
Aria menatapku dengan kesal. Aku tahu penyebabnya. Tapi aku sama sekali tidak ingin membahasnya. Bukan karna aku tidak peduli, tapi karna masalahku lebih besar dari pada miliknya. Kepalaku masih tidak mampu menerima informasi itu. Brian yang duduk disebelahnya juga hanya diam tidak membuka suara. Sesekali dia memandang kekasihnya itu. Kemudian kembali menulis diatas buku orange miliknya. Papan tulis putih yang sebelumnya tidak digunakan telah penuh tulisan berwarna hitam. Membuat perasaanku yang sebelumnya baik-baik saja mendadak kesal. Aku berharap tidak masuk kelas hari ini.
Masih aku ingat tiga puluh menit yang lalu semuanya baik-baik saja. Nilai kuis mingguanku juga sempurna seperti sebelumnya. Hingga pengumuman tugas yang mendadak.
“Minggu depan kita akan praktikum dan kuis pelajaran hari ini. Kalian bebas memilih pasangan kalian sendiri.”
“Prof.” Salah seorang siswa mengankat tangannya. Membuat semua mata tertuju padanya.
“Jangan kami yang memilih. Tidak akan adil. Mereka pasti memilih pasangan yang terbaik.” Matanya menatap kearahku sinis. Siswa yang lain juga setuju dengan tanggapannya. Menolak keputusannya dan memaksa pria paru baya yang sedang duduk itu untuk memutuskan.
Permintaan terpenuhi dan dia memastikan setiap pasangan yang diputuskan olehnya akan adil. Aku sendiri
meragukan hal itu. Beliau tidak begitu mengenal kami. Ada berapa banyak kelas yang dia masuki dan berapa banyak siswa yang dia temui. Tidak mungkin dia mengenali kami satu persatu. Benar saja, dia langsung membuka dan memeriksa buku berwarna biru yang ada diatas mejanya. Sebuah absensi dan daftar siswa.
“Elisa dan Maria.”
“Aria dan Albert.”
“Brian dan Mey.”
“…….”
Sudah hampir setengah dari isi kelas telah berpasangan. Semua orang yang aku kenal sudah berpasangan. Hanya aku sendiri yang belum memiliki pasangan diantara mereka. Brian masih berdiri didepan. Menuliskan nama yang disebutkan keatas papan tulis. Terkadang dia terlihat menahan tawa saat menemukan pasangan yang menurutnya tidak stabil. Tidak sesuai harapan maksudnya. Aku yang melihatnya juga merasa kesal. Berharap aku akan berpasangan dengan orang yang normal.
“Nathan dan …” Wajah pria paru baya itu terlihat bingung. Suaranya terhenti. Matanya memandang buku yang berada digenggamannya. Keatas dan kebawah terlihat kepalanya berkali-kali bergerak. Sebentar dia mengangkat kepalanya memandang kearah ruangan kelas, menerawang; dan akhirnya memandang kearah buku itu kembali.
“… Zea.” Matanya masih memandang kearah buku dihadapannya.
“Nathan dan Zea.” Dia menatap kearahku. Suaranya terdengar jelas. Aku merasa jantungku berhenti berdetak. Kepalaku berdenyut, waktu seakan berhenti untukku. Aku menatap kearahnya dan Nathan bergantian. Nathan hanya diam tak bergeming. Tidak ada ekspresi sama sekali diwajahnya.
Disinilah aku sekarang dengan kecemasan dihatiku. Menghadapi Nathan. Aku berdiri dari dudukku. Mininggalkan kursiku dan Aria yang masih kesal, aku mendekati Nathan yang duduk terdiam dikursi miliknya. Matanya memandang kelangit sore yang terlihat mulai menghitam. Bayang-bayang hitam burung yang terbang tampak jelas memenuhi langit. Hembusan angin terlihat menerpa wajahanya. Tirai jendela yang berterbangan juga
mengikuti irama angin yang bertiup.
“Nathan.” Suaraku pelan memanggilnya. Mataku masih terpaku menatap wajahnya. Dia berpaling, mata kami saling bertemu. Tidak bersuara, dia hanya mengangguk melihat aku yang berdiri
dihadapannya.
“Kita bareng.” Aku mengangkat tanganku jariku mengarah kearahnya dan diriku bergantian. “Kamu bisa? Bahan kamu ada kan?” Suaranya seperti menghilang. Setiap pertanyaanku hanya dijawab oleh anggukan dan gelengan.
Dia menggerakkan kepalanya kekiri dan kekanan. Menolak memberikan informasi pribadinya padaku. Kesal dengan sikapnya, aku menarik sebuah buku yang ada dimejanya. Aku memilih menuliskan ID ku untuknya. Pandangannya terlihat terkejut, namun dia tetap diam.
“Simpan. Kalau kamu tidak datang minggu depan, hubungi aku.” Aku mengembalikan buku miliknya dan meninggalkannya yang masih duduk terdiam. Kelas juga sudah mulai kosong, siswa yang lain sudah meninggalkan ruangan dan pulang.
*****
Aku tidak bisa tidur. Kejadian sore tadi masih menganggu fikiranku. Berpasangan dengan Nathan, namun yang paling mengesalkan adalah dia yang menolak memberikan ID nya. Rumah bertingkat yang aku tinggali sudah sunyi. Penjaga yang tinggal dirumahku juga sudah berisitirahat. Dirumah ini aku tinggal seorang diri, hanya beberapa orang penjaga yang ikut tinggal membantu mengurus rumah.
Jendela besar yang ada dikamarku masih terbuka. Angin berhembus masuk, menerbangkan tirai putih yang menutupinya. Aku melangkah kebalkon kamarku yang penuh dengan bunga mawar putih. Sebuah ayunan bambu terletak disana. Terdapat akar-akar tanaman yang melilit besi-besi pembatas balkon. Aku duduk dan sesekali menggerakan kakiku, menggoyangkan ayunan itu kedepan dan belakang. Menikmati hembusan angina malam yang bertiup lembut.
Bulan bersinar cerah, tidak ada awan yang berusaha menutupinya. Bintang-bintang dilangit juga terlihat berkilau. Pohon-pohon besar yang menghiasi halaman sesekali ikut bergoyang, mengikuti hembusan angin malam. Suara itu masih terdengar, namun sedikit lebih tenang. Tidak menyedihkan seperti sebelumnya. Aku tinggal disebuah pemukiman yang tidak terlalu padat, masih banyak lahan kosong dan perbukitan. Tidak jauh dari perkotaan, namun entah kenapa tidak ada Developer yang tertarik untuk membangun sebuah perumahan disini. Rumah-rumah yang ada disekitarku, sudah tidak ada yang terjaga. Hanya lampu-lampu jalan dan halaman sebagai penerang, menandakan penghuni telah terlelap. Sebuah kesunyian malam yang selalu aku rasakan.
Ponselku berdering. Sebuah nomer asing terlihat dilayarnya. Nomer yang tidak aku kenali. Aku membiarkannya bordering begitu saja. Sudah hampir tengah malam, dan nomer asing menghubungiku. Tiga. Empat. Nomer yang sama terus memanggil dan berkali-kali. Penasaran dan aku memilih menerimanya, bersiap untuk mengomeli siapapun yang menghubungiku jika tidak memiliki tujuan yang jelas.
“Hallo?”
“Hallo? Siapa?” Tidak ada suara sama sekali. Aku menatap kembali layar ponselku. Memastikan panggilannya masih belum terputus. Sekali lagi, aku mendengarkan suaranya dan memanggil orang yang berada
diseberang telepon. Namun tidak ada suara apapun. Sambungan tiba-tiba terputus. Beberapa detik kemudian sebuah pesan datang dari nomer yang sama.
Zea ?
Siapa?
Ini aku Zea. Kamu lupa?
Siapa?
Nomer kamu tidak ada dikontak saya. Maaf.
Aku Zea. Luke.
Masih ingat aku kan?
Maafkan aku Zea. Aku salah.
Aku menghentikkan jariku yang ingin mengetik balasan. Mataku terpana oleh nama yang ada diponselku. Nama yang selalu ingin aku lupakan. Kilasan gambar seketika hadir difikiranku. Senyuman dan tawa masih terekam jelas disana. Mataku tiba-tiba basah, air terasa mengalir dipipiku dan membasahinya. Aku tidak ingin mengingatnya. Sebuah kenangan yang jelas melukaiku namun tanpa izinku terus datang dan menolak untuk menghilang. Aku meletakkan ponselku disebelah tempat tidurku, sebuah meja kayu yang terdapat lampu tidur diatasnya. Suara kembali terdengar dari ponselku, namun aku tidak memperdulikkannya. Tidak ingin mengetahui, aku lebih memilih menenggelamkan wajahku dibalik bantal tidurku. Meluapkan kesedihan yang seharusnya sudah aku lupakan.