Blue Moon

Blue Moon
Bab 24 Meeting



Keesokan paginya, aku baru membaca pesan dari Brian yang dia kirim dimalam sebelumnya.


Hutan? Kenapa dengan bertanya sendiri? Kamu kan juga bisa menjelaskannya padaku!


Aku masih belum paham dengan maksud dari pesannya. Namun, saat aku menghubungi kembali nomer Brian. Pesan dan panggilanku sama sekali tidak direspon olehnya.


Kenapa? Apa yang sebenarnya Brian dan Nathan rahasiakan dariku?


Kenapa harus kehutan?


Tidak ada pilihan lain. Jika aku terus menunggu Brian dan Nathan, mereka tidak akan memberikanku jawaban yang pasti. Aku harus pergi dan memastikan semuanya sendiri sekarang.


Jalan yang aku lalui menuju kedalam hutan terasa tidak asing. Kakiku seperti telah mengetahui, jalan mana yang harus aku pilih agar sampai kedepan pintu masuk hutan.


Perasaan familiar dan tidak asing apa ini?


Aku sangat yakin, bahwa ini adalah pertama kalinya aku datang kehutan ini. Namun, suasana dingin dan mencekam yang menutupi hutan ini terasa tidak asing sama sekali bagiku.


Suara apa itu?


Semakin dalam aku memasuki hutan. Langkahku seperti sedang diamati oleh seseorang. Kiri. Kanan. Aku mengarahkan pandangaku ke sekeliling hutan. Namun tidak ada seorangpun sama sekali.


Hutan ini juga semakin kedalam, terlihat semakin gelap dan sunyi. Angin dingin sesekali berhembus menusuk tulangku. Kemeja tipis yang aku kenakan, tidak bisa menghalangi udara dingin yang berhembus.


Nathan kamu dimana?


Aku sudah berkali-kali meneriaki nama Nathan. Namun suaraku hanya menghilang begitu saja. Tidak ada jawaban. Suaraku juga sudah mulai serak dan hampir menghilang.


Kenapa aku sama sekali tidak membawa persediaan apapun?


Rasa bersalah memenuhi hatiku. Tidak ada persiapan sama sekali. Bahkan aku juga tidak membawa air minum sama sekali. Sedangkan tenggorokkanku sudah terasa sangat mengering.


Tidak ada air dihutan. Tidak ada siapapun juga. Hanya kicauan burung yang masih sesekali ku dengar. Mengiringi teriakanku memanggil nama Nathan.


Apa mungkin Brian sedang menipuku? Tidak mungkin Nathan benar-benar ada dihutan tidak berpenghuni seperti ini. Tapi kenapa hati dan kakiku sejalan, terus menggiringku untuk masuk hutan ini lebih dalam lagi?


Tidak ada salahnya mencoba. Namun jika harus mencoba sesuatu yang hasilnya sudah pasti, apa mencoba itu akan menjadi lebih penting lagi?


"Nathan...!!!"


Kali ini aku berteriak lebih keras. Tidak ada jawaban. Setelah teriakan itu, suaraku langsung menghilang terbawa oleh angin.


"Kamu yakin mendengar sesuatu?"


Kenapa tiba-tiba aku mendengar suara seseorang. Sebaiknya aku kesana dan memastikan. Mungkin saja itu Nathan.


"Ssstt..!"


Seseorang menarikku dari belakang. Menghentikkan langkahku, menyembunyikan tubuhku dibalik sebuah pohon tua. Akar yang besar, dengan lumut yang sudah mulai melapisinya.


"Jangan berisik." Bisik suara itu.


"Kamu yakin disekitar sini? tidak ada siapapun disini." Sebuah suara yang tadi aku dengar kini sudah ada didekatku. Seoarang pria.


"Yakin. Aku dengar dari sini. Tapi aku tidak jelas dengan perkataannya. Seperti teriakan dan menyebutkan nama seseorang." ujar pria yang satunya.


"Sudahlah, mungkin hanya perasaanmu saja. Sebaiknya kita pergi sekarang, sebelum ada yang mengetahui kehadiran kita dihutan ini." Sambung pria pertama.


Mataku terbelalak menatap pemandangan yang ada dihadapanku. Dari balik bahu kedua pria itu, muncul sepasang sayap. Sayap hitam seperti seekor burung.


Rasanya.. Arghhh!! Rasa sakit apa ini?


"Kamu tidak apa-apa?" Suara pria itu menggema ditelingaku.


"Heii, kamu kenapa? Ada apa?" Aku mendengar pria itu berteriak.


Berkali kali-kaki dia mengguncangkan tubuhku. Menanyakan keadaanku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Kilasan-kilasan gambar terasa berkumpul dikepalaku.


Perasaan yang mengatakan bahwa aku tahu apa yang sedang terjadi. Namun sosok kedua pria sebelumnya, seakan mengirimkan kengerian tersendiri dihatiku.


Pandanganku mulai memudar, suara pria yang sebelumnya memanggilku juga perlahan menghilang.


Aku dimana? Kenapa aku selalu melihat gambaran-gambaran ini, namun setelahnya akan kembali menghilang? Apa yang telah aku lupakan? Bayangan siapa ini? Ingatan apa ini?


Berhenti, ini sangat sakit. Lepaskan!!


"Zea!"


Tubuhku sudah terbaring di atas sebuah tempat tidur. Tempat tidur bergaya eropa, dengan tiang tinggi dan tirai yang menghiasi setiap sudutnya.


Aku dimana sekarang?


"Kamu sudah sadar?"


Sebuah suara menghentikanku untuk mencari tahu tentang ruangan itu. Seorang pria sudah duduk disebelahku. Memandangiku dengan rasa khawatir.


Kulitnya yang putih tampak lebih pucat dari sebelumnya. Disudut matanya terlihat bekas sisa-sisa tumpukan air mata.


"Kamu baik-baik saja kan Zea?" Suara itu kembali bersuara.


Aku tidak menjawabnya, hanya sedikit menganggukkan kepalaku. Air mata yang sudah aku tahan, terasa mengalir dari kedua sudut mataku.


"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?"


Aku membuka mulutku, berusaha menjawab pertanyaan darinya. Namun tidak ada suara yang terdengar disana. Hanya gerakan bibirku, yang aku tidak tau bisa dimengerti olehnya atau tidak.


"Yasudah, istirahatlah dulu. Kamu masih butuh banyak istirahat. Aku akan menunggu kamu diluar." Ucapnya.


Aku menggelengkan kepalaku, menolak mendengar keputusannya. Siapa yang berani sendirian di tempat asing. Bahkan aku sendiri juga tidak akan tahu, apa yang akan terjadi padaku jika dia pergi seperti itu.


"Tidak apa-apa Zea. Aku ada disini. Aku akan menjaga kamu. Sekarang kamu istirahat saja. Tidak akan ada yang berani menyakiti kamu disini. Percaya padaku."


Dia tersenyum, memandang kearahku. Kemudian mengangkat tangannya dan mengelus rambutku. Memberikan ketenangan padaku.


Setelah yakin aku sudah mulai tenang. Tubuhnya menjauhi tempatku terbaring, mencoba meninggalkanku.


"Na..than..." Suaraku lirih.


Sudut bajunya yang masih tertinggal diatas tempat tidur, tertarik oleh tanganku. Membuatnya menghentikan langkahnya dan kembali memandang kearahku.


"Zea?"


Aku menggelengkan kepalaku. Tidak lagi bisa bersuara.


Nathan hanya memandangiku. Dia terdiam. Namun kekhawatiran yang ada diwajahnya perlahan mulai menghilang.


Genggaman tanganku pada bajunya juga tidak terlepas. Aku yakin sudah menariknya dengan seluruh kekuatanku.


"Zea," Nathan duduk disebelah tubuhku yang terbaring. Matanya kembali berkaca-kaca. Tumpukan air mata terlihat menggenang dimatanya.


"Aku tidak akan kemana-mana. Jadi kamu bisa melepaskannya." Lanjutnya.


Natahan menggenggam tanganku, mencoba melepaskan tarikan erat tanganku pada baju yang sedang dia kenakan saat itu.


Aku menggelengkan kepalaku, menolak untuk melepaskan genggaman tanganku.


"Tidak apa-apa Zea. Aku akan disini terus. Kamu tidak perlu khawatir."


Aku kembali menggelengkan kepalaku, menolak kata-katanya.


Nathan menghela nafasnya. Memikirkan apa yang aku inginkan.


"Baiklah, bagaiman jika kamu melepaskannya dan sebagai gantinya memegang tanganku saja?" Ucapnya.


Aku memandang kearah Nathan, masih tidak yakin dengan perkataannya.


Perlahan genggamanku mulai melonggar. Nathan kemudian menarik tanganku dan meletakkannya pada pergelangan tangan miliknya.


"Begini. Lebih baik bukan? Istirahatlah sebentar lagi. Aku akan ada disini dan menjaga kamu."


Setelah mengatakannya, Nathan ikut berbaring disebelahku. Memiringkan tubuhnya, memandang kearahku. Salah satu tangannya juga sesekali mengelus rambutku.


Mataku yang tadinya terbuka, perlahan kembali menutup. Menyadari bahwa aku sudah aman dan tidak perlu merasa khawatir lagi.