
Tubuhku terasa sangat lengket. Panas sekali. Kenapa tidak ada yang menghidupkan AC diruangan ini. Suara-suara sayup menyebutkan namaku terdengar beberapa kali.
"Emmhhh.."
Suara itu tidak berhenti dan terus terdengar. Terasa sangat mengganggu pendengaranku. Berisik!!
Kenapa berisik sekali sih? Gelap seakan telah menyelubungi penglihatanku. Aku mencoba menggerakkan tubuhku. Tapi tidak ada yang bergerak. Berkali-kali, dan tubuhku tetap tidak bergerak.
Aku mencoba membuka mulutku untuk bersuara, namun tidak ada suara yang terdengar.
Ada apa ini? Kenapa? Apa yang terjadi? Sebuah perasaan takut dan kalut berkumpul dalam benakku.
Suara itu terus memanggil-manggil namaku tanpa henti. Sesekali tangisan juga terdengar dibalik suara itu. Aku berusah melihatnya. Namun pandanganku tetap gelap.
"Hahh...Hahh..Hah.."
"Hentikan!!" Aku berteriak keras.
Mataku terbuka, Bu Alice terlihat berdiri dan mengawasi di sampingku. Aku sedang terbaring ditempat tidurku. Tubuhku sudah penuh dengan keringat dan ditutupi selimut tebal.
"Sedang apa disini Bu?"
Aku memiringkan kepalaku dan menatap kearahnya. Sebuah suara akhirnya keluar dari mulutku. Serak dan berat.
Bu Alice tidak menjawab ucapanku. Dia hanya diam. Menatapku dengan sedih. Matanya yang memerah, dan bekas sekaan air mata dipipinya; membuatku semakin tidak mengerti dengan situsi yang sedang aku hadapi saat ini.
"Ibu kenapa? Apa yang sedang terjadi? Kenapa Ibu menangis seperti itu?" ucapku menatapnya.
Bu Alice diam. Dia berjalan mendekati tempat tidurku dan duduk disamping tubuhku yang terbaring.
Salah satu tangannya terlihat sedang memegang sebuah handuk biru. Setelah membasahi handuk itu dengan air yang ada disebuah mangkuk, dia meletakkan handuk itu dikeningku.
"Maaf Mbak. Saya tidak tau kalau Mbak akan sampai jadi sakit seperti ini. Kalau tau akan begini, saya tidak akan mengizinkan Mas itu masuk kerumah. Maaf karna saya langsung percaya pada ucapannya."
Bu Alice tersedu. Air matanya kembali keluar dan membasahi pipinya. Aku ingin menyeka air mata itu. Namun tubuhku terasa berat dan tidak mampu tergerak.
"Tidak apa-apa Bu. Saya baik-baik saja. Tapi ada apa sebenarnya? Saya masih bingung kenapa saya bisa berbaring disini sekarang."
"Tadi... setelah Mas itu pergi, saya membantu Mbak berjalan. Namun tiba-tiba tubuh Mbak mulai melemas dan Mbak jatuh pingsan."
Hah? Aku menatap Bu Alice tidak percaya. Bagaimana mungkin aku bisa sampai pingsan. Aku merasa baik-baik saja sebelumnya.
"Jadi? Bagaimana saya bisa sampai disini Bu? Ibu tidak mungkin kuat mengangkat saya sampai kesini." ucapku bingung.
Bu Alice menatapku dan menggelengkan kepalanya.
"Setelah Mbak pingsan, saya juga tidak begitu mengingatnya Mbak. Cuma yang saya tau, dokter datang dan memeriksa tubuh Mbak."
"Dokter?!."
Kenapa bisa ada dokter? Bu Alice tidak mungkin sempat membawaku masuk dan menelpon seorang dokter. Pasti ada sesuatu.
"Ibu kenal dengan dokternya? Sudah berapa lama saya pingsan?"
"Hemm sepertinya saya kenal Mbak..." Bu Alice menatapku ragu. Raut wajahnya mengisyaratkan kekhawatir dan keraguan untuk menjawab pertanyaanku.
"Kenapa Bu?" Ucapku lagi.
Kenapa Bu Alice seperti menutupi sesuatu dari ku? Apa yang sebenarnya sedang terjadi sekarang.
"Tapi saya sendiri juga bingung Mbak..." Kalimat Bu Alice terhenti. Dia kembali menatapku dengan cemas.
"...saya seperti kenal. Tapi saya juga seakan lupa Dokter itu siapa. Nama dan wajahnya juga saya lupa Mbak. Makanya saya juga bingung Mbak. Tapi, Dokter itu bilang ke saya Mbak sangat kelelehan dan terlalu banyak fikiran. Makanya Mbak bisa sampai pingsan seperti itu."
"Jadi sudah berapa lama saya pingsan Bu? Sepertinya sekarang sudah tidak pagi lagi?"
"Sekitar lima atau enam jam mungkin Mbak. Saya juga tidak memperhatikan waktu tadi."
"Yasudah kalau begitu Bu."
"Emmm.. Mbak. Saya belum ada menghubungi Mama Mbak, jadi bagaimana?" Bu Alice menatapku ragu.
Aku menggelengkan kepalaku mendengar pertanyaannya.
"Tidak usah Bu. Jangan membuat Mama jadi lebih khawatir lagi."
"Yasudah Mbak. Silahkan Mbak istirahat lagi. Saya permisi keluar dulu kalau begitu."
Bu Alice langsung berdiri dari duduknya. Menggantikan kompres yang sedang aku pakai dan berjalan keluar kamarku.
"Bu..."
Bu Alice menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kearahku.
"... saat saya pingsan Aria ada menghubungi tidak? Saya ada janji dengannya hari ini. Tapi sepertinya tidak akan bisa saya penuhi."
"Tidak ada Mbak."
"Oh Yasudah. Terimakasih Bu."
Bu Alice menganggukkan kepalanya. Pamit dan pergi. Meninggalkanku beristirahat sendirian didalam kamarku.
Tubuhku masih terbaring lemas. Aku ingin meraih ponselku yang berada disebelahku, namun tanganku masih terlalu lemas untuk bergerak.
Hahhh...!!
Kenapa semua ini terjadi? Aku memejamkan mataku dan memikirkan semuanya. Sesuatu terasa salah. Bagaimana mungkin aku bisa pingsan.
Bagaimana bisa ada seorang dokter dan Bu Alice juga tidak tau siapa dia.
Jika diingat, setelah kepergian Luke, aku merasa baik-baik saja. Tidak lama setelah itu...
"Arghghhh.. Sakit!!. Kenapa ini?!" Kepalaku terasa sakit dan berdenyut sangat kuat.
Apa ini? Sakit. Aku mencengkram erat kepalaku dengan kedua tanganku Sakitnya sama sekali tidak berkurang. Justru semakin parah dan berdenyut.
"Bu. !!!"
"Bu Alice.. Toloong.."
Aku berteriak sekuat tenaga. Namun tidak ada satu orang pun yang datang ke kamarku.
Rasa sakitnya benar-benar terasa mencengkram seluruh isi kepalaku. Tidak ada celah. Darah diseluruh tubuhku juga terasa seakaan mendidih dan ingin meledak.
"Toolooong.."
"Maaa.. Tolong akuu Ma..."
Kilasan tentang masa laluku tentang Mamaku tiba-tiba datang. Kenapa disaat seperti ini justru aku merindukanmu Ma?
Air mata dan isak tangis suaraku telah menggema keseluruh kamarku. Tapi, tetap sama sekali tidak ada yang datang.
"Kemana mereka semua? Kenapa mereka tidak perduli padaku... arrggghh.."
Denyutannya semakin parah. Aku sudah meringkukkan tubuhku menahankan keseluruhan sakitnya. Tidak ada perubahan.
"Tolong aku..."
Mataku mengabur, ketika aku melihat seseorang datang mendekatiku. Dia mengulurkan tangannya kearahku.
"Tolong!!" Suaraku lirih.
Aku menatap kearahnya. Dengan sisa tenaga yang masih aku miliki, aku menyambut uluran tangannya dengan tanganku.
Dingin. Ketika aku menyuntuhnya tangan itu terasa sangat dingin, namun perlahan rasa dingin itu berubah menjadi kehangatan yang menebar ditubuhku.
"Maafkan aku Zee. Aku datang sangat terlambat kali ini. Istirahatlah. Aku akan menghilangkan rasa sakitmu. Aku sudah ada disini. Kamu akan baik-baik saja, dan aku akan menjagamu sekarang."
Sebuah suara hangat masuk kedalan telingaku.
"Hemmm.." Aku sedikit menggukkan kepalaku dan terlelap.