
🏛🏛
Di kediaman gwinith
Freya yang baru saja turun dari motornya Edrik bergegas masuk ke rumah dengan tergesa-gesa mencari sosok perempuan yang sangat dia rindukan sedang berkutak-katik di dapur.
Freya melangkah pelan memeluk ibunya dari belakang namun sebelum dia ingin mengejutkan Willona . Wilona yang langsung menatap anaknya dengan penuh kerinduan.
"Issshh, mama emang emang membosankan" ucap Freya kesal.
Willona yang bingung dengan ucapan sang anak bertanya padanya.
"Kamu kenapa sayang, kenapa datang-datang malah cemberut sihh.
"Mama tuh paling gak bisa di kagetin . Padahal kan aku sudah jalan sepelan mungkin bahkan highls saja sudah aku comot." ujar Freya memperlihatkan tentengan sendal tingginya
Willona yang tau putrinya sedang merajuk mendekati dirinya dan memelukknya.
"Sayang, sekali pun kamu jalan sepelan mungkin tapi biar kamu mau kagetin kayak mana mama pasti tau. Mama tidak menggunakan pendengaran telinga tapi dengan batin seorang ibu kepada anaknya meski kamu dimana pun mama pasti tau jika kamu sedang kesusahan." ucap Willona mengelus rambut putrinya dengan sayang.
"Kamu mau makan apa biar mamah masakin" Tanya Willona terhadap Freya
"Mah, mama gak mau nanyain aku yah . " cemburu Edrik menatap adik perempuannya.
"Gak, lah kan kamu setiap hari di rumah. Lagian setiap mama masak kamu pergi gitu aja gak mau santap makanan mama" ucap Wilona kesal menatap putranya.
"Tuh dengerin , makanya kalo mama masak itu di hargain kak. Liat dong kayak aku selalu lahap makan makanan masakan mama. " ucap Freya memuji masakan Wilona.
"Jika aku tidak sibuk aku gak akan pergi sebelum makan masakan mama. " ucap Edrik kesal menatap adik semata wayangnya.
"Yah, kamu sangat sibuk sampai ke kantor menggunakan pakaian ini. " ucap willona membuat adiknya menatap Edrik dari atas sampai bawah
"Kak yang benar saja, tadi aku tidak memperhatikan cara berpakaian kaka . Astaga kak apa kamu sakit" Freya memegang kening Edrik membuat Edrik risih.
"Apaan sih kamu ini ,berlebihan sekali" Edrik menepis kasar tangan adiknya. Sehingga membuat Freya sedikit terhuyung.
"Kasar banget sih kak" kesal Edrik melangkah keluar.
"Mau kemana kak" teriak Freya melihat Edrik melangkah keluar
"Ada urusan bentar" jawab Edrik keluar rumah
Setelah Edrik pergi meninggalkan rumah datanglah mobil kelvin memasuki pekarangan rumah gwinith.
"Assalamualaikum tante." Kelvin memberi salam pada willona
"Waalaikumsalam Kelvin " ucap Willona menatap Kelvin yang menarik koper di tangan kirinya.
"Edrik kamu mau pindah disini." tanya Wilona bingung
" Tidak tante, ini kopernya nona Freya " jawab Kelvin memberikan koper yang berada di tangannya.
" Terima kasih Kelvin" ucap Freya mengambil koper di tangannya Kelvin
"Kenapa koper Freya ada padamu Kelvin" tanya Willona bingung.
"Gini mah, tadi kaka jemput Freya menggunakan motornya. Kan gak mungkin Freya naruh koper di tengah yang ada Freya gak bisa duduk mah" ucap Freya menjelaskan membuat Wilona bingung
"Sejak kapan Edrik memiliki motor seperti itu " bingung Wilona menatap Kelvin meminta penjelasan
°°°°
Disisi lain Edrik yang baru saja tiba membuat Nauren tercengang sebab Nauren takut jika pemilik mini market kembali dan menanyakan tentang Edrik Nauren tidak tau harus berkata apa.
"Kamu bisa gak jangan bikin kaget. Aku tadi menyuruhmu kembali sebelum jam tiga namun kamu datangnya terlambat sekali. Untung saja pemilik mini market itu percaya perkataanku gimana jika tidak bisa barabe kamu." ucap Nauren
"Iyah , sorry . Karna kamu sudah menolong ku entar malam aku teraktir kamu makan deh gimana.?" tanya Edrik kepada Nauren
"Boleh, beneran yah . Awas kamu bohong" ucap Nauren senang di traktir.
"Senang amat, makan gratis aja langsung hijau matanya" ujar Edrik mendapat tatapan belati dari Nauren.
"Iyah iyah iyah." pasrah Edrik
Setelah berkutak-katik dengan komputer Edrik yang tak sadar melihat jam sudah lebih setengah jam pulang mereka.
"Apa sudah selesai" tanya Nauren kepada Edrik.
" Sudah, baru saja selesai. Apa kamu sudah lama menunggu." tanya Edrik
"Tidak , aku juga baru selesai merapikan rak-rak yang berhamburan." ujar Nauren melihat semua rak tersusun rapi
"Jika begitu ayo kita makan" ajak Edrik yang disambut gembira oleh Nauren
Nauren dan Edrik berlajan keluar ke tempat dimana motor Edrik terparkir. Nauren tak membawa motornya dan meningggalkannya di tempat parkir mini market.
"Mau makan dimana?" tanya Edrik yang masih menjalankan motornya
"Terserah" Jawab Nauren singkat
Apa tidak ada kata selain terserah yah. Suka sekali perempuan membuat bingung para kaum lelaki" gimam Edrik dlama hati.
"Aku ikut dimana saja jadi terserah kamu mau makan dimana?" jawab Nauren tak menatal Edrik.
Selang beberapa menit motor Edrik membelokkan motornya di ruang makan yang terlihat mewah.
" Kenapa kita makan disini. " ucap Nauren melihat cafe yang terlihat mewah
"Yah untuk makan, masa iyah mau berumput . Kamu ini gimana sih?" ucap Edrik bingung menatap Nauren
"Bukan gitu, maksudku mengapa kita makan disini . Makanan disini terlihat mahal apa kamu ingin menghabiskan uang dengan hanya makan 1 porsi disini".ujar Nauren menjelaskan maksudnya
Oh iyah, aku lupa jika sekarang aku berpura-pura menjadi orang biasa . gumam Edrik dalam hati.
"Kenapa kamu malah bengong " Nauren menyadarkan Edrik yang terlihat bengong.
"Oh, iyah terserah kamu saja mau makan dimana?" jawab Edrik yang tersadar dari lamunannya
"Iyah sudah putar balik motormu aku akan menunjukkan jalannya, jadi kamu hanya perlu mengikuti perkataanku saja" ucap Nauren menyuruh Edrik memutar motornya.
" Sekarang aku harus belok kemana" ucap Edrik kepada Nauren saat melihat pertigaan di depan sana.
"Ambil jalur, kiri lalu lurus di depan sana ada warung makan soedarjo nah nanti berhenti di situ" ucap Nauren menjelaskan.
Edrik yang mengerti mengikuti perkataan Nauren dan berhenti di tempat yang di tujukan oleh Nauren.
"Apa kita akan makan disini. " ucap Edrik menatap warung makan yang begitu sederhana.
" Apakah kamu tidak pernah makan di tempat seperti ini?" ucap Nauren menatap bingung ke Edrik.
"Peerrnah , " jawab Edrik lambat seperti sedang berpikir.
"Tapi aku rasa kamu seperti tidak pernah makan di tempat seperti ini" ucap Nauren menatap Edrik
"Tidak ayo, kita masuk?" ajak Edrik menarik Nauren membuat Nauren terpaku melihat Edrik menatap tangannya yang di genggam.
"Pak pesan bakso spesial 2 porsi dan es jeruk yah" ucap Nauren tanpa menanyakan apa pendapat Edrik.
Setelah beberapa menit pesanan mereka pun datang. Melihat pesanannya datang membuat Nauren tak sabar untuk mensantap makanannya.
"Kamu tidak makan".tanya Nauren menatap Edrik yang tak memyentuh makanannnya dan hanya menatapnya saja.
"Apa aku boleh jujur" Edrik yang menatap dalam Nauren membuat Nauren berdeba-debar.
"Sebenarnya aku tak tau cara makan ini" ucap Edrik menunjuk bakso yang ada di depannya.
"Sungguh kamu tidak pernah memakan ini?" Nauren bingung melihat ekspresi Edrik. Seorang kelas menengah tak pernah makan bakso atau makanan pinggir jalan membuat Nauren curiga.
**** Bersambung ****