
"Jeng, siapa ni?" tanya Rita teman arisan Willona
" Calon, mantu jeng" jawab Willona. Prisia tersenyum senang mendapat pengakuan dari Willona.
" Belum, kok tante. Masih usaha" jawab Prisia malu malu.
" Dia malu jeng. Berungtung sekali kamu Wil, dapat mantu yang sangat cantik ini. Dapat dimana? Aku mau juga dong buat putra bungsuku" timpal Nia.
" Aduh jeng, kalo yang ini gak bisa. Dia calonnya Edrik jeng, kalo jeng Nia mau dia punya adik perempuan jeng.".
Prisia yang menjadi rebutan teman teman arisan Willona merasa sangat senang. Seperti yang di harapkan ia merasa sangat senang menjadi rebutan.
" Aku cantik, kaya. Siapa yang tak mau menjadikanku menantu. Hanya orang bodoh saja yang menolakku" gumam Priisia di dalam hati
"Jeng, kapan pertunangan putra dan calon menantumu berlangsung?" tanya Rita.
" Tidak lama lagi jeng. Tunggu saja kabar baiknya yah" ucap Willona pada teman teman arisannya.
Prisia yang menjadi topik pembicaraan merasa sangat sennag. Ia senang karena tujuanmya akan terpenuhi sedikit demi sedikit.
Tepat pukul, 21:00 , acara tersebut telah selesai. Willona mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia mencari nomor dan segera menelponnya.
" Hallo, mah? Ada apa?" tanya Edrik dalam sambungan teleponnya.
"Iyah sayang, bisa jemput mamah sayang?" tanya Willona
"Kemana supir mamah? Tumben sekali mama memintaku menjemput mama" tanya Edrik.
" Pak jono sudah ku suruh pulang? Cepatlah kemari jemput mamah. Ingat yah berdandaanlah yang keren. Jangan menggunakan celana pendek seperti biasanya" Willona memperingati Edrik
" Mah, hanya menjemput mamah kan. Kenapa harus repot sekali pake acara pake baju resmi segala. Emang kita mau ke kondangan apa mah? " sela Edrik
" Yah gak pake baju resmi hanya pake celana panjang dan kemeja gitu bukan pake celana pendek seperti biasanya" ucap Willona yang tak ingin di bantah
"Baiklah, aku akan meneruti perkataan mamah. Tunggu Edrik di loby yah."
"Baiklah, jangan terlalu lama yah?"ucap Willona memutuskan telponnya.
Edrik mengganti pakaiannya sesuai apa yang Willona perintahkan. Setelah selesai bersiap Edrik berjalan menuju parkiran. Ia menggemudikan mobil Rolls-Royce Phantom bewarna putihnya. Ia tak memakai mobil sport yang biasanya dia pakai. Demi kenyamanan Willona Edrik membawa mobil rolls-roycenya.
Edrik mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi 180 km/jm. 20 menit jarak tempuh yang Edrik lalui. Dengan secepat itu Edrik memotong 10 menit dari biasanya. Edrik memakirkan mobilnya di parkiran restoran. Setelah memakirkan mobil, Edrik masuk kedalam loby resto yang sudah ada Willona, Prisia dan teman Willona yang masih menunggu jemputan.
"Jeng tuh, anaknya sudah datang?" Rita menyenggol lengan Willona
" Akhirnya kamu datang, mamah kira kamu tak akan menjemput mama" ucap Willon berdiri memeluk Edrik.
" Mana mungkin aku tega membiarkan mama. Ayok mah kita pulang?" ucap Edrik mengajak Willona pulang.
"Jeng mau barengan.gak? " tanya Willona pada Rita.
" Tidak, jeng. Putraku sudah dalam perjalanan. " jawan Rita pada Willona.
" Gak papa nih jika kami tinggal ?" tanya Willon lagi.
"Gak apa jeng. Kasian calon mantumu tuh kayaknya dia capek banget" Rita melihat Prisia dan membalas perkataan Willon
" Gak apa apa tante, aku masih bisa nunggu sedikit lagi kok. Kasian tante sendiri jika kami pulang duluan" ucap Prisia semanis mungkin.
"Baiklah jeng. Kami duluan yah" ucap Willon memeluk dan cipika cipiki pada Rita begitu pun Prisia.
Edrik membawa mobil dengan kecepatan sedang. 30 menit kemudian, mobil Edrik tiba di villa Gwinith. Willona pun turun dari mobil.
"Drik jangan ngebut ngebut yah bawa mobilnya. Ingat antar Prisia sampe di rumahnya oke" ucap Willona mengingatkan putranya.
"Iyah, mah"
" Tante aku pamit pulang dulu yah. Tante langsung istrahat" ucap Prisia menyalimi Willona dan memeluknya.
" Iyah sayang. Kamu hati hati yah." balas Willona tersenyum
"Salam untuk paman yah tan. Dahh"
Mobil Edrik meninggalkan perkarangan rumah keluarga Gwinith. Selang beberapa menit mobil Edrik pun maemasuk pagar halaman rumah Prisia.
Saat Edrik memberhentikan mobilnya, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari lantai atas.
Prisia yang lebih dulu keluar dari mobil Edrik di ssusul oleh Edrik. Edrik memperhatikan sekitar rumah tersebut namun sosok yang dicarinya tak kelihatan..
" Ayo, masuk dulu. Aku buatkan kopi yah" tawar Prisia memaksa Edrik masuk.
" Tidak makasih aku pulang dulu." ucap Edrik membalikkan badan memuju mobilnya.
Namun, sebelum Edrik membuka pintu mobilnya ada sosok suara anak kecil memanggilnya dan memelukknya begitu erat.
"Hey brother, apa kabar?" tanya Edrik tersenyum. Ia mensejajarkan tubuhnya sama dengan Tino adik tiri Nauren.
"Aku baik kak. Aku kangen sekali sama kakak. Kenapa kakak tak mememuiku " jawab Tino yang kini malah merajuk membuang wajahnya ke samping.
Edrik yang tahu jika Tino tengah merajuk. Ia pin merayu Tino.
" Maafkan kakak oke, sebagai permintaan maaf kakak. Gimana jika nanti kakak bawa kamu pergi jalan jalan dan kakak akan membelikan apapun yang kamu mau gimana." tawar Edrik.
Mendengar perkataan Edrik senyum ceria kembali muncul di wajah kecil Tino.
" Janji yah kak, lelaki sejati tak boleh mengingkari janjinya" ucap Tino memberikan jari kelingking
" Kakak janji," Edrik menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Tino yang kecil. "tapi ada syaratnya." ucap Edrik yang membuat Tino menyeritkan dahinya.
" Apa kak? Tanya Tino
" Kamu harus membawa kak Nauren bersama kita" ucap Edrik berbisik.
" Apa yang sedang kalian bicarakan. Kenapa harus berbisik?" tanya Prisia yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Tino dan Edrik
" Ini urusan para lelaki. Wanita tak perlu tahu" ucap Tino yang mendapat tatapan tajam dari Prisia.
" Anggap saja masalah ini sudah beres kak?" ucap Tino memeluk Edrik dan pamit masuk kedalam rumah.
Setelah Tino masuk kedalam. Edrik masik mencari sososk yang di rindukannya namun ia tak melihatnya. Edrik pun masuk ke dalam mobilnya melajukan mobilnya meninggalkan rumah keluarga Nauren.
" Dia sedang aapa? Apa hubungannya dengan Prisia . Kenapa bisa dia mengantar Prisia pulang?".banyak pertanyaan yang muncul di dalam benaknya. Namun ia tak apa dia harus bertanya atau tidak..
♣♣♣♣ **To be continued**. ♣♣♣♣