Blue Moon

Blue Moon
Bab 27 Nathan



"Nathan bagaimana?" Tanyaku pada Brian yang baru saja keluar dari sebuah kamar.


Mereka tidak mengizinkan aku untuk masuk dan bertemu dengan Nathan saat ini. Mataku yang sejak tadi menangis, kini sudah  memerah dan membengkak. Perasaan takut, khawatir dan penyesalan sudah bercampur aduk didalam hatiku.


Rasa bersalah karna tidak mau mendengarkan perkataannya. Keegoisanku telah menyebabkan penyesalan dan luka pada Nathan. Aku hanya berfikir tentang hatiku dan perasaanku. Sama sekali tidak menunggu Nathan untuk menjelaskannya.


Jika tadi aku mendengarkannya. Mungkin tidak akan terjadi hal seperti sekarang ini.


Hatiku terus bergumam dan merutuki sifatku yang egois.


"Sudah Zea, tidak apa-apa jangan menangis. Itu bukan salah kamu. Memang kondisi Nathan saja yang masih belum stabil."


"Kamu tidak terluka kan?" Tanya Brian padaku. Matanya memandangiku dari atas dan kebawah. Memastikan bahwa aku baik-baik saja.


"Apa yang sebenarnya terjadi pada Nathan? Kenapa dia tiba-tiba berubah sampai semenakutkan itu..." Aku menghentikan kalimatku dan kembali terisak. Memikirkan kejadian yang terjadi padaku sebelumnya.


"Kamu tahu, aku benar-benar menyesalinya sekarang. Jika aku tahu Nathan akan kesakitan seperti itu, aku pasti akan mendengarkannya. Sejujurnya saat itu hatiku ingin sekali mendekatinya, tapi tubuhku tidak ingin bergerak..."


"... dan taklama setelah itu, wajah Nathan berubah sangat menakutkan. Suasana gelap didalam ruangan itu, menyebabkan aku dapat melihat cahaya dari balik tubuhnya dengan sangat jelas. Dia sempat mengulurkan tangannya, seperti berteriak meminta pertolong padaku. Aku menyesal." Ucapku gemetar


Air mata kembali mengalir dikedua pipiku. Brian yang melihatku kembali menangis, memberikan sebuah sapu tangan dari saku celananya. Sesekali tangannya menyentuh punggungku dan menepukanya pelan.


"Ini bukan salah kamu Zea. Memang Nathan saat ini sedang terluka parah. Dia hanya memaksakan dirinya, karna tahu kamu ada disini." Brian berusaha menenangkanku.


Kami berdua masih berdiri didepan pintu kamar itu. Alvin yang berada didalam kamar menjaga Nathan.


Ketika tahu bahwa Brian meninggalkan Nathan dan aku hanya berdua saja. Alvin langsung bergegas menemui kami. Namun kedatangannya sudah terlambat. Saat itu Nathan sudah berteriak kesakitan dan akhirnya pingsan.


"Aku boleh masuk?" Aku menatap Brian yang masih berdiri dihadapanku.


Mendengar pertanyaanku, Brian sedikit melebarkan matanya menatapku.


"Kamu yakin? Tapi sebelumnya kamu takut dengan Nathan?" Tanya Brian menatapku dengan ragu, tidak percaya dengan keinginanku.


"Aku hanya ingin, saat dia sadar ada aku disampingnya. Terlepas dari perasaanku yang masih tidak karuan, aku hanya ingin membalas apa yang Nathan lakukan padaku sebelumnya."


Brian hanya diam mendengar perkatanku. Setelahnya, dia kembali masuk kedalam kamar. Meninggalkan aku yang masih berdiri diluar, tanpa sebuah jawaban sama sekali.


Kenapa sekarang dadaku terasa sangat sesak?


Padahal aku sendiri yang mengatakan padanya akan menyerah, tapi kenapa aku sekarang justru takut kehilangannya.


Maaf, aku sekarang tidak yakin apa yang harus aku lakukan sebenarnya.


"Zea?"


Suara Brian memanggil namaku menghentikan lamunanku.


"Kamu kenapa menangis lagi?" Ucapnya khawatir.


Aku tidak sadar, ternyata air mata sudah kembali membasahi pipiku. Bayangan akan ditinggal sendiri oleh Nathan tiba-tiba menyeruak di dalam kepalaku.


Takut. Perasaan dimana takut kehilangan orang yang selalu ada untukku.


"Masuklah, Alvin mengizinkan kamu masuk dan menjaga Nathan. Dia juga merasa bersalah pada kamu atas kejadian sebelumnya." Ucap Brian melanjutkan kalimatnya.


Pintu kamar itu tiba-tiba terbuka, seseorang keluar dari dalam kamar.


Pria itu menatapku dan Brian bergantian. Sebelumnya aku tidak terlalu memandang wajah pria itu. Kini setelah kembali bertemu, aku baru sadar bahwa pria itu memilki mata berwarna kuning keemasan. Sangat terang dan jelas. Seperti sebuah permata.


"Kamu masih belum mengenalnya kan? Perkenalkan ini Alvin." Brian memandang pria itu dan aku bergantian..


"Dan ini.."


"Aku sudah mengenalnya. Kamu tidak perlu menjelaskannya." Ucap Alvin menghentikan perkataan Brian.


"Zea." Balasku, ikut mengulurkan tanganku, menyambut tangannya yang berada diudara.


"Emm, aku tidak tahu kamu masih ingat atau tidak. Tapi untuk sebelumnya aku minta maaf. Aku hanya khawatir. Mari sama-sama kita tunggu Nathan untuk menjelaskannya." Ucap Alvin dan melepaskan jabatan tangannya denganku.


"Sebenarnya Nathan kenapa?" Aku menatap Alvin dan Brian bergantian.


"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Sebelumnya Nathan mengatakan padaku bahwa kondisinya masih belum stabil. Kemudian Brian mengatakan padaku kalau Nathan sedang terluka, jadi sebenarnya dia kenapa?" Tanyaku pada mereka berdua yang masih terdiam.


"Aku atau kamu?" Alvin menatap kearah Brian.


Brian menggerakan matanya, melirik kearahku yang masih diam.


"Kamu." Ucap Brian singkat.


"Hahhhh.." Alvin menghela nafasnya.


"Kalau yang seperti ini saja. Pasti aku yang harus kena getahnya." Keluh Alvin pada Brian.


"Salah sendiri kamu tanya." Jawab Brian santai.


*****


"Jadi, harus dari mana aku memulainya?"  Ucap Alvin menatap kearahku.


Alvin mengajakku masuk kedalam kamar, dimana Nathan saat ini sedang tertidur.


"Tidak masalah disini? Takutnya Nathan akan terganggu dan terbangun." Aku menatapnya khwatir.


"Tidak apa-apa. Lebih baik disini. Kakiku juga akan pegal, jika harus bercerita panjang lebar sambil berdiri." Jawabnya.


"Tapi kan?.."


"Dia tidak akan terbangun sampai besok. Pengaruh obat yang aku berikan sangat kuat. Jadi mau kamu berteriak sekeras apapun, dia tetap akan tertidur pulas seperti itu." Sambung Alvin.


Kamar yang ditempati oleh Nathan sangat luas. Lukisan-lukisan bergaya eropa telah memenuhi dinding coklat kamar. Sebuah tempat tidur yang luas dengan tiang dan tirai yang ada disetiap sudutnya.


Aku dan Alvin duduk disebuah sofa, tepat dihadapan tempat tidur Nathan. Sehingga aku bisa melihatnya dengan jelas. Tubuhnya yang pucat, sedang terbaring diatas tempat tidur.


"Tidak perlu kamu pandangi seperti itu. Untuk saat ini, dia sudah baik-baik saja." Ucap Alvin menghentikan lamunanku.


Sejak memasuki ruangan, aku terus memandangi Nathan yang terbaring. Berharap agar dia segera tersadar dan memaafkan kesalahanku.


"Jadi, dari mana aku harus memulainya? Atau kamu punya sesuatu yang ingin ditanyakan padaku?" Alvin menatap kearahku.


"Emm, kita tidak menunggu Brian dulu?" Tanyaku ragu.


Alvin hanya diam. Dia memandang kearahku sebentar, kemudian mengalihkannya pada sisi lain kamar.


"Tidak perlu. Cukup aku saja. Karna dia juga tidak akan begitu tahu."


Sebelum kami masuk kedalam kamar, Brian menyuruhku untuk masuk duluan. Karna dia masih memiliki urusan yang lain. Namun aku tidak tahu kalau dia tidak akan kembali.


"Berani-beraninya dia meninggalkan aku hanya berdua dengan Alvin. Belum juga ada satu jam aku mengenalnya. Dasar Brian!!" Gumamku kesal mendengar Brian tidak akan kembali.


"Hahahaha." Alvin tertawa dengan keras.


"Kamu tidak perlu takut seperti itu padaku. Santai saja. Jika kamu bisa bertahan sampai disini, berarti kamu adalah orang yang berharga bagi Nathan." Sambung Alvin berbicara.


"Mungkin sebelumnya ada kesalah pahaman diantara kita. Tapi aku bukanlah orang yang membenci perubahan." Ucapnya lagi.


"Tanyakan saja. Selama aku tahu. Aku akan menjawabnya."