Blue Moon

Blue Moon
Bab 23 Alasan



"Brian, kamu pasti tahu sesuatu tentang Luke bukan?" Tanyaku padanya.


Setelah kelas selesai. May langsung pergi begitu saja. Tidak berbicara padaku lagi.


Aria yang melihat Luke berjalan mendekatiku, segera menarikku pergi menjauhinya. Luke yang sendirian, juga ikut dikerumuni oleh wanita-wanita yang ada dikelas. Menghentikan langkahnya untuk mengejar dan mengikuti kami.


Brian yang melihat tingkah Aria, hanya tersenyum dan mengikuti kami dari belakang.


Brian menatapku diam. Dia tidak berkata apapun. Sekarang kami bertiga sudah berkumpul dikantin.


"Ayo jelaskan. Kenapa kamu hanya diam." Aria memaksa Brian.


"Bukan aku tidak mau Zea. Tapi, ini bukan waktu dan tempat yang tepat." Brian menjelaskan.


Aku memandang sekeliling. Kantin yang luas ini tidak terlalu ramai. Jadi, apa masalahnya bagi Brian jika bercerita. Tidak ada yang aneh sekarang.


"Tidak ada yang aneh disini." Ucap Brian kepadaku.


Menghentikan aku yang sedang mengedarkan pandangan, pada orang yang berlalu lalang di kantin.


"Maksudku sekarang bukan saatnya. Kamu harus mendengar semuanya sendiri dari Nathan. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya padamu."


Brian memandangku dengan rasa bersalah. Tidak bisa mengatakan apapun.


"Tapi Bii, kamu tidak kasihan dengan Zea? Tadi saja dia sudah bertengkar dengan May. Ahhh..." Aria menghentikan kalimatnya. Wajahnya terlihat sedang memikirkan sesuatu.


Aria kembali menatap kearahku. Mengalihkan pandangannya yang semula ada pada Brian.


"... Kamu Zea, sesuatu sedang terjadi bukan? Kenapa kamu berkata pada May, tidak akan peduli lagi pada Nathan? Ada apa? Bukan kah kamu baik-baik saja dengannya?" Aria melanjutkan kalimatnya.


"Ahh, tidak seperti itu." Ucapku merasa bersalah.


"Jadi ada apa? Kenapa kamu sama sekali tidak mengatakan apapun padaku? Bukankah kita teman?"


Aku menatap kearah Aria yang merasa tidak puas dengan perbuatanku. Aku ingin bercerita, namun aku juga ragu dan bingung harus memulai dari mana.


"Minum dulu Zea. Tenangkan fikiranmu." Brian memberikanku segelas minuman yang ada dimeja.


"Jangan dengarkan Aria. Dia memang selalu memaksakan sesuatu. Tidak peduli dengan keadaan sekitarnya." Ucap Brian.


Aria yang mendengar perkataan Brian merasa kesal. Dia tidak terima jika dituduh seperti itu.


"Bukan-bukan begitu Rii." Ucapku menenangkan.


Aku mengambil gelas yang ditawarkan oleh Brian, dan sedikit meminum isinya.


"Baik, akan aku ceritakan. Tapi kamu harus tenang dan jangan emosi." Ucapku.


Aria yang senang mendengar perkataanku, tersenyum dan langsung menganggukkan kepalanya. Setuju dengan syarat yang telah aku berikan.


Aku mulai bercerita, mulai dari bagaimana aku menghubungi Nathan, hingga May yang masuk dalam perbincangan kami.


Aria mendengarkannya dengan serius. Ekspresinya sesekali berubah, emosi dan marah, sedih juga terlihat diwajahnya.


Brian yang ikut mendengar tidak berkata apapun. Dia hanya diam dan terus mendengarkannya.


"Jadi? Sekarang kamu dan Nathan sudah tidak berhubungan lagi?" Tanya Aria.


"Tidak, aku tidak ingin menghubunginya. Aku tidak mau percaya padanya. Tapi aku tetap masih khwatir dengan keadaannya sekarang." Ucapku.


Aria menganggukan kepalanya.


"Aku mengerti Zea, bagaimanapun melupakan itu lebih sulit."


Brian yang semula diam, mendengar perkataan Aria ikut berbicara.


"Zea, aku rasa kamu harus sedikit bersabar dan memberi Nathan kesempatan yang lain. Nathan bukan orang yang seperti itu. Aku cukup mengenalnya dengan baik."


Brian menatapku. Meyakinkanku bahwa apa yang aku lakukan tidak sepenuhnya benar.


"Maksud kamu apa Bii? Sudah jelas Nathan itu hanya mempermainkan Zea. Dia pasti ada sesuatu dengan May."


Aria membelaku. Tidak terima dengan perkataan Brian yang mengatakan bahwa Nathan adalah orang baik.


"Buka seperti itu Rii. Tapi memang Zea sudah salah paham dengan Nathan." Brian membela.


"Bii, kamu juga mengenal Nathan baru semester ini kan? Kenapa kamu seyakin itu tentang dia." Aria berkeras.


Brian menatap kearaku dan Aria bergantian.


"Apa? Kenapa kamu hentikan?"


Aria menatap Brian kesal, menunggu lanjutan perkataannya.


Brian hanya diam. Matanya mengarah pada seseorang yang berada dibelakangku.


Aria yang melihat orang itu juga ikut diam. Dia memilih memakan mie yang sudah disajikan dihadapannya. Menundukkan pandangannya dan tidak ingin melihat.


Siapa?


Aku mengikuti arah pandangan itu. Ada May dan Luke disana. Mereka berdua berjalan mendekati meja kami.


"Zea, aku boleh duduk disini?" Tanya Luke padaku.


Kedua tangannya sedang memegang sebuah piring dan minuman. May yang berdiri dibelakangnya, sama sekali tidak peduli dengan kami.


"Tidak. Kami sedang makan. Jangan ubah selera kami karna kedatangan kalian berdua." Ucap Aria.


"Siapa juga yang mau makan disini? Sudah aku katakan. Duduk saja disana. Masih banyak bangku yang kosong." May menarik Luke untuk pergi dan menjauh.


"Sejak kapan mereka berdua jadi dekat seperti itu." Brian membuka suara.


Aku dan Aria memandang Brian tidak percaya. Dia baru tanggap dan menanyakan hal itu sekarang.


"Kau tidak perlu tau." Aria menjawab.


*****


Sepertinya aku harus bertanya pada Brian.


Setelah pertemuan kami dengan May dan Luke, Brian tidak melanjutkan ceritanya.


[ Brian, sepertinya aku masih penasaran tentang Nathan. Kamu tau sesuatu tentangnya bukan? ]


Aku mengirimkan sebuah pesan pada Brian. Meski aku mengatakan tidak peduli pada Nathan, namun tetap saja aku masih penasaran tentangnya.


10 Menit...


Brian sama sekali tidak membalas pesanku.


[Rii.., kamu sedang bersama Brian sekarang?]


Setelah lama menunggu, aku mengirimkan pesan pada Aria. Mungkin saja Brian tidak membalasnya karna dia sedang bersama Aria.


Jam dikamarku masih menunjukkan pukul delapan malam. Namun pesanku pada mereka berdua sama sekali tidak dibalas.


Tidak mungkin kan mereka sudah tidur jam segini?


Aku merebahkan tubuhku ke atas tempat tidurku. Memandang ponsel yang ada digenggamanku. Sama sekali tidak berdering.


Tidak ada pesan atau panggilan dari siapapun.


Benar-benar sepi!!


[ Maaf Zea, aku sedang bermain game tadi. Brian tidak bersamaku sekarang. Ada apa? Kamu perlu sesuatu darinya? ]


Setelah satu jam. Aria baru membalas pesanku.


[ Oh. Tidak ada. Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padanya. Tapi pesanku belum dibalas olehnya. ]


[ Tunggu saja. Aku dan dia baru selesai bermain game sekarang. Mungkin sebentar lagi dia akan membalas pesanmu. ]


[ Ya. Terimakasih. ]


Aku sudah mengakhiri pembicaraanku dengan Aria, tapi kenapa Brian sama sekali belum membalas pesanku.


Malam juga sudah semakin larut. Perlukah aku menunggunya sebentar lagi?


Ponselku tiba-tiba berdering. Sebuah pesan masuk dari Brian.


[Maaf Zea, aku masih sibuk tadi.]


Hanya itu? Aku sudah menunggu lama dan balasan dari Brian hanya itu? Tidak membahas pertanyaanku sama sekali. Aku harusnya tidak menunggu pesannya sama sekali.


[ Aku bukannya tidak ingin membahas tentang Nathan Zea. Tapi menurutku lebih baik kamu mendengar penjelasan langsung darinya. Nathan melakukan semua ini pasti ada alasannya Zea. ]


[ Nathan saat ini sedang berada disebuah hutan yang ada didekat rumah kamu. Aku rasa kamu tahu itu dimana bukan? Jika kamu masih penasaran silahkan temui dia disana.]