
Aku menatap kepergian Luke dengan perasaan lega; namun ketika aku kembali melihat Nathan yang berdiri disampingku, dia telah menghilang. Seperti udara. Dia menghilang tanpa aku sadari sama sekali.
Lelah sudah mendatangiku, ketika aku mendengar sebuah suara dari ponselku.
Maaf Zea, tiba-tiba aku ada urusan.
Hati-Hati. –Nathan.
Sebuah pesan dari Nathan, menghilangkan sedikit rasa penasaranku pada dia yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
*****
“Zea..?” Suara Mey mengejutkanku. “Sedang apa?”
Aku menatap Mey yang ikut duduk disebelahku. Disebuah kursi besi yang sedikit berkarat. Kursi taman yang sudah kehilangan warna catnya. Suasana di taman kampus yang sedang sepi memberikan perasaan tenang padaku.
“Ahh.. Mey..,” suaraku terdengar. “Tidak ada. Hanya bersantai.”
“Ohh.. Aku kira sedang menunggu Aria.” Mey mengangguk.
“Itu juga.” Aku tertawa kecil.
Mey terlihat diam, tidak ada ponsel digenggamannya dan suara pesan masuk seperti sebelumnya. Wajahnya juga terlihat pucat dan bersedih.
“Kenapa?” Tanyaku menatap dia yang masih diam.
Dia hanya menggelengkan kepalanya. Mey terlihat akan mengatakan sesuatu, namun seperti ada yang menghalangi suaranya. Dia kembali diam.
“Cerita saja. Ada apa? Aku bahkan tidak menceritakan tentangmu pada yang lain. Kenapa kamu masih ragu?” aku menatapnya kecewa.
“Zea, sebenarnya…” Mey ragu. Kalimatnya terhenti.
“Kenapa?” tanyaku.
“Aku bingung harus mulai dari mana. Semuanya terasa seperti mimpi Zea.” Suara Mey tiba-tiba terdengar bergetar. Air mata terlihat tertahan disudut matanya.
“Kemarin…, seseorang datang menemuiku. Dia marah-marah padaku. Dia..” Mey mulai terisak. Air matanya
tiba-tiba mengalir dipipinya. “Dia tunangan Steve. Akulah selingkuhannya Zea.” Mey terisak. Air matanya terus mengalir. Suara tangisnya sesekali terdengar. Aku memeluknya dan berusaha menenangkannya. Tidak mengetahui apa maksud perkataannya yang sebenarnya.
Aku menepuk pelan pundaknya. Salah satu bahuku sudah terasa basah, terkena air matanya yang terus mengalir. Aku hanya membiarkannya, menunggu untuk dia siap dan menceritakan semuanya padaku.
“Sudah Zea.. Terima kasih.” Mey melepas pelukanku, matanya terlihat membesar. Wajahnya sembab penuh bekas air mata yang sudah mengering.
“Dia datang..” Mey mulai bercerita. “Dia menemuiku, dan mengatakan untuk melepaskan Steve. Mereka sudah bertunangan dua bulan yang lalu. Saat aku dan Steve putus. Dia adalah wanita pilihan orang tuanya.” Suara Mey terdengar serak. Terdengar seperti ingin menangis kembali.
“Jadi? Kamu dibohongi?” tanyaku pada Mey.
“Tidak. Aku tahu itu. Steve sudah cerita. Dialah wanita yang aku kira selingkuhan Steve. Mereka saling mengenal sebelum Steve mengenalku. Tapi katanya dia tidak menyukai wanita itu, dan lebih memilihku. Dia tidak cerita karna tidak ingin menyakitiku.” Mey menjelaskan.
Aku hanya diam. Menatapnya sedih. Pikiranku menyalahkan segala keputusan Mey yang tetap bertahan dan memilih kembali, walau dia sudah mengetahui kenyataannya. Namun hatiku menolak mengatakannya. Berusaha memahami keputusan sulit yang sudah dia jalani.
“Aku harus apa Zea?” tanya Mey menatap kearahku.
“Tanya hatimu Mey.”
“Aku tidak ingin melepaskannya. Tapi… aku tidak yakin apa semuanya akan baik-baik saja kedepannya.” Mey tertunduk. Wajahnya kembali bersedih.
“Mey…” suaraku. Mey menatap kearahku. “Aku yakin, setiap masalah akan selalu ada solusinya. Tergantung dari sudut mana yang kamu pilih Mey. Aku akan mendukungmu, tapi aku harap keputusan yang kamu ambil tidak akan membuatmu kecewa lebih lama. Terkadang, terlalu buru-buru mengambil sebuah keputusan justru sering menghasilkan penyesalan. Lebih baik kamu fikirkan dahulu. Setelah itu, buatlah pilihlah yang memang akan
membuatmu lebih bahagia.”
Mey hanya diam mendengarkan semua ucapanku. Tidak ada perlawanan. Wajahnya masih terlihat sedih dan penuh kebimbangan. Air matanya ikut mengalir. Sesekali dia menyeka dengan kedua tangannya. Menghapusnya, namun masih meninggalkan bekas mengering diwajahnya.
“Thanks Zea.” Mey menatapku. Tidak ada senyuman.
“Yeah. Tenang saja. Kami akan selalu ada untukmu.” Aku tersenyum menenangkannya.
“Hemmm…” Dia menganggukkan kepalanya.
Aku melihat wajahnya, air matanya terlihat sudah mengering, namun kesedihan dimatanya masih belum menghilang.
*****
Aku menatap ponsel hitam yang sedang aku mainkan. Ada sebuah pesan masuk, seakan bergerak sendiri, jariku langsung membuka dan mengetik sebuah balasan.
Dirumah.
Maaf aku tidak bisa membantumu mengerjakan tugasnya.
Tidak apa-apa.
Baiklah. Aku khawatir kamu marah.
Santai saja.
Bagaima dengan dia? Sudah tidak datang lagi?
Tidak Ada. Mungkin dia takut padamu. Hahaha
Aku tidak semenakutkan itu.
Semenjak Nathan bertemu dengan Luke hubunganku dengannya terasa lebih dekat. Saling membalas pesan satu sama lain sudah menjadi hal biasa. Namun, Nathanlah yang lebih sering menghubungiku dahulu. Aku pernah mencoba menghubunginya ketika dia tidak masuk kelas, tapi tidak terjawab sama sekali.
Nathan sulit dihubungi, hanya jika dia yang memulai aku baru bisa menghunginya. Pesan suara atau yang lainnya tidak berlaku untuknya. Dia hanya bisa membalas sebuah chat, dan jika dia tidak membalasnya lagi; berarti dia sudah menghilang dan akan sulit untuk dihubungi kembali.
*****
Hujan turun dengan derasanya, tanpa henti. Sama sekali tidak mengizinkan matahari untuk menyapa. Musim kemarau tidak menghalangi hujan turun. Hari sudah hampir siang, dan aku sama sekali tidak beranjak dari tempat tidurku. Mengantuk dan sangat malas untuk bergerak. Cuaca sangat mendukungku untuk bermalasan.
Ponselku sama sekali tidak berdering. Hari ini ada jadwal kuliah, mungkin yang lainnya sama sepertiku tidak ingin pergi kekampus dan bersantai dirumah. Sesekali, suara yang setiap malam aku dengar sayup-sayup terdengar olehku. Suara hujan yang turun tidak benar-benar menutupi suara jeritan itu.
Hujan mulai reda, dan suara itu jelas terdengar. Aku berlari menuju balkon untuk mendengarkan suara itu. Suara kesakitan. Suara yang biasanya terdengar samar, namun hari ini terdengar teriakan kesakitannya.
Rasa penasaranku tidak berhenti, aku mengikuti suara itu dan sampai keperbukitan. Tidak terlalu jauh dari rumahku. Jalanannya terlihat basah dan becek. Kubangan lumpur ada dimana-mana. Aku mengikuti arah dimana suara itu berasal. Masuk kedalam hutan yang penuh dengan pohon pinus dan pohon besar lainnya. Sebuah hutan yang dari luar terlihat tidak bersahabat.
“Zea?”
Aku menoleh. Nathan sudah berdiri dibelakangku. Memperhatikanku.
“Nathan? Sedang apa?” Aku menatapnya bingung.
“Aku yang seharusnya bertanya. Sedang apa kamu disini?” Nathan berjalan mendekatiku.
“Aku..? Ohh yaa,, kamu tidak mendengar sesuatu tadi?” Aku menatapnya. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan menariku menjauhi hutan tersebut.
“Jangan pernah kesana. Berbahaya.”
“Maksudnya?” tanyaku menatapnya yang sedang berjalan bersamaku menjauhi hutan tersebut.
“Tidak ada. Hanya takutnya ada ular atau binatang buas lainnya.” Dia tersenyum menjelaskan.
Aku mengangguk. “Jadi, kamu sedang apa disana? Kenapa tiba-tiba bisa disana dan menemukanku?”
Nathan terlihat bingung. Dia diam sebentar seperti memikirkan sesuatu.
“Aku melihatmu, dan aku khawatir.” Nathan menjawab.
“Ohh.” Suaraku pelan.
Kami berjalan pelan tanpa berbicara. Nathan sama sekali tidak bertanya apapun. Suara itu sudah menghilang, dan matahari juga mulai terlihat bersinar.
“Makasih.” Ucapku. Nathan mengantarkan aku pulang kerumah.
“Ok.” Katanya singkat.
“Nathan, kamu sebenarnya tinggal dimana? Kenapa kita sering bertemu?” Aku menatap Nathan yang berdiri menungguku untuk masuk kedalam rumah.
“Aku tinggal didekat sini. Sekitar dua bulan yang lalu.”
“Ohh.” Aku mengangguk. “Dimana?”
“Aku sudah cukup lama tinggal disini, jadi aku tau hampir seluruhnya.” Ucapku meyakinkan.
Nathan hanya tersenyum dan mengangguk, tidak memberikan aku jawab. Dia langsung berpamitan dan meninggalkanku yang masih berdiri didepan pagar, menatap kepergiannya.