CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE

CEO IS LOOKING FOR TRUE LOVE
Bab 28



Sudah dua hari Edrik di rawat di rumah sakit dua hari juga Nauren bolak balik ke rumah sakit.


" Gimana keadaanmu sekarang apa sudah lebih baik?" tanya Nauren yang baru saja tiba.


" Sudah jauh lebih baik. Hari ini aku sudah bisa pulang.


" Baguslah jika kau sudah boleh pulang. Oh iyah aku tak bisa mengantarmu yah


" Kenapa, apa kamu masih marah kepadaku. "tanya Edrik


"Tidak, tapi aku harus bekerja. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku" mendengar ucapan Nauren membuat Edrik mengerucutkan bibirnya.


" Ada apa, kenapa wajahmu begitu?" tanya Nauren


" Apa pekerjaan lebih penting dari pada aku" tanya Edrik memajukan tubuhnya ke depan Nauren.


" Iyah, jika aku tak bekerja. Apa kamu mau menjamin kebutuhanku" Nauren membalas perkataan Edrik. Ia mendorong tubuh Edrik hingga menjauh dari dirinya.


" Itu masalah gampang. Kamu tinggal bilang apa yang kamu inginkan dan tugasku hanya memenuhinya saja." ucap Edrik dengan sombongnya membuat Nauren berdecik memutar matanya dengan malas


"Aku tau kamu sultan, tapi kamu harus ingat aku belum memaafkannmu sepenuhnya jadi jangan lupakan itu. Apa kamu pikir aku wanita murahan yang hanya melihat uangmu. Jika kamu memberikan aku uang yang begitu banyak aku langsung tergiur dengan uangmu. Tidak aku bukan perempuan seperti itu.


" Aku tak bilang begitu, maafkan aku. Aku hanya ingin memenuhi ke inginanmu itu saja" ucap Edrik merasa bersalah


" Sudah tak apa? Aku tak mempermasalahkannya, aku mohon jaga dirimu dengan baik. Agar orang tuamu tak khawatir aku akan pergi istrahatlah dengan baik" ucap Nauren meninggalkan Edrik sendirian.


Prisia yang sedari tadi mendengar percakapan Edrik dengan Nauren hanya berdecak sebal dan menunggu Nauren di luar pintu hingga Nauren pergi dari ruangan Edrik.


Tok tok tok.. Apa aku boleh masuk " tanya Prisia dari luar.


Tanpa sahutan dari dalam Prisia melangkah kedalam ruangan Edrik. "Gimana dengan keadaanmu? 'tanya Prisia. " aku dengar kamu masuk rumah sakit jadi aku ke sini untuk melihat kondisimu" ucap Prisia selembut mungkin.


" Aku sudah baik dan kamu sudah melihatnya kan lalu kenapa masih disini?" ucap Edrik dengan ketusnya.


" Edrik, mamah tidak pernah mengajarkan kamu kasar kepada orang lain. Tapi kenapa kamu jadi kasar?" Willona memarahi anaknya karna memperlakukan Prisia dengan dingin


" Edrik." belum sempat Willona melanjutkan perkataannya sudah di cegah oleh Prisia.


" Tante, aku mohon jangan memarahi Edrik. Prisia yang salah tante ,harusnya sebelum Prisia ke sini Prisia nanya dulu apa aku boleh datang atau gak tante. Maaf yah tan Prisia pamit" ucap Prisia selembut dan semanis mungkin.


" Tidak Pris, kamu tidak salah. Anak tante yang salah sayang


Kena kau "gumam Prisia dalam hati. "Tidak tante aku yang salah


" Jangan menyalahkan dirimu nak, tante akan memarahi Edrik nanti. Tante minta maaf yah karena Edrik bersikap kasar padamu." ucap Willona merasa bersalah


" Jangan minta maaf tante, aku merasa buruk jika tante selalu minta maaf. Tante tidak perlu minta maaf tante tidak salah." ucap Prisia semanis mungkin.


Edrik yang mendengar cara bicaranya Prisia dengan mamahnya membuatnya merasa mual. Sebab Edrik tahu gimana cara bicara Prisia dan bagaimana wataknya Prisia. Ia yakin jika Prisia sudah tahu identasnya sekarang.


" Sudahlah mah, mamah jangan minta maaf terus. Mama tidak salah kenapa mama harus minta maaf" ucap Edrik di balik selimutnya.


" Iyah tan yang Edrik katakan benar tante tidak salah jadi tante jangan minta maaf" Prisia membenarkan perkataan Edrik. Ia berusaha menarik hati Edrik melalui mamanya. Tapi tak semudah itu jika mau memenangkan hati Edrik gwinith.


" Tidak, perlu membelaku mending sekarang kamu pergi dari sini. Kalo bisa pergi yang jauh hingga aku tak bisa melihat wajahmu"ucap Edrik santai, namun dia dapat pelototan tajam dari Willona.


" Mamah sudah ingatkan jangan bersikap kurang ajar. Mamah yang mengundang Prisia kemari apa kamu punya masalah. Jika kamu punya masalah langsung saja katakan sama mama bukan padanya" marah Willona menatap tajam putranya. Edrik yang ditatap tajam oleh Willona berusaha menelan salivanya yang susah di telan.


" Ada apa mah, kenapa Edrik kenapa mamahmu sangat marah" ucap Austin yang baru saja datang di ruangan Edrik.


" Itu pah, anakmu kasar sekali. Masa sama perempuan kasar sih" adu Willona pada suaminya.


" Benarkah Edrik . Kenapa kamu begitu nak papah pernah bilang jangan kasar paada perempuan nak" Austin membela istrinya dan memarahi putranya.


" Sudah cukup pah, apa papah sudah mengurus kepulanganku. Jika papah sudah selesai bisakah kita pulang ke rumah. Aku sangat bosan di sini pah" Austin hanya mengangguk dan mulai mengemasi barang barang Edrik ke dalam tas dan keluar dari rumah sakit.


Kepulangan Edrik di sambut hangat oleh penghuni rumah gwinith. Dari pelayan hingga tukang kebun semua bahagia atas pulangnya Edrik.


♣♣♣♣ **Bersambung** ♣♣♣♣