
Nathan menatap kearah Luke yang terdiam. Kesal dan amarah jelas terlihat diwajahnya.
“Kau!!” Nathan menatap Luke.
“Terakhir kali aku membiarkanmu begitu saja, sekarang kau malah membuat keributan disini. Kau ingin mati?” Suara Nathan terdengar marah. Kekesalan dan emosi tampak jelas diwajahnya.
Udara dingin terasa datang menyelubungi Nathan. Pandangan matanya terasa tajam dan menusuk siapapun yang melihatnya.
Luke tersenyum. “Aku tidak sebodoh waktu itu.” Ucapnya.
“Lihat.” Luke mengangkat tangannya dan menunjuk ke sekeliling. “Kau bisa lihat kan? Jika kau melakukan sesuatu padaku, aku bisa menjadikannya bukti. Seorang mahasiswa melakukan kekerasan dan melukai seseroang. Kau akan menjadi tersangkanya.” Luke tertawa keras.
Nathan semakin kesal. Berjalan mendekati Luke. Menarik kerah bajunya. “Kau kira aku takut.” Ucapnya.
“Kau tidak tahu kan? Hal gila apa yang sudah aku lakukan dulu, yang membuatku pindah kemari.” Nathan menatap Luke dengan tajam. Tubuh Luke sedikit terangkat dari tanah. Tangannya menggenggam lengan Nathan yang masih mencengkram kerah bajunya.
“Lepaskan.” teriak Luke. “Kau tidak akan berani.” Ucapnya.
“Kau!!” teriak Nathan. Tangannya terlihat terangkat. Kepalan tangannya sudah diarahkan kewajah Luke yang terlihat mengejek Nathan.
“Hentikan Nathan!!!” teriakku.
“Apa yang akan kamu lakukan jika kamu dikeluarkan?” Ucapku.
“Tapi Zee, dia sudah keterlaluan. Lihat, dia bahkan berani datang kemari sekarang. Apa yang akan dia lakukan kedepannya pasti lebih parah dari ini.” Nathan menjawab.
“Lepaskan dia Nathan.” Aku menatap Nathan. “Aku mohon.”
Nathan masih kesal. Emosinya tidak berkurang sama sekali. Tangannya melepaskan cengkramannya pada Luke, menghentakkannya dan membuat Luke terjatuh ditanah.
“Kau!!” Luke berteriak emosi. Luke langsung berdiri dari tempat dia terjatuh, dan memukul wajah Nathan. “Kau kira aku takut.” Ucapnya. “Rasakan!!” Tangannya kembali memukul wajah Nathan.
Darah mengalir dari salah satu sudut bibir Nathan, akibat menerima pukulan dari Luke. Nathan yang semula diam, akhirnya melampiaskan kekesalannya pada Luke dan membalasnya. Berkali kali pukulannya mendarat diwajah dan tubuh Luke. Saling melawan satu sama lain. Nathan yang lebih kuat, terlihat melukai Luke lebih parah.
Hidungnya, pelipisnya dan bibirnya terlihat terluka dan mengeluarkan darah. Perutnya juga tidak lepas dari pukulan Nathan.
Luke juga melawan, mendaratkan tinjunya dan melukai pelipis Nathan. Pertengkaran terus terjadi tidak ada yang berani mendekat atau melerai. Semua hanya menonton dan memperhatikan pertengkaran tersebut. Menyemangati dan bersorak, menyaksikan tontonan dihadapan mereka.
“Hentikan!!” Teriak Brian.
Brian dan komite mahasiswa tiba-tiba datang dan melerai perkelahian mereka berdua. Salah satu komite mahasiswa menarik tubuh Luke yang masih ingin memukul Nathan, tubuhnya meronta-ronta meminta dilepaskan.
“Nathan!! Stop!! Hentikan. Ada apa denganmu?” teriak Brian yang menarik tubuh Nathan menjauhi Luke.
“Kau lihat sendiri, dia memukulku.” Teriak Nathan emosi dan mencoba melepaskan pegangan Brian padanya.
“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi lihat semua ini. Jika kau teruskan masalahnya akan semakin besar.” Brian menenangkan Nathan.
Wajah Nathan sudah dipenuhi oleh luka. Darah juga masih mengalir dari salah satu pelipisnya yang terluka. Nathan menatap kearahku yang masih berdiam melihatnya. Brian melepaskan pegangannya, merasa bahwa Nathan sudah mulai tenang.
Nathan berjalan mendekat kearahku. “Kamu baik-baik saja Zee?” tanya Nathan padaku.
Aku mengangguk. “Bagaimana? Sakit?” Tanganku menyentuh pelipisnya yang terluka.
Nathan menggelengkan kepalanya. “Tidak.”
Luke berteriak meminta dilepaskan. Kekesalan masih jelas dia rasakan. Pihak komite sama sekali tidak peduli, menarik dan membawanya pergi menjauh. Brian membubarkan keramaian yang sejak tadi berkumpul. Sedikit memberikan pengarahan pada mereka yang sama sekali tidak melerai dan membantu. Semua mahasiswa bubar, dan Brian mengajak Aria untuk ikut pergi bersamanya menemui Luke. Membuat laporan dan keterangan tentang kejadian tersebut.
“Susul kami.” Ucap Brian meninggalkan aku dan Nathan.
*****
Nathan menggeleng. Sesekali wajahnya terlihat tertarik menahan perih, namun dia menolak mengatakannya.
“Sudah aku katakan jangan berkelahi.” Aku memarahinya. Aku sudah mengajaknya kerumah sakit, namun Nathan menolak. Akhirnya aku hanya membersihkan lukanya dengan peralatan seadanya. Obat-obatan yang tersedia di dalam kotak P3K mobilku.
“Tidak apa-pa. Aku juga kesal padanya.” Ucap Nathan.
“Hemmp.” Aku mengangguk. “Tapi, kamu bisa berdarah juga ya? dan warnanya juga merah?” Aku menatap Nathan. Tanganku masih membersihkan darah dan luka-lukanya dengan alcohol.
Nathan tertawa. “Sudah aku bilang, aku bisa terluka dan mati seperti manusia biasa.”
“Tapi kan aneh. Kamu abadi, setelah mati juga hidup kembali. Tidak ada kemampuan menyembuhkan diri atau bagaimana gtu?” tanyaku menatapnya bingung.
Nathan hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan dariku. Perlahan aku membersihkan luka disalah satu pelipisnya. Matanya yang coklat terlihat sangat terang. Memandang jelas kearahku yang duduk dihadapannya. Nathan diam, salah satu tangannya terangkat dan menggenggam tanganku yang masih membersihkan lukanya.
Matanya yang tajam terus menatap kearahku. Perlahan dia mendekatkan wajahnya padaku. Bibirnya terasa menyentuh bibirku. Mendaratkan sebuah ciuman kepadaku. Dengan sensasi yang menusuk kejiwaku. Sebuah perasaan yang seakan memekarkan bunga yang ada didalam hatiku. Memberikan sebuah kehangatan yang tidak tergantikan.
“Aww..” suara Nathan memecah keheningan. Tangannya menyentuh salah satu sudut bibirnya.
Aku menatapnya kesal. “Katanya tidak sakit.” Ucapku mengejek.
Nathan menatapku, tertawa pelan melihat tingkahku. Dia kembali mendekatkan wajahnya padaku, berusaha mengulangnya.
Aku mendorong tubuhnya menjauhiku. “Sudah selesai.” Aku menatapnya
Nathan tersenyum. Menganggukkan kepalanya mengerti maksudku.
“Jadi bagaimana, kita kesana sekarang?” Aku menatapnya yang masih duduk.
Nathan menggelengkan kepalanya. Menolak untuk pergi. “Tunggu sebentar lagi.” Ucapnya.
“Yasudah, aku pergi duluan kalau gitu. Permasalahan ini dimulai dariku kan.” Aku bangkit dari dudukku. Meninggalkan Nathan.
“Tunggu.” Nathan menarik lenganku.
“Kenapa?” tanyaku menatap kearahnya.
Tiba-tiba sebuah cahaya terang muncul dari arah punggungku, membuat bayangan tubuhku menutupi Nathan yang ada dihadapanku. Nathan tersenyum, memegang kedua lenganku dan memutar tubuhku berbalik.
Nathan bangun dari duduknya. Berdiri tepat dibelakangku. Kedua tangannya masih memegang lenganku. Wajahnya terasa mendekat kearahku.
“Happy Birthday.” Bisik Nathan kesalah satu telingaku.
Aku hanya diam mengangguk. Wajahku tidak berhenti tersenyum. Sebuah kalimat berwaran keemasan tersusun diatas langit. Huruf-huruf yang berasal dari cahaya-cahaya keemasan, dengan bintang-bintang bertaburan yang berkelap-kelip dibaliknya.
“Bagaimana bisa?” tanyaku terpukau.
“Trik dan sedikit sihir.” jawabnya.
“Kau bisa sihir?” aku menatapnya. Mebalikkan tubuhku.
Nathan hanya tersenyum dan menangkat kedua lengannya keatas. Menolak untuk menjawab. Dia memegang tubuhku dan kembali memutarnya. Menatap pemandangan yang ada dihadapanku.
Happy Birthday Zee
Sebuah tulisan yang berkelap kelip diatas langit.
“Tunggulah sebentar lagi, ada sebuah kejutan lain.” Ucapnya memeluk tubuhku dari belakang. Menghentikanku yang ingin berbalik menatapnya
Sebuh tulisan kembali tersusun, kali ini hanya bintang yang bergerak. Tidak ada cahaya keemasan seperti sebelumnya. Langit malam yang gelap seakan menjadi kanvas milik Nathan. Dia bisa menuliskan dan menggambarkan apapun disana. Aku tersenyum memandang sebuah tulisan lain yang telah terukir oleh susunan bintang-bintang.