hanya saja dia di bagian kantor bukan seperti kita" timpal teman Edrik OB itu.


" Mungkin saja. Sudahlah kita lanjutkan saja pekerjaan kita " ucap Edrik OB kepada temannya.


♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦♦


Di sisi lain Edrik yang benar-benar sibuk tidak sempat memegang ponselnya. Selama dua hari juga dia berpergian ke negara tetangga kebetulan ia berkunjung ke amrik sekalian saja Edrik mengunjungi adik tersayangnya.


" Kejutan, " teriak Edrik membuat Freya kaget akibat teriakan Edrik.


" Apa abang kira ini hutan apa , pake acara teriak-teriak segala . Ayolah bang ini new york bukan pasar " kesal Freya terhadap Edrik.


" Ini rumah Frey, lebih tepatnya apartement " jawab Edrik santai menyela perkataan Freya


" Yah terserah abang deh , yang penting abang bahagia. Tumben abang menghampiriku. " tanya Freya heran karena tak biasanya Edrik menghampiri adiknya walau dia ke new york sekalipun.


" Apa tidak boleh aku berkunjung ?" bukannya menjawab Edrik malah bertanya balik.


" Boleh , tak ada larangan untuk abang berkunjung disini . Justru aku senang abang ke sini,, setidaknya abang tak melupakan jika abang masih memiliki adik disini" ucap Freya yang mulai dramatis.


" Mulai lagi deh dramanya Frey. Udah deh , aku kesini mau menuntaskan janjiku padamu . Tapi kalo kamu gak mau aku bisa mengasihkan di kakak iparmu" mendengar ucapan Edrik membuat Freya senang, mobil impiannya yang selama setahun ini di idam-idamkannya ternyata sudah didepan mata..


" Sungguh bang, abang mau membelikanku mobil sport. Wah abang emang yang terbaik deh" Freya yang kegirangan karena mendapat mobil impiannya langsung memeluk kakaknya dengan begitu erat


" Udah Frey, aku gak bisa nafas. Baru juga dapat mobil baru kamu sudah ingin melakukan pembunuhan terhadapku" ucap Edrik memghempaskan tangan Freya dari lehernya dan menghirup oksigen sebanyak-banyak mungkin.


" Maaf bang, khilaf aku bang . Aku gak sengaja kan reflek karena aku lagi senang. Masa iya aku mau membunuh mesin pencetak uangku sih bang" ucap Freya santai, namun Edrik kesal karena di anggap mesin pencetak uang oleh adiknya itu.


" Jadi kamu menganggap abang mesin pencetak uang yah. Oh ternyata begitu yah? " jawab Edrik yang bertambah kesal.


" Tidaklah bang, abang itu abang terbaik yang ada di dunia ini. Abang itu perfek hingga kakak ipar segitu tertariknya dengan abang." ucap Freya memuji Edrik hingga membuat Edrik tersenyum.


" Ini kunci mobilmu, abang mau ke kembali ke indonesia. Aku sudah merindukan kekasihku sudah dua hari aku tak mengabarinya tidak tahu apa yang dia lakukan selama dua hari ini. " ucap Edrik curhat.


" Abang curhat yah. Mungkin saja kakak ipar sedang mencari lelaki tampan dan lebih kaya dari abang tentunya. "ucap Freya mendapat tatapan tajam dari Edrik. Bukannya dia menghibur malah menambah kegelisahannya.


" Kamu adikku atau musuhku sih. Bukannya mendoakan yang baik malah sebaliknya dan satu lagi Nauren itu perempuan yang berbeda dia tak memandang orang dari kekayaannya. Apa kamu tahu dia tak tau kalo aku itu bossnya dia hanya tau kalo aku itu hanya seorang karyawan biasa saja tapi dia tetap menerima ku dengan baik" mendengar penuturan Edrik membuat Freya terpengarah sebab siapa yang tak tau Edrik dan siapa yang tak tau keluarga gwinith yang memiliki harta melebihi ratusan triliun bahkan tidak bisa terhitung dalam sebulan berapa jumlah uang yang masuk. Tidak ada yang bisa menyangka seberapa kayanya keluarga Edrik namun Nauren tak tau sama sekali.


" Sungguh , apa abang tak berbohong jika itu benar aku salut sama calon kakak iparku itu . Dia yang tak tahu kekayaan abang dan keluarga kita . Dia juga bisa merubah sifat abang yang dingin kayak kulkas tapi sekarang sudah sehangat kompor gas.


" Kompor itu panas bukan hangat Frey. Heran aku dari mana kamu belajar kata-kata aneh seperti itu" bingung Edrik dengan cara bicara Freya yang dianggap tak masuk akal.


" Ahhh, terserah aku bang. Lagian hidupku penuh warna nda seperti abang yang hidupnya serius mulu" ucap Freya yang tak menatap Edrik.


" Serah kamu mau berkata apa? aku tak perduli . Tugasku sudah selesai sudah saatnya aku pergi. Ayo Vin kita pergi jadwal pesawat kita setengah jam lagi" ajak Edrik kepada Kelvin peegi meninggalkan Freya sendirian.


Malam pun tiba Nauren yang di rumah menatap ponselnya namun orang yang di tunggu tak menelponnya juga. Sudah banyak pesan yang di kirim tapi tak ada satu pun pesan yang dibaca.


" Dia kemana sih, telponku saja tak di angakt dan pesanku juga tak di balas? Apa dia masih marah padaku. Aku tak suka di anggurin seperti ini" kesal Nauren menatap ponselnya.


" Mending aku nonton drama dan melanjutkan drama yang aku ikutin. Dari pada aku pusing mikirin dia mending aku lihat wajah oppa ganteng" ucap Nauren pada dirinya sendiri dan mulai menyalakan leptopnya.


Nauren yang masih asik dengan nontonnya terganggu akibat ketukan pintu yang terus- terusan.


" Siapa sih yang ketuk pintu ganggu saja. Orang lagi nonton juga ganggu saj" kesal Nauren berjalan menuju pintu.


" Iyah , sebentar " teriak Nauren dari dalam.


" Kamu bisa gak sih ketuk pintunya yang pelan " kesal Nauren melihat Edrik di depan pintunya.


" Aku dari tadi telpon tapi kamu tak jawab panggilanku makanya aku kemari takut kamu kenapa-kenapa" ucap Edrik yang begitu khawatir.


" Oh, aku lupa ponselku ada di kamar dan dalam mode getar jadi aku gak tau" jawab Nauren masuk dan melanjutkan nontonnya.


" Oh ,.astaga sayang apa kamu tak merindukanku. Sudah dua hari aku tak mengabarimu tapi kamu malah asik nonton oppa halumu itu" kesal Edrik di diamin oleh Nauren.


" Oh, astaga tuan Edrik . Apa aku tak salah mendengarnya, kamu yang tak menjawab panggilan ku dan membalas pesanku . Tapi kamu bilang aku yang salah" Nauren sangat kesal dengan ucapan Edrik .


" Iyah maafkan aku, sebagai tanda permintaan maaf aku akan mengajak kamu jalan-jalan gimana kebetulan besok juga kan libur. Jadi kita bisa bebaas jalan kemana saja" ucap Edrik.


" Oke, baiklah . Awas saja jika kamu bohong" ancam Nauren menatap Edrik tajam.


πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…πŸŒ…


Keesokan harinya


Nauren yang sudah bersiap-siap menunggu kedatangan Edrik


" Apa sudah selesai " tanya Edrik saat baru saja tiba di rumah Nauren.


" Sudah selesai, ayo kita berangkat sekarang" ajak Nauren menggandeng tangan Edrik.


" Dimana motormu bep ? " tanya Nauren bingung ia tak melihat motor Edrik terparkir disana.


" Sayang kali ini kita tak menggunakan motor tapi ini " jawab Edrik membukakan pintu depan mobil sport kesayangannya.


" Ini, apa kamu meminjam di bossmu ayolah Drik tak apa jika kita naik motor aku senang kok. Tapi jangan meminjam pada bossmu aku takut jika mobil ini rusak atau menabrak sesuatu . Gimana kita akan membayarnya mobil ini sangat sangat mahal. Bahkan jika aku menjual motorku saja tidak ada harganya" ucap Nauren


" Sudahlah, aku akan membawanya dengan pelan jadi kamu tidak usah khawatir oke." ucap Edrik yang membujuk Nauren


Melihat Edrik yang berusaha meyakinkannya membuat Nauren luluh, percaya kepada Edrik dan muali masuk ke dalam mobil.


♣♣♣♣ Bersambung ♣♣♣♣


Jangan lupa :


Like πŸ‘


Komentar πŸ’¬


&


Subcribed ❣️❣️