
Edrik yang tak sadarkan diri segara dilarikan ke rumah sakit.
" Cepat bawa pak Edrik ke ugd" dokter memerintah pada perawat.
Perawat segera mendorong brankar ke ruang ugd. Setelah sampai di ruang ugd Edrik pun mendapat penanganan pertama dari dokter.
"Kelvin, apa yang terjadi?" tanya Willona saat sudah berada di depan ruang ugd.
" Yah, Kelvin mengapa seperti ini. Apa yang terjadi hingga Edrik pingsan." tanya Austin pada Kelvin.
"Saya temukan pak Edrik pingsan di ruangannya pak" ucap Kelvin menjelaskan
" Kenapa.bisa seperti itu" sebelum Kelvin menjawab pertayaan yang di lontarkan oleh Willona dokter pun keluar dari ruang ugd.
" Dok, bagaimana kondisi anak saya? Apakah anak saya tidak kenapa kenapa? Tidak terjadi hal yang serius kan dok" Willona bertanya bertubi tubi hingga Austin menghentikan istrinya bertanya pada sang dokter.
" Mah, sudah mah. Gimana dokter mau menjawab jika mamah bertanya terus" ucap Austin pada Willona.
" Begini pak kondisi tuan Edrik sangat lemah. Apa dia memaksakan diri untuk bekerja?" tanya dokter menatap kedua orang tua Edrik
" Tidak dok, tapi iyah tadi dia ke kantor untuk bertemu dengan Nauren" ucap Willona menjelaskan.
" Mungkin karena tuan Edrik memaksakan tubuhnya hingga terjadi seperti ini. Saya sudah ingatkan jika tuan Edrik harus istirahat total jangan membebaninya dengan pekerjaan karena kondosinya sangat lemah. Saya sudah memberikan dia obat penenang agar tuan bisa istirahat total. Tolong yah jangan membebaninya dengan pekerjaan dulu" ucap dokter memperingati kedua orang tua Edrik.
" Baik dok terima kasih" ucap Austin berterima kasih pada dokter.
Disisi lain, Nauren yang baru saja tiba di kos"annya merebahkan dirinya di kasur.
" Huufft, Nauren menghela nafas dengan berat. Aku harus mencari pekerjaan baru, hari ini sungguh sangat melelahkan " gumam Nauren pada dirinya. Dia mulai mengistirahatkan diri dan mulai terlelap.
Belum lama ia terlelap ponselnya berbunyi. Nauren mengambil ponselnya yang ada di atas meja dekat tempat tidurnya. Tanpa melihat siapa yang menelpon Nauren pun langsung mengangkatnya.
📞 Hallo "jawab Nauren pada penelpon disana.
📞Nauren, Edrik sekarang ada di rumah sakit " ucap Kelvin pada Nauren.
📞Benarkah, apa pak Kelvin tidak berbohong."
📞Ayolah, pak jangan lagi. Saya tau bapak kerja sama dengan boss anda kan pak.
📞 Apa kamu kira saya berbohong ?
📞Bukan begitu pak, mungkin saja bapak di perintah oleh atasan anda" ucap Nauren yang benar benar tak percaya
📞 Jika kamu tak percaya yah sudah, tapi jika kamu beribah pikiran silahkan datang ke rumah sakit...... Itu saja yang saya sampaikan " ucap Kelvin memutuskan telpon sepihak sebelum Nauren berkata apapun.
" Boss sama asisten sama saja. Memutuska.n telpon tanpa memberi salam penutup" gumam Nauren ia mulai berbaring kembali. Namun, pikirannya masih terfikir dengan ucapan Kelvin ia bingung apa ia harus pergi ke rumah sakit ataukah tidak.
Nauren baring duduk baring duduk, dengan pikiran yang sangat kacau " Aku tidak bisa begini, aku tidak akan bisa tidur jika terus memikirkannya. Sepertinya aku harus pergi ke rumah sakit untuk membuktikannya." Nauren pun bangun mennganti bajunya mengambil kunci motor dan tas kecilnya. Nauren pun menyalakan motornya dan menjalankannya menuju ke rumah sakit.
*
*
*
" Pah, kenapa putraku belum bangun ? " ucap Willona yang merasa khawatir.
" Tenanglah mah, dia hanya tertidur. Dia tak akan terjadi apa-apa padanya mah" ucap Austin mengusap bahu istrinya. Ia menenangkan istrinya yang merasa begitu khawatir.
Di sisi lain Bram dan keluarganya yang baru saja pinda ke indonesia. Mereka tinggal di perumahan yang tak jauh dari rumah Edrik hanya tempat tinggal keluarga Gwinith termasuk tempat tinggal pribadi yang tak bisa di masuki oleh sembarangan orang.
" Pah, ini rumah kita?" tanya Prisia pada Bram
" Iyah, ini rumah kita. Selama kita disini kita akan tinggal disini " ucap Bram menjawab pertanyaan putrinya.
"Yah lumayanlah pah, prisia kira rumah kita kecil. " ucap Prisia menatap sekeliling rumah barunya.
" Yah lumayan pah walau tak sebesar rumah kita di ausi pah "ucap Angel menimpali ucapan Prisia.
" Kalian pilihlah kamar kalian sendiri tapi untuk di lantai satu itu kamar papah dan mamah " ucap Bram pada anak anaknya
" Berarti kia bisa manggil kak Nauren tinggal disini dong pah" tanya Vino pada Bram.
" Iyah kesayangannya papah, nanti kita akan ajak kak Nauren tinggal bareng kita yah" Bram membalas perkataan putra satu-satunya ia menyusap kepalanya dengan sayang. " Sekarang Vino ke atas pilih kamar yang kamu suka, tapi jangan lari-lari yah nanti jatuh" ucap Bram memperingati putranya. Vino pun mengangguk dan naik ke atas melihat isi rumah dan memilih kamar yang dia mau.
Sementara Angel dan Bram mulai membereskan rumah yang akan mereka tempati bersama para asisten rumah tangganya.
🏥🏥
Kembali ke rumah sakit.
Nauren yang baru saja tiba mulai memakirkan motornya di tempat parkir. Nauren yang masih bimbang duduk diatas motornya ia bingung mau masuk atau tidak. Nauren takut jika ini hanya permainan Edrik namun hati kecilnya mengatakan jika perkataan Kelvin benar adanya. Nauren yang berperang dengan pikirannya memutuskan untuk masuk ke dalam dan mulai menanyakan pada resepsionis dimana ruang Edrik di rawat. Setelah dia tau dimana tempat Edrik berada Nauren pun pergi ke ruangan Edrik.
Tok tok.. Permisi "ucap Nauren dari luar
" Nauren , akhirnya kamu datang. Setelah kamu pergi Edrik jatuh pingsan." ucao Kelvin menjelaskan.
" Gimana keadaannya sekarang pak?" tanya Nauren kembali.
"Edrik belum sadarkan diri ?" jawab Kelvin
" Astaga pak " ucap Nauren tak percaya. " apa separah itu hingga dia belum sadaarkan diri." ucap Nauren yang begitu khawatir. Maafkan aku , apa aku keterlaluan? Aku minta maaf drik. Kumohon bangun jangan tidur seperti ini kamu tak cocok tidur begini" Nauren yang masih terisak menggenggam tangan Edrik dengan erat.
" Apa kamu ingin meremukkan tulangku" ucap Edrik dengan suara yang lemah.
" Kamu sudah sadar, terima kasih yah allah" ucap Nauren begitu senang. Edrik yang melihat Nauren merasa sangat bahagia.
"Aku tau kamu masih menyayangiku, tapi kamu tak namokkan itu semua. Aku akan buat kamu kembali lagi padaku " janji Edrik dalam hati.
♣♣♣♣ **Bersambung** ♣♣♣♣