
Waktu masih pagi. Aku sudah dikampus menunggu Aria dan yang lain. Menyebalkan. Selalu seperti ini. Jika aku tahu mereka akan datang terlambat, lebih baik aku bersantai dulu dirumah. Sarapanku juga masih belum habis tadi.
“Zee..” Aria melambaikan tangannya kearahku.
“Maaf telat. Jalanan macet parah.” Aria menatapku sedih. Aku masih duduk tidak bergeming. Hanya mengangguk mendengar penjelasannya.
Suasana pagi yang sepi, masih membuatku tidak bersemangat memulai perkuliahan hari ini.
“Yang lain dimana?” tanyaku pada Aria yang sudah duduk disebelahku.
“Hemm?” Aria menatapku. Dia mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepalanya.
“Sudahlah. Pasti mereka terlambat seperti biasa.” Aku mengangguk menjawab pertanyaanku sendiri..
Aria mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak berwarna biru muda.
“Nihh.” Aria memberikan kotak itu ketanganku.
“Apa?” jawabku bingung dengan maksudnya.
“Hadiah. Happy Birthday” Aria menjawab.
Aku mengangguk menerimanya. Hari ulang tahunku, dan aku sendiri lupa.
“Zee..?”
Seseorang memanggilku. Aku dan Aria menatap kepemilik suara itu.
“Nathan?” Aria terkejut. Kepalanya bergerak kearahku dan Nathan secara bergantian. Aku hanya tersenyum dan mengangguk menatap Nathan.
Nathan berjalan mendekat kearahku.
“Sedang apa?” Nathan bertanya.
“Menunggu yang lain. Sepertinya mereka akan terlambat juga hari ini.” Aku menjawab. Aria hanya terdiam menatapku dan Nathan berbicara akrab. Wajahnya terlihat penasaran. Namun dia tetap diam dan tidak bertanya.
“Ohhh..” Suara Nathan. Kepalanya mengangguk.
“Yaa, kamu sendiri? Tidak terlalu cepat datang sekarang?” tanyaku.
Nathan menggelengkan kepalanya. “Tidak. Aku selalu datang diwaktu seperti ini, hanya terkadang aku menunggu waktu yang tepat untuk masuk kekelas.” Nathan tersenyum.
“Terlihat seperti telat maksudnya?” Aku tertawa menatapnya.
Nathan juga tertawa. Selalu masuk kekelas terlambat, bukan berarti Nathan benar-benar telat. Aku yakin yang aku temui dikelas waktu itu juga dia. Tapi, kenapa dia tidak masuk kelas dan justru tidak hadir. Padahal waktu itu dia datang.
“Zee?” Aria memanggil namaku.
“Kamu sedang apa? Nathan sudah pergi tuh.” Aria menatapku yang terlihat terkejut. Aku tidak sadar sudah berpisah dengan Nathan.
“Tidak ada, hanya sedikit berfikir.” jawabku.
“Kamu..., bagaimana kamu bisa mengenal Nathan? Kenapa kalian begitu dekat?” tanya Aria.
“Maksudnya?” Aku menatap Aria bingung.
“Kenapa Nathan bisa berbicara denganmu? Bahkan keteman yang lain saja dia menghindar. Kenapa ke kamu tidak?” wajah Aria terlihat penasaran menunggu jawabanku.
Aku tertawa melihatnya. “Tidak ada. Hanya seperti itu, mengalir begitu saja.” Ucapku.
Aria masih menatapku, kesal terlihat diwajahnya. Tidak puas sama sekali dengan jawabanku.
“Bahkan dia tidak melihat kearahku Zee. Dia hanya mengobrol denganmu. Aku seperti angin tadi.” Suara Aria kesal.
Aku hanya tertawa, memandang salah satu sahabatku merasa terluka tidak di akui keberadaannya oleh Nathan. Aku sendiri juga masih belum percaya, bagaimana mulanya hingga aku bisa dekat dan mengenalnya. Walau masih banyak hal yang belum aku ketahui tentang Nathan, tapi aku masih yakin jika suatu saat Nathan akan menjelaskannya padaku.
*****
Happy Birthday Zee,
Wish U All The Best.
Aku menatap ponselku, sebuah pesan masuk dari Nathan. Aku membalasnya dan mengucapkan terimakasih. Tidak tahu dari mana Nathan bisa mengetahui tanggal ulang tahunku.
“Zee.?” Aria menarik lenganku. Menghentikan ku yang ingin masuk kedalam mobil.
“Kenapa?” tanyaku menatapnya. Wajahnya terlihat bingung.
“Ituu..” Jawabnya ragu.
“Kenapa? Apa ada sesuatu?” aku menatapnya yang masih diam.
Aria menatapku, dan mengangkat tangannya. Menunjuk sesuatu dibelakangangku. Aku memalingkan wajahku dan melihat apa yang ada dibelakangku. Sesuatu yang membuat Aria berhenti berbicara.
“Luke?” ucapku. Luke sedang berjalan menuju kearahku.
“Bagaimana dia tahu aku ada disini?” tanyaku pada Aria yang masih diam.
“Itu.. aku juga tidak tau.” Aria menatapku.
“Zee.” Suara Luke terdengar memanggil namaku. Aku berusaha melarikan diri; menarik Aria masuk kedalam mobilkku, dan meninggalkannya.
“Zee, tunggu!” Luke berteriak.
“Zee. Stop!!!.” Luke berhenti tepat didepan mobilku. Suara deritan rem yang aku pijak terdengar kuat. Aku menatapnya yang berdiri dihadapanku. Aria yang duduk disebelahku tampak terkejut. Kedua tangannya menggenggam erat sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya. Wajahnya memucat. Kaget dan takut terekam jelas diwajahnya.
“Gila kamu Luke,” teriakku. “Apa yang kamu lakukan berdiri disana?”
Luke menatapku dan tersenyum. Tidak bergerak sama sekali dan tetap berdiri disana. Aria yang sejak awal masih diam, turun dari mobilku. Mendekati Luke.
“Apa? Kenapa?” tantang Luke menatapnya.
“Kau..!” ucap Aria kesal. Wajahnya sudah memerah menghilangkan warna memucat yang sebelumnya ada disana.
“Kenapa? Haa? Kau siapa rupanya?” Luke mengejek. Sama sekali merasa tidak bersalah.
“Zee, aku datang. Selamat Ulang Tahun.” Ucapnya menatapku, tidak memperdulikan Aria. Mengeluarkan sebuah kotak kecil dan sebuah bucket bunga mawar merah. Tidak tau dari mana, bucket itu sudah ada ditangannya.
Aku menatapnya diam. Aria terlihat semakin kesal. Aku mendatanginya yang terlihat percaya diri dengan
perbuatannya. Senyumnya sama sekali tidak menghilang.
“Hey sinting!” suara Aria meninggi.
“Luke,” ucapku pelan. Aku mengambil bunga yang masih ada digenggaman tangannya. Tampak jelas wajahnya berubah senang.
“Terima kasih, tapi…” aku menatapnya tajam. Mataku terasa sudah memanas dan hampir berair. Tanganku terangkat, dan sebuah suara nyaring terdengar. Jejak merah tanganku terlihat jelas diwajahnya. Hatiku kesal. Berkali-kali dan terus sama.
Luke yang terdiam kemudian berteriak. “Zee!! Apa yang kamu lakukan.” Luke memegang salah satu pipinya.
Aria yang tadi kesal, juga menatapku terkejut.
“Luke, ini kampusku. Apa yang kamu lakukan disini?” teriakku. “Lihat, semua orang melihatku seperti tontonan. Ini yang kamu inginkan?”
“Zee, kamu salah. Aku berniat baik datang kesini. Aku mau memperbaiki kesalahanku. Kamu yang tidak pernah paham dan memberiku kesempatan.” Ucap Luke.
“Sudah berapa kali?” teriak Aria. Dia yang diam akhirnya berbicara.
“Luke, kau lihat sekarang. Keegoisanmu mengahancurkan semuanya. Zee sudah berkali-kali memaafkanmu. Kau tau sendiri itu kan?” Aria berteriak emosi.
“Kesempatan? Butuh berapa banyak? Ratusan? Ribuan? Sampai kau sendiri benar-benar berubah. Sudah berapa banyak Zee memberimu kesempatan?” Aria menatap Luke dengan kesal.
“Kau siapa berbicara seperti itu? Aku sedang berbicara dengan Zee.” Luke menatap kesal ke Aria. Tidak menyukai seseorang mengganggunya berbicara.
“Aku seseorang yang membencimu bahkan melebihi Zee. Laki-laki sinting yang selalu dibelanya, tapi pada akhirnya tidak lebih dari seorang sampah.” Aria menantang. Suranya terdengar sangat kuat.
Orang-orang yang sudah berkerumun terlihat semakin banyak. Bercerita, menjelekkan dan menatap dengan senang. Ponsel dan kamera mereka terlihat menyala. Merekam kejadian yang sedang terjadi. Sebuah pertunjukkan yang jarang terlihat.
“Kau!!” ucap Luke. Tangannya terangkat ingin menampar Aria.
“Cukup.” Teriakku.
“Apa yang ingin kamu lakukan Luke?” Aku menatap kearah Luke.
“Aria sahabatku.” Ucapku. “Ini kampusku. Hentikan. Jangan permalukan aku lagi. Hubungan kita sudah berlalu dan selesai. Kau tau sendiri kan?” Aku mendekati Aria, menariknya menjauh dari Luke.
“Zee, beri aku kesempatan. Aku mohon.” Ucapnya.
“Sudahlah Luke, ini sudah berakhir. Jangan paksa aku untuk lebih malu lagi dari ini. Aku lelah.” Jawabku menatapnya.
Aria yang berdiri disebelahku menatapku dengan sedih. Kerumunan orang-orang itu juga tidak berhenti dan menghilang. Justru semakin ramai. Tidak ada yang menolong kami atau menjauhkan Luke, justru hanya menonton.
“Zee?” sebuah suara datang dari balik kerumunan orang yang mengelilingi kami.
“Apa yang terjadi?” Nathan menggeser kerumunan itu dan datang mendekatiku. Wajahnya terlihat bingung menatap aku dan Aria. Memandangku dengan mata coklat miliknya. Melihatku dari atas hingga kebawah memastikan aku baik-baik saja.
“Kau!!” Nathan menatap Luke dengan kesal. Matanya yang coklat sekilas tampak berubah memerah.