
‘’Tante’’ Prisia memeluk Willona dengan wajah sedih
yang di buat.
‘’Ada apa sayang? Apa yang Edrik lakukan? Kenapa kamu
sedih’’ ucap Willona menatap wajah Prisia.
‘’ Tante, apa aku tidak baik? Mengapa Edrik begitu
benci padaku. Apa yang kurang dariku? Aku mencintainya dengan tulus. Tapi
kenapa dia tidak melihatku sekali saja.’’ Ucap Prisia dengan air mata yang
mengalir begitu saja.
Austin yang melihat Prisia mengadu pada istrinya
merasa muak.
‘’ ohh, astaga. Mengapa air matanya mengalir begitu
saja. Sungguh licik sekali dirimu nona? Jika kau ganti profesi sebagai artis.
Ku jamin kau akan mendappat piala oscar nona. Sunnguh tidak ada yang bisa
menandingi kelicikanmu’’ gumam Austin dalam hati.
‘’ Sudah Pris jangan menangis. Kamu anak yang baik?
Putra tante saja yang bodoh tak bisa membedakan mana gadis yang baik dan mana
yang tidak. ‘’ ucap Willona memeluk Prisia. Ia menepuk punggung Prisia
menenangkannya.
‘’ Bagus sekali Pris, hebat sekali actingmu. Kenapa
aku tak menyadari jika aku ada bakat jadi artis’’ ucap Prisia memuji dirinya
dalam hati.
‘’ Makasih tan. Tapi jika Edrik tak menyukaiku,
mending aku mundur saja tan. Aku gak mau mengganggu Edrik lagi tan.’’ Ucap
Prisia menundukkan kepalanya.
‘’Tidak sayang, kamu tidak boleh mundur. Jika ada yang
harus mundur Naurenlah orangnya.
‘’ Bagus jika kamu tau diri. Aku senang dengarnya’’
ucap Austin menimpali.
‘’ Pah, ‘’ Willona mempelototi suaminya dengan tajam.
‘’ Apa mah, baguskan jika dia sadar diri. Jadi, kita
tak perlu menyuruhnya pergi kan.’’
‘’ Mamah gak suka yah. Papah berkata seperti itu.
Bukannya mendukung mamah. Papah malah mendorong mamah.’’ Ucap Willona menatap
tajam ke arah suaminya.
Bukannya takut, Austin membalas menatap tak kalah
tajam ke arah istrinya.
‘’ Papah tak pernah mendorong mamah. Papah hanya ingin
mama berhenti bersikap semena-mena kepada Edrik anak kita mah. Papah ingin mamah mendukung apapun keputusan putra kita’’
‘’Pah, mamah tak pernah melarang Edrik dekat dengan
siapapun. Dan mamah juga tak keberatan jika Edrik mendekati Nauren. Tapi, apa
yang Nauren perbuat pada putra kita. Dia tak menghargai perjuangan putra kita
pah. Mamah tak suka itu.’’ Ucap Willona menjawab perkataan Austin.
Melihat kekehnya Willona pada Prisia, Austin tak menjawab perkataan istrinya. Ia
memilih meninggalkan istrinya bersama Prisia.
... ...
...----------------...
Malam hari pun tiba, terdengar suara guntur menggelegar memekikkan telinga. Hujan pun
turun dengan derasnya.
Nauren menatap langit terlihat sangat gelap. Ia memikirkan kejadian siang tadi.
Terlintas perlakuan Edrik yang begitu manis membuat senyum tak pudar dari
wajahnya.
Dddrrtttt..,,,suara ponsel bergetar.
Nauren yang tersadar karena getar ponselnya. Mendekat dan mengangkat tanpa melihat
siapa yang menelponnya.
‘’Halo, sapa Nauren saat menempelkan ponsel ke telinganya.
‘’ Hallo, apa kamu sedang menatap langit di balik jendela kamarmu? ‘’ tebak Edrik
‘’Bagaimana kamu tahu? ‘’ Tanya Nauren binggung.
‘’Tentu saja aku tau, bahkan aku sangat mengenal baik tentangmu’’
‘’Aku …
‘’ yah, kau siapa lagi’’ balas Edrik
‘’Aku belum menyelesaikan kata-kataku sudah di potong saja. ‘’
‘’Yah, sory. Tapi aku serius dengan kata-kataku. Sunggu aku tak berbong.
‘’Apa kau seorang penguntit. Hingga mengetahui seluk beluk tentangku.
‘’Aku bisa jadi penguntit untukmu. Tapi, aku tak perlu itu karena aku tau semua
tentangmu. Tidurlah ini sudah malam. Besok kamu harus bekerja. Aku akan
menjemputmu jam 7. ‘’ ucap Edrik yang tak menunggu jawaban dari Nauren. Ia
memutuskan panggilannya secaara sepihak.
Setelah mematikan panggilan telepon, Edrik meletakkan ponselnya di meja samping
kasurnya. Ia membayangkan Nauren yang sedang merutukinya
Disisi lain, Nauren kesal membaringkan tubuhnya di atas kasur empuknya.
‘’Apa kamu pikir aku bodoh, anak kecil juga tau kalo ini sudah malam dan waktunya
beristirahat. Tak perlu kamu ingatkan aku juga tahu. ‘’ Nauren yang kesal terus
komat kamit merutuki Edrik. Hingga memutuskan tidur dan menyambut hari esok.
♣♣♣♣ To be continued ♣♣♣♣