
Sudah dua minggu Nauren menghilang, dua minggu pula Edrik mencarinya kesana kemari. Namun Edrik belum menemukan keberadaan Nauren.
" Sayang kamu dimana ? Aku sangat merindukanmu maafkan aku. Aku bener-bener minta maaf." Edrik yang sedih menatap foto liburan mereka. Ia yang sangat merindukan Nauren namun hanya bisa menatap foto kebersamaan mereka. Edrik yang masih sibuk menatap foto Nauren, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar. Tanpa Edrik bersuara pintu pun terbuka.
" Boss, ini berkas yang harus boss tanda tangani. Jam dua nanti ada rapat bersama para pemegang saham, jam 4 ada meeting bersama bu Claudia dari Group Eigner Company. " ujar Kelvin menjelaskan agenda Edrik hari ini.
" Apa ada kabar? " tanya Edrik terhadap Kelvin. Kelvin yang di tanya hanya terdiam menundukkan kepala. Tanpa Kelvin menjawab Edrik tahu Kelvin belum menemukan keberadaan Nauren. Edrik yang frustasi hanya bisa membuang nafasnya dengan kasar.
" Pergilah, ingatkan aku sepuluh menit sebelum rapat." Ucap Edrik yang menutup matanya. Mengistirahatkann tubuhnya yang terlihat sangat lelah.
Kelvin yang menatap boss sekaligus sahabatnya itu merasa kasihan. Edrik yang dingin kepada orang seiring berjalannya waktu dengan bantuan Nauren hingga dia tak terlalu dingin seperti dulu.
" Kamu dimana sih Ren, apa kamu tidak bisa mendengarkan penjelasan Edrik. Apa kamu tak terlalu menyukai Edrik hingga kamu cepat sekali perginya. Sampai aku saja sangat susah menemukan keberadaanmu. Kamu dimana sih Nauren, setidaknya tinggalkan petunjuk biar aku bisa menemukanmu. Aku tak suka bermain teka-teki yang dimana aku tak tahu pertanyaan dan jawabannya." gumam Kelvin dalam hati. Ia benar-benar lelah, dia harus mengerus pekerjaan kantor dan mencari keberadaan kekasih sahabatnya.
Hans yang melihat Kelvin duduk merenung di mejanya berjalan menghampirinya.
" Ada apa?" tanya Hans menepuk pundak Kelvin. Merasa ada yang memegang pundaknya ia menoleh menatap ke arah Hans.
" Kenapa ? "tanya Kelvin balik. Bukannya menjawab pertanyaan Hans dia menanyakan hal yang sama .
" Aku tanya kenapa? Malah kamu nanya balik" ucap Hans menanyakannya kembali.
" Aku kasihan melihat Edrik yang selalu diam. Aku tau saat ini pikiran dan batinnya lelah namun dia tak menunjukkannya di kita. Setelah kepergian Nauren dia kembali seperti Edrik sepuluh tahun yang lalu. Dimana Edrik yang tak terlalu banyak bicara dan hanya bicara seperlunya saja dan sikapnya kembali dingin seperti dulu" ucap Kelvin menghembuskan nafas dengan kasar.
" Yah, aku juga merasa kasihan padanya. Tapi apa yang bisa kita lakukan, kita juga sedang berusaha mencari keberadaan Nauren namun kita tak menemukannya. Bahkan aku sudah ke panti asuhan yang pernah Nauren tempati. Tapi, tetap tak menemukannya." ucap Hans juga yang bingung, kota seluas ini sudah dia kerahkan semua anak buahnya namun dia tak mendapatkan petunjuk apapun dimnaa Nauren sekarang.
°
°
°
Di australia, Prisia yang mendapat kabar hilangnya Nauren membuatnya sangat senang.
" Akhirnya aku punya kesempatan, untuk mendekatinya. Ada bagusnya kamu menghilang sendiri, jadi aku tak perlu bersusah payah menyingkirkanmu" gumam Prisia yang nampak sangat bahagia.
" Ekhem, ada apa sayang. Kamu sepertinya sangat bahagia. Apa yang membuatmu nampak begitu bahagiaa hum." tanya Bram kepada putrinya.
" Pah, apa papah tau Nauren menghilang dan Edrik tak bisa menemukannya. Aku sangat senang karena tanpa perlu susah payah aku menyingkirkan dia pergi sendiri . Aku sangat bahagia mendengarnya " ucap Prisia menjelaskan dengan begitu antusiasnya.
" Baguslah, papah senang dengarnya. Kamu harus memanfaatkan kesempatan ini. Papah sudah membangun anak perusahaan di indonesia dan perusahaan itu sudah di jalankan tiga hari yang lalu. Kita bisa pindah disana setelah tiga hari. Papah sudah mengurus pemindahan sekolah adik-adikmu disana. Tapi untuk tempat tinggal tidak terlalu mewah seperti mansion kita di sini" ucap Bram menjelaskan.
" Kenapa pah, apa rumah kita kecil " tanya Prisia
" Tidak kecil, hanya tidak sebesar mansion disini." jawab Bram.
"Tak masalah pah, asal masih mewah itu sudah cukup. Jika aku sudah mendapatkan Edrik, aku akan membuatkan mansion yang mewah untuk papah bahkan melebihi mansion ini pah" ucap Prisia tersenyum menatap Bram.
" Baiklah akan papah tunggu. Ingat yah jangan lupakan kerja keras papah" ucap Bram menatap anaknya dengan tersenyum bahagia.
" Siap boss" ucap Prisia seperti polisi yang menghormati atasannya.
Di Perusahaan Gwinith.
Edrik yang masih terpejam mendengar suara ketukan pintu.
" Ekhemm. Masuk" ucap Edrik dari dalam.
" Yah sebentar lagi aku akan keluar. Kamu tunggu di luar saja." ucap Edrik yang mulai merapikan penampilannya.
Beberapa menit kemudian, Kelvin yang sudah menunggu Edrik di depan meja sekertarisnya menghampiri Edrik yang baru saja keluar dari ruangannya menuju ke ruang rapat yang berada di lantai 23 .
Gaes perusahaan Gwinith memiliki 24 lantai dimana lantai 24 itu ruangannya Edrik dan tangan kanan dan tangan kirinya. Yaitu Hans dan Kelvin ruangannya tepat di samping ruangan Edrik.
Kembali ke cerita.♣
Kelvin yang mulai mengikuti Edrik dari belakang menuju ke dalam lift pribadi Edrik dan menekan tombol 23 dimana rapat akan di adakan.
Tinngg.. suara lift terbuka, Edrik keluar dari lift menuju ke ruang rapat diikuti oleh Kelvin di belakangnya.
Saat Edrik membuka pintu semua pemegang saham berdiri menyambut kedatangan Edrik dan duduk kembali setelah Edrik duduk di kursi kebesarannya.
Selama rapat berlangsung Edrik tak terlalu memperhatikan apa yang di bahas . Ia hanya menatap lurus kedepan dengan pikiran yang kacau. Sudah tugas Kelvin menjadi juru bicara Edrik dan memperhatikan kelangsungan rapat. Ia harus memahami sebelum nantinya akan di ulang menjelaskannya pada Edrik. Usai rapat berakhir mereka melanjutkan meeting dengan perwakilan Eigner Group Company.
Setelah selesai meeting Edrik memutuskan pulang ke kediaman Gwinith. Dia membaringkan tubuhnya yang lelah di kasur king sizenya.
Willona yang melihat putranya pulang menghanpiri dan mengelus kepala putranya dengan sayang.
"Mah, apa kesalahanku tak bisa di maafkan hingga dia pergi menjauhiku" ucap Edrik yang mulai nangis di pangkuan Willona.
" Tenang sayang jangan berpikir begitu, dia hanya memerlukan waktu untuk menerima ini semua. Beri dia waktu untuk berpikir, mama yakin dia akan kembali setelah pikirannya tenang" ucap Willona menenangkan Putranya.
" Tapi mah, kenapa dia bersembunyi di tempat yang sangat sulit di temukan. Bahkan, anak buahku saja nampak sangat tidak berguna " ucap Edrik dengan sedihnya.
" Sabar sayang, semua pasti akan baik-baik saja." Willona menenangkan putranya kembali.
" Aku sangat khawatir mah, aku tak tau dia sedang apa sekarang, apa dia sudah makan? Tapi yang aku tau dia saat ini merasa sedih dan menangis . Aku tak ingin dia menangis mah, sudah cukup penderitaan yang di berikan keluarganya. Namun mengapa sekarang aku membuatnya menangis" ucap Edrik yang makin terisak. Dia sudah menahannya selama dua minggu dan menumpahkannya di pangkuan Willona.
Willona yang merasa kasihan terhadap putranya hanya bisa menenagkannya di pangkuannya. Willona mengusap kepala putranya hingga Edrik tertidur di pangkuan Willona.
" Mah," panggil Austin yang baru saja masuk di kamar putranya.
" Husstt, jangan berisik dia baru saja tertidur pah" ucap Willona menyuruh suaminya agar tak berisik. Austin membantu Willona memindahkan kepala putranya dari pangkuan istrinya. Ia menatap sedih melihat putranya yang nampak kusut semenjak kepergian Nauren.
" Apa sudah ada kabar pah?" tanya Nauren saat sudah berada di luar kamar Edrik.
" Belum mah, bahkan Diego yang biasanya sangat lihai dalam melacak orang. Namun kalah dalam mencari keberadaan Nauren." ucap Austin membuang nafas.
" Aku sangat kasihan pada putra kita pah, disaat dia sudah mulai membuka hatinya mengapa sekarang dia kehilangan lagi pah" ucap Willona sedih
" Sabar mah, aku yakin masalah ini akan selesai dan Nauren akan kembali pada putra kita. Aku sudah menyelidiki tentang Nauren dan dia perempuan baik. Sangat di sayangkan jika kita kehilangan calon menantu sebaik itu mah"ucap Austin lesu.
" Huusstt, papah nih gimana sih. Bukannya berusaha nyari malah pasrah aja. Papa usaha yang sungguh-sungguh itu pasti akan membuahkan hasil. Asal nyarinya bener-bener pah bukan malah pasrah" ucap Willona menasehati suaminya.
" Tapi , gimana jika kita tak menemukannya mah. " ucap Austin lagi
"Huusst, papah pamali ngomong begitu. Papah harus yakin bahwa kita akan menemukannya." ucap Willona menguatkan tekad suaminya walau dia merasa kurang yakin.
♣♣♣♣ Bersambung. ♣♣♣♣
Jangan lupa: Like, Komentar , Subcribed & Vote yah 🤗🤗