Blue Moon

Blue Moon
Bab 16 May



"Zea..., apa kamu ingin makanan yang lain?"


Aria menatapku dengan khawatir. Tanganku hanya mengaduk-aduk semangkuk bubur yang ada dihadapanku. Aku sama sekali tidak berselera pagi ini.


"Tidak. Ini sudah cukup. Aku hanya memikirkan sesuatu saja."


"Kamu yakin?"


"Yaa.."


Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah rasa sakit itu menyerangku. Hanya ketika aku bangun semua rasa sakit dan kekhawatiranku telah menghilang. Seperti malam sebelumnya aku tidur dengan sangat lelap.


"Tapi.. Bagaimana kamu bisa datang sepagi ini kerumahku? Siapa yang memberi tahu kamu kalau aku sedang sakit sekarang?"


Pagi-pagi sekali Aria sudah datang kerumahku. Membangunkan aku yang sebelumnya tengah tidur dengan lelap dan nyaman.


"Bu Alice. Kemarin malam beliau menghubungiku. Dia khawatir kamu hari ini tidak bisa datang ke kampus..."


"... tapi Zea, Bu Alice bilang kamu pingsan. Ada apa? Kenapa kamu bisa tiba-tiba jatuh pingsan?"


Aku tahu Aria saat ini sedang cemas. Namun aku sudah tidak ingin mempermasalahkan hal itu lagi.


"Entahlah. Aku sendiri juga masih bingung. Setelah Luke pergi dari rumahku, ingatanku terasa mengabur dan tidak beraturan."


"Luke...?! Dia datang kemari lagi. Sepertinya jika belum mati dia tidak akan pernah jera. Padahal sudah jelas semua ini bermula dari dia. Kenapa dia tidak tahu malu seperti itu."


Suara Aria terdengar sangat marah. Wajahnya mengeras mendengar aku kembali membahas tentang Luke padanya. Aku tidak ingin mengingatnya, tapi entah kenapa Luke terus mengganggu kehidupanku.


"Sudahlah. Aku tidak ingin mengungkitnya lagi. Aku tidak tahu apa maunya. Tapi aku juga tidak ingin terlibat urusan dengannya lagi."


"Benar. Tidak akan ada habisnya jika kita terus membahas tentang dia." Aria menjawabnya penuh kelegaan.


"Lagi?"


Aria tampak bingung mendengar pertanyaanku. Aku menunjuk kearah piring kosong yang ada dihadapannya. Dia datang kerumahku tanpa sarapan, hanya karna terlalu buru-buru dan sangat mengkhawatirkan keadaanku.


"Tidak. Aku sudah sangat kenyang."


"Yasudah. Kalau kamu masih ingin makan, silahkan saja. Malu tidak akan membuatmu kenyang."


Aria tertawa mendengar ucapanku. Senyumnya kembali menghiasi wajahnya.


"Maaf karna kemarin kita tidak bisa menemui mu. Tapi Rii, apa yang kamu ingin bicarakan denganku sebenarnya?"


Aria terdiam mendengar ucapanku. Wajahnya kembali khawatir. Kerutan terlihat diatas keningnya. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa ya? Aku juga sepertinya lupa ingin bilang apa." ucap Aria dengan pelan.


Lupa? Tidak mungkin. Aku tidak yakin Aria bisa melupakan hal sepenting itu. Untuk hal-hal yang sepele saja dia bisa ingat.


"Kamu yakin? Kenapa kamu tidak jujur saja padaku. Aku jugak tidak akan mungkin membenci atau marah padamu jika itu bukan sesuatu yang akan membahayakan..."


"... atau kamu ada masalah ya?Makanya kamu tidak ingin bercerita padaku.


Aria hanya diam. Dia membungkukkan kepalanya. Mengalihkan pandangan matanya dariku.


"Bukan begitu. Aku hanya masih ragu, apakah aku harus mengatakannya padamu atau tidak Zea. Aku takut perkiraanku salah."


"Memangnya tentang apa? Kamu begini justru malah membuatku semakin penasaran. Tidak bisakah kamu membiarkan aku yang menilai?"


Aku tidak yakin ada apa dengan Aria kali ini. Biasanya jika dia akan menceritakan sesuatu, pasti dia selalu berterus terang. Dia tidak pernah berbelit-belit seperti ini.


"Bagaimana hubungan kamu dengan May belakang ini Zea?"


May? Ada apa dengan dia. Aku merasa hubunganku dengan dia baik-baik saja sejauh ini. Tapi kenapa Aria justru mempertanyakan dia?


"Aku dan dia baik-baik saja seingatku."


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Aria. Dia hanya diam. Memperhatikan ku dan jawaban yang aku berikan.


"Aku bertemu May sebelumnya."


Aria melihat kearahku yang diam menatapnya. Bimbang antara melanjutkan kalimatnya atau tidak.


"Jadi..? Ada apa dengan May? Kenapa kamu mendadak jadi canggung seperti itu."


Aku merasa semakin kesal, karna Aria terus berbelit dan tidak langsung bercerita.


"May..." Aria menghentikan kalimatnya. Menatap kearahku memastikan


"Rii.. Please!!! Jangan buat aku jadi penasaran tentang itu. Kalau kamu tidak ingin bercerita, hentikan. Ini membuatku lebih banyak berasumsi dan mencurigai sesuatu sedang terjadi. Ada apa sebenarnya?"


Aku sudah kesal dan muak. Ada apa dengan Mey. Kenapa Aria bersikap seperti itu. Semua tentang May, dan selalu saja May. Jika terus seperti ini aku akan menjadi sahabat yang buruk untuknya.


"Maaf Zea. Bukan seperti itu. Aku hanya ragu. Jika aku tidak menceritakannya, aku merasa bersalah padamu. Tapi aku juga takut kamu akan kecewa."


Mata Aria sedikit berkaca. Tumpukkan air mata terlihat telah bersarang disudut kelopak matanya.


"Sudah aku katakan, lebih baik kamu berbicara jujur padaku. Meski menyakitkan, setidaknya aku tau itulah hal yang sebenarnya. Dari pada seperti ini?..."


Aku menatap Aria dengan kesal. Namun hatiku menolak untuk lebih menyakitinya dengan perkataan kasarku.


"Yahh, aku tau ini salahku. Aku tidak bisa mengkonfirmasinya lebih jauh sehingga semua permasalah ini terjadi."


Aku mengangguk mendengar ucapan Aria. Tidak banyak berkomentar, hanya menunggu kalimatnya agar segera selesai.


"Sebenarnya, kemarin saat aku pergi dengan Brian untuk makan malam; Aku melihat May dan..."


Luke!! Hatiku berteriak sangat kencang. Aku yakin itu pasti May dan Luke. Aku sudah melihat mereka berdua kemarin, dan Aria juga melihatnya. Maka aku tidak salah telah mencurigai dia.


"Yahh., aku tau kalau itu." Ucapku bersemangat.


"Aku juga bertemu dengan May dibioskop. Saat aku menunggumu, ingatkan? Aku disana juga melihatnya. Namun, saat aku ingin menyapanya. Mereka berdua telah menghilang."


Aria yang semula melihatku dengan sedih, mendadak merubah raut wajahnya. Kedua alisnya dikerutkan, dan tatapan penuh kebingungannya diarahkan padaku.


"Kamu yakin Zea tidak salah orang? Awalnya aku ragu itu dia. Namun setelah Brian bertanya padaku, aku jadi yakin itu mereka. Bukan hanya pandanganku saja."


"Aku yakin. Karna aku sudah mengenal mereka berdua sangat lama. Jadi mustahil aku tidak bisa mengenali mereka berdua."


Itu benar. Sudah cukup lama bagiku mengenal Luke dan May. Bahkan jika aku harus memastikan dari punggungnya, aku bisa tau itu Luke atau bukan.


"Lama? Aku sih yakin kamu sudah cukup lama mengenal May. Tapi Zea, apa kamu sebelumnya sudah mengenali Nathan? Sehingga kamu bisa akrab seperti sekarang ini?" Aria menatapku dengan kebingungan.


Deg. Jantungku seakan berhenti berdetak. Kenapa Nathan? Aku kira Aria sedang membicarakan May dan Luke. Kenapa pembicaraan ini malah berakhir pada Nathan.


"Nathan?"


Aku merasa tidak mengerti maksud perkataan Aria.


"Kenapa Nathan? Bukannya ini tentang May dan Luke. Apa hubungannya dengan Natahan?"


"Hah?!"


Aria terkejut dengan perkataanku. Bingung dengan situasi yang kami berdua tengah hadapi saat ini.


"Luke? Aku justru tidak tahu jika Luke ada hubungannya dengan May, yang aku tahu justru Nathan dan May."


"Kamu yakin tidak salah orang?"


Aku tidak yakin dengan perkataan Aria. Bagaimana mungkin Nathan seperti itu padaku. Kenapa dia bertemu dengan May tanpa sepengetahuanku.


"Aku yakin Zea." Aria mengucapkannya dengan tegas dan lantang. Meyakinkanku dengan perkataannya itu.