CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE

CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE
Bab 22



Malam hari pun tiba seperti biasa Prisia pergi bersama teman-temannya . Mereka party di club biasa mereka berkumpul minum-minum dan bersenang-senang.


" Apa kamu tau tuan muda Gwinith sekarang ada di neagara kita? " ucap teman Prisia


" Gwinith siapa ? " tanya Prisia yang bingung dengan perkataan temannya itu.


" Itu putra Austin Gwinith" ucap salah satu temannya menimpali ucapan teman Prisia.


"Apa kamu tau berapa banyak kekayaan keluarga Gwinith kamu gak akan bisa bayangkan berapa banyak uang yang di dapat dalam satu detik saja sudah mencapai ratusan apalagi berhari-hari." ucap teman Prisia yang lainnya.


" Wah, sangat beruntung jika aku bisa mendapatkan tuan muda kaya itu. Hidupku akan jauh lebih mewah dan aku tak perlu repot-repot bersaing dengan ibu tiri itu lagi " lirih Prisia dalam hati.


" Yah sangat beruntung jika kita bisa mendapatkan Edrik. Namun aku tak tahu dia sekarang ada dimana ? Susah sekali mencarinya negara ini sangat luas dan kita akan sulit melacaknya" ucap salah satu temannya Prisia yang seakan tahu apa isi hati Prisia.


" Apa kamu pernah melihat wajahnya, atau apa ada fotonya jika ada tolong tunjukkan pada kami" ucap Prisia yang begitu antusiasnya penasaran akan rupa wajah Edrik.


" Entar , aku cari dulu "Prisia dan teman-teman yang lainnya menunggu dengan penasaran . Begitu terkejutnya Prisia melihat wajah yang sama persis di mansionnya.


" Apa kamu yakin ini tuan muda kaya itu ? " tanya Prisia . Melihat reaksi Prisia membuat teman-temannya menatapnya dengan curiga.


" Apa kamu mengenalnya Pris? " tanya salah satu temannnya.


" Tidak, aku hanya bertanya apa kalian yakin ini tuan muda yang kalian maksud ? " tanya Prisia kembali


"Apa kamu pikir aku berbohong? Aku sudah sering ikut relasi bisnis dalam ataupun luar negeri bersama ayahku. Jadi aku tak akan pernah salah mengenali orang. Dan aku juga pernah bertemu dengannya , hanya saja dia tipekal cowok yang susah di dekatin . Jika kamu berhasil mendapatkannya kamu beruntung." jawab teman Prisia .


" Baiklah jika begitu, aku akan pulang duluan . Kalian lanjutkan saja bersenang-senangnya , sampai jumpa besok " Prisia yang meninggalkan Club begitu cepat membuat teman-temannya menatap penuh curiga , namun mereka tak terlalu memikirkannya dan kembali bersenang-senang seperti biasa yang mereka lakukan.


°


°


°


Ke esokan harinya lagit yang cerah mulai menyinari . Kali ini Nauren bangun begitu pagi ia berjalan keluar balkan menghirup udara yanng begitu segar dan menatap indahnya sang fajar yang mulai menampakkan diri .


" Indah sekali " puji Nauren yang masih menatap langit pagi.


Tok tok tok... Suara ketukan pintu dari luar.


" Iyah sebentar " Nauren menjawab dari dalam.


" Pagi , kamu sudah bangun" sapa Angel setelah Nauren membukakan pintu kamarnya.


" Pagi juga bu, aku baru saja bangun . Sebentar lagi aku akan turun bu " Nauren menjawab sebelum ibunya bertanya.


" Iyah, ibu akan menunggumu di bawah" ucap Ibu yang meninggalkan Nauren di kamarnya.


Setelah Nauren mandi dan selesai bersiap dia pun turun ke bawah . Saat ia melewati kamar Edrik, Nauren pun mengetuk pintu dan membangungkan Edrik. Edrik yang tidurnya terganggu pun turun dari kasur dan membuka pintu kamarnya.


" Pagi 'sapa Nauren dengan senyum manis yang tercetak jelas di wajah Nauren


" Pagi juga, wah pagi-pagi pacarku sudah cantik saja " Edrik membalas sapaan Nauren. Ia mulai menarik pinggang dan memeluknya.


" Apaan sih , ayo lepasin gimana jika ada yang melihat. " ucap Nauren yang berusaha melepaskan pelukan Edrik namun Edrik semakin mengeratkan pelukannya.


" Tenang saja ini masih pagi, apa kamu tak kangen denganku " ucap Edrik memelas.


" Kamu ini, sudah besar tapi kelakuan kayak bocah. Cepat lepasin gimana jika ada yang melihatnya , apa yang akan mereka katakan kepada kita jika kamu memelukku seperti ini. "ucap Nauren yang mendorong tubuh besar Edrik hingga pelukannya terlepas.


" Issh, gak peka banget sih. Masih ingin kangen-kangenan juga malah di dorong. " ucap Edrik yang cemberut akibat dorongan dari Nauren.


" Ayolah bayi besarku, kita masih punya banyak waktu. Sekarang kamu mandilah dan turun kebawah. Aku tak ingin membuat mereka menunggu kita terlalu lama" ucap Nauren yang meninggalkan Edrik di kamarnya.


Di meja makan


Seperti biasa mereka makan dalam diam hingga sarapan pun telah selesai. Setelah selesai sarapan mereka bersantai di halaman belakang.


" Bu, hari ini kami akan kembali ke indonesia " ucap Nauren memulai pembicaraan.


" Cepat sekali perginya. Apa tidak bisa di tunda minggu depan yah ?" ucap ibu menanggapi ucapan Nauren.


" Tidak bisa , kami tidak bisa izin kerja begitu lama . Edrik juga pasti banyak pekerjaan . Apalagi kami sudah 3 hari tidak turun kerja bu? " Nauren menjelaskan kembali.


" Saya hanya pekerja panggilan om, tapi ada aplikasi yang harus saya stell ulang dan itu harus segera agar tidak ada hacker yang bisa membobol sistem om" jawab Edrik dengan setengah kebenaran.


" Apa sungguh hanya pekerja panggilan atau yang lain? " Prisia menimpali obrolan Edrik dan ayahnya.


" Apa maksudmu Pris ? " tanya Angel menatap anak sambungnya itu.


" Yah maksudku, mungkin jabatannya menejer atau apa gitu? . Masa iyah hanya pekerja panggilan sih" ucap Prisia yang menatap curiga ke arah Edrik. Edrik yang ditatap seolah biasa saja.


" Apa dia tahu aku pemiliknya, setahuku dia tak pernah ada di pertemuan bisnis yang aku kunjungi. Bahkan jika ada pesta aku selalu memakai ruang privat " ucap Edrik dalam hati.


" Tidak, aku hanya pekerja panggilan saja tidak ada jabatan apapun." ucap Edrik dengan tegas sehingga Bram yang mengira Edrik merupakan anak orang kaya namun tidak sesuai dengan pengakuan Edrik. Sehingga Bram menatapnya sebelah mata.


"Aku kira tadi kamu itu merupakan seorang anak pembisnis, namun sayangnya tidak " ucap Bram yang menatap Edrik sebelah mata.


" Apa kamu sungguhan bukan pemuda kaya ? " tanya ibu Nauren


" Tidak, saya hanya pemuda biasa saja" jawab Edrik singkat.


" Astaga Nauren ,ibu kira seleramu tinggi ternyata tidak sesuai ekspetasi ibu. " ucap Angel yang tak percaya anaknya mendapat seorang laki-laki miskin menurut mereka.


" Apa ada yang salah bu? Selama ini aku bahagia bersama Edrik. Dia selalu membantuku, menjagaku dan selalu ada di saat aku membutuhkannya. " ucap Nauren membela Edrik. Edrik yang di bela merasa senang.


" Aku tidak salah memmilihmu" gumam Edrik dalam hati.


" Pokoknya ibu tidak mau tau, kamu segera putuskan Edrik dan ibu akan mencarikanmu pemuda yang sangat kaya hingga kamu tidak merasa kekurangan" kekeh Angel tak ingin di bantah.


Naura yang dari tadi hanya diam mendengar perdebatan keluarganya mulai angkat bicara.


" Ibu , sudah cukup ibu memaksakan kehendak ibu di aku . Jangan lagi di kakak, apa aku kurang membahagiakan ibu . Aku selalu menuruti apapun yang ibu mau? Apa itu belum cukup bu. "ucap Naura yang kesal dengan ke egoisan ibunya.


" Itu ibu lakukan untuk kebaikan masa depanmu? " ucap Angel membela dirinya .


" Masa depan apa bu? Jika semua harus sesuai yang ibu tulis. Apa aku tidak bisa melakukan apapun yang aku sukai. Jika aku di suruh memilih aku lebih memilih ikut dengan ayah dan kakak bukan menjadi boneka ibu." ucap Naura dengan air mata yang menetes , ia mengeluarkan isi hati yang terpendam selama ini.


Nauren yang mendengar penderitaan adiknya selama ini merasa sangat sedih . Ia tak habis pikir adik yang selama ini dia rindukan hidup dalam tekanan yang besar di bawah ibunya. Nauren menghampiri adik perempuannya dan memeluknya dengan erat. Nauren pikir Naura tak menyukainya , namun sebaliknya dia sangat menyayangi kakakknya.


" Bu , aku pikir ibu menyayangiku , tapi aku salah ibu tak menyayanguku dengan tulus. Hari ini aku akan kembali ke indo ibu terima atau tidak ini keputusanku. Adik apa kamu mau ikut bersama kakak. " tanya Nauren kepada Naura


" Tidak kak, kakak pergi saja aku akan tetap disini?" ucap Naura yang menolak ajakan kakakknya.


Mendapat penolakan dari adiknya Nauren dan Edrik kembali ke kamarnya untuk mengemasi barang-barang mereka . Saat mereka sudah keluar kamar , mereka berpapasan dengan Vino adik tirinya Nauren.


" Adik kecil sini " panggil Nauren kepada Vino.


" Kakak akan pergi? " tanya Vino dengan cemberutnya.


" Iyah, kamu harus rajin belajar biar bisa jadi orang sukses. Jika kamu merindukan kakak kamu bisa menghubungi kakak " ucap Nauren mengusap kepala Vino.


" Ingat yah jaga ibu, ayah dan kakak -kakakmu " ucap Nauren yang hanya di balas anggukan oleh Vino.


" Vino sini" panggil Edrik kepada Vino. Vino yang di panggi beralih menghampiri Edrik.


" Iyah kak" jawab Vino


" Ingat yah jika ada sesuatu yang terjadi kepada kak Naura segera hubungi kakak yah atau kamu bisa menggunakan ponsel ini . Ini hadiah dari kakak tapi jangan sampai ada yang tau jika kakak memberikan kamu ponsel ini. Kemarin kakak sudah mengajari kamu gimana cara menggunakan perangkat di ponsel ini kan " Vino hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. " kamu tau perangkat ponsel ini berbeda dari ponsel lainnya. Jadi kamu harus menyimpannya baik-baik , meski tempat yang tak ada sinyalpun kamu masih bisa menghubungi kakak. Jadi kamu harus menjaganya baik-baik . Oke


" Oke, kak . Vino akan mengingatnya kakak tenang saja aku akan menjaga kak Naura." Vino berkata begitu semangatnya hingga membuat Edrik gemas dengan anak itu.


" Bagus anak pintar . Jika kamu menjadi juara tertinggi di kelas kakak akan membelikan apapun yang kamu mau" Janji Edrik


" Baik , kakak sudah berjanji dan harus di tepati. Vino akan mendapat juara satu jadi kakak jangan melupakan janji kakak" ucap Vino yang mengingatkan Edrik janji harus di tepati.


" Baik Seorang pria tidak akan pernah mengingkari janji" ucap Edrik mengusap kepada Vino.


Nauren yang menjadi penonton hanya tersenyum melihat kedekatan Edrik dan adik tirinya.


♣♣♣♣ Bersambung ♣♣♣♣


Jangan lupa : Vote, Like , Komentar & Subcribed 😊😊