
Rasa penasaranku pada hutan itu tidak hilang, membawa langkahku untuk kembali dan memastikan semuanya. Hari ini terasa lebih panas dan suara yang biasa terdengar itu tidak terdengar. Hutan yang sebelumnya terlihat biasa, berubah menjadi lebih besar dan lebat. Suara burung dan binatang-binatang liar terdengar saling bersahutan. Tidak ada jalan setapak, hanya rumput-rumput liar yang terlihat hampir menutupi seluruh permukaan tanah.
Sinar matahari siang itu tampak menembus dedaunan, menerangi hutan yang gelap didalamnya. Suasana hutan terasa tidak semenakutkan saat aku datang pertama kali.Aku mengikatkan sebuah kain merah pada setiap pohon yang aku lewati. Sebagai tanda jika aku tersesat dan melupakan jalan kembali.
“Bagaimana?”
Sebuah suara terdengar memecah ketenangan didalam hutan. Dua orang laki-laki terlihat sedang berdiri dan menatap sesuatu. Salah satunya mengenakan sebuah topi baseball dan yang lain mengenakan sebuah sweater hitam dengan penutup kepala. Wajah mereka tidak terlihat. Aku bersembunyi, mengamati apa yang sedang
terjadi.
“Tidak ada, sepertinya dia berhasil melarikan diri.” Pria bertopi menjawab.
“Sial. Seharusnya kita mendapatkan sesuatu hari ini. Kenapa tidak ada jejak sama sekali.” Suara pria yang satunya.
“Sudahlah, ayo kita kembali.” Sahut pria itu.
Kedua pria itu berjalan menjauh meninggalkan hutan. Setelah yakin dengan kepergian mereka, aku mendekati tempat itu. Terdapat gambar lingkaran dan tulisan aneh yang mengelilinginya ditanah. Rerumputan yang ada disekitarnya juga terlihat gosong dan layu. Seperti terkena hawa panas atau terbakar oleh sesuatu.
Udara yang sebelumnya terasa hangat berubah menjadi dingin. Sinar matahari tiba tiba menghilang. Angin berhembus dan menerbangkan sebuah bulu berwarna hitam. Bulu yang terlihat seperti milik seekor burung namun terlalu besar jika dimiliki oleh burung. Aku berkeliling disekitar tempat itu, mencari sesuatu namun tidak ada apapun disana.
*****
Zea.
Kenapa? Kenapa kamu pergi kesana?
Nathan? Ahh. Hanya mimpi.
Udara yang masuk melalui sela jendela kamar terasa dingin menyentuh kulitku. Malam masih terlihat jelas dan bulan masih bersinar sempurna. Aku tidak tau apa yang terjadi, namun aku merasa Nathan hadir disisiku malam ini.
*****
Kelas selesai lebih cepat hari ini. Jam ditanganku menunjukkan masih banyak waktu yang aku miliki, sebelum kelas selanjutnya dimulai. Aria sudah pergi dengan Brian meninggalkanku sejak kelas berakhir, sementara Mey dan Elisa sama sekali tidak mengikuti kelas. Tidak ada kabar dari mereka.
“Kamu tau? Kemarin aku bertemu Nathan.”
Tiga orang gadis tengah duduk disebuah kursi di taman yang sedang aku lewati. Mereka membicarakan tentang Nathan yang tidak aku lihat kehadirannya hari ini.
“Serius?” Gadis yang lain bersuara.
“Ya. Dia terlihat kesakitan. Salah satu lengannya berdarah.” Gadis itu menjawab. Kacamata bundarnya tidak mampu menutupi ekspresi yang ada diwajahnya.
“Jadi? Tidak ada yang menolongnya?”gadis terakhir bersuara.
“Ada,” gadis itu tersenyum. Dia menunjuk dirinya sendiri dan tersenyum.
Aku mendekati mereka bertiga.
“Kapan? Dimana?” ucapku. Wajah mereka bertiga terlihat terkejut menatapku.
“Kamu siapa? Apa hubunganmu dengan Nathan?” gadis itu menatapku tajam.
“Tidak ada,” aku tersenyum. “Aku hanya penasaran.”
Gadis itu mengangguk. Tidak curiga dan banyak tanya, dia langsung bercerita dan menjelaskan semuanya. Nathan dibawa kesebuah rumah sakit olehnya.
“Jadi bagaimana keadannya?” ucapku.
“Tidak tau. Saat aku mau menjenguknya, perawat disana mengatakan dia sudah keluar.” Jawab gadis itu
sedih. Mungkin harapannya untuk bisa berbicara dengan Nathan gagal.
Aku mengangguk mendengar ucapannya. Sama sekali tidak percaya bahwa Nathan tidak menceritakan hal tersebut padaku.
*****
“Nathan.” Aku berteriak.
Dari jauh aku terus mengikutinya, dan masuk kedalam hutan. Siang itu tidak terlalu panas. Sinar matahari juga tidak menembus masuk kedalam hutan. Nathan yang sebelumnya jelas terlihat dihadapanku tiba-tiba menghilang. Aku berjalan terus masuk kedalam hutan, mencari bayangan Nathan. Aku tidak dapat melihat dia dimanapun.
Hutan yang terasa lebih luas, membuatku seperti berjalan mengitari tempat yang sama. Kepalaku terasa berdenyut. Seluruh pohon seakan masuk dan mengitari kepalaku. Suara-suara hewan liar terasa bernyanyi dan menusuk kedalam telingaku. Aku terus melangkah, namu kakiku terasa semakin berat. Lelah terasa masuk kedalam tubuhku.
“Zea awas.” Suara Nathan berteriak. Menarik tubuhku. Sebuah tebing, dan aku tidak sadar berjalan lurus kearahnya.
“Nathan?” aku menatapnya. Aku sudah ada dalam pelukannya.
Nathan menatapku dengan cemas. Tubuhku hanya terdiam, dan sama sekali tidak bergerak untuk menolak pelukannya. Mataku bergeser menghindari tatapannya.
“Zee,” suara Nathan terdengar bergetar. “Kamu baik-baik saja?”
Aku hanya mengangguk. Bibirku tidak mau terbuka dan bersuara. Mataku terpanah oleh sebuah pemandangan menakjubkan dihadapanku. Nathan membawaku terbang sangat tinggi kelangit. Sebuah sayap
besar berwarna merah keemasan terlihat menghiasi punggungnya. Kibasan sayap itu memberikan hembusan angin yang terasa sangat kuat. Pemandangan hijau terlihat dibawah. Hutan yang luas berubah menjadi pemandangan hijau yang indah. Mataku dapat memandang jauh hingga kebalik bukit itu.
“Zee??” suara Nathan membangunkanku dari lamunanku.
Wajahku dan wajahnya terasa sangat dekat. Warna coklat pada mata Nathan telah berganti menjadi merah. Sinar matahari memberikan kilauan pada tubuhnya yang terlihat lebih memutiih.
“Zee… Kamu baik-baik saja?” Nathan menatapku khawatir.
“Ya” kataku. Aku menatapnya dan menganggukkan kepalaku. Nathan tersenyum dan membawaku terbang lebih tinggi. Membawaku kelangit biru dan menembus awan. Sebuah pemandang indah yang belum
pernah aku bayangkan.
*****
“Kamu benar-benar ingin tahu?” Nathan menatapku.
Aku menganggukkan kepalaku. Meyakinkannya yang saat ini sudah duduk dihadapanku. Setelah pemandangan itu aku tidak percaya pada sosoknya. Aku ingin tahu siapa dia sebenarnya. Pencarian dan kecurigaanku sebelumnya tentang apa yang terjadi dihutan tidak memberikanku hasil yang memuaskan.
Nathan menangguk. “Aku harap kamu bisa percaya padaku. Kamu tahu tentang makhluk abadi?” Nathan menatap kearahku. Wajahnya terlihat tenang.
“Aku salah satunya. Phoenix. Makhluk legendaris yang berumur panjang dan akan selalu hidup kembali setelah kematian. Aku seperti itu.” Nathan menjelaskan padaku.
Aku menatapnya penuh kebingungan. Menghela nafasku. Mengatur detak jantungku yang terus berdetak tidak beraturan menatap makhluk yang sedang duduk dihadapanku saat ini.
“Aku adalah makhluk abadi yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.” Ucap Nathan. Dia menatap kearahku, sebuah pandangan yang tidak mampu aku artikan.
“Jadi? Berapa usia kamu yang sebenarnya?” tanyaku.
Nathan tersenyum. “Usiaku sama sepertimu, tapi aku sudah lupa berapa banyak kematian yang aku lewati untuk kembali ke usia ini.”
Aku menatapnya diam. Masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
“Jika kamu benar-benar abadi. Berarti kematian memang tidak akan bisa menyentuhmu?” Aku menatap Nathan. Wajahnya terkejut mendengar pertanyaanku.
Nathan menggelengkan kepalanya. “Abadi bukan berarti aku tidak bisa terluka atau mati. Ada beberapa penyebab lain yang bisa membuatku mati dan tidak akan hidup kembali.”
“Aku masih bingung dan tidak percaya, ada makhluk selain manusia didunia ini?” tanyaku.
Nathan menghela nafasnya. “Kau harus tahu Zee. Manusia bukanlah satu-satunya makhluk hidup didunia ini. Aku, dan makhluk lainnya. Kita semua terus hidup berdampingan. Kau hanya tidak menyadari bahwa yang kau temui bukanlah manusia biasa. Kami hanya mencoba membaur dan ingin hidup berdampingan.” Nathan menjelaskan padaku. Matanya menatap kearahku lekat. Meminta sebuah pengertian
“Baiklah.” Aku mengangguk kearahnya.
Nathan tersenyum.
“Apa kamu akan baik-baik saja setelah menceritakan ini padaku?” tanyaku.
“Ya.” Nathan mengangguk. “Kamu bukan makhluk berbahaya yang harus aku takuti. Aku percaya padamu Zee. Kamu tidak akan mencelakakan aku.”
“Kamu jangan terlalu mempercayaiku.” Ucapku ketus.
Nathan tersenyum, menatapku dengan penuh keyakinan.